Bulan Bujur Sangkar: Alienasi Dalam Teater Eksistensialis -->
close
Pojok Seni
30 September 2017, 9/30/2017 09:51:00 PM WIB
Terbaru 2017-09-30T14:51:34Z
Resensiteater

Bulan Bujur Sangkar: Alienasi Dalam Teater Eksistensialis

Advertisement
Pentas Bulan Bujur Sangkar


pojokseni.com - Kotak-kotak kayu bertebaran di atas panggung. Tersusun secara figuratif membentuk sebuah pohon dengan buah-buah yang berserakkan di sisi kanan panggung dan di sisi sebaliknya membentuk sebuah tiang gantungan dengan tali berwarnah merah.

”Bapak sedemikian menggolongkan diri ke dalam barisan pembunuh-pembunuh yang memenuhi penjara-penjara. Sedangkan bapak adalah seniman.” 

Dialog tersebut diucapkan berkali-kali secara lantang oleh tokoh pemuda dengan rambut panjang kusut dan senjata pencabut nyawa ditangannya, sebagai pembuka adegan.

Pentas Bulan Bujur Sangkar

Demikianlah suguhan Gimmick oleh Komunitas Hitam Putih Padangpanjang dalam pertunjukan teater bertajuk “Bulan Bujur Sangkar” karya Iwan Simatupang sutradara Yusril Katil. Pertunjukan yang dihelat beberapa hari yang lalu dalam perayaan Pekan Seni Nan Tumpah di Taman Budaya Sumatra Barat ini, mencoba menyampaikan gagasan eksistensialis yang disisipkan oleh Iwan Simatupang dalam drama Bulan Bujur Sangkar. Dengan arahan Yusril, gagasan-gagasan tersebut direkontruksikan dan diejawantahkan melalui tubuh-tubuh yang atraktif. 

Bulan Bujur Sangkar secara metafora menggambarkan perlawanan terhadap sistem sosial. Sebuah harapan, keinginan, kebebasan dan kematian dengan bahasa pemajasan, tuturan idiomatik, dan pribahasa diramu oleh Iwan Simatupang dalam balutan dialektika filsafat eksistensialisme. Drama yang ditulis pada tahun 1957, juga mencoba memberikan sedikit gambaran tentang pemberontakan di berbagai wilayah Indonesia pada masa 1950an.

Berangkat dari istilah Esistensialisme “Eksistensi mendahului Esensi”, produksi Komunitas mencoba membuat jarak antara spektator dan spektakel, menjauhkan penonton dari keterlibatan emosional, dan memberikan kebebasan para penonton untuk menangkap makna yang bertebaran di atas panggung.
Yusril dengan cermat menyumbangkan pemikiran Eksistensialisme kepada penonton dengan Bulan Bujur Sangkar. Mengungkapkan otentisitas keinginan manusia untuk bebas, berani menghadapi kematian dan kehampaan, menyetujui keterasingan (alienasi) dan kesepian dengan apik dikemas dalam produksi Komunitas Hitam Putih kali ini. Menurut  hemat penulis, Komunitas Hitam Putih mencoba memberikan penyadaran bahwa manusia membutuhkan kekuatan untuk bertahan dalam keberadaan dan kekuatan akan kebebasan agar manusia dapat bebas mencipta nilai untuk diri mereka sendiri.

Pada proses penciptaan laku di atas pentas, para aktor juga mencoba mengaplikasikan metode Alienasi. Metode akting yang diusung oleh sutradara Jerman, Bertolt Brecht mereka anggap relevan untuk mengungkapkan makna dari Teater Eksistensialis. Karena alienasi juga dapat ditemui dari bahasan-bahasan tentang Teater Eksistensialis. Efek Alienasi atau sering disebut juga dengan V-Effect secara gamblang mencoba memisahkan penonton dari peristiwa pertunjukan agar penonton dapat melihat panggung dengan kritis.


Selain dengan mengusuh tema dan gagasan yang terbilang berat dan rumit. Pertunjukan Bulan Bujur Sangkar sutradara Yusril juga memukau para penonton terutama kaum awam seni, dengan tatanan pencahayaan dan tatanan musik pengiring yang terasa begitu tergarap. 

Catatan Kecil Pertunjukan Bulan Bujur Sangkar


Tatanan pencahayaan yang disuguhkan begitu ekspresif dengan perpaduan warna-warna yang memenuhi panggung. Hingga mata penonton termanjakan dengan warna-warni yang bertebaran di atas panggung. Hal yang menarik dari tatanan pencahayaan Bulan Bujur Sangkar ini adalah, kotak-kotak kayu yang tersusun seperti pohon, ketika mendapatkan cahaya dari sisi kanan panggung, menghasilkan bias seorang algojo yang tengah berdiri gagah di sebelah tiang gantungan. Bias tersebut begitu memancing daya imajinasi penonton. Namun, ada beberapa kesalahan-kesalahan yang kecil dan begitu mengganggu mata penonton. Seperti lampu hidup dan mati secara tiba-tiba tanpa adanya Fade In dan Fade Out serta beberapa lampu yang terlambat menyala, hingga membuat wajah para aktor gelap untuk beberapa saat.

Dalam konteks iringan musik, suasana chaos begitu tersampaikan dengan iringan musik distorsi. Suara-suara letusan tembakan terkesan sangat memiliki daya hadir dalam pertunjukan. Namun, beberapa iringan musik terkadang menenggelamkan vokal pertunjukan. Penempatan posisi para pemusik juga begitu mengganggu. Dengan menempatkan pemusik di tengah-tengah penonton, membuat musik yang gaduh begitu menghancurkan fokus pertunjukan. Hingga terkesan musik dan pertunjukan tak terasa padu. 

Selain catatan-catatan kecil diatas, pertunjukan Komunitas Hitam Putih begitu menarik untuk dinikmati. Yusril bersama Bulan Bujur Sangkar dengan baik mengobati kerinduan publik seni dengan pertunjukan Teater Eksistensialis yang telah lama tidak dipertunjukan lagi, khususnya di Sumatra Barat. Pertunjukan Bulan Bujur Sangkar oleh Komunitas Hitam Putih, mengembalikan ingatan para penikmat seni pertunjukan khususnya teater, dengan konsep teater eksistensialis yang diusung dua tokoh besar teater, yaitu J.P Sartre dan Albert Camus. 

Penulis : Ikhsan Satria Irianto