Islam Agama Estetika



Oleh : Hilmi Kusuma

“Tuhan itu Maha Indah dan mencintai keindahan”. 

Demikian ungkapan Rasulullah yang sering saya dengar, bahwa Tuhan itu mencintai estetika dan Seni. Berangkat dari sini saya berfikir sebenarnya Islam sangat menghargai Kesenian sebagai bentuk ekspresi dari manusia terhadap perasaan dan pengalaman yang ditemui manusia dalam proses hidupnya dan setiap apapun yang dirasakan serta dialami setiap muslim outputnya harus berupa keindahan hingga dikatakan dalam Qur’an;

"Bahwa kami tidak mengutus engkau (Muhammad) kecuali untuk menjadi Rahmatan lil alamin." 

Rahmatan lil alamin artinya menebar kedamaian, keadilan, dan kasih sayang. Maka tidak dibenarkan apabila seorang muslim mengekspresikan sesuatu dengan bertindak kasar, harus ada estetika dan seni didalam tiap laku muslim agar orang yang melihatnya dapat merasakan dan memahami bahkan menikmati output yang keluar dari seorang muslim.

Begitu pentingnya berkesenian dalam Islam.


Pendekatan yang dilakukan seorang seniman dalam memahami sebuah realitas adalah dengan intuisi. berangkat dari situ seorang seniman akhirnya mengelaborasikan apa yang dia rasakan dengan observasi dan menggunakan metode-metode lain seperti ilmu pengetahuan dan pengalaman yang dimilikinya sebelum akhirnya diekspresikan dalam bentuk sebuah karya.

Intuisi atau perasaan sangat penting bagi seorang seniman. Karena dengan itu seniman bisa memahami nilai-nilai substansial dari sesuatu. Suatu realitas bisa dikatakan eksis apabila ia konkrit (das sein) dan memiliki nilai (das sollen). Sekarang coba kita lakukan pendekatan ‘rasa’ ini untuk memahami Tuhan.

Tuhan tidak terikat pada ruang dan waktu maka kita tidak mungkin mencapainya dengan akal-intelektual, tapi Tuhan bisa di’rasa’kan dan dengan pendekatan rasa yang presisi orang akhirnya akan menyadari dan merasakan eksistensi Tuhan.

Nah, lembaga untuk mencari kebenaran yang menggunakan prosedur ‘rasa’ hanyalah seni. Maka seni sangat penting bagi seseorang untuk memahami dirinya sendiri dan memahami Tuhan.

"Man arafa nafsahu fa Qad arafa rabbah" (Yang mengenal diri akan mengenal Tuhan)

Sebagai seorang yang berkecimpung didunia Seni saya memahami bahwa seniman memiliki misi dalam setiap pentasnya. Ada yang ingin menyampaikan kritik sosial, ada juga yang menyampaikan aspirasi dan pesan dari rakyat, minimal mereka punya misi untuk menghibur.


Semua itu bagi saya adalah sebuah ekspresi dari seniman yang dengan itu bisa menciptakan suatu kesadaran pada audiensnya untuk memahami realitas dengan lebih luas. harapannya agar orang-orang menyadari dan mewujudkannya berupa Perdamaian, persamaan serta kesetaraan hak dan kewajiban, juga menjadi manusia yang sebenar-benarnya, berguna bagi diri sendiri, keluarga juga orang lain. Dalam hal ini sangat sejalan dengan misi rahmatan lil alamin dalam Islam.

Namun entah mengapa Islam sendiri seperti membatasi ekspresi. Banyak sekali hukum-hukum dan prosedur yang seakan mempersempit ruang ekspresi bagi seniman contohnya seperti larangan melukis atau membuat patung yang serupa dengan makhluk hidup dan lain-lain.

Banyak pula ulama yang berfatwa mengenai keharaman Teater, lukisan, musik, patung, dan lain-lain. Seni pertunjukan saja contohnya banyak ulama yang mengharamkannya seperti Syeikh Abdul Aziz bin Baz, Nashiruddin Al Albani, Abdullah Al Ghumari, Ahmad Al Ghumari, Bakar Abu Zaid, Shalih Al Fauzan, sampai Hamud Tuwaijiri.

(Baca: Apa hukum seni teater menurut Islam?)

Perlu dipahami bahwa ulama-ulama yang mengeluarkan fatwa haram ini rata-rata adalah ulama Islam konservatif, fanatik, dan ekstrem. Mereka kebanyakan mengambil hukum berdasarkan secara Tekstual tanpa berusaha memahami konteks dan substansinya.

Sedangkan ulama-ulama yang menghalalkan seperti Yusuf Qardawi, dan Rasyid Ridha memang biasanya dikenal berfaham moderat yang dalam mengambil hukum beliau-beliau senantiasa memahami suatu literatur secara tekstual, kontekstual, dan mencoba mencari substansinya.

Adapun hukum dan prosedur sendiri sebenarnya hanyalah masalah proporsi yang harus kita lihat bagaimana sebenarnya substansinya? Dan dalam konteks yang bagaimana? Nilainya apa?.

Haram atau tidaknya sesuatu lebih kepada bagaimana penempatannya contohnya seperti pisau, pisau adalah barang halal, yang salah adalah ketika pisau dipakai untuk membunuh. maka hukumnya haram karena sudah difungsikan dengan tidak tepat dan tidak pada tempatnya begitu pula Seni.
Semuanya akhirnya akan bermuara pada asas manfaat atau tidak sesuatu itu dan kembali pada proporsinya. Islam sendiri sangat dekat dengan tradisi Seni seperti tarian sufi (whirling dervishes) yang diciptakan seorang ulama besar Jalaluddin Rumi juga para wali songo yang berdakwah lewat seni seperti Wayang, Bonang, kidung, dan lain-lain.

Jadi semua kembali pada penempatan dan kordinat serta proposi, itupun sekarang banyak salah difahami oleh masyarakat. Seringkali masyarakat membenci sesuatu yang dianggap haram padahal hal tersebut tidak langsung bisa dibenarkan.

Contohnya; Anjing haram tapi jangan membenci anjing, anjing tak punya salah yang haram adalah ketika ia dimakan dan ditempatkan tidak pada tempatnya atau diperlakukan tdak semestinya. Dan Islam mengajarkan untuk menemukan proporsi dalam tiap apa yang kita lakukan dengan Seni.

Islam adalah ruang bukan sebuah barang. Islam menjadi ruang untuk banyak barang dan kemungkinan. Islam bukan sekedar barang dalam ruang.

Islam adalah ruang itu sendiri. (@pojok.seni)

No comments:

Post a Comment

Harap tidak berkomentar yang melanggar HAM, SARA dan tindak kriminal lainnya.

loading...