Ketika Mitos Leluhur Rejang Lebih Paham Konservasi Dibanding Pejabat Ekstraktif -->
close
Pojok Seni
17 October 2026, 10/17/2026 03:58:00 PM WIB
Terbaru 2026-10-17T08:58:32Z
OpiniUlasan

Ketika Mitos Leluhur Rejang Lebih Paham Konservasi Dibanding Pejabat Ekstraktif

Advertisement
Ilustrasi Putri Sedaro Putih, Tokoh Mitologis dari Tanah Rejang, Provinsi Bengkulu

Oleh: Maliyana Nur Rahma*


Tiap kali membuka lini masa berita, isinya kagak jauh dari banjir bandang, kebakaran hutan yang sengaja dibiarkan, sampai alih fungsi lahan yang kelewat ugal-ugalan. Di tengah ruwetnya krisis ekologi hari ini, ada ironi yang cukup menyentil: kenapa pejabat dan pemangku kebijakan kita yang gelarnya berderet itu justru kalah paham soal konservasi dibanding mitos leluhur abad lampau?


Coba sesekali kita pinggirkan dulu retorika kosong para politisi dan tengok cerita tradisional dari Tanah Rejang, Bengkulu, tentang asal usul pohon aren. Kalau dibaca pakai kacamata ekokritik, yaitu pendekatan sastra yang menelanjangi hubungan manusia dengan alamnya, cerita tradisional ini jelas bukan sekadar dongeng pengantar tidur anak-anak. Ini adalah tamparan keras bertopeng folklore buat siapa saja yang serakah mengeduk bumi hari ini. Kisah ini berawal dari pengorbanan Putri Sedaro Putih. Dari makam sang putri, tumbuh sebatang pohon ajaib yang kelak memberi penghidupan buat warga sekitar, yaitu pohon aren.


“Kalau cerita dalam mimpi itu benar, bahwa dari tubuhku akan tumbuh pohon yang mendatangkan kebahagiaan orang banyak, aku rela berkorban untuk itu. Pohon itu akan banyak memberi manfaat bagi umat manusia.”


Secara ekokritik, transformasi ini menegaskan satu hal penting: manusia dan alam itu satu kesatuan organik. Alam bukan barang tambang mati yang bisa dikeruk habis lalu ditinggal pergi begitu saja setelah juragannya kenyang. Di dalam cerita ini, alam diposisikan sebagai tubuh yang wajib

dihormati dan dirawat. Sayangnya, logika beradab seperti ini malah sering dianggap angin lalu oleh pemangku kepentingan modern yang cuma pandai menghitung untung dan rugi angka di atas kertas.


Poin paling pedas dari cerita ini ada pada cara warga Rejang memanfaatkan pohon aren. Mereka mengolah nira jadi gula merah, memanen ijuk buat atap, dan memanfaatkan buah sampai tulang daunnya tanpa perlu mementung atau menebang pohonnya sampai roboh.


“Pohon itu mereka pelihara dengan penuh kasih sayang seperti merawat Putri Sedaro Putih. Mereka pun sepakat untuk menyadap air tangkai buah pohon Sedaro Putih... Air yang keluar dari tangkai buah dinamakan nira... Buahnya, ijuknya, dan tulang daunnya dapat dimanfaatkan manusia.”


Bandingkan cara pandang bijak ini dengan kelakuan korporasi dan oligarki masa kini. Leluhur kita sudah mempraktikkan pembangunan berkelanjutan sejak berabad-abad lalu, yakni ambil hasilnya dan biarkan pohonnya tetap hidup. Sementara hari ini, logika pembangunan kita justru sebaliknya: tebang habis pohonnya, gundulkan hutannya, keruk bawah tanahnya, lalu pura-pura kaget waktu tanah longsor atau banjir bandang menyapu pemukiman.


Mitos asal usul batang aren sukses menelanjangi nalar serakah itu. Pohon aren yang berdiri kokoh di tepi hutan bukan cuma soal urusan perut dan nira, tapi juga benteng alami penahan erosi dan pemelihara resapan air. Kalau cerita tradisional saja bisa mengajarkan cara panen tanpa membunuh sumber kehidupan, lantas apa alasan para pengambil kebijakan hari ini yang terus memberi izin pengerukan alam secara brutal? 


Mitologi Rejang ini akhirnya bukan cuma kenangan nostalgia masa lalu, melainkan sindiran tajam buat kita yang mengaku modern tapi kelakuannya justru merusak rumah sendiri.



*Maliyana Nur Rahma, perempuan berusia 20 tahun yang berasal dari kota Pati. Saat ini sedang menempuh kuliah di Universitas Sebelas Maret, jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Sastra, bagi Maliyana, adalah upaya merekam jejak batin manusia dalam semesta kata. Selain itu, ia mengeksplorasi pengembangan rasa kepekaan terhadap isu sosial dan lingkungan dengan keterlibatannya dalam Tim Media Festival Muria Raya (FMR).