11 December 2018

author photo

Baca Juga


Pertunjukan karya tari Gerhana Bulan koreografer Syahril Alek.
oleh Rahmat Pangestu

pojokseni.com - Syahril Alek kembali mempertegas eksistensinya sebagai koreografer dengan mencoba kembali bereksperimen lewat karya tarinya. Ciri khas Alek dalam menciptakan karya adalah ‘riset’ yang mendalam terhadap suatu fenomena kultural atau sosial. Alek selalu melahirkan koreografinya dengan memunculkan trobosan baru, kejutan-kejutan dan bahkan mengundang kontroversi.

Salah satu karya terbarunya yang bertajuk “Gerhana Bulan” yang merupakan karya Hibah Pendanaan, Penelitian Karya Seni dan Pengabdian Masyarakat, Institut Seni Indonesia Padangpanjang tahun 2018. Ditampilkan pada hari rabu yang lalu (17 Oktober 2018) pukul 20:00 WIB. Karya yang berdurasi 25 menit ini dipentaskan di Gedung Auditorium Boestanul Ariefin Adam.

Gerhana Bulan mencoba mengungkapkan tentang siklus kehidupan antara laki-laki hidung belang dan perempuan penghibur. Material artistik dari penciptaan karya ini berpijak dari  bentuk koreografi tari Zapin. Gerhana Bulan merupakan realita dari sebuah fenomena alam. Bulan dan matahari mempunyai ruang sama dalam waktu yang berbeda. Fenomena tersebut menandakan bahwa roda kehidupan juga berputar layaknya rotasi bulan dan matahari.

Banyak di lingkungan sekitar menemukan orang kaya yang tiba-tiba bangkrut ataupun orang miskin yang menjadi sukses. Hal ini memberikan gambaran, bahwa dalam kehidupan tidak boleh meremehkan orang lain dan tetaplah bersikap tafakur. Saat gerhana bulan akan tertutup kegelapan sepenuhnya, bulan yang mengalami gerhana hanya sementara saja.

Rintangan dan hambatan hidup yang dialami juga bersifat sementara dan akan segera berlalu. Setelah gelapnya kehidupan maka akan muncul matahari untuk menerangi. Hal tersebut dapat diamati dari fenomena alam dan budaya, semua yang berproses tidak akan ada yang abadi di duniawi. Pasti akan ada cahaya yang menerangi setelah kegelapan, asalkan tetap berusaha agar rintangan itu bisa dilewati.

Alek berpandangan bahwa tari Zapin dapat mendukung gagasannya dalam karya Gerhana Bulan ini, sehingga Alek mencoba mengeksplorasi Zapin untuk kebutuhan koreografinya. Alek lebih fokus pada gerak dasar dari tari Zapin dan sedikit menyampingkan makna atau isian dari tari Zapin itu sendiri.

Meskipun memberikan inovasi yang kreatif, namun karya Gerhana Bulan Alek begitu mengundang berbagai presepsi dari penonton. Keberanian Alek dalam berkarya dianggap telah melampaui batas dan menghancurkan norma-norma adat dan agama yang ada di dalam tari Zapin. 

Zapin tergolong dalam tarian-tarian melayu, zapin pada hakikatnya berfungsi sebagai media dakwah islamiyah, seiring dengan berkembangnya zaman zapin memiliki bergama fungsi seperti kelestarian budaya, pendidikan dan, hiburan. Namun dalam karya koreografi Alek, hanya memfokuskan pada nilai hiburan semata, sehingga karyanya yang begitu fulgar dan frontal dianggap sebagai karya yang keluar dari norma-norma adat Melayu. 


Alek mewujudkan karya ini dengan empat penari laki-laki dan empat penari wanita.  Awal tarian dibuka dengan memunculnya seorang penari wanita yang diterangi dari sorotan cahaya lampu. Wanita itu menggunakan cadar dengan mengisyaratkan sorotan mata yang nakal dan pakaian yang menampilkan jelas bentuk tubuhnya.

Bergerak melekuk-lekukan tubuh, menggoyangkan pinggul dan tatapan yang penuh menggoda layaknya wanita penghibur untuk para kaum adam, hal ini dilakukan secara bergantian oleh para empat penari wanita. Kemudian dilanjutkan dengan munculnya empat laki-laki hidung belang yang memakai thwab atau bisa disebut baju gamis khas pria Arab.

Para laki-laki memperlihatkan ketertarikan terhadap wanita dengan bahasa tubuh yang frontal serta pola-pola gerakan kaki yang cepat.

Gerakan pinggul merupakan kekuatan pada karya Gerhana Bulan, Alek menghadirkan gerakan pinggul sembari diimbangi dengan gerakan melekuk-lekukan tubuh. Unsur sensual begitu kentara dalam garapan Gerhana Bulan ini.

Gerak khas dari Tari Zapin terlihat pada gerakan penari pria yang mengungkapkan kegairahan seorang pria terhadap wanita. Namun, pola gerak terasa begitu over power, sehingga keseimbangan gerak antara penari pria dengan penari wanita tidak lagi selaras, ketimpangan gerak ini menjadikan koreografi Alek kura padu.


Jika dilihat dari sudut pandang mayoritas penonton, khususnya masyarakat Sumatra Barat yang masih memegang teguh norma-norma adat dan agama, mereka beranggapan karya Gerhana Bulan merupakan karya tari yang tidak pantas dipertunjukan. Persepsi ini lahir karena karya Gerhana Bulan ditangkap sebagai karya yang beraroma pornografi, hal tersebut disebabkan oleh gerak-gerakan frontal dan erotis. 

Proses penciptaan karya oleh Syahril Alek sebernarnya perlu diacungi jempol, karena Alex sebagai koreografer memiliki keberanian dalam mengekspresikan gagasannya dan bertanggung jawab dengan karya yang ditampilkannya. Namun setiap ekspresi, seharusnya membutuhkan batasan agar tidak berfokus pada estetika saja, tertapi juga mempertimbangkan unsur etikanya.

Karya Gerhana Bulan akan sangat diterima jika dipentaskan di kota metropolis dengan masyarakat urbannya, tetapi karya ini menjadi sangat disayangkan bila dipentaskan di Sumatra Barat yang masyarakatnya masih berpegang teguh pada norma-norma adat dan agama. (isi/pojokseni)
your advertise here

This post have 0 komentar

Harap tidak berkomentar yang melanggar HAM, SARA dan tindak kriminal lainnya.

Selanjutnya Posting Berikutnya
Sebelumnya Artikel Sebelumnya

Advertisement

RajaBackLink.com

Advertisement

Loading...