29 July 2019

author photo


pojokseni.com - Pada intinya, semua manusia mendambakan kebebasan. Dengan berbagai ideologi, pemikiran dan sebagainya, semuanya bermuara pada ide tentang kebebasan. Tapi, bagi seorang Jean-Paul Sartre, kebebasan tidak berarti sesuatu yang baik.

Menurut Sartre, manusia itu pada dasarnya bebas, bahkan sangat bebas. Namun, kebebasan yang tak berbatas ini juga menuntut sebuah tanggung jawab yang juga tak terbatas. Manusia yang dimaksud ini, siapapun dia, apapun latar belakangnya dan apapun agamanya, atau bahkan tidak beragama sekalipun, tapi tetap bebas dan bertanggungjawab atas kebebasannya.

Prinsip pertama dari ekstensialisme, seperti ditulis Sartre dalam Existentialism and Human Emotions, adalah "manusia tidak lain dari apa yang telah diperbuatnya pada dirinya sendiri". Apa yang terjadi pada diri Anda saat ini, semua adalah buah dari apa yang Anda putuskan, lakukan dan pilih di masa lalu. Maka semakin bebas seseorang memilih sesuatu tersebut, maka akan semakin besar pula tanggungjawabnya terhadap kebebasan tersebut.

Manusia meng'ada' karena apa yang telah dilakukannya. Maka meng'ada'nya manusia tidak lain karena kumpulan dari apa yang telah dilakukannya.

Anda akan mendapatkan seorang atau lebih anak karena keputusan Anda menikahi seorang lawan jenis. Sedangkan lawan jenis tersebut menjadi istri Anda, karena keputusan Anda melamarnya. Melamar tersebut juga akan menjadi berhasil, karena tindakan Anda mencoba mendekati, atau menerima perhatian (atau memperhatikan) seseorang. Terkadang, Anda bisa saja menyesali apa yang telah Anda ambil di masa lalu, tapi sayangnya, waktu tidak bisa diputar kembali. Sehingga, apa yang ada dan terjadi di saat ini, adalah sebuah tanggung jawab yang mesti Anda pikul dan jalani dengan berani.

Begitu seterusnya dan dalam kasus lainnya, kejadiannya juga sama dengan proses yang saling berkaitan. Hal ini disebut sebagai butterfly effect. Bahwa apa yang terjadi pada diri Anda, sebagai dampak dari sekecil apapun keputusan yang Anda ambil sebelumnya.

Dimulai dari sebuah rencana, ingin memiliki perusahaan, ingin sukses, ingin kaya dan sebagainya, kemudian manusia akan meng'ada' sejauh mana manusia itu memenuhi keinginan atau rencana atau cita-citanya sendiri. Rencana itulah ungkapan kebebasan, dan akhirnya manusia akan melakukan sesuatu yang disebut sebagai tanggungjawab atas "kebebasannya".

Ekstensialisme tentunya jauh lebih dalam dan panjang dari itu. Di atas hanya sekelumit, atau hanya beberapa halaman saja dari semua pemikiran Sartre, belum lagi pemikiran filsuf ekstensialis lainnya, seperti Kierkegaard, Heidegger, (tentunya) Nietzsche, dan masih banyak nama lainnya. Ada dua buku menarik yang ditulis bila Anda ingin mendalami ekstensialisme, yang pertama berjudul "Being and Nothingness (1943)" dan yang kedua berjudul Existentialism and Human Emotions (1946)". (ai/pojokseni.com)
your advertise here

This post have 0 komentar

Harap tidak berkomentar yang melanggar HAM, SARA dan tindak kriminal lainnya.

Selanjutnya Posting Berikutnya
Sebelumnya Artikel Sebelumnya

Advertisement

Advertisement