26 August 2019

author photo

Baca Juga

Eugene Ionesco

pojokseni.com - Nama Eugene Ionesco tentu menjadi salah satu nama yang sangat diperhitungkan di seni teater. Penulis naskah yang cerdas, juga pernah menjadi aktor dan menyutradarai pertunjukan teater. Disebut pula sebagai tokoh teater absurd dunia dengan naskah-naskah yang menjadi mahakarya selanjutnya.

Tapi, satu hal yang perlu diketahui, awalnya Ionesco justru membenci seni teater. Diceritakan dalam Experience du theatre, Ionesco yang sudah berusia 33 tahun (usia yang cukup dewasa) namun masih belum terlihat bakal menjadi seorang dramawan. Ionesco bahkan menyebutkan bahwa ia tertarik pada semua seni, baik musik, lukisan, sastra, film dan sebagainya. Tapi tidak dengan teater.

Ionesco pertama kali diajak menonton teater oleh orang tuanya ketika ia masih kecil. Ketika menonton pertama kali, sejak saat itulah ia tidak mau menyukai lagi dunia seni peran itu. Ia menyukai sastra, fiksi dan esai. Baginya, kebenaran di dalam seni tersebut jauh lebih unggul ketimbang kebenaran realitas yang diusung dalam teater.

Namun, beberapa tahun kemudian ia justru menulis naskah drama. Ini titik awal ia menjadi seorang yang tidak hanya sekedar mencintai atau menyukai, tapi berenang dan bermabuk-mabukan di sana sekaligus.

Awalnya, ia mulai menyadari bahwa ada orang-orang yang dengan serius, berlatih keras, konsentrasi penuh, dan dengan sadar mempertontonkan dirinya sendiri, sebagai orang lain, cerita lain, latar lain dan psikologis yang lain pula. Saat itu, ia mulai memikirkan tentang teater, meski masih mengakui bahwa fiksi jauh lebih unggul ketimbang teater.

Menemukan Klise, Menemukan Teater

Salah satu pementasan Biduanita Botak karya Ionesco
Tahun 1948, Ionesco belajar Bahasa Inggris dan perlahan mulai mengartikan teks berbahasa Inggris. Teks tersebut bercerita tentang dua orang suami istri bernama Tuan dan Nyonya Smith. Kedua bercakap-cakap, tentang banyak hal, mulai dari aksioma dasar, yang bila dilihat lebih dalam, ternyata mereka membangun sebuah kebenaran yang simpel, kemudian menuju ke kebenaran yang lebih kompleks.

Bersifat kebenaran (truisme) namun juga klise. Hal itu tentunya juga akan Anda dapatkan di buku pelajaran Bahasa Indonesia untuk anak SD hingga SMP. "Ini buku Budi," misalnya. Contoh sebuah truisme namun klise.

"Ini adalah langit-langit rumah. Langit-langit berada di atas dan berwarna hijau. Sedangkan jam dinding, berada di samping jendela."

Contoh kalimat yang begitu simpel, klise tapi merupakan kebenaran yang bahkan tak bisa dibantah. Namun, karena klise, semuanya menjadi hampa. Pembacanya, apalagi anak-anak sekolah, tidak menyadari ada informasi kebenaran mulai dari dasar sampai kompleks. Namun, karena hampa, maka terjadi fermentasi (disebut Ionesco sebagai terfosilkan) yang menjadikan kalimat sederhana itu menjadi semu. Truisme semu, sekaligus klise yang juga semu. Dan ini adalah situasi absurditas dalam kehidupan yang bahkan tak disadari. Ketika kata-kata, terus tergerus dan tereduksi makna-maknanya, menjadi semu dan kosong. Ini adalah sebuah tragedi bahasa, kata Ionesco.

Berdasar atas temuannya tersebut, Ionesco menulis sebuah naskah yang awalnya diberi judul L'Anglais sans Peine yang ketika selesai justru menjadi La Cantatrice atau dalam Bahasa Indonesia, kita mengenalnya dengan judul "Biduanita Botak". Naskah yang menjadi sebuah mahakarya dari Ionesco, dan menjadi salah satu naskah Teater Absurd yang ternama.

Naskah ini, pertama kali dibacakan oleh Ionesco pada teman-temannya sendiri. Naskah itu, menurutnya, dibuat dengan sangat serius dan penuh perhitungan. Namun, ternyata semua yang mendengarkan naskah tersebut dibacakan justru tertawa terpingkal-pingkal. Naskah itu sangat lucu, begitu tanggapan teman-teman Ionesco. Hal itu mengantarkan Ionesco kepada satu hal yang tak ia sukai, teater. Seorang aktor yang juga teman Ionesco, bernama Monique Saint-Come, meminjam naskah itu dan memberikannya pada sutradaranya, Nicolas Bataille. Sebelum itu, sebenarnya Ionesco juga sudah pernah mencoba mengirimkan naskahnya ke Comedie Francaise, namun ditolak.

Meski demikian, Nicolas Bataille mencoba untuk mementaskan naskah "lucu" tersebut. Ia memulai latihan, dengan mencoba membawakan naskah ini sangat komikal, parodis, namun akhirnya gagal. Setelah sempat berdiskusi dengan Ionesco, ternyata disadari bahwa untuk mementaskan naskah tersebut, mesti dengan serius seperti membawakan naskah Hendrik Ibsen dan setipenya. Bahkan, kepada penata artistik, sang sutradara menyebutkan ingin setting seperti naskah Hedda Gabler karya Ibsen, tentunya tanpa menyebutkan ingin mementaskan naskah Ionesco.

Saat latihan, ada seorang aktor yang salah menyebutkan "biduanita botak" berkali-kali dalam naskah yang awalnya diberi tajuk L'Anglais sans Peine tersebut. Lalu, kata Biduanita Botak justru dijadikan judul naskah oleh Ionesco dan Bataille. Lewat melihat langsung latihan atas naskah tersebut, Ionesco melakukan perbaikan-perbaikan pada naskah itu, bahkan ada perubahan penting seperti pada bagian akhir naskah tersebut.

Kemudian, tepat tanggal 11 Mei 1950, naskah itu dipentaskan. Meski disambut dingin, dan hanya mendapatkan sedikit catatan bagus, namun menjadikan naskah yang dinobatkan sebagai anti-drama tersebut dapat dipentaskan pertama kalinya. Sayangnya, pementasan pertama "Biduanita Botak" ini hanya mendapatkan sedikit penonton, karena keterbatasan biaya publikasi. Kadang, gedung teater justru nyaris kosong, dan para aktor pulang karena penonton yang datang hanya 3 orang.

Selanjutnya, naskah ini mendapatkan perhatian serius dari publik setelah dipentaskan di banyak tempat, dan mendapatkan banyak pengamat dan kritikus. Namun, lebih dari itu, Ionesco merasakan bahwa pengalaman pementasan pertama naskah itulah yang paling berkesan. Pengalaman itu yang membuatnya merasa bahwa ia ditakdirkan untuk menjadi penulis naskah teater dan dramawan. (ai/pojokseni.com)
your advertise here

This post have 0 komentar

Harap tidak berkomentar yang melanggar HAM, SARA dan tindak kriminal lainnya.

Selanjutnya Posting Berikutnya
Sebelumnya Artikel Sebelumnya

Advertisement

Loading...

Advertisement