Kritik Sastra : Novel Negeri 5 Menara -->

Ads

23 June 2015, 6/23/2015 04:22:00 PM WIB
Terbaru 2015-08-09T14:33:56Z
ResensiSastra

Kritik Sastra : Novel Negeri 5 Menara

Advertisement

Judul Buku    : Negeri 5 Menara
Penulis             : A. Fuadi
Penerbit             : Gramedia
Jumlah Halaman : 423 Halaman
Harga    : Rp.50.000


pojokseni.com - Novel ini mengisahkan tentang seorang anak MTSN yang dipaksa masuk ke pondok pesantren oleh orang tuanya, kemudian diwajibkan mengikuti aturan-aturan pondok, dimana bila melanggar maka hukumannya adalah malah dia sendiri yang disuruh mencari kesalahan orang kemudian dicatat dalam kartu khusus.

Nama anak itu Alif Fikri, dia adalah salah satu penghuni Pondok Madani yang mengalami kejadian itu, menjadi jasus atau mata-mata di dalam pondok karena tanpa sengaja terlambat 5 menit datang ke masjid bersama 5 temannya Raja, Said, Dulmajid, Atang dan Baso.

Masuk pondok pesantren bukanlah sepenuhnya kemauan Alif, setelah lulus dari Madrasah Tsanawiyah Alif bercita-cita melanjutkan sekolah SMA, tapi karena orangtuanya ingin agar anaknya menjadi seperti Buya Hamka, walau Alif sendiri ingin menjadi seperti Habibie mau tidak mau, dengan setengah hati Alif mengikuti kemauan orang tua.

Kisah Alif Fikri yang tinggal di Pondok, membuat pembaca mengetahui bahwa bersekolah di pondok itu tidak monoton belajar tentang agama saja, membaca dan menghafal Al Qur’an saja, tetapi lebih kepada penerapan kehidupan sehari-hari seperti sekolah umum lainnya dengan tetap mengedepankan dasar / syariat agama Islam. Di novel ini dilukiskan Tinggal di pondok selain bisa tetap menyalurkan hobbi, Alif dan kelima kawannya bersama-sama dengan segala kemampuannya bersusah payah mengejar impian mereka masing-masing. Seperti halnya Baso yang datang ke Pondok dengan niat menghafal Al-Quran, maka selain mengikuti kegiatan pelajaran umum, kemana-mana dia juga membawa buku favoritnya yakni Al Quran butut! Juga bagaimana gembiranya Alif, meski memiliki ukuran tubuh tidak terlalu tinggi seperti kebanyakan pemain sepak bola, Alif masih bisa menyalurkan bakat bermain sepak bolanya walau setiap bertanding hanya pasrah sebagai pemain cadangan.
Novel Negeri 5 Menara ini dibungkus dengan bahasa yang mudah dicerna. Bahasanya tidak membungungkan pembaca. Bila pembaca bingung membayangkan pada bab ke 4 yang berjudul ‘Kampung di Atas Kabut’ yang menceritakan seluk beluk dalamnya Pondok Madani, maka dibuku itu telah dilengkapi sketsa peta atau tata letak gedung di dalam Pondok. Sayangnya peta itu tidak dibuatkan halaman tersendiri tetapi ditaruh di bagian belakang cover. Maka bila buku itu tidak disampul rapi, maka siap-siap saja peta itu akan kabur dari penglihatan.

Novel ini memperkenalkan matra rahasia 'man jadda wajada'. Sebuah pepatah Arab yang berarti, “siapa yang bersungguh-sungguh akan sukses”. Pesan itu disampaikan lewat pelajaran yang diperoleh para tokoh dalam novel. Pelajaran bahwa apa pun mungkin diraih selama didukung usaha dan doa. Jangan pernah remehkan mimpi, setinggi apa pun. Sungguh Tuhan Maha mendengar.

Membaca novel ini bagaikan menikmati laporan jurnalistik seorang wartawan kawakan. Begitu detail. Beberapa nama tempat dan fakta yang disebut otentik. Kita seperti dibawa bertamasya secara spiritual, dari Bukittinggi yang permai hingga Washington yang bersalju. Dari Pondok Madani yang ajaib hingga Trafalgar Square yang meremangkan bulu roma.

Novel  Negeri 5 Menara ini sangat cocok menjadi panduan Orangtua yang sedang bingung memasukkan putra-putri nya dalam melanjutkan sekolah ke tingkat lebih tinggi. Barangkali saja, dengan membaca novel ini para Orangtua bisa dengan serta merta membuang image buruk tentang sekolah agama, yaitu Pondok pesantren. Dan barangkali saja dengan membaca kisah sukses Alif menjalani kehidupan yang jauh dari orang tua, seorang anak bisa lebih hidup mandiri dengan kemampuannya sendiri dengan pegangan mantra sakti ‘Man Jadda Wajada’. Bagi murid yang sedang menimba ilmu baik yang dipondok maupun di sekolah umum, buku ini juga bisa digunakan pegangan karena didalam buku itu menyimpan banyak tips dan trik ketika menghadapi ujian.

Sayangnya buku ini datang setelah Laskar Pelangi jadi terkesan agak 'membuntuti', bahkan bisa dibilang bahwa nilai yang diangkat sangat mirip dengan laskar pelangi bahkan setting novel ini jadi agak mirip dengan setting Harry Potter tapi pengarang berhasil menghantarkan begitu banyak detil, dari sekolah PM Madani sampai keseharian masing-masing sahibul menara plus keseluruhan penduduk pondokan.

Negeri 5 Menara menampilkan sisi kehidupan berbeda yang mungkin tidak pernah kita tahu, kehidupan pondok dan pola pendidikan disana. Selain itu negeri 5 menara juga menampilkan sisi-sisi manusiawi yang sering kita rasakan, dan disini kita akan mendapatkan sebuah solusi yang bijaksana yang mungkin bisa menginspirasi kita. Yang jelas novel ini sangat cocok untuk para pemimpi sejati. (@pojokseni)