Bicara Seni Oleh Komunitas Ruang Tumbuh Hadirkan Gangga Lawranta -->
Pojok Seni
29 February 2020, 2/29/2020 02:46:00 PM WIB
Terbaru 2020-02-29T07:46:57Z
Media PatnerSeni

Bicara Seni Oleh Komunitas Ruang Tumbuh Hadirkan Gangga Lawranta

Advertisement


pojokseni.com - Komunitas Ruang Tumbuh Padangpanjang menggelar kegiatan Bicara Seni  dengan serial Artist Talk yang mengangkat tema Muda dan Media, yaitu bincang-bincang dengan seniman muda yang sukses dalam bidangnya dengan media seni. Pada hari Jumat (21/2/2020), Komunitas Ruang Tumbuh Padangpanjang kembali menggelar Bicara Seni #3 dengan menghadirkan seorang Seniman Visual (Visual Artist) Gangga Lawranta.

Seniman asal Kota Padangpanjang ini telah banyak menghasilkan karya instalasi foto dan video, dua diantaranya yakni “Saya dan Perawan” dan “Saya dan Siaran Langsung” yang Gangga hadirkan kembali pada kegiatan kali ini. Kegiatan Bicara Seni #3 bertempat di Nyala Coffee Jembatan Besi Kota Padangpanjang dan berlangsung pukul 16.30-18.00 WIB.

Sebelum kegiatan diskusi dimulai, Gangga mengajak audiens untuk berpartisipasi dalam merespon karya instalasi yang ia hadirkan. Kegiatan diskusi dipandu oleh moderator Arif Rahman AS, seorang mahasiswa Fotografi ISI Padangpanjang.

Tentang “Saya dan Perawan”


Karya instalasi video “Saya dan Perawan”, Gangga sajikan dengan menggunakan boneka manikin yang dibalut gaun pendek warna merah dengan tulisan ‘Saya tidak perawan’ dikalungkan pada dada manekin tersebut. Pada bagian bawah manikin atau tepatnya di dalam rok gaun terdapat LCD monitor yang memutar video seorang perempuan menggunakan gaun pendek merah seperti yang dikenakan pada manikin lengkap dengan tulisan Saya Tidak Perawan yang dikalungkan pada dadanya yang langsung menarik perhatian.

Lewat video eksperimen tersebut, Gangga berupaya menampilkan reaksi masyarakat ramai, berupa ekspresi wajah orang-orang tatkala mendapati seorang perempuan berjalan sambil membawa tulisan Saya Tidak Perawan. Isu tentang keperawanan menurut Gangga secara pribadi adalah isu yang sangat mengganggunya, banyak respon negatif dibalik isu keperawanan tersebut.

Pada saat ia melakukan eksperimen tersebut, Gangga juga pernah mendapatkan telfon dari tim sukses salah satu pasangan Kepala Daerah untuk mengklarifikasi tentang karya tersebut yang dianggap sebagai sebuah pencemaran nama baik kota. Untuk menyaksikan video tersebut, audiens harus menyibak rok gaun pada instalasi manikin dan mengintip tepat pada selangkangan boneka manikin tersebut.

Tentang “Saya dan Siaran Langsung”


Di tengah diskusi yang hangat, Gangga memperlihatkan karya instalasi videonya yang lain, berjudul “Saya dan Siaran Langsung” lewat sebuah televisi yang tepat berada di depan audiens. Berangkat dari pengalaman pribadi pada saat menonton televisi bersama keluarga, Gangga menyadari bahwa siaran televisi yang merupakan sebuah pesan satu arah dapat memberikan dampak yang buruk jika tidak terfilter dengan baik. Siaran televisi ditonton berbagai kalangan yang berbeda, mulai dari kalangan muda, orang tua, hingga anak-anak. Menurut Gangga, dengan membiarkan seorang anak kecil menonton siaran televisi sendirian, itu sama saja halnya dengan kita mendatangkan pihak lain dalam keluarga.

Lewat karya ini, Gangga ingin mengubah pola fikir penonton siaran televisi agar tidak menelan mentah-mentah opini yang disampaikan oleh siaran televisi. Gangga juga mengajak para audiens merespon apa yang pernah mereka tonton pada siaran televisi lewat sebuah kertas kecil dan menempelkannya pada instalasi televisi yang Gangga hadirkan. Audiens bebas menuliskan apa saja opini mereka terhadap siaran televisi, lalu satu-persatu para audiens menempelkan kertas yang telah berisikan opini mereka hingga menutupi keseluruhan instalasi televisi yang telah mereka tonton bersama tadi.

