Advertisement
![]() |
| Pementasan Kebun Hantu karya Roy Julian |
Catatan Dramaturgis atas Pementasan Kebun Hantu Karya Roy Julian
Oleh : Simon Karsimin
Ada kalanya tubuh bergerak seolah hendak mengatakan sesuatu. Ada kalanya tubuh berhenti dan kata-kata mengambil alih. Lalu puisi hadir, diucapkan, bahkan pada beberapa bagian dilagukan bersama musik. Pada saat seperti itu, kata-kata tidak lagi hanya meminta untuk dipahami. Ia juga meminta untuk dirasakan.
Pengalaman itulah yang saya temukan ketika menyaksikan Kebun Hantu karya Roy Julian, 13 Oktober 2026 di Teater Wahyu Sihombing, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, sebagai bagian dari Program Kanal Teater (Kanal Alternatif Teater) Komite Teater Dewan Kesenian Jakarta, pertunjukan ini menghadirkan Bambang Wahyudin, Badri Adalah Badri, Parulian, Marina, Novianti, Jean Marais, Yuli Goplumb, dan Roy Julian. Ega Alamsjah bertindak sebagai direktur artistik, sementara Roy Julian menulis sekaligus menyutradarai pertunjukan.
Kebun Hantu membawa kita memasuki persoalan manusia modern yang hidup dalam kepungan algoritma, gawai, ingatan, dan hubungan antarmanusia yang semakin rumit. Pertunjukan ini tidak menawarkan cerita yang bergerak lurus dari awal menuju akhir. Ia lebih menyerupai serpihan pengalaman yang datang, menghilang, kemudian muncul kembali dalam bentuk yang berbeda.
Namun, bagi saya, yang menarik bukan semata persoalan digital yang hendak dibicarakan, melainkan bagaimana pertunjukan ini mencoba mempertemukan tubuh, puisi, suara, dan musik sebagai bahasa-bahasa yang saling bersinggungan.
Tubuh yang Menyimpan Ingatan
Judul Kebun Hantu sendiri mengundang berbagai kemungkinan tafsir. Kebun adalah tempat sesuatu ditanam dan tumbuh, sementara hantu merupakan sesuatu yang dianggap telah pergi tetapi masih terus hadir. Keduanya seperti bertentangan, tetapi juga saling membutuhkan. Bukankah manusia tumbuh bersama ingatan yang tidak pernah benar-benar hilang?
Ada pengalaman yang mungkin sudah lama berlalu, tetapi tetap tinggal dalam tubuh kita. Ada kesedihan yang tiba-tiba muncul hanya karena mendengar sebuah lagu. Ada pula kenangan yang kembali hidup melalui gerakan, suara, atau kata-kata tertentu.
Dalam pemikiran Jacques Derrida mengenai hauntology, masa lalu tidak selalu selesai hanya karena waktu telah bergerak maju. Sesuatu yang telah tiada dapat terus memengaruhi kehidupan masa kini. Melalui perspektif tersebut, hantu dalam pertunjukan ini dapat dibaca sebagai jejak pengalaman yang masih tinggal di dalam tubuh dan ingatan manusia.
Kebun Hantu memilih beberapa jalan untuk menghadirkan ingatan. Ada bagian ketika aktor lebih banyak berbicara melalui syair-syair puisi. Ada pula bagian ketika tubuh berkembang melalui gerakan. Pada kesempatan lain, puisi menemukan bentuk musikalnya melalui nyanyian. Perpindahan tersebut menciptakan kemungkinan dramaturgi yang menarik, sebab ingatan manusia memang tidak selalu hadir melalui satu bahasa.
Ketika Puisi Menemukan Suaranya
Salah satu bagian yang cukup menyentuh dari Kebun Hantu adalah ketika beberapa syair puisi dilagukan dengan iringan musik. Pada bagian semacam ini, puisi tidak lagi hanya menjadi susunan kata-kata yang menyampaikan gagasan. Ia berubah menjadi pengalaman bunyi yang memiliki irama, tekanan, jeda, dan getaran emosional.
