Analisa Cerpen : Hari Matinya Ketip Isa Karya Benny Arnas -->
close
19 June 2015, 6/19/2015 05:41:00 PM WIB
Terbaru 2015-08-09T14:34:45Z
BeritaResensiSastra

Analisa Cerpen : Hari Matinya Ketip Isa Karya Benny Arnas

Advertisement


Oleh : Diah Irawati S.S M.Pd

pojokseni.com - Alasan saya memilih cerpen ini untuk di analisa secara singkat, adalah karena begitu menarik cerita begitu juga diksi yang digunakan. Dengan gaya lokal daerah Lubuklinggau, tentu ada kedekatan emosional dengan saya, sebab saya tinggal tidak begitu jauh, hanya 49 kilometer saja, yakni di Curup, Provinsi Bengkulu. 

Cerpen Hari Matinya Ketip Isa selanjutnya ditulis HMKI ini menggunakan alur konvensional yang menceritakan hari kematian seorang pemuka agama, yaitu Ketip Isa. Awal cerita, Ketip Isa meninggal dunia akibat asma akut pukul enam pagi. Banyak warga yang berdatangan pergi melayat. Mak Zahar istri ketip isa sibuk menyambut para pelayat, menerima amplop dari para tetanggga, pemuka masyarakat, maupun pejabat yang datang. Ketika mendengar kedua anaknya pulang, yaitu Zul dan Komar Mak Zahar langsung naik pitam dan menceracau mencaci-maki, meneriakkan kata-kata yang tak selayaknya kepada kedua anak kandungnya di depan jenazah suaminya. Di akhir cerita dalam cerpen HMKI ini, terjadilah perseteruan antara Mak Zahar dengan Zul dan Komar. Mereka saling mencaci-maki, berlanjut ke halaman rumah, sumpah serapah, teriakan kasar, dan caci maki berkoar-koar lagi, hingga teriakan dan istifhfar dari sebagian besar pelayat yang melihat dua bilah pisau ditancapkan ke dada kiri Mak Zahar oleh Zul dan Komar, Mak Zahar menyusul Ketip Isa.

1) Tokoh
Tokoh utama dalam cerpen HKMI ini adalah Mak Zahar istri Ketip Isa, walaupun istri seorang Ketip sifat Mak Zahar sangat tidak mencerminkan istri sholeha. Mak Zahar dikenal sebagai perempuan tidak jujur, keras kepala, cerewet, pemarah, tukang gibah, dan suka berhutang. Sebenarnya Ketip Isa mampu membiayai Mak Zahar dari hasil penjualan karetnya, hanya saja Mak Zahar sering datang ke kedai hanya untuk meminjam uang dalam jumlah yang tak sedikit dan tak tahu kapan akan dikembalikannya. Mak Zahar juga jarang bahkan bisa dikatakan tidak pernah sholat ke masjid, dengan banyak alasan ia berdalil ada hadisnya bahwa perempuan itu eloknya salat di rumah. 
Selain pemarah dan cerewet Mak Zahar memang dikenal dengan perempuan yang memiliki tabiat yang tidak baik, seperti dalam kutipan di atas menggambarkan sifat-sifat buruk lainnya ia sering utang ke warung, padahal suaminya memberikan nafkah yang cukup, bahkan terkadang ia pergi ke kedai hanya untuk meminjam uang saja. Selain itu, apabila disuruh solat ke masjid ia selalu berpegang ke hadis bahwa perempuan lebih baik sholat di rumah saja, sangat tidak mencerminkan istri seorang Ketip dan juga imam masjid. 
Dalam cerpen HMKI ini selain tokoh Mak Zahar, terdapat tokoh pendukung lainnya, seperti: Zul, Komar, Lurah Midin, Ustaz Sadam dan warga kampung yang pergi melayat. Tokoh Zul dan Komar yang paling mendukung jalan cerita cerpen HMKI ini selain Mak Zahar., sedangkan tokoh yang lainnya hanya sebagai figuran.
Zul dan Komar merupakan putra Ketip Isa dan Mak Zahar, namun tingkah keduanya sangat brutal. Zul dan Komar merupakan brandal, preman, penjahat, copet, pemerkosa dan lain-lain, mereka berdua buron karena menjebol Ruko elektronik Marwan. Zul dan Komar merupakan anak durhaka, ketika penyakit Ketip Isa kambuh, ketika disuruh panggil Mantra Alim untuk mengobati ayahnya mereka tidak mau, bahkan mereka mengambil uang yang diberikan Mak Zahar untuk membeli Obat Ketip Isa.
Satu lagi, kemarahan Mak Zahar saat ini akan dapat disebut sebagai kewajaran, apabila mengingat tingkah kedua anak laki-lakinya yang brutal itu. Brandal, preman, penjahat, copet, pemerkosa, entah apalagi hal buruk yang kerap dijabani Komar dan Zul. Yang terang adalah, mereka berdua kini buron. Ruko elektronik Marwan yang kebobolan Selasa kemarin dipergunjingkan sebagai musababnya. Bagaimana Ketib Isa dapat berketurunan anak-anak serupa itu? Nah, untuk pertanyaan ini, orang-orang menanggapinya dengan menganggap kehidupan Ketib Isa seolah cerita keluarga Nabi Nuh yang dikisah-ulang. (Cerpen Hari Matinya Ketip Isa, Benny Arnas, 2010:55).
Dari kutipan di atas, mengambarkan sifat Zul dan Komar sebagai brandal, preman, copet, pemerkosa dan lain-lain. Selain itu Zul dan komar juga sangat durhaka kepada orang tua, ia lebih memilih berjudi dari pada memanggil mantra untuk mengobati ayahnya sendiri. Zul dan Komar juga tega melawan ibunya di hadapan jenazah ayahnya sendiri dan disaksikan oleh banyak pelayat. Dalam kutipan di atas juga mencerminkan keberutalan Zul dan Komar, ia bahkan tega menggambil uang sedekah yang diberikan warga kampung dalam kematian ayah kandungnya sendiri. Saat mak Zahar mengejar keduanya, bahkan mereka tega membunuh ibu kandungnya sendiri. 

