Hubungan Anak dengan Orang Tua -->
close
Pojok Seni
12 December 2017, 12/12/2017 11:55:00 PM WIB
Terbaru 2017-12-12T16:55:09Z
Artikel

Hubungan Anak dengan Orang Tua

Advertisement

Oleh :  Rudolf Puspa

Ketika putri sulungku bertanya kenapa kini problem terbesar anak remaja justru dengan orang tuanya? Bahkan paling banyak dengan ayahnya? Saya tercenung tidak mampu langsung menjawab. Problem inilah yang puluhan tahun aku hadapi khususnya di kegiatan teaterku. Problem besar adalah sulitnya mendapat ijin orang tua bagi anaknya ikut pentas teater dalam kota; apalagi ikut keliling yang artinya harus meninggalkan rumah.

Yang sering saya dengar adalah kesan orang tua bahwa bergaul dengan seniman adalah memasuki sebuah kehidupan bebas yang tak terkendali dan terutama yang paling ditakuti adalah kebebasan sex.  Maka di tahun2 ketika saya masih sekolah SMA mencari pemain wanita adalah yang paling sulit. Tidak heran jika sebuah kelompok teater pemain wanitanya hanya satu dua saja. Rasanya bagai mendapat anugerah yang tak terkira nilainya. Oleh karenanya naskah2 drama waktu itu juga selalu ditulis dengan tokoh wanita nya tidak banyak. Rupanya para pengarang juga memahami kondisi saat itu.

Masuk ke zaman orde baru keadaan pun belum berubah dalam arti tidak mudah mendapat pemain terutama wanita. Kondisi politik pemerintah saat itu juga tidak mendukung kegiatan teater dengan alasan tersembunyi bahwa teater cenderung sering mengkritik pemerintah. Maka orang teaterpun menjadi musuh pemerintah sehingga mendapat ijin pentas bukan gampang. Maka tidak heran teater keliling dalam lawatannya maka jumlah pemain wanita juga hanya satu dua yang ikut. Dery Syrna sebagai pimpinan teater waktu itu mesti sangat hati2 dalam merangkul penguasa agar dapat ijin keliling. Tidak mudah dan perlu waktu panjang dan dengan kesabaran dan kegigihannya maka dapat berkeliling sepanjang pemerintahan orde baru. Tidak aneh jika harus berurusan dengan keamanan di setiap daerah.

Barulah ketika 1998 terjadi perubahan politik besar-besaran mulai dari pucuknya maka pintu kebebasan berkesenian terbuka lebar. Taka ada lagi aturan untuk perijinan pertunjukkan teater. Presiden Habibi membuka pintu kebebasan berkarya sehingga seniman mulai bisa bernafas segar. Dan baru 1999 yang namanya ekskul teater di sekolah di Jakarta bisa tumbuh pelan2. Saya merasakan mendapat ruang dan waktu menjadi pelatih di beberapa sekolah. Menggabungkan mereka dan membuat pentas besar setahun dua kali dan bebas menjualtiket ke sekolah2 di Jakarta. Sambutannya luar biasa hingga teater keliling bisa pentas sampai 20 hari karena banyaknya penonton. Bahkan satu hari harus sanggup pentas tiga kali karena perjanjian dengan kepala sekolah siswa tidak boleh keluar malam.



Yang mengejutkan adalah peserta ekskul justru wanita mendominasi hampir 80% nya. Bahkan banyak sekolah yang tak ada satupun peserta laki2nya. Ironis sekali di alam kebebasan justru mencari pemain laki2 yang sulit. Namun pesta besar ini tidak berlangsung lama karena adanya aturan baru sekolah bebas bayar sehingga meminta uang ke pelajarpun akibatnya kena larangan. Sejak itupun mulai surutlah pentas untuk pelajar dan akhirnya terhenti total hingga kini. Peserta ekskul makin banyak dan tetap wanita yang terbanyak. Namun mencarikan kesempatan manggung yang sulit.
Ekskul teater terasa makin terdesak hingga terkesan menjadi anak tiri. Bahkan tidak sedikit yang menutup kegiatan ini karena alasan tak ada dana. Oleh karenanya jika teater keliling masih melatih maka sering tidak meminta dana untuk menggaji pelatih dari sekolah namun mencari dana dari luar.

Ada sekolah yang para siswanya justru yang urunan untuk memberi uang transport pelatih. Mengharukan ketika menerimanya dan belakangan baru tau itupun dilakukan secara diam-diam karena kalau ketahuan kepala sekolah akan dilarang. Dan saya masih bisa gembira karena masih ada beberapa sekolah yang kepala sekolahnya mampu mengatur keuangan sekolah sehingga masih bisa memberikan sedikit honorarium bagi pelatih dan itupun karena adanya guru pembina yang memang suka teater dan berusaha untuk terus bisa ada ekskul teater. Salut pada mereka yang masih berjuang untuk itu hingga saat ini.

