Human Slops dalam Pertunjukan WETWARE -->
close
Pojok Seni
06 September 2026, 9/06/2026 07:30:00 PM WIB
Terbaru 2026-09-06T12:30:00Z
teaterUlasan

Human Slops dalam Pertunjukan WETWARE

Advertisement
Gambar 1. Pertunjukan WETWARE<3 karya Merpati Performance Laboratory. Sumber: Dok. Pribadi.

Oleh: Rizal Sofyan


Hari-hari yang melelahkan ketika mengurusi persiapan semester baru. Kesibukan ini membuat saya tidak lepas dari laptop dan berada di kampus hingga larut malam. Sesekali saya melepas stres dengan mabar video gim Left 4 Dead 2 dengan teman. Namun, rasanya saya mesti pulang sejenak untuk tidak berurusan dengan kampus. Saya memutuskan untuk pulang ke kampung halaman ketika memang semua tugas di lapangan sudah terkendali.


Dua minggu sebelumnya Darryl Haryanto memosting story di Instagram mengenai karya terbarunya berjudul WETWARE<3 bersama Merpati Performance Laboratory dalam rangkaian Festival Teater Jakarta Selatan (FTJS). Rasanya cukup lama semenjak saya menonton FTJS di GOR Bulungan – terakhir tahun 2023. Maka saya putuskan untuk menonton pertunjukan dari Merpati Performance Laboratory pada Kamis malam (27 Agustus 2026). Sebelum akhirnya saya melanjutkan perjalanan menggunakan KRL rute Green Line.


Pada hari H, saya mendapat email dari Merpati Performance Laboratory. Email itu berisi mengenai pengantar pertunjukan. Begini isinya:


Bulungan, 27 Agustus 2026


Kawan-kawan yang baik lagi sigma,

Bagaimana kabarmu? Aku harap kau dan orang-orang yang kau kasihi baik-baik saja. Sintas dan waras selalu.


Kau tahu, maksudku, di tengah berita bencana yang datang dari mana-mana, baik bencana kemanusiaan yang memalukan maupun memuakkan, rasanya mudah sekali untuk marah, lelah, lalu kehilangan harapan. Pernahkah kau bertanya-tanya, mungkin sambil marah-marah juga, begitu. Dengan pengetahuan yang sudah dikumpulkan manusia selama ratusan ribu tahun, kok kita masih nggak mampu berhenti menghancurkan dunia atas nama kerakusan? Kiamat seolah nggak lagi hadir sebagai potensi, ramalan, atau tanda-tanda, tetapi kenyataan sehari-hari.


Eh, bicara soal kemampuan berpikir, kau sudah baca ensiklik Paus Leo XIV? Judulnya Magnifica Humanitas, dan isinya cukup komprehensif. Aku sedikit senang membaca bahwa beliau, sebagai kepala sebuah institusi agama yang sudah berusia dua ribu tahun, bersikap kritis terhadap artificial intelligence (AI). Beliau menulis, bahwa kita harus menghindari anggapan bahwa "kecerdasan" semacam ini sama dengan kecerdasan manusia. Tapi kemudian beliau juga membandingkan kecerdasan buatan dengan kecerdasan manusia, terutama dalam hal martabat manusia. Baginya, AI tidak sungguh-sungguh memahami apa yang dihasilkannya karena ia tidak memiliki pengalaman, hubungan dengan orang lain, maupun perasaan yang membentuk manusia. Tetapi, yang bener aja ya? Dengan segala hormat, di tengah kondisi dunia seperti sekarang, rasanya sulit percaya bahwa perbedaan antara keduanya selalu sesederhana itu. Bagaimana kalau manusia sendiri sebenarnya hanyalah komputer biologis, yakni perangkat yang sejak lahir diprogram dan dibentuk oleh lingkungan, budaya, aturan, dan berbagai hal yang kita anggap normal?


Bersama renungan-renungan itu, kau tahu, Merpati Performance Laboratory memutuskan untuk bikin teater (eh, atau pertunjukan, gitu ya?) dengan tajuk WETWARE<3. Barang yang sedang kau genggam ini adalah semacam surat pengantar, atau mungkin kisi-kisi kecil, sebelum kau menyaksikan pertunjukan. Istilah wetware kami pinjam dari dunia sibernetika. Ia digunakan untuk membicarakan perangkat biologis: bukan perangkat keras (hardware), bukan pula perangkat lunak (software), tetapi tubuh biologis yang memungkinkan keduanya bekerja. Dalam WETWARE<3, manusia dibayangkan sebagai wetware: komputer biologis yang lentur, mudah berubah, dan terus dibentuk oleh berbagai pengalaman dan konstruksi yang berlangsung di sekitarnya.


Karena itu, cobalah bayangkan, bagaimana cinta membentuk manusia? Bagaimana cinta dari orang tua, kasih paling awal dari manusia, memprogram perangkat darah daging itu? Dan, bagaimana bentuk-bentuk cinta lainnya, yang jumlahnya begitu banyak sekaligus tidak pernah benar-benar bisa dihitung, ikut mengubah kita? WETWARE<3 itu, kau tahu, adalah karya pertunjukan lintas media terbaru tentang cinta, juga provokasi atas masa depan kognisi, teknologi, dan tubuh manusia. Mempertemukan biografi personal, praktik koreografi berbasis objek, dan pendekatan intermedial sebagai bahan baku utama, WETWARE menelusuri jejaring friksi antara tubuh dan cinta yang mensirkulasikan persepsi atas kepribadian, pengetahuan, hingga realitas. Singkatnya, ini adalah semacam demonstrasi tentang apa yang dilakukan cinta terhadap tubuh manusia. Tubuh yang menyerap dan meluapkan kasih, begitu.


