11 July 2015

author photo

Baca Juga

Joko Pinurbo, sumber gambar : geotimes

Joko Pinurbo, salah satu penyair Indonesia yang berhasil membuat sihir lewat diksi sederhana khas. Kali ini, dua buah puisi yang berjudul sama, Celana 1 dan Celana 2 akan coba dianalisa dengan pendekatan struktural juga pragmatik oleh Adhyra Irianto dan Diah Irawati S.S M.Pd.

Analisa Puisi 'Celana 1' karya Joko Pinurbo

Oleh : Adhyra Irianto dan Diah Irawati Adhy S.S M.Pd

Celana, 1

Ia ingin membeli celana baru
Buat pergi ke pesta
Supaya tampak lebih tampan
Dan menarik

Ia telah mencoba seratus model celana
Di berbagai toko busana
namun tak menemukan satu pun
yang cocok untuknya.

Bahkan di depan pramuniaga
Yang merubung dan membujuk-bujuknya
Ia malah mencopot celananya sendiri
Dan mencapakannya.

“kalian tidak tahu ya
Aku sedang mencari celana
Yang paling pas dan pantas
Buat nampang dikuburan.”

Lalu ia ngacir
Tanpa celana
dan berkelana
mencari kubur ibunya
hanya untuk menanyakan:
“ibu, kau simpan di mana celana lucu
Yang kupakai waktu bayi dulu?”

(1996)

Kata-kata yang digunakan oleh Joko Pinurbo dalam puisinya Celana (1) rata-rata menggunakan kata-kata sehari-hari. Bila dilihat secara kesatuan atau larik, ia membentuk kalimat yang sangat biasa yang sarat makna. Ia menggunakan kata-kata biasa seperti dalam baris “Ia membeli celana baru” dan terlihat seperti kalimat yang terkesan asal-asalan. Bahkan, ia juga menggunakan kata-kata yang tidak baku seperti “nampang” dan “ngacir”. Namun, setelah memasuki bait ke empat dan kelima, baru disadari bahwa kalimatnya bermakna konotatif atau memiliki arti lain. Dari kedalaman pesan itulah, ada imaji yang timbul berbeda dari setiap pembaca.

Dapat disimpulkan, pendekatan sturuktural melalui struktur fisik, tidak semerta bias dilakukan untuk menyadari maksud puisi ini. Analisa yang paling tepat, menurut saya, adalah penyelaman makna secara struktur batin. Dengan mencari tema yang dikehendaki penulis, amanat serta rasa dan imaji. Namun, tetap memperhatikan diksi yang digunakan penulis sebagai bahan tambahan analisa. Berikut hasil analisa puisi Celana (1) berdasarkan pendekatan struktur batin :

Penyair menganalogikan celana dengan “Jati diri”. Di bait pertama, ia menyatakan hendak mencari jati dirinya yang baru, yang begitu duniawi dan penuh foya-foya dan gemerlapan. Selain itu, pribadinya dapat dirasa lebih menarik, kemungkinan dikaitkan dengan daya tarik pada lawan jenis.  Hal tersebut dapat terlihat dari bait ini :

Ia ingin membeli celana baru
Buat pergi ke pesta
Supaya tampak lebih tampan
Dan menarik

Kemudian, penyair terus mencari jati dirinya yang sesungguhnya.Ia mencoba berbagai cara, namun tidak ada satupun yang membekas dihatinya. Meskipun berbagai cobaan dan bujukan dari luar mencoba menggodanya, namun sepertinya tidak ada satupun yang menurut penulis cocok dengan hatinya. Karena begitu tidak berkenan dihatinya, ia bahkan “mencampakkannya” tepat didepan “pramuniaga” yang mencoba untuk membujuknya. Dengan kata lain, puncaknya ia meninggalkan hal yang berkaitan dengan gemerlapan dunia karena dirasa tidak sesuai dengan jati dirinya. Sedangkan “pramuniaga” yang dimaksudkannya disini bias berarti godaan dunia, nafsu dan bisikan syetan.

Ia telah mencoba seratus model celana
Di berbagai toko busana
namun tak menemukan satu pun
yang cocok untuknya.

Bahkan di depan pramuniaga
Yang merubung dan membujuk-bujuknya
Ia malah mencopot celananya sendiri
Dan mencampakannya.

Dari bait keempat, ditemukan “celana” yang diinginkan penyair yakni untuk “nampang dikuburan”. Secara simbolik, bila celana tetap diartikan sebagai “jati diri” atau kepribadian, maka “nampang dikuburan” bisa diartikan sebagai “meninggal” atau “menghadap yang diatas”. Sebuah kalimat pertanyaan yang dilontarkannya kira-kira berarti “Kita semua akan mati, kira-kira bagaimana seharusnya diri kita ini?”

“kalian tidak tahu ya
Aku sedang mencari celana
Yang paling pas dan pantas
Buat nampang dikuburan.”

Kemudian, disebutkan bahwa “ia ngacir tanpa celana” diartikan sebagai ia tidak tahu arah dan juga tetap tidak tahu bagaimana mempersiapkan dirinya (menghadapi kematian). Kata “berkelana – mencari kubur ibunya” diartikan sebagai tak tahu arah, dan tenggelam dalam penyesalan. Karena, kata “kubur ibunya” menandakan bahwa ia tidak akan menemuinya lagi. Atau kalaupun ia berhasil menemukannya, maka pertanyaannya “Ibu, kau simpan dimana celana lucu yang kupakai waktu bayi dulu” juga tidak akan mendapat jawaban apapun. Selain itu, kalimat pertanyaan penulis tersebut bias diartikan sebagai bentuk jati dirinya yang masih bersih, belum tergoda dengan dunia dan nafsu. Itulah sebabnya, celana yang diinginkannya adalah “celana lucu yang kupakai waktu masih bayi dulu”.

Lalu ia ngacir
Tanpa celana
dan berkelana
mencari kubur ibunya
hanya untuk menanyakan:
“ibu, kau simpan di mana celana lucu
Yang kupakai waktu bayi dulu?”



Baca Analisa puisi Celana II, karya Joko Pinurbo DISINI
Baca juga, analisis sastra lainnya, DISINI
your advertise here

This post have 0 komentar

Harap tidak berkomentar yang melanggar HAM, SARA dan tindak kriminal lainnya.

Selanjutnya Posting Berikutnya
Sebelumnya Artikel Sebelumnya

Advertisement

Advertisement

Loading...