14 November 2019

author photo

pojokseni.com - Hingga hari menghembuskan nafas terakhir, Djaduk Ferianto masih berstatus sebagai "seniman daerah". Ia tidak hijrah ke Jakarta, seperti yang dilakukan banyak seniman lainnya. Ia fokus membangun "kerajaannya" di Bantul, 10 km dari pusat Kota Yogyakarta. Anak dari seniman serbabisa dan juga maestro tari Indonesia, Bagong Kusudardja ini meninggal Rabu (13/11/2019) dini hari, di kediamannya.

Padahal, seperti kakaknya, Butet Kertaradjasa, pemilik nama lengkap Gregorius Djaduk Ferianto ini sudah memiliki kaliber internasional. Dua grup musik yang didirikannya, Kuaetnika dan Sinten Remen, menjadi dua dari empat grup yang menghuni Padepokan Seni Bagong Kusudiardja. Dua grup lainnya adalah Teater Gandrik dan Padepokan Tari Bagong Kusudiardja.

Namun, ada satu hal yang mesti menjadi pelajaran bagi grup seni, atau seniman seluruh Indonesia yang berada di daerah, bahkan jauh dari pusat Indonesia, Jakarta. Djaduk yang sudah mendapatkan banyak pernghargaan dan apresiasi baik di tingkat nasional, maupun internasional, justru tidak ingin pindah dari Yogyakarta. Ia tetap berada di daerah tercintanya, membangun iklim kesenian yang baik untuk daerahnya, dan tetap berstatus "seniman daerah".

Salah satu band ternama di Indonesia, Shaggy Dog misalnya. Sudah banyak dapat job keliling Indonesia, terutama di Jakarta. Namun, Djaduk memintanya untuk tetap berada di Yogyakarta. Itu malah berpengaruh ke meningkat pesatnya kesenian di Yogyakarta.

Bahkan, bila Anda ingin menyaksikan Teater Gandrik main, misalnya, tidak ada pilihan lain selain menunggu grup itu pentas ke luar daerah, atau  datang ke Yogyakarta. Selanjutnya, ada banyak kunjungan ke Yogyakarta, yang berarti banyak pemasukan bagi daerah.

Sebab, baik penonton awam, maupun penonton kreatif, tentunya tidak hanya akan Anda temui di Jakarta. Di daerah Anda, tentu Anda bisa menemukannya. Terpenting, fokus dan terus berproses tanpa kenal lelah. Belajar dan berlatih, diimbangi dengan semangat. Begitu pesan almarhum.

Terpenting, jangan terus melulu ingin hijrah ke Jakarta! Karena Indonesia tidak hanya Jakarta, semua daerah dari Aceh sampai Papua, memiliki potensi untuk menjadikan grup kesenian bisa hidup. Hanya saja, ada yang potensinya besar, ada juga yang sedang. Tinggal bagaimana ide dan inovasi Anda untuk mengoptimalkannya.

Terakhir, terima kasih inspirasinya, Djaduk Ferianto. Pojokseni ikut berduka sedalam-dalamnya. Karyamu akan abadi, dan nantinya musik dan candamu akan terus hidup dalam hati kami. (ai/pojokseni)
your advertise here

This post have 0 komentar

Harap tidak berkomentar yang melanggar HAM, SARA dan tindak kriminal lainnya.

Selanjutnya Posting Berikutnya
Sebelumnya Artikel Sebelumnya

Advertisement

Loading...

Advertisement