12 December 2017

author photo

Baca Juga


Oleh : Lubet Arga Tengah

Tulisan ini hanya sebagai rangkuman dari diskusi karya pada malam ke-2 acara Dies Natalis Ukm Seni Nanggala UTmadura XVII. Kebetulan saya diminta menjadi moderator oleh panitia penyelenggara. Diskusi karya dilaksanakan di Warung Depan Kampus (WDK). Sebenarnya suasananya tidak terlalu kondusif, karena ramainya pengunjung yang lain juga kendaraan yang berlalu-lalang. Sementara tidak ada pelantang suara. Jadi sepanjang diskusi harus teriak-teriak . semua melingkar di sisi kanan depan WDK beralas tikar dan banner. Di hadapan peserta terhidang kopi dan makanan ringan.

pojokseni.com - Sampai saat ini, masih banyak persoalan-persoalan dalam sebuah kelompok teater yang masih “subur” kita jumpai. Baik persoalan manajemen, karya dll. Tapi satu sisi ada keberanian serta semangat yang diusung untuk terus meramaikan kegiatan-kegiatan teater yang entah meskipun sifatnya itu nanti sebagai apa. Sebagaimana pada peristiwa malam ke-2 ini.

Pada malam kedua menampilkan 4 penyaji, yaitu dari Teater Sunei Desis, Teater Daun dan dua penyaji lainnya dari Seni Nanggala. Dalam diskusi karya itu saya membukanya dengan memperkenalkan diri serta memberi sedikit pengantar akan tujuan dan pentingnya diskusi karya sebagai ruang pertemuan antara si kreator dan penonton. Kemudian saya mempersilahkan kepada setiap sutradara/penyaji untuk menyampaikan gagasan atau proses kreatif sampai pada terbentuknya sebuah pertunjukan yang sudah dihidangkan. Dan saya mempersilahkan kepada setiap penyaji sesuai urutan pentas.


Pertama : Teater Sunei Desis


Si sutradara langsung memberi pernyataan bahwa karya yang sebenarnya dijadwalkan untuk disajikan bukan apa yang sudah dipentaskan itu. Melainkan ada karya yang lain. Hanya saja kebetulan salah satu aktor ada kendala. Sehingga dari manajemen produksi memutuskan untuk membuat karya yang baru yang berjudul Qasidah Airmata dari puisinya D. Zawawi Imron. Sebelum penonton masuk di ke gedung pertunjukan di Aula RKB-B UTM ternyata sudah ada sepeda motor yang sifatnya instalatif berada di tengah-tengah tempat penonton. Itu merupakan bagian dari properti yang mereka bawakan.

Kata Hasan yang posisinya sebagai sutradara menyampaikan bahwa “gagasan itu merupakan responsif pada sekitar lingkungan yang mereka diami. Terutama di lingkungan kampus UTM. Sebagai pengalaman personal benda seperti motor bisa mempunyai makna sebagai salah satu kenangan, kebutuhan pokok serta pada sifat yang negatif”. Maka dalam pertunjukan itu menampakkan sebuah adegan dimana seorang laki-laki yang membonceng seorang perempuan dengan perasaan hangat dan lembut sekali. Tetapi, di situ juga dengan bunyi knalpot yang nyaring dan asap yang tebal keluar dari knalpot sungguh sangat mengganggu sekali bagi orang lain yang berada di sekitar itu. Sadar ataupun tidak penonton pun juga bisa merasakan hal itu.

Kedua : Teater Daun


Dalam keterangannya si Koreografer (Aurellius Kalesar) bahwa apa yang sudah dipertontonkan adalah sebuah pentas kolaborasi dari musik, pembacaan puisi dan tari kontemporer. Proses yang dilakukan hanya membutuhkan kurang lebih dua jam. Setiap yang terlibat bertumpu pada sebuah teks puisi. Lalu di serap sesuai apa yang yang sudah mendapat bagian pemusik, pembaca puisi dan si penari.

