15 November 2019

author photo
Bangkai Babi di Danau Siombak

pojokseni.com - Minggu (24/11/2019) pukul 13.00 - 18.00, Anda semua diundang untuk berpartisipasi dalam kegiatan bertajuk 15.999 Tanda Tanya di tepian Danau Siombak

Berikut rilis dari panitia yang diterima PojokSeni:


Babi-babi yang kemambang di Danau Siombak. Air yang meneror nafas.


Beberapa hari ini kami melakukan investigasi sederhana di sekitaran Danau Siombak untuk menghirup secara langsung dampak  ekologis dari pembuangan ribuan bangkai babi ke sungai yang menumpuk di danau ini. Tercatat sekitar 700-an bangkai babi telah dimakamkan di pinggiran Danau Siombak. Dan ketika kami melakukan investigasi, masih ada bangkai babi yang berseliweran dan nyangkut di beberapa sudut danau. Kami juga masih bisa mencium aroma bangkai babi.

Beberapa warga kami wawancarai. Air yang selama ini begitu akrab, kini mereka berjuang untuk menghindari. Bahkan untuk menyentuhnya saja mereka takut. Namun ada beberapa nelayan yang nekad beraktifitas, demi memenuhi nafkah, walau tubuh mereka bisa gatal-gatal. Bagaimana mereka bisa hidup tanpa air? Mengharap hujan dari langit serta membeli air bersih yang setiap harinya rata-rata menghabiskan 8 dirigen (Rp. 8.000,-), berarti setiap bulan mereka wajib menyisihkan Rp.240.000,- untuk beli air bersih.

Ditambah musibah ratusan bangkai babi yang tiap hari telah mencemari air danau. Air danau menjadi berminyak, ikan-ikan pergi, kepiting pun sulit dicari. Diungkapkan pula oleh warga, setelah diteliti, kini air di Danau Siombak mengandung belasan ribu kuman.

Tragedi ekologi yang dialami warga pinggiran danau siombak telah dialami sejak tahun 2000-an, dengan menumpuknya berton-ton sampah setiap harinya di danau ini. Kini tragedi itu makin diperparah dengan pembuangan bangkai babi yang terserang Hog Cholera.

"Tragedi ekologi yang disebabkan pembuangan ribuan bangkai babi yang terserang wabah hog cholera ke sungai, baru sekali ini terjadi dalam sejarah," menurut Ichwan Azhari (Sejarahwan Sumut).

Lalu apa yang harus seniman dan budayawan lakukan untuk merespon tragedi ekologi ini?
Agus Susilo (Teater Rumah Mata, Kosambi, Museum Situs Kotta Cinna), Ayub Badrin, Ibnu (Teater Imago Medan), Mamex dan Roy Julian (Kantor Teater Jakarta) menggagas RITUAL DANAU dengan berbagai kegiatan:


  1. Teater Organik (spesific site theatre)
  2. Gelar Baca Puisi Ekologi
  3. Pengumpulan Donasi Pembelian Mesin Penyulingan Air untuk warga.
  4. Dialog Penyelamatan Lingkungan lewat seni.


15.999 Tanda Tanya ini membuka partisipasi untuk seluruh lapisan masyarakat (komunitas, lembaga, media, person) untuk bergabung bersama kami.

Dengan segala kerendahan hati, lewat media sosial ini kami mengajak saudara-saudara/bapak ibu/ sahabat-sahabat untuk terlibat di kegiatan ini sebagai upaya mengharmoniskan ekosistem di semesta.

Sebagai proses selanjutnya kami akan melakukan Riset Danau (menyusuri Danau Siombak ke arah Terjun menggunakan kapal boat), pada hari Minggu/17 Nopember 2019, Pukul: 13.30 WIB. Mari bersama kita selamatkan ribuan jiwa. (rp/pojokseni.com)
your advertise here

This post have 0 komentar

Harap tidak berkomentar yang melanggar HAM, SARA dan tindak kriminal lainnya.

Selanjutnya Posting Berikutnya
Sebelumnya Artikel Sebelumnya

Advertisement

Loading...

Advertisement