Kita mungkin tidak selalu menangkap seluruh arti sebuah syair, tetapi kita dapat merasakan kesedihan, kegelisahan, atau kerinduan melalui cara syair itu dinyanyikan. Di sinilah saya melihat salah satu kekuatan pertunjukan ini.
Puisi tidak selalu harus diterjemahkan menjadi gerakan tubuh. Melalui suara yang dilagukan, tubuh sebenarnya telah bekerja. Napas, getaran suara, ketegangan, dan pengaturan irama merupakan tindakan fisik yang tidak dapat dipisahkan dari kehadiran aktor. Suara bukan sesuatu yang berada di luar tubuh. Suara justru lahir dari tubuh.
Pemikiran Erika Fischer-Lichte mengenai estetika performatif membantu kita memahami bahwa pertunjukan bukan sekadar penyampaian makna, melainkan peristiwa yang terjadi melalui kehadiran fisik pemain dan penonton. Dalam konteks ini, puisi yang dilagukan dapat menjadi peristiwa performatif. Musik pun tidak harus dipahami sebagai pengiring yang memperindah suasana. Ia dapat menjadi unsur dramaturgis yang mengubah hubungan penonton dengan teks.
Antara Tubuh yang Bergerak dan Tubuh yang Berbicara
Meski demikian, hubungan antara tubuh dan puisi tetap menyisakan persoalan dramaturgis yang menarik. Dalam beberapa bagian, aktor lebih banyak berbicara. Sementara pada bagian lainnya, gerak tubuh memperoleh kesempatan untuk berkembang. Pergantian tersebut tentu dapat menjadi pilihan artistik yang sah.
Hans-Thies Lehmann melalui Postdramatic Theatre menjelaskan bahwa dalam praktik teater postdramatik, teks tidak lagi harus menjadi pusat yang mengatur seluruh unsur pertunjukan. Tubuh, ruang, suara, cahaya, dan bahasa dapat membangun hubungan yang tidak selalu hierarkis.
Namun, persoalannya bukan sekadar menghadirkan banyak unsur artistik dalam satu pertunjukan. Yang lebih penting adalah bagaimana unsur-unsur tersebut saling bekerja. Ketika tubuh bergerak, apakah gerakan itu membawa jejak puisi yang sebelumnya diucapkan? Ketika puisi dilagukan, apakah pengalaman tubuh yang telah hadir sebelumnya ikut mengubah cara kita mendengarkannya?
Ada kemungkinan keduanya hanya hadir secara bergantian. Tetapi ada pula kemungkinan bahwa keduanya saling mengubah, sehingga gerakan tubuh memperluas makna puisi dan puisi memberikan lapisan pengalaman baru terhadap tubuh. Kehadiran musik menjadi unsur yang menarik karena berpotensi menjembatani kedua wilayah tersebut. Melalui nyanyian, teks memasuki wilayah ritme, napas, dan pengalaman tubuh.
Algoritma dan Kehidupan yang Terpecah
Persoalan algoritma dan kecanduan gawai yang diangkat Kebun Hantu sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari. Kita hidup dalam keadaan ketika perhatian semakin mudah berpindah. Baru saja membaca sesuatu, kita sudah terdorong melihat sesuatu yang lain. Ingatan kita dipenuhi gambar, suara, pesan, dan berbagai informasi yang datang tanpa henti.
Dalam konteks ini, pilihan pertunjukan untuk tidak menggunakan alur linear menjadi relevan. Bentuk yang terfragmentasi dapat dibaca sebagai cerminan pengalaman manusia yang semakin sulit mempertahankan perhatian dan keutuhan hubungan. Namun, fragmentasi dalam dramaturgi bukan sekadar menyusun peristiwa secara acak. Ia tetap memerlukan hubungan, meskipun hubungan tersebut tidak selalu berupa sebab-akibat.
