Impian Teater Nasional Indonesia: Impian Sumpah Pemuda -->
close
Pojok Seni
21 January 2019, 1/21/2019 11:52:00 AM WIB
Terbaru 2019-01-21T04:52:55Z
Artikelteater

Impian Teater Nasional Indonesia: Impian Sumpah Pemuda

Advertisement

pojokseni.com - Impian untuk melahirkan suatu teater yang bisa diklasifikasikan sebagai “Teater (Nasional) Indonesia” tampaknya merupakan bagian dari impian kita yang lebih besar dalam semangat Sumpah Pemuda 1928.

Drama berjudul Bebasari (1926) karya Roestam Effendi mengungkapkan kebenaran kolektif itu dengan bahasa simbolik. Kisahnya memang masih berkisar di zaman raja-raja. Diceritakan bahwa seorang putri bernama Bebasari dikuasai oleh raja jahat bernama Rawana, yang kemudian dibebaskan oleh seorang pangeran bernama Budjangga. Sebuah kisah cinta yang biasa-biasa saja. Makna dari “Bebasari” berasal dari kata “Bebas” dan “Sari” ataupun bentuk perempuan untuk kata bebas.

Orientasi Awal


Impian untuk melahirkan suatu teater yang bisa disebut sebagai teater Indonesia itu dirumuskan dalam bentuk dokumen untuk pertama kalinya oleh kalangan seniman yang berkumpul dalam grup teater “Maya” yang dipimpin oleh Usmar Ismail dan berdiri menjelang lahirnya Proklamasi Kemerdekaan Indonesia.

Grup inilah yang dengan tegas menyebutkan dasar dan tujuannya, yaitu: “Memajukan seni sandiwara pada khususnya, kebudayaan pada umumnya, dengan berdasarkan kebangsaan, kemanusiaan, dan ketuhanan. “realisme”, “modern”, dan “barat” adalah tiga kata kunci yang menentukan orientasi awal wajah dunia teater “nasional” kita, terutama dilihat dari sudut seni pengadegan dan seni acting, selama kurun waktu dari 1945-1967.

Orientasi Mutakhir


Pada zaman Orde Baru, kubu Kaum Manifestan mendapat angina segar terutama sekali setelah lewat musyawarah antara kelompok ini dengan aparat pemda DKI Jakarta. Yang pada masa itu digurbernuri oleh Ali Sadikin, maka lahirlah Taman Ismail Marzuki (TIM) pada 1968.

Orientasi mutakhir ini mungkin sekali bisa dibaca sebagai pembenaran terhadap adanya kecenderuangan postmodern Indonesia, paling tidak dilihat dari adanya kebangkitan dari yang dipinggirkan selama ini. Bahwa yang dulu dinista sebagai “yang kuno” atau yang “ketinggalan zaman”, kini justru menjadi kekuatan yang mampu memberikan alternative lain dari tiga kata kunci dalam “Orientasi Awal”.

Artinya, dia masuk ke dalam sosok batu yang berada pada posisi yang eksis sebagai realitas, meskipun tidak dalam wujudnya yang sebagaimana adanya ketika dipinggir, tetapi sesuatu yang lain.
Dengan kata lain, tak ada lagi tunggal yang pusat itu. Dan di dalam bhineka tunggal ika yang dia dulu dipinggirkan ada sebagai bagian penting di dalamnya.
Jadi, yang baru itu memang hasil sebuah metamorphosis dari proses hibridasi.

Gebrakan orientasi mutakhir ini di Indonesia, khususnya di bidang teater ini, diawali oleh WS Rendra dengan ciptaannya yang kemudian terkenal dengan sebutan teater mini kata dan Arifin C. Noer dengan drama mega-mega dan kapai-kapai. Mereka berdualah yang tampil sebagai perambah jalan untuk mencari alternative lain di luar orientasi awal bagi teater.

Tiga kata kunci yang pertama (Orientasi Awal) telah digantikan oleh tujuh kata kunci baru (Orientasi Mutakhir): “Non-realistik”, “experiment”, “alternative”, “akar budaya”, “wajah Indonesia”, “bhineka/pluralism”, dan “polyphony”.

Duet DKJ dan PKJ


Gebrakan orientasi mutakhir itu memang menunjukan kepiawaian seniman teater Indonesia dalam kiprah kreatifnya, tapi juga ada faktor sampingan yang penting dicermati. Kehidupan teater di Indonesia banyak ditentukan oleh gejolaknya yang ada di pusat Kesenian Jakarta Taman Ismail Marzuki. Khusus untuk kebijakan di bidang teater TIM. Maka nama dramawan Wahyu Sihombing yang menjadi ketua komite teater DKJ patut dicatat sebagai factor penting penyebab gilang-gemilangnya aktivitas dunia teater kita di TIM khususnya, dan Indonesia umunya.

Last but not least adalah sebuah kegiatan yang diberi nama pertemuan teater secara berkala yang diselenggarakan di Jakarta. Dan kemudian juga bisa diselenggarakan di kota-kota lain. Dalam pertemuan ini bukan hanya karya seni pentas yang ditampilkan, melainkan juga diselenggarakan seminar-seminar dan lokakarya. Kegiatan ini tentulah besar manfaatnya bagi perjalanan ke depan teater nasional Indonesia.

Interaksi Pluralis


Selain itu, juga bisa dicatat sebagai yang penting adalah buah dari teater nasional Indonesia dengan orientasi mutakhir yang berhasil menerobos ke pentas kancah percaturan teater dunia. Buah itu adalah yang terjadi pada dasawarsa 1980-1990, yaitu berupa keterbukaan mata internasional terhadap kehadiran teater nasional Indonesia dengan orientasi mutahir.

Kehadiran teater nasional mutakhir ini di luar negeri menunjukan dunia teater Indonesia tidak lagi sekedar obyek dari proses globalisasi totaliter yang menghasilkan teater nasional awal. Sebaliknya, sekarang ini teater nasional mutahir mulai ambil dalam interaksi pluralistic di pentas teater dunia.
Singkat kata, teater nasional mutakhir Indonesia sekarang sudah bisa duduk sama rendah tegak sama tinggi dengan teater-teater lainnya di dunia, termasuk dengan teater tradisional Indonesia. (Sumber: Teater Indonesia (Konsep, Sejarah, dan Problema). (isi/pojokseni)

Ads