20 June 2019

author photo

pojokseni.com - Sabtu (22/6/2019) dan Minggu (23/6/2019) ada acara keren di Salihara bertajuk Panggung Tari Baru. Acara ini menghadirkan tiga karya tari karya tiga koreografer keren Indonesia.

Berikut tiga tari tersebut:


1. Holy Body

Koreografer: Anis Harliani (Bandung)

Sinopsis


Holy Body adalah karya tari berdasarkan pengamatan si koreografer tentang ukuran-ukuran ideal yang membatasi penari untuk bisa menerima pesanan tari (komersial) di kota Bandung. Misalnya ukuran tangan, paha dan pinggul maupun bobot badan agar dengan mudah diangkat dalam gerakan lifting untuk memuaskan penonton.

Holy Body menawarkan konsep “tari dokumenter” yang tidak hanya berdasarkan pengalaman pribadi koreografer, tetapi juga beberapa responden sesama pelaku tari yang memiliki tegangan atas tubuh ketika berhadapan dengan lingkungan tari komersial. Holy Body sesungguhnya mempertanyakan adakah tubuh yang ideal dalam estetika tari?

Profil


Anis Harliani adalah koreografer kelahiran Bandung, 28 April 1995. Sejumlah karyanya antara lain Holy Body versi sebelumnya yang ditampilkan di ParaDance Festival Yogyakarta (2018) dan Titik Sunyi di Gedung Kesenian Sunan Ambu ISBI Bandung (2017). Ia pernah berkolaborasi untuk pertunjukan Us/Not Us produksi Bandung Performing Arts Forum di Asian Dramaturg Network 2018. Ia pernah mengikuti program Koreografer Muda Potensial di Indonesian Dance Festival 2018, sejumlah lokakarya dan kelas master bersama Eun Mi Ahn (Korea Selatan) di Graha Bhakti Budaya pada 2018.

--

X


Ayu Permata Dance Company (Lampung-Yogyakarta)

X adalah pengembangan motif “samber melayang”, salah satu motif dalam tari Sigeh Penguten (Siger Penguntin), sebuah tarian kreasi dari Lampung yang pada mulanya adalah tari persembahan untuk orang-orang terhormat.
Motif “samber melayang” adalah gerak yang menghubungkan motif satu ke motif yang lain.

Motif itu memiliki esensi yang saling bertolak belakang misalnya buka-tutup, kecil-besar, turun-naik, keluar-masuk, dekat-jauh, kanan-kiri dan lain sebagainya. Koreografer mengambil motif tersebut untuk memperlihatkan bahwa hal yang saling bertolak belakang bisa diciptakan sebagai keseimbangan.

X melibatkan penonton dalam jarak yang cukup dekat dengan penari sehingga memungkinkan penonton mendapatkan suasana yang berbeda. Karya ini akan ditampilkan dengan penerangan yang sederhana, tanpa musik dan menggunakan kostum keseharian.

Profil


Ayu Permata Sari adalah koreografer kelahiran Kotabumi, Lampung, 18 Juli 1992. Sejumlah karyanya antara lain TubuhDang TubuhDut ditampilkan di Indonesian Dance Festival, Galeri Salihara pada 2018 dan LiTuTu di Galeri Helutrans JNM, Yogyakarta pada 2018. Ia pernah berkolaborasi dengan koreografer luar negeri seperti Eisa Jocson (Filipina) di Platform Moonsoon, Europalia 2017, Bethani (Amerika Serikat) di Bandung International Art Festival 2016, Edgar Freire (Ekuador) di Sepatu Menari ISI Yogyakarta 2017 dan Anne Maria (Jerman) di Kotabumi Art Festival 2018. Ia pernah beroleh penghargaan penghargaan Jasa Bakti di Festival Teknologi dan Seni ASIA di Johor Malaysia 2018.

Ad Interim


Koreografer: Eyi Lesar (Jakarta)
Sabtu, 22 Juni 2019, 20:00 WIB
Minggu, 23 Juni 2019, 16:00 WIB

Sinopsis


Ad Interim mengangkat tema perbedaan dan pertentangan di dalam masyarakat. Karya ini ingin memperlihatkan bahwa perbedaan tersebut seharusnya dapat menjalin harmoni dan keseimbangan hidup bersama.

Ad Interim dikemas melalui perpaduan antara gerak, musik dan tata cahaya. Penari akan berkolaborasi dengan musisi yang menggunakan teknologi sensor gerak, di mana dinamika musik akan tercipta seiring dengan pergerakan penari. Ad Interim juga menampilkan konsep tata cahaya melalui lampu melingkar yang bisa menutupi tubuh penari dan menghasilkan siluet berdasarkan pergerakan penari.

Profil


Eyi Lesar adalah koreografer kelahiran Manado, Sulawesi Utara, 13 Februari 1993. Ia pernah beroleh Hibah Seni Inovatif dari Yayasan Kelola untuk karya Who Are You (2018). Ia pernah mengikuti showcase tari di Salihara International Performing Arts Festival (SIPFest) 2018 dan pernah menjadi Guru Tamu untuk Danceversity Contemporary Intensive Workshop.

Ia pernah tampil  di Legacy Dance Showcase yang diadakan oleh Bandung Dance Collective 2018. Sejumlah karyanya yang lain adalah Tomorrow yang ditampilkan di Jakarta Dance Meet Up, Gedung Kesenian Jakarta 2018 dan Sanguin yang ditampilkan di ParaDance Jogja, Gedung Kebudayaan Minomartini 2018. (pojokseni.com)
your advertise here

This post have 0 komentar

Harap tidak berkomentar yang melanggar HAM, SARA dan tindak kriminal lainnya.

Selanjutnya Posting Berikutnya
Sebelumnya Artikel Sebelumnya

Advertisement

Advertisement