Setelah ratusan ribu tahun mengumpulkan pengetahuan, dan setelah begitu banyak bicara tentang martabat manusia, ternyata semua itu belum cukup untuk membuat dunia menjadi sedikit saja lebih baik. Mungkin saja, pertemuan kita di gedung pertunjukan ini, nggak juga berkontribusi amat. Mungkin hanya menggema dalam gelembung gedung ini. Namun, sesaat setelah menonton pertunjukan ini, apa yang tersisa dalam tubuhmu mungkinlah menjadi cinta yang baru. Dunia kecil yang sedikit saja baru dalam dirimu. Mudah-mudahan. Maksudku, kau tahu.


Selamat menyaksikan.


Darryl Haryanto

Dramaturg


Di panggung terlihat meja panjang berwarna putih dengan 3 buah kursi, bongkahan batu arfisial dengan ukiran jam angka romawi di tengahnya, rak berisi barang-barang pribadi, dan backdrop hitam dilapisi bahan semacam plastik. Sambil menunggu pertunjukan di mulai, proyeksi video vertikal bergaya vt TikTok ditayangkan membahas sinopsis dan apa itu wetware. Aktor dalam video menjelaskan sambil melakukan daily skin care – layaknya konten edukasi atau opini kekinian.


Ketika pertunjukan akan dimulai, lampu panggung menyala dengan warna merah. Dinamikanya unik, terang dan redup selama 15 menit-an dengan tambahan gun smoke. Awalnya saya kebingungan karena apakah pertunjukan akan dimulai tanpa introduksi seperti pertunjukan pada umumnya? Namun, karena ga ada kegiatan lain, jadi saya nikmati weh pertunjukan atmosfer ini. Dipikir-pikir, permainan lampu merah ini seperti jantung manusia yang berdetak – anjay.


Tak lama kemudian MC dari AI membuka pertunjukan dengan memberi pendapat singkat mengenai pertunjukan. 2 Aktor muncul dari kanan dan kiri melakukan gerakan baris-berbaris di depan batu lalu dilanjutkan dengan menyenteri backdrop di tengah gelapnya panggung. Seketika adegan berubah menjadi peristiwa keluarga di mana seorang Ibu sedang membuat makanan dari bahan makan ayam sementara anaknya mengomentari tentang Tuhan. Di sisi panggung yang lain 4 orang aktor berperan menjadi ayam hingga menyembah batu.


Pertunjukan berlangsung memusingkan. Aktor bermain dengan simultan. Semua nampak tidak mengurangi atau memberi ruang untuk penonton fokus pada 1 hal. Saya tidak diberi waktu untuk memahami simbol atau arti dari setiap permainan aktor. Permainan dengan cepat berganti, temanya bermacam-macam. Gilanya, keliaran ini dibiarkan hampir pada seluruh segmen pertunjukan. Rasanya seperti menonton seluruh episode One Piece dalam satu layar secara serentak.


Dibandingkan fokus pada satu simbol yang aktor berikan, saya menarik diri pada bingkai yang lebih luas. Apa artinya dari semua keliaran ini? Ya, saya menangkap bahwa sistem komputasi tidak sesederhana itu. Keliaran ini saya lihat sebagai satu bingkai bagaimana algoritma bekerja. Apa pun yang hadir tidak lain adalah bagaimana algoritma dikonstruksi oleh sistem komputer biologis, yaitu manusia. Gosip artis, drama korea, anime, standar medsos, hingga resep nasi goreng mengokupasi ruang digital. Wetware bertanggungjawab atas hadirnya algoritma hari ini. Bahkan sebelum adanya media sosial, algoritma yang organik dapat diciptakan oleh wetware seperti contohnya dogma, hukum, ideologi, tren, dan lainnya.


“Makan makanan sehat ya, anjing!”

“Jangan makan babi ya, anjing!”

”Belajar yang giat ya, anjing!”

“Jangan makan babi ya, anjing!”


Bukan kah itu coding yang manusia terima dari lingkungan selama hidupnya? 


Pengantar pertunjukan menjelaskan bahwa material pertunjukan berangkat dari biografi. Justru biografi dalam pertunjukan ini dibuat banal. ”In this economy, who the f**k wants to read biography?” ketika hari ini semua pengen jadi atmin. Bukan kebebasan yang saya rasakan, tetapi kebanalan dan kerapuhan manusia dalam menghadapi dunianya. Bagi saya tidak ada yang lucu ketika aktor melontarkan konten-konten trivial dari media sosial di atas panggung. NoNa, Naykilla, Roblox, Sigma, Brainrot, bahkan Tuhan sekalipun. Ungkapan sarjana chicken nugget makin menegaskan bahwa manusia semakin teralienasi. 


Justru hal yang cringe ini mengantarkan saya pada pertanyaan tentang media; ”mengapa yang ada di depan layar lebih menarik dibