11 July 2015

author photo
Joko Pinurbo

Analisa Puisi : Celana II karya Joko Pinurbo

Oleh : Adhyra Irianto & Diah Irawati Adhy S.S M.Pd

Celana (2)

Ketika sekolah kami sering disuruh menggambar
Celana yang bagus dan sopan, tapi tak penah
Diajar melukis seluk beluk yang ada di dalam celana
Sehingga kami tumbuh menjadi anak-anak yang manis
Yang penakut dan pengecut, bahkan terhadap
Nasibnya sendiri

Karena itu kami suka usil dan sembunyi-sembunyi
Membuat coretan dan gambar porno di tembok
Kamar mandi
Sehingga kami pun terbiasa menjadi
Orang-orang yang suka cabul
Terhadap diri sendiri.

Setelah loyo dan jompo, kami mulai bisa berfantasi

Tentang hal-ihwal yang di dalam celana:
            Ada raja kecil yang galak dan suka
                        Memberontak
            Ada filsuf tua yang terkantuk-kantuk
                        Merenungi rahasia alam semesta
            Ada gunung berapi yang menyimpan
                        Sejuta magma
            Ada juga gua garba yang diziarahi
Para pendosa dan pendoa.

Konon, setelah berlayar mengeliling bumi, Columbus pun akhirnya menemukan sebuah benua baru dalam celana dan Stephen Hawking khusuk bertapa disana.


Dalam puisi yang kedua, meski bertajuk sama “Celana” namun pesan yang disampaikannya begitu berbeda. Secara diksi, kata-kata yang digunakan penulis pada puisi ini lebih lugas dan gamblang. Seperti tidak ada yang disembunyikan, penulis dengan mantab menulis kata dan frase seperti  “dalam celana”, “cabul”, “porno” “loyo”, “jompo” dan lain-lain.
Kalimat atau setiap larik dalam puisi ini juga begitu gamblang. Seperti pada kalimat ini “diajar melukis seluk beluk dalam celana”, “membuat coretan gambar porno”, “orang-orang yang suka cabul”, tentu saja karena menggunakan kata-kata yang berani, maka kalimat yang dibentuknya juga semakin gamblang.
Tetapi, secara makna, puisi ini harus dibaca sampai habis untuk mengerti apa yang dimaksudkan oleh penulis. Kunci dari puisi ini dimulai dari bait ke tiga sampai terakhir. Disebutkannya, bahwa karena begitu sering mempelajari (menggambar) bagian luar ”celana”, maka wajar saja kalau peserta belajar tidak begitu tahu apa-apa saja yang berada dibalik celana.
Melihat deskripsi di bait ketiga, empat dan lima, dan semakin diperjelas dengan kalimat “Columbus menemukan sebuah benua baru didalam celana” maka dengan cepat bias diartikan bahwa “celana” yang dimaksud penulis ada “dunia”. Imaji yang begitu sulit dimasukkan akal logika, namun bila kita artikan dengan “celana” dalam bentuk fisik, ada satu kesamaan dengan “dunia”, yakni “didalamnya banyak tersimpan rahasia”. Dengan demikian, bisa disimpulkan bahwa Joko Pinurbo menggunakan kata yang lugas dan digunakan dalam kalimat sehari-hari, namun memiliki analogi dengan hal yang begitu jauh dengan makna kata aslinya.

Puisi ini, menyimpulkan bahwa penulis mengkritisi bentuk pendidikan disekitarnya. Ia menyebutkan bahwa pendidikan atau pengajaran tentang dunia dan kehidupan disekitarnya hanya sebatas “celana” saja. Atau dengan kata lain, pengajaran yang begitu dasar, menghasilkan generasi yang berfikiran dangkal. Kemudian, kepada teori-teori yang telah ada, para peserta didik akan tunduk dan tak berani melawan. Meskipun berlawanan, tidak ada yang mencoba menentang atau mencoba menciptakan hal yang baru dengan kata lain, hanya takut dan menurut saja.

