Seni Tradisi dan Inovasi: Upaya Menanggulangi Modernisasi -->
close
Pojok Seni
17 May 2018, 5/17/2018 01:47:00 AM WIB
Terbaru 2018-05-16T20:10:17Z
Artikel SponsorMateri TeaterSeni

Seni Tradisi dan Inovasi: Upaya Menanggulangi Modernisasi

Advertisement
Desriyanto dalam pertunjukan teater Anggun Nan Tongga: Perempuan Dalam Bingkai Jendela

oleh Ikhsan Satria Irianto

pojokseni.com - Sebagai produk kebudayaan, kesenian tradisional tak dapat dipisahkan dari masyarakat, karena seni tradisi tumbuh dan berkembang bersama masyarakat secara turun temurun. Eksistensi kesenian tradisi menjadi identitas yang memiliki ciri khas tersendiri dari masyarakat tersebut. Sehingga dalam bahasan kesenian tradisi, masyarakat memiliki peran penting dalam perkembangan kesenian-kesenian yang telah menjadi hak milik mereka. Hilang dan hancurnya  kesenian tradisi tersebut tergantung pada masyarakat itu sendiri.

Dewasa ini kesenian tradisi kurang memiliki daya jual dalam pasar seni pertunjukan. Roda modernisasi begitu cepat berputar sehingga menggilas kesenian-kesenian yang tak mampu mengikuti perkembangan zaman. Bentuk-bentuk kesenian yang datang dari barat, begitu mencuri perhatian masyarakat, terutama anak-anak muda. Sebagai salah satu jalan keluar dari problematika yang pelik tersebut, haruslah dilakukan sebuah inovasi terhadap kesenian tradisi agar dapat bertahan dan memiliki daya jual pada pasar seni yang terus berkembang.

Memilih cara melestarikan kesenian tradisi dengan melakukan inovasi-inovasi guna menyesuaikan dengan pasar seni hari ini, kiranya sedang diupayakan Desriyanto melalui pertunjukan teater Anggun Nan Tongga: Perempuan Dalam Bingkai Jendela. Pertunjukan teater yang helat pada hari senin (14 mei 2018) di Gedung Pertunjukan Hoerijah Adam ini, merupakan pertunjukan teater dalam rangka ujian tugas akhir Program Studi Seni Teater Institut Seni Indonesia Padangpanjang. Pertunjukan yang berdurasi 1 jam ini merupakan persembahan karya pemeranan dari Desriyanto sebagai persyaratan mendapatkan gelar sarjana seni. Pertunjukan teater yang kental dengan budaya Minangkabau ini, terselenggara berkat dukungan penuh dari Pemprov Sumatra Barat dan Pemkab Agam.

Semangat Desriyanto sebagai pemuda yang masih memperdulikan kesenian tradisi perlu mendapatkan acungan jempol. Meskipun seni tradisi hari ini diasumsikan secara general sebagai seni yang kuno, hal itu tidak mengurangi kecintaannya kepada seni tradisi di Sumatra Barat. Dengan memilih naskah drama yang terinspirasi dari kaba Minangkabau, Desriyanto mencoba menampilkan kepiawaiannya dalam seni tradisi Minangkabau dalam kemasan pertunjukan teater modern yang ia pelajari di kelas semasa perkuliahan.

Anggun Nan Tongga: Perempuan Dalam Bingkai Jendala adalah rekontruksi dan dekontruksi dari kaba Anggun Nan Tongga oleh Edi Suisno (Dosen ISI Padang Panjang). Dalam versi Edi, cerita Anggun Nan Tongga lebih menitikberatkan kepada masalah percintaan dan pengkhianatan. Hal ini sangat bertolak belakang dari cerita Anggun Nan Tongga versi kaba yang mengusung tema kepahlawanan. Dengan menyuguhkan sudut pandang baru dari ide cerita, membuat kaba masih segar untuk dikonsumsi hari ini.

Inovasi juga tergambar secara eksplisit pada konsep penggarapan. Dalam konteks penyutradaraannya, pertunjukan Anggun Nan Tongga: Perempuan Dalam Bingkai Jendala mencoba mengeksplorasi unsur esensial dari randai (seni tradisi minang kabau) sebagai material artistik dalam penciptaan teater modern. Sehingga pertunjukan tersebut masih memiliki daya tarik meskipun mengusung spirit tradisi.

Sebagai mahasiswa teruji dengan minat utama pemeranan dalam pertunjukan tersebut, Desriyanto memiliki daya hadir yang kuat dalam laju dramatik pertunjukan. Dengan kepiawaian bermain alat musik tradisional, bersilat, berpetata-petiti dan tentunya berdialog dengan penuh penghayatan, mempertegas bahwa Desriyanto menapilkan dirinya sebagai aktor multitalenta. Tentunya melalui bimbingan dari dosen pembimbing karyanya yaitu Zulkifli, S.Kar, M.Hum dan Dr, Sahrul. N S.S., M.Si dan dukungan dari aktor lain seperti Ari Wirya Saputra yang berperan sebagia Laksamana, Lusi Handayani yang berperan sebagai Ibunda Ratu, Alfidiya Nur Yuanda yang berperan sebagai Gondan Gondoriah dan Riza Risdanty yang berperan sebagai Intan Korong.



Menimbang Pasar dan Melestarikan Budaya


Dengan mengangkat naskah yang kental dengan budaya Minangkabau dan memanfaatkan unsur tradisi sebagai material artistik dalam proses mewujudkan tokoh, Desriyanto mencoba menawarkan pertunjukan teater yang mencoba membumikan tradisi Minangkabau yang telah mengawang-awang karena mordernisasi. Dengan menawarkan inovasi-inovasi, Desriyanto bermaksud memberikan nyawa baru pada tumbuh kembang kesenian tradisi.

Sebagai generasi muda, Desriyanto tidak begitu terpukau oleh bentuk-bentuk seni yang datang dari barat, tetapi tidak juga hanya fokus pada konvensi-konvensi tradisi. Desriyanto mencoba menanggulanginya dengan memadukan kedua bentuk kesenian tersebut. Hingga terciptalah pertunjukan teater yang bernuansa tradisi yang memiliki daya jual. Sebagai calon sarjana seni muda dan putra daerah yang mencintai kesenian tradisi, Desriyanto diharapkan menjadi figur yang mampu membaca pasar dan membuat kesenian tradisi memiliki daya jual khususnya di Sumatra Barat.

Pelestarian budaya seperti itu haruslah rutin dilakukan agar mata rantai seni tradisi tidak terputus. Hal tersebut haruslah dilakukan guna menyeimbangkan antara kesenian tradisi dan arus modernisasi. Karena seni-seni tradisi harus mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman agar tak terkesan kuno dan ketinggalan zaman, namun dalam proses pelestariannya tetap saja harus mempertahankan kekuatan tradisi. (@pojokseni.com)

Ads