Namun hambatan pun tidak berkurang; karena muncul kesulitan baru yakni banyak peserta ekskul yang cerita kalau sebenarnya mereka tidak disetujui orang tuanya ikut ekskul teater dengan banyak macam alasannya. Dan yang lebih membuat runyam adalah pihak sekolah sendiri tidak bisa atau tidak mau ikut campur dalam hal ini. Nah jika pihak sekolah tidak mau memberikan dukungan dan memberikan penerangan bahwa kegiatan seni teater itu baik dan sesuai dengan kurikulum yang ada di sekolah untuk pendidikan karakter misalnya; ya jangan harap sebagai pelatih bisa didengar para orang tua. Bahkan guru pun bisa tidak didengar bagi para orang tua yang memang keras sikapnya dalam membuat larangan tersebut.

Terlepas dari semua cerita tentang perjalanan teater di sekolah yang saya alami maka menjawab pertanyaan putri saya di atas; saya cukup kebingungan. Saya sedang bertanya tanya apakah sebagai orang tua telah mampu mendengar dan melihat gejolak anaknya? Apakah mereka tau keinginan anak-anaknya? Bahwa anaknya sedang berperang dengan dirinya dalam menentukan langkah2nya? Mau kekiri kekanan kebelakang kedepan keatas kebawah kesamping? Apakah para orang tua masa kini justru mewarisi sikap orang tua masa lalu yang sadar atau tidak terdidik menjadi otoriter? Yang menentukan semua yang harus dilakukan anak2nya, karena dia dulu juga begitu dididik orang tuanya? Kalau benar memang pewarisan karakter para sesepuh masa lalu masih berjalan maka benar2 harus ada usaha untuk mendobraknya. Namun apakah pendidikan di sekolah menyadari hal ini dan melakukan perubahan?

Zaman saya dulu jika ada hambatan dari keluarga jika memang merasa bahwa pilihan jalannya adalah benar dan meyakinkan maka diam2 akan mengadakan perlawanan. Ikut kegiatan secara diam2 dan berani menanggung risiko waktu hari pertunjukkan tidak ditonton keluarga. Ini sebuah pengorbanan yang sangat besar karena kebanggaan terbesar justru ketika kegiatan yang dilakukan mendapat restu orang tua. Kebanggaan orang tua terhadap laku anaknya adalah anugerah yang begitu dahsyat bagi anak.

Zaman now hal itu sangat jarang ada yang berani melakukan. Kini yang ada adalah anak2 manis yang terus berada di pangkuan orang tuanya. Ijin orang tua adalah suatu kata mati. Orang tua menyediakan dana besar untuk keperluan anak2nya namun yang sesuai dengan aturan2nya. Dan sepertinya anak sekarang tidak terlatih untuk “memberontak” sehingga lebih memilih mengalahkan dirinya demi kepuasan orang tuanya. Ada ketakutan kalau berani melawan secara terbuka lalu dihentikan kucuran dananya maka tidak akan sanggup hidup tanpa uang. Celakanya jika kena stress berat maka diam diam pemberontakkannya justru masuk kelingkaran yang negatif, utamanya narkoba. Orang tua kaget karena menurutnya anaknya baik-baik, penurut dan rajin sekolah serta selalu belajar di rumah. Dan parahnya melihat akibat anaknya seperti itu maka ia salahkan lingkungan dan bukan justru mencari dari dalam dirinya apakah sebagai orang tua sudah benar-benar juga pendidik?

Sangat memprihatinkan ketika bergaul dengan anak-anak milenial, anak zaman now terasa anak yang tak punya masa lalu dan masa depan. Bukan dirinya yang menjadi pengendali dirinya namun orang lain yang tak berani ia lawan yakni orang tuanya; terutama ayah yang sangat otoriter.

Maka masihkah akan bicara tentang nasionalisme? Keberagaman? Hak Azasi Manusia ? Demokrasi? Yang ada justru manusia2 yang suka memaksakan kehendak. Mengajarkan fanatisme keyakinan. Karakter radikalisme. Dan itu semua justru jauh dari way of life bangsa Indonesia yakni Pancasila.
Begitu barangkali sedikit menjawab pertanyaan putri sulungku. Lain kesempatan dengan perenungan yang mendalam lagi barangkali akan ketemu jawaban yang lebih tepat.

Salamku.
Rudolf Puspa

Ads