Ketiga : Seni Nanggala


Naskah yang diangkat juga dari puisi, karya WS Renda “Sajak Orang Lapar” lalu diadaptasi menjadi Lapar dan disutradarai oleh Lisa. Objek peristiwa yang dibangun bersifat universal atau lebih sederhananya tentang apa yang terjadi di Indonesia. Lisa menyampaikan bahwa “setelah menafsir puisi WS Rendra dalam proses itu menemukan empat unsur mengenai lapar. Lapar akan makanan, lapar kekuasaan, lapar kekayaan dan lapar seks”. Nah, yang menjadi sorotan di dalam pertunjukan ini adalah tentang “lapar seks”. Kenapa bisa demikian? Tidak tahu setelah si salah satu pemain menggambarkan tentang “kelaparan seks” penonton tiba-tiba dibuat matanya terbelalak. Entah hal ini bisa saja bahwa nafsu/seks juga menjadi salah satu fenomena yang ada di lingkungan kita. Karena bagaimanapun ini juga berhubungan dengan moral. Bicara moral juga menjadi senjata untuk menciptakan pribadi-pribadi yang ber”peri kemanusiaan”. Adegan ini memang menarik perhatian meskipun terlepas dari persoalan etika dan estetika pertunjukan. Etika dan stetika pertunjukan di sini bukan berarti sama dengan halnya dengan keseharian sebagaimana yang juga dipertanyakan oleh Mahendra “kenapa si Umbel (Pemeran yang menggambarkan seks) secara kostum itu sangat berbeda sendiri? Toh lainnya juga dapat peran yang berbeda tetapi dengan kostum yang serupa? Kenapa tidak sekalian dibentuk dengan adegan atau pola yang berbeda sekalian?”. Karena memang apa yang ditampilkan banyak menampilkan koreo atau komposisi yang seragam.

Keempat : Seni Nanggala 


Pertunjukan malam ke-dua ini ditutup dengan penampilan tari kontemporer yang mengangkat “Kemenangan Pangeran Trunojoyo” koreografer Nia. “yang terlibat dalam pertunjukan tari ini sebenarnya tidak semua anak tari. Tetapi juga ada anak seni rupa”. Dari berbagai disiplin ini kemudian si Nia mencoba meramu pertunjukan tari tentang Pangeran Trunojoyo. Sebenarya para peraga juga tidak semua orang madura dan yang menjadi kelemahan pula yaitu semua kurang menguasai atau memahami sejarah Pangeran Trunojoyo. Hanya berbekal pengetahuan sepintas kalau Pangeran Trunojoyo pernah berjuang sebagaimana dalam pilihan-pilihan yang ditampilkan digambar sebuah ksatria, kegagahan dalam melawan. Hand propt yang dipakai setiap peraga ialah tongkat yang terbuat dari batang bambu. Namun sebenarnya pemilihan-pemilihan itu kurang ketat. Baik juga soal musik yang kurang mendukung terhadap pertunjukan.

Kesimpulan 


Maka dari keseluruhan bisa sedikit diraba-raba atau bisa dicerna bahwa manajemen produksi luput dari perhatian. Apa yang terjadi masih banyak persoalan-persoalan secara teknis yang memang tidak pernah dipikirkan. Kasus yang terjadi dalam sebuah proses banyak bertumpu apa kata sutradara/kreator. Wilayah produksi tidak dijalankan sedemikian. Hal ini sebenarnya juga berdampak pada kematangan soal ide dan gagasan. Dua poin tersebut tertinggal di belakang, yang dikejar ialah pada bentuk. Sementara pertunjukan secara nilai juga tidak terlepas dari ide atau gagasan. Sehingga yang terjadi pertunjukan tidak banyak “bicara apa-apa” yang ada hanya potongan-potongan yang jauh dari kesempurnaan dangan bahasa kasarnya bisa disebut “bangkai”. Karena di situ krator sudah banyak yang “bunuh diri” dengan menyajikan karyanya sendiri sebagaimana yang diungkapkan Syamsul Pranata (Aktor Ujicoba Teater).

Sebelum di akhir diskusi karya itu si Sangat Mahendra (Sutradara LanguageTheatre) banyak memberikan pemecahan-pemecahan berbagai masalah apa yang dialami dalam proses juga apa yang terjadi di panggung. Bahkan sempat mengungkapkan pengalamannya saat ia bermain di salah satu Festival Teater waktu itu tidak pernah latihan secara bentuk, tetapi menguatkan pada gagasan. Karena sebenarnya apa yang menjadi “pengalaman tubuh” juga bisa mengikuti apa yang tertuang dalam teks kata itu sendiri. Artinya apa? Gagasan tetap menjadi tumpuan utama atau menjadi pondasi dalam sebuah karya. Dilakukan dengan cara sadar betul dan minimal dimengerti oleh dirinya sendiri sebagai pengkarya.

Hal yang perlu juga diapresiasi dalam peristiwa teater yang terajadi pada malam ke-2 selain pada karya pertunjukan juga sama pecinta/pelaku seni itu sendiri. Semangat dan kegigihan yang sampai harus bertaruh waktu berjam-jam, melawan gerimis, bising tetap yang terjadi adalah kegembiraan bersama.

Bangkalan, 07 Desember 2017


Editor : Adhyra Irianto
your advertise here

This post have 0 komentar

Harap tidak berkomentar yang melanggar HAM, SARA dan tindak kriminal lainnya.

Selanjutnya Posting Berikutnya
Sebelumnya Artikel Sebelumnya

Advertisement

RajaBackLink.com

Advertisement

Loading...