14 February 2020

author photo

Baca Juga

Pentas "Mega-Mega" (karya Arifin C Noer/Sutradara Rudolf Puspa) di Solo 6 Juni 1974, para pemain Saraswaty, Jajang, Hidayat, Willem, Paul Pangemanan, Buyung Zasdar dan Rudolf Puspa

13 FEBRUARI 1974-2020
Catatan Rudolf Puspa

46 tahun lalu di Taman Ismail Marzuki , di sebuah rumah yang tadinya perumahan penjaga kebun binatang Raden Saleh dan yang tinggal Rafli yang waktu itu sebagai satpam TIM angkatan pertama; kami yang sudah sebulan lebih kumpul2 bincang2 untuk melaksanakan gagasanku yakni pentas teater keliling Indonesia. Dery Syrna, Buyung Zasdar, Paul Pangemanan, Jajang, Willem, RW Mulyadi, Saeful Anwar, Ahmad Hidayat dan Saraswaty deal untuk menyiapkan drama karya Arifin C Noer berjudul “Mega Mega” menjadi naskah pertama pentas keliling. 

Latihanpun tiap hari dari siang hingga malam dimana saja di TIM. Untuk masalah makan ya tentu saja masing masing mengatasi sendiri atau sering juga kumpul uang dan beli bersama. Masih belum ada pengurus resmi sehingga semua dikerjakan bersama sama dalam hal cari dana bantuan, hubungan ke daerah-daerah, kebutuhan artistik. Sangat terasa apa yang menjadi roh seni teater yakni kerja kolektif.

Singkat cerita bulan Juni 1974 setelah mendapat dana bantuan pertama dari bidang kesenian fakultas ekonomi universitas Jember dan pelukis Sulebar yang masing2 memberi bantuan 75 ribu rupiah dan Dery bersama teman-teman vokal grup jurusan arsitektur fakultas teknik Universitas Trisakti Jakarta yang bapak salah satu anggotanya adalah direktur pabrik gula di Probolinggo  membantu bisa pentas di Probolinggo.  Tercatatlah dalam sejarah teater keliling enam kota pertama mengawali pentas keliling yakni Jember, Probolinggo, Klaten, Solo Sasonomulyo dan IKIP, Salatiga dan Sragen yang pentas tanggal 1-17 Juni 1974.

Begitu kuatnya mempelajari “Mega Mega” yang telah dipentaskan 167 kali; hingga dalam sehari2 dialog2 naskah tersebut sering terucap dalam menyikapi kejadian2 yang mengalir dalam kehidupan kerja kolektif kami. Tanpa disadari drama “Mega Mega” menjadi mascot teater keliling yang mana filosofi yang terkandung didalamnya menjadi acuan kehidupan berkeliling. Salah satu kalimat yang sangat kuat bahkan hingga ke generasi kedua teater keliling adalah ucapan peran Retno (pelacur) yakni “segala bisa asal mau”. Setiap timbul permasalahan dimanapun dan kening berkerinyut, kepala pusing maka salah seorang dari kami ucapkan kalimat tersebut maka darah merah menghangat kembali dan dengan senyum menatap ke depan dan ketemulah jawaban sehingga perjalanan menjadi lancar.


Sungguh di luar dugaan tahun pertama keliling bisa pentas di 16 kota di Jawa dan Kalimantan dengan 25 sponsor serta 3 naskah dan tercatat ditonton 34.850 orang kurang lebih. Dan yang membanggakan semua pertunjukkan dijual tiket yang tentu saja tidak mahal dan selalu habis. Hal ini yang menambah semangat kami sehingga tahun kedua (1975) berhasil melanglang buana keliling seluruh Malaysia, Singapura dan Sumatera.