2) Latar
Cara pengarang menggambarkan latar dalam cerpen HMKI ini ada dua yaitu latar tempat dan latar waktu. Latar tempat yang dijelaskan pengarang latarnya yaitu rumah Ketip Isa. Pengarang menjelaskan secara rinci latar tempat dalam cerpen TPT ini yaitu, ruangan dalam rumah, di ruang tengah, di luar, di beranda, di tanah, di sepetak tanah belakang rumah, di dalam rumah, di dapur, di halaman belakang, di pojok kanan, di Linggau, di dekat, di dada, di sana dan di bilik mayat.
Latar tempat terjadinya peristiwa dalam cerpen ini yaitu di rumah kediaman ketip Isa. Latar utamanya bisa dikatakan di Lubuklinggau, namun tidak dijelaskan nama desanya, ini terlihat dari dialog lurah Midinyang mengatakan kepada Mak Zahar bahwa ia baru sampai di Lubuklinggau subuh tadi.
Latar waktu dalam cerpen TPT ini juga dijelaskan secara rinci, yang menggambarkan keadaan kapan terjadinya peristiwa dan kejadian, seperti pukul enam pagi, pada hari meninggalnya, ketika pagi sudah meninggi, hari sudah tinggi, tak lama, malam tadi, dua minggu lalu, dan kini. Menjelaskan latar waktu terjadi pada saat ini, seperti yang menunjukkan jam Ketip Isa meninggal dunia yaitu pukul enam pagi ini, dan yang lainnya sepertti ketika pagi sudah meninggi yang menunjukkan bahwa hari sudah siang agar mayat segera dimandikan. Dan juga keadaan yang lalu, seperti malam tadi.

3) Tema
Berdasarkan analisis alur, tokoh dan latar di atas dapat disimpulkan tema dalam cerpen HMKI ini adalah istri dan anak yang durhaka. Tema ini sebenarnya universal karena akan terjadi pada siapa saja dan dimana saja, Mak Zahar meskipun istri seorang Ketip yang terpandang karena agamanya sebenarnya merupakan istri yang durhaka kepada suami dan buah hatinya dengan Ketip Isa yaitu Zul dan Komar juga durhaka kepada orang tua.