Sebuah puisi dapat memanggil gerakan tubuh. Sebuah lagu dapat membangkitkan ingatan. Sebuah keheningan dapat menjadi kelanjutan dari kata-kata yang sebelumnya diucapkan. Hubungan-hubungan itulah yang membuat fragmen tidak hanya berdiri sebagai potongan, melainkan membentuk pengalaman pertunjukan.
Ketika Musik Membuka Ruang Intim
Pertunjukan ini berbicara tentang ruang intim manusia yang semakin terganggu oleh kehidupan digital. Namun, melalui puisi yang dilagukan, pertunjukan justru berpotensi menciptakan kembali pengalaman intim tersebut.
Musik memiliki kemampuan menghadirkan kedekatan yang tidak selalu membutuhkan penjelasan. Sebuah lagu dapat membuat penonton merasa terhubung dengan pengalaman yang sebenarnya bukan miliknya. Kata-kata yang sebelumnya terdengar jauh dapat tiba-tiba terasa dekat ketika memperoleh bentuk musikal.
Namun, kedekatan emosional tidak dengan sendirinya berarti seluruh persoalan dramaturgi telah selesai. Sebuah bagian dapat sangat menyentuh, tetapi kita masih perlu bertanya bagaimana bagian tersebut bekerja dalam keseluruhan pertunjukan. Apakah musik memperdalam gagasan tentang ingatan dan keterasingan? Apakah ia menghubungkan fragmen-fragmen yang sebelumnya terasa terpisah? Ataukah ia hadir sebagai bagian yang indah, tetapi belum sepenuhnya terhubung dengan struktur keseluruhan?
Sebab, dalam dramaturgi, keindahan sebuah bagian tidak selalu sama dengan kekuatan hubungan antarbagiannya.
Membiarkan Hantu-Hantu Itu Hidup
Saya kira Kebun Hantu menarik justru karena ia mempertemukan berbagai kemungkinan bahasa pertunjukan. Tubuh, puisi, suara, dan musik hadir sebagai jalan untuk memasuki pengalaman manusia yang tidak lagi utuh.
Ada bagian ketika kata-kata mengambil ruang lebih besar. Ada bagian ketika tubuh memperoleh kebebasannya. Ada pula saat ketika puisi yang dilagukan membuat pengalaman pertunjukan terasa lebih dekat secara emosional. Namun, dari keseluruhan kemungkinan tersebut, pertanyaan dramaturgis yang tersisa adalah bagaimana semua unsur itu membentuk satu pengalaman yang saling berhubungan.
Pada akhirnya, Kebun Hantu dapat dibaca sebagai usaha menghadirkan kembali pengalaman manusia yang tercerai-berai oleh kehidupan digital. Dan barangkali yang paling menarik bukanlah hantu sebagai sesuatu yang menakutkan, melainkan hantu sebagai sesuatu yang terus ingin didengar.
Ingatan yang meminta tempat. Tubuh yang mencari bahasa. Kata-kata yang ingin menjadi suara. Suara yang kemudian berubah menjadi lagu.
Di tengah dunia yang semakin bising oleh informasi, pertunjukan ini mengingatkan bahwa manusia masih membutuhkan ruang untuk mendengarkan, merasakan, dan mengalami kehadiran manusia lain. Tetapi teater juga perlu menjaga agar seluruh bahasa artistiknya tidak berhenti pada keindahan masing-masing.
Sebab, dramaturgi bukan hanya persoalan apa yang dihadirkan di atas panggung, melainkan bagaimana segala sesuatu yang hadir itu saling membutuhkan.
Barangkali hantu-hantu itu tidak sedang meminta untuk diusir. Mereka hanya ingin diberi tubuh, suara, dan kesempatan untuk kembali hidup.
Referensi Teoretis
Derrida, J. (1994). Specters of Marx: The State of the Debt, the Work of Mourning, and the New International. Routledge.
Fischer-Lichte, E. (2008). The Transformative Power of Performance: A New Aesthetics. Routledge.
Lehmann, H.-T. (2006). Postdramatic Theatre. Routledge.