Pencapaian ini semakin memperkuat keyakinan bahwa pilihan untuk pentas keliling memiliki arti bagi dorongan kepada grup-grup teater di daerah yang sedang mati suri dalam pemerintahan orde baru.  Dan memang zaman itu bukan gampang untuk pentas teater. Saat saat dimana Rendra sangat gencar pentas dengan misi kritik kepada kebijakan pemerintahan sehingga sempat dilarang bahkan ditahan. Demikian pula anggota pertama kami Jajang akibat menjadi salah seorang pendemo kedatangan Mr.Pronk tokoh pemerintahan dari Belanda dan ia berhasil menyampaikan surat ketika turun pesawat di Kemayoran maka Jajang terpaksa harus berada di Paris beberapa waktu.

Hal ini tentu saja bukan membuat teater keliling menjadi hebat namun justru dimana mana oleh keamanan setempat sering ditanya tentang keberadaan Jajang dan hubungannya dengan teater keliling. Demikian pula apa hubungan kami dengan Rendra. Lalu apa maksudnya keliling ke daerah2 sebagai anak muda yang kebetulan masih sebagai mahasiswa?  Itulah awal keliling yang harus mengenal politik kekuasaan, politik kebangsaan dan juga kebudayaan. Kamipun mengangkat dua orang yang segi pemahaman sospolbud nya kuat untuk menjadi penasehat kami yakni Om Rustam Anwar dari Padang dan Cak Kadaruslan dari Surabaya.  Om Rustam yang pernah menjadi anggota DPRD Minangkabau sangat banyak  memberi asupan mengenai perpolitikan yang sedang berlangsung di tanah air. Sementara Cak Kadar yang tentunya sama namun juga karena beliau adalah wartawan Berita Yudha Jawa Timur sehingga memiliki kekuatan untuk menembus kepala2 daerah di Indonesia Timur. Sungguh keduanya menjadi penasehat yang sangat tepat pada waktu dan ruang yang pas sehingga teater keliling dapat lebih cepat belajar mengenal asam garam hitam putihnya lika liku perpolitikan di zaman orde baru.

Nama teater keliling dipilih ketika pentas di Solo dan penyelenggara tanya apa nama grup keliling ini? Kamipun baru sadar bahwa kami secara resmi belum mencetuskan nama grup. Segera berunding dan tercetuslah nama “Teater Keliling”. Selanjutnya tahun kedua barulah mulai menyusun kepengurusan yang diketuai oleh Dery Syrna yang kemudian menyusun anggaran dasar dan juga Saeful Anwar menciptakan lambang teater keliling yang berupa cakra yang bulat dan punya delapan arah panah yang melambangkan semangat bergerak ke delapan penjuru dunia.

Ketika mas Mulyadi dari dewan kesenian Malang seusai menerima dan menyelenggarakan pentas kami di Malang lalu ikut bergabung dan menambah gambar lambang kami dengan dua tangan terbuka yang berarti menyangga kehidupan teater yang berkeliling. Dan pada generasi kedua juga mengubah lambang kami yang diambil dari gambar topeng sedih gembira namun dibuat sedemikian rupa bagai dua telapak kaki yang berarti terus berjalan melangkah. Ini semua adalah kesiapan akan kesadaran kami untuk tidak tabu membuat perubahan karena dunia bulat berputar yang tentu saja akan menciptakan adanya perubahan-perubahan agar tidak menjadi monoton.


Di umur 46 tahun teater keliling sudah alih generasi di tahun 2012. Catatan sejarah menceritakan ketika itu datang Dolfry Inda Suri yang setelah lulus cumlaude sarjana hubungan internasional Universitas Pajajaran ngobrol dengan saya dan berkata : “saya menyesal ketika sma tidak suka pelajaran sejarah. Ternyata bangsa ini rusaknya karena tak tahu sejarah” . Wah sebuah pengakuan yang bagi saya sangat menyentuh hati dan sejak itu kami mulai membuat cerita yang membawa pesan sadar sejarah bangsa.