Karya interaktif merupakan tujuan awal yang dibangun oleh Gangga. Yang menjadi ide dalam pembuatan karya-karya Gangga adalah bagaimana karyanya berinteraksi dan direspon oleh audiens.

Tanya Jawab dengan Gangga Lawranta


Tanya: Bagaimana pendapat bang Gangga tentang kegiatan yang dilakukan Ruang Tumbuh yang berhubungan dengan Seni?  

Jawab : Yang pertama tentu sangat mengapresiasi karena kita butuh ruang-ruang diskusi khususnya anak muda karena yg paling update secara generasi adalah anak muda, walaupun untuk pengklasifikasiannya muda, anak-anak dan orang tua itu tidak boleh ya maksudnya selama orang itu masih produktif itu masih bisa dikatakan muda berarti muda bukan berarti usia menurut saya. Untuk program ini kenapa kita butuh diskusi karena banyak hal yang sekarang kita sekedar berasumsi secara pribadi yang ujung-ujungnya kita akan memposting keranah dunia maya yang kita anggap itu ranah pribadi, padahal dunia maya itu bukan ranah pribadi loh.

Asumsi-asumsi yang selalu diposting itu akan punya dampak yang berbeda-beda, secara pribadi, contohnya kita tidak bisa bersosialisasi secara nyata karena kita sudah bisa melampiaskannya kedalam dunia maya, tapi ketika ada ruang diskusi kita ada pengalaman baru, orang-orang baru yang menurut saya itu sangat baik apalagi melihat anak muda zaman sekarang yang biasanya hanya bisa nongkrong tapi tidak membicarakan tentang hal apapun, tidak harus berdiskusi tentang seni sih sebenarnya  tapi bisa juga diskusi tentang hal lain yah.

Tanya: Begini bang, kebanyakan anak muda sekarang membahas isu-isu yang hanya tranding di tv pada saat itu, tapi isu yang berada disekitarnya dia tidak peduli bahkan tidak tahu, lantas menurut bang Gangga bagaimana caranya agar anak muda lebih peka melihat isu apa saja sih yang ada di lingkungannya? 

Jawab : Yang harus kita sadari itu adalah kita berada dizaman yang sangat latah, jadi kita selalu mengikuti apa yang dianggap orang viral sedangkan viral itu apakah penting? Tidak. Aapakah kita harus dikenal orang gara-gara viral? Saya rasa tidak, kenapa kita latah karena kita hanya ingin diakui komunitas kita atau dilingkungan kita tapi kita tidak tahu dengan cara  seperti apa, kita hanya bisa berkomentar dibalik layar kita sangat bebas berkomentar didunia maya sedangkan kita untuk menyampaikan apa yang kita rasakan secara langsung itu sangat sulit. Secara pola pikir kita selalu dibingkai oleh media yah kita harus menyadari hal-hal itu apakah kita harus terbawa arus keviralan atau krisis eksistensi itu atau kita mencari jalan untuk menyelamatkan diri dan menyelamatkan kawan yang lain.

Tanya: Bang Gangga sudah diundang nih dan sudah menjadi narasumber, kira-kira ada tidak masukan untung ruang tumbuh, bang? 

Jawab : Yah, kalau saya karena Ruang Tumbuh itu hanya ada di Padang Panjang  saya tidak tahu apakah spotnya itu hanya Sumatera Barat atau bisa ke luar Sumatera Barat, secara umumnya bagaimana kita melakukan pembacaan ulang kota Padang Panjang dalam artian bagaimana ketertarikan masayarakat sekarang apa dan kebutuhan masyarakatnya, jika kita sudah melakukan itu maka kita sudah tahu hal apa yang harus diperbaiki, struktur apa yang harus kita capai ketika kita sudah melakukan semua itu endingya seperti sekarang kita melakukan diskusi-diskusi tentang kebutuhan kita sekarang seperti ini dan yang harus kita kritisi seperti ini, karena banyak momen-momen yang lolos dalam artian sangat terbawa arus padahal kita orang-orang muda dan terpelajar yang memiliki prinsip pola pikir sendiri, contohnya tahun 2019 adalah tahun politik yang seketika  semua orang seolah –olah mengerti politik padahal hanya ikut-ikutan saja tanpa menganalisanya yah ini terjadi karena kebanyakan orang hanya mendapat berita dari 1 pihak tanpa mencari sumber lain. Yang terpenting itu yah Berwacana dan Berbicara, kira-kira seperti itu. (isi/pojokseni.com)