Mengulas Pementasan Teater Senyawa dalam "Orang-Orang Setia" -->
close
Satria Marcelino
27 February 2019, 2/27/2019 12:00:00 PM WIB
Terbaru 2019-02-27T05:11:15Z
DramateaterUlasan

Mengulas Pementasan Teater Senyawa dalam "Orang-Orang Setia"

Advertisement
Pementasan Orang-Orang Setia oleh Teater Senyawa
pojokseni.com - 24 Februari 2019, tepatnya sore hari di penghujung pekan terakhir di bulan Februari telah diagendakan sebuah pentas teater di Curup bertempat di Balai Pertemuan Curup. Teater Senyawa namanya, teater yang mementaskan sebuah naskah drama realis berjudul “Orang-Orang Setia” karya Iswadi Pratama dari Teater Satu. Meskipun sore hari itu diguyur hujan dari siang hingga sore hari, semua orang tetap tertarik untuk pergi menonton pementasan ini, mulai dari anak-anak hingga orang dewasa, mulai dari yang baru menonton pertunjukan drama hingga yang baru pertama kali menonton, dari yang jomblo hingga yang punya pacar, semuanya hadir dengan ekspektasi yang tinggi.

Satu-persatu penonton mulai masuk, menyerahkan tiket dan duduk lesehan di sebuah karpet dengan keadaan gelap. Jika melihat ke arah panggung, kita akan mendapatkan sebuah set panggung yang menarik, menggambarkan sebuah kondisi sebuah rumah sederhana atau bisa dibilang miskin yang hidup di pinggiran sebuah kota besar. Di atas panggung terdapat 2 buah tempat tidur dari kayu, sebuah meja kecil dan beberapa piagam yang menempel di dinding rumah. Kita akan langsung menyadari kalau kita akan menonton sebuah drama realis ketika melihat set panggung tersebut.
Adhy Pratama Irianto sebagai Sarmin
Sekitar setengah jam menunggu penonton masuk ke ruangan, acara pun dimulai dan diawali dengan peringatan dan aturan menonton, seperti tidak keluar masuk ruangan ataupun menonaktifkan alat komunikasi selama pementasan berlangsung. Lalu pembawa acara juga memperkenalkan kedua aktor yang terlibat dalam drama ini, yaitu Adhy Pratama Irianto sebagai Sarmin dan Ikhsan Satria Irianto sebagai Rahman. Sembari menjelaskan, kedua aktor masuk ke dalam panggung dalam kondisi gelap. Setelah itu, lighting perlahan-lahan mulai hidup dari arah belakang, kemudian kanan dan kiri hingga terlihat jelas kedua aktor sedang memerankan tokoh mereka dengan baik. Tak ketinggalan iringan suara jangkrik yang menambah suasana heningnya malam itu.
Ikhsan Satria Irianto sebagai Rahman

Semua penonton terfokus pada setiap dialog dan ekspresi kedua aktor tersebut. Di awal drama, penonton dibuat mengerti posisi masing-masing tokoh dan apa yang sedang dialami kedua tokoh tersebut, penonton juga akan langsung mengerti bahwa Sarmin dan Rahman adalah dua orang paruh baya dari tata rias yang sangat baik dan juga cara berbicara serta gesture kedua tokoh yang diperankan oleh aktor tersebut. Sarmin merupakan seorang guru honorer di sebuah sekolah yang memiliki hobi membaca karya sastra dan telah mengabdi 40 tahun, sedangkan Rahman merupakan seorang penjaga kamar mayat. Sifat kedua tokoh ini agak berlawanan, Sarmin adalah orang yang optimis dan berwawasan luas, sedangkan Rahman merupakan orang yang pesimis dan dia hanya bisa mengandalkan Sarmin untuk memperluas wawasannya. Mereka berdua sudah merantau sejak masih muda dengan harapan bisa mencari nafkah di kota besar, tapi masa muda mereka habis dengan menjadi gelandangan. Tetapi itu tidak menyurutkan semangat mereka untuk hidup, mereka tetap berjuang untuk mendapatkan profesi atau pekerjaan yang layak, bahkan mereka sempat menjadi guru ngaji.
Rahman menunjuk ke arah piagam hasil akal-akalan mereka
Drama berjalan sangat kondusif, para penonton dapat mengikuti aturan dan terkadang di beberapa dialog, para penonton tidak bisa menahan gelak tawa mereka melihat beberapa adegan yang lucu, seperti ketika Sarmin dan Rahman mengadakan Gladi Resik penyerahan penghargaan oleh Gubernur. Tetapi tidak hanya itu, setelah dibuat lucu, emosi para penonton langsung dijatuhkan dengan adegan sedih, seperti adegan ketika Sarmin dan Rahman bertengkar yang kemudian Rahman keluar meninggalkan Sarmin. “Kita boleh miskin, tapi kita tak pernah merasa sedih, Man !”, begitulah kira-kira perkataan Sarmin yang membujuk Rahman agar tidak meninggalkan dia. Dijamin, emosi kalian akan terbanting habis ketika menonton drama ini dan tanpa kalian sadari sudah dalam kondisi berlinang air mata bahkan sesaat kalian masih ingin meneruskan gelak tawa.
Gladi Resik penyerahan penghara
Sarmin sedih harus bertengar dengan Rahman

Rahman sedih harus bertengkar dengan Sarmin
Pada akhir drama, diceritakan bahwa rumah mereka digusur tepat di hari Sarmin akan mendapatkan penghargaan dari Gubernur dan ironisnya yang menggusur adalah pemerintah itu sendiri. Tidak sampai di situ, ternyata undangan penyerahan penghargaan dari Gubernur itu hanya akal-akalan Sarmin saja, dan pada akhirnya mereka hanya bisa tertawa menyaksikan penderitaan mereka yang tiada akhir. Kemudian lighting perlahan-lahan meredup dan akhirnya mati, menandakan drama telah selesai. Ada sebuah kutipan menohok yang diucapkan Sarmin ketika Rahman bertanya "Apa itu Pemerintah ?" dan kutipan ini masih segar di ingatan saya.
“Pemerintah itu adalah orang yang akan datang ke upacara besok, naik mobil, pintunya dibukakan dan ditutupkan, dia dikawal dan diiringi, kepalanya terus tegak meskipun orang menunduk kepada dia, duduk paling depan dengan hidangan, berpakaian rapi dan necis, datang paling terakhir dan pulang paling awal, nah siapapun nanti yang kamu lihat seperti itu, nah itu Pemerintah.”
Rahman dan Sarmin tertawa ketika melihat rumah mereka digusur

KLIK DI SINI UNTUK MENONTON CUPLIKAN PEMENTASAN "ORANG-ORANG SETIA"

Begitulah kira-kira pertunjukan drama dari Teater Senyawa, dengan peralatan sederhana dan tempat seadanya, Teater ini mampu menampilkan hasil yang sangat maksimal dan mampu menghanyutkan jiwa para penonton ke dalam setiap adegan yang mereka mainkan. Apakah kalian tertarik untuk menonton pertunjukan teater ? Saksikan pertunjukan selanjutnya dari Teater Senyawa, pantau terus pojokseni.com, sampai jumpa di pementasan selanjutnya. (smc/pojokseni.com)