Selanjutnya ia meminta untuk meneruskan kegiatan teater keliling dan sekaligus memimpinnya. Kami pun rela dan gembira bahwa yang selama ini tak pernah berpikir apa jadinya teater keliling jika kami tinggalkan; ternyata datang sang penerus. Generasi kedua kini melaju dengan mengawali membuat yayasan untuk mengelola sanggar teater keliling. Menulis naskah2 beraroma sejarah bangsa dan selain pentas di Jakarta juga tetap membawanya keliling. Lebih hebat karena bisa menyewa bis dan membawa sedikitnya 15 orang dalam satu rombongan selama dua minggu. Cara kerja anak zaman now sungguh kami angkat topi. Bravo dan salut.

Pelajaran yang kami dapatkan dalam hal regenerasi adalah justru dalam hal kerelaan, keiklasan serta keberanian dan kemampuan yang tua untuk melepaskan dan memberikan kursi empuknya kepada penerusnya. Bahkan kursi empuk itupun mungkin akan dibuang dan diganti kursi baru atau bahkan tak memerlukan kursi. Yang paling berat dan rumit ketika harus mampu menerima cara kerja anak muda yang sering sangat berbeda dengan yang tua tua.

Inilah pelajaran yang paling berharga bagi kami dan ingin mengajak para orang tua di bidang apapun untuk menyadari bahwa zaman akan semakin cepat bergerak dengan risiko muncul perubahan-perubahan yang selalu baru dan sering umurnya tidak panjang karena muncul hal baru lagi. Oleh karena itu harus mau dan berani serta mampu menyerahkan kepada para penerus terlebih anak muda kita yang sudah sangat jauh beda dalam berpikir, bertindak, bahkan dalam soal rasa dan hati.

Dalam kesempatan ini kami sampaikan penghargaan kepada seluruh anggota generasi kedua Teater Keliling dibawah kepemimpinan Dolfry Inda Suri yang banyak memberikan kejutan serta lecutan kepada kami dengan memulai produksi drama musikal yang pertama dengan 100 pemain dan crew dan yang kedua dengan 600 pemain dan crew.

Gembira dan bahagia tentunya masih diberi kepercayaan saya menjadi sutradara dan Dery  ketua pembina yayasan. Kami sangat percaya dan yakin akan muncul penulis naskah, sutradara, art director baru yang mengenal sejarah kesenian teater Indonesia dan dunia sehingga lahir karya2 baru yang memang belum pernah ada digarap sebelumnya.

Inilah arti kesadaran sejarah seperti yang Dolfry ungkapkan di awal kegiatan generasi kedua teater keliling. Namun pesan kami tetaplah mendekat kepada para tetua teater keliling. Barangkali sebutan eyang membuat jarak karena pada umumnya pengertian “eyang” adalah orang uzur yang ditinggikan dan duduk manis saja melihat cucu-cucunya berkiprah.

Sebutan “om” kadang masih hangat dekat dan merasakan sebagai teman untuk bekerja atau berkarya dalam berkesenian teater. Saya merasakan hal ini ketika di ekskul teater smp karena hingga kini tetap panggil om maka terasa ada rasa sama2 muda sehingga akrab.

Teater keliling yang hari ini berusia 46 tahun tentu masih terasa ada darah dan mampu menggelinding dengan roda2 yang sudah semakin canggih bahkan tak perlu lagi minyak sebagai pembakar mesin karena duniapun sudah mulai dengan listrik dan tenaga surya. Untuk itu kami ucapkan Happy birthday teater keliling. 

Walau tanpa ada acara pesta atau peringatan yang serba mewah namun hari ini terasa teater keliling masih hangat mengalir dan akan semakin deras alirannya dengan tampilan yang lebih perkasa dan yang utama tetap mampu menyapa anak zamannya. Teater keliling  tetaplah melihat kebelakang dan hidup hari ini serta selalu memandang ke depan.

HORAS.

Jakarta 13 Februari 2020
Salam jabat erat.
Rudolf Puspa

your advertise here

This post have 0 komentar

Harap tidak berkomentar yang melanggar HAM, SARA dan tindak kriminal lainnya.

Selanjutnya Posting Berikutnya
Sebelumnya Artikel Sebelumnya

Advertisement

Loading...

Advertisement