26 January 2020

author photo

Baca Juga

Pertunjukan "Barombang dan Mitos Tambang" oleh Wendi HS dan kawan-kawan (Indonesia Performance Syndicate)
pojokseni.com - Beberapa waktu yang lalu, sebuah pertunjukan teater karya/sutradara Garin Nugroho bertajuk "Planet Sebuah Lament" berhasil memukau publik pecinta seni pertunjukan di Jakarta.

Pertunjukan itu, sedianya akan digelar lagi di berbagai negara, dan kebudayaan khas Melanesia (Indonesia Timur) akan menjadi pembuka ASIA TOPA 2020 di Australia.

Portal Teater menyebut bahwa pertunjukan ini sebagai "pementasan kontemporer berbaju tradisi". Yah, lewat "paket" komplit (teater - tari - film - musik), sosok Garin Nugroho mengeskplorasi kebudayaan Melanesia yang sudah begitu langka, sekaligus memperkenalkannya ke dunia.

Garin Nugroho juga menyebut bahwa Indonesia Timur memiliki banyak bakat dan kekayaan budaya yang mesti lebih banyak diberi ruang.

Berpindah sejenak dari pertunjukan memukau dari Garin Nugroho, sejumlah grup teater Indonesia juga mulai lebih kuat menggali kebudayaan lokal masing-masing, yang kemudian diangkat dalam sebuah pertunjukan "kontemporer berbaju tradisi".

Hasilnya, yah kita melihat bagaimana sebuah tradisi kuno dari suatu daerah (bahkan nyaris terlupakan) bisa diperkenalkan kembali lewat sebuah pertunjukan.

Kontemporer Berbaju Tradisi

Pertunjukan "End Game" oleh Teater Garasi 

Maka kita perlu menggaris bawahi frase ini; "kontemporer berbaju tradisi", bukan "tradisi berbaju kontemporer".

Seorang pembicara dalam seminar kebudayaan bernama Prof Dr Bambang Sugiharto pernah mengatakan;

"Jika sebuah bangsa ingin kebudayaannya tetap eksis di tengah era globalisasi ini, maka mau tak mau mereka harus bergaul dengan dunia luar dan menyerap kebudayaan luar dan mengawinkannya dengan kebudayaan asli."

Dan cara "bergaul" lalu "mengawinkan dengan kebudayaan asli" adalah dengan menciptakan pertunjukan kontemporer, namun berbaju tradisi.

Kebanyakan seniman tradisi cenderung tidak ingin bergaul dengan dunia luar, menambah wawasan keilmuan modern lalu mengembangkan bentuk pertunjukan mereka. Kalaupun ada, persentasenya kecil.

Para seniman tradisi, praktisi seni, selain karena ingin melestarikan seni dan budaya, jarang ingin menghadirkan sebuah pertunjukan yang bisa memenuhi keinginan diri sendiri dan penonton, memuaskan dahaga yang selama ini diperlukan.

Ditambah lagi, kebanyakan dari mereka memang berkutat dengan pakem yang sudah ditentukan sejak dulu, dan tidak mencoba melakukan eksplorasi baru.

Faktanya, untuk menjaga eksistensi sebuah kebudayaan (lokal), ada empat hal yang mesti dilakukan. 


Pertama, eksplorasi atau terus mencari dan menggali.

Kedua, menambah, mengembangkan dan memperbesar atau enhancing.

Ketiga, membuka untuk segala kemungkinan, dari ilmu pengetahuan seni modern untuk pengembangan  bentuk seni tradisi tersebut. (exposing)

Dan terakhir, ketika ketiga hal tersebut sudah dilakukan, maka yang keempat adalah promosi.

Promosi bahkan menjadi titik penentu. Bila diibaratkan sepakbola, maka promosi adalah striker, ujung tombak keberhasilannya.

Maka bila hal itu sudah menjadi kesadaran, menjaga kebudayaan Indonesia tetap eksis di era globalisasi ini menjadi hal yang mungkin, meski tidak bisa dikatakan mudah. (ai/pojokseni)
your advertise here

This post have 0 komentar

Harap tidak berkomentar yang melanggar HAM, SARA dan tindak kriminal lainnya.

Selanjutnya Posting Berikutnya
Sebelumnya Artikel Sebelumnya

Advertisement

RajaBackLink.com

Advertisement

Loading...