Ketika sekolah kami sering disuruh menggambar
Celana yang bagus dan sopan, tapi tak penah
Diajar melukis seluk beluk yang ada di dalam celana
Sehingga kami tumbuh menjadi anak-anak yang manis
Yang penakut dan pengecut, bahkan terhadap
Nasibnya sendiri

Hal inilah yang menurut penulis membuat peserta didik menjadi tidak begitu tertarik untuk mengetahui ikhwal dunia yang sesungguhnya. Karena, belajar hanya sebatas ‘celana’, dan tetap tidak berubah meskipun zaman sudah berubah. Entah kritik ini diarahkan kepada tenaga pendidik atau mungkin system pendidikan, yang jelas hal itu malah membuat peserta didik yang merasa berlawanan hanya mampu “membuat coretan” dan “gambar porno” di tembok kamar mandi. Tentu, kalimat tersebut bias dipersepsikan sebagai “kenakalan remaja” yang didominasi oleh pelajar. Menurut penulis, dari sajaknya, belajar yang hanya sebatas “celana” membuat pelajaran hanya itu-itu saja tanpa perkembangan, padahal zaman terus berkembang, membuat remaja tidak tertarik untuk belajar.

Karena itu kami suka usil dan sembunyi-sembunyi
Membuat coretan dan gambar porno di tembok
Kamar mandi
Sehingga kami pun terbiasa menjadi
Orang-orang yang suka cabul
Terhadap diri sendiri.

Seseorang juga akhirnya mengetahui ikhwal hidup dan juga semua tentang dunia. Namun, kata “loyo dan jompo” yang digunakan penulis mencitrakan bahwa terlalu terlambat untuk mengetahui itu. Coba saja, kalau ketika “belajar” sudah diajarkan tentang apa saja hal-hal didalam dunia, bukan hanya menggambar dunia. Seperti itu yang ditekankan penulis.

Setelah loyo dan jompo, kami mulai bisa berfantasi
Tentang hal-ihwal yang di dalam celana:

Kemudian, ia juga menyebutkan bahwa ada banyak hal-hal yang tersimpan dalam dunia. Seperti “raja kecil yang galak dan suka memberontak”, “filsuf tua yang terkantuk-kantuk merenungi rahasia alama semesta”, “gunung berapi yang menyimpan sejuta magma”, “gua garba yang diziarahi para pendosa dan pendoa”.
Mungkin, kalimat tersebut memang bias menimbulkan imaji yang berbeda bagi setiap pembaca. Namun, kembali kedalam penjelasan bahwa hal-hal tersebut merupakan “ikhwal didalam dunia” maka kita sebut saja mereka sebagai ilmu pengetahuan.Gua garba juga merupakan gua suci yang terletak di Bali, memang tempat para “pendosa” dan Pendoa berziarah. Ikhwal tersebut baru dirasakan ketika sudah keluar dari bangku belajar.
Menarik sekali, bait yang digunakan penulis sebagai penutup puisinya.

Konon, setelah berlayar mengeliling bumi, Columbus pun akhirnya menemukan sebuah benua baru dalam celana dan Stephen Hawking khusuk bertapa disana.

Hal yang ditangkap dari kalimat ini, adalah Columbus menemukan benua baru didalam “celana” itu karena ia mencarinya. Benua yang dimaksud adalah benua Amerika. Dikaitkan dengan penjabaran diatas, bahwa hanya belajar menggambar “celana”, namun tidak menyelusuri bagian dalam “celana” sehingga tidak bias menemukan hal-hal yang baru.

Selain menelusuri, ada cara lain untuk mengetahui ikhwal dalam “celana” ini. Yakni dengan cara “bertapa didalam celana”. Ia memberi contoh Stephen Hawking, yang kita tahu sebagai seorang akademis dan pencipta banyak teori fisika yang terkenal. Kenapa, penulis memberi contoh Stephen Hwaking, hal ini dikarenakan sang fisikawan tersebut menderita kelumpuhan, sehingga tidak bias “menelusuri” secara kasar seperti yang dilakukan Columbus, namun “menelusuri” dengan fikirannya.

Baca Juga : Analisis Puisi Celana I, karya Joko Pinurbo, DISINI
Baca Juga : Analisis sastra lainnya DISINI
your advertise here

This post have 0 komentar

Harap tidak berkomentar yang melanggar HAM, SARA dan tindak kriminal lainnya.

Selanjutnya Posting Berikutnya
Sebelumnya Artikel Sebelumnya

Advertisement

Loading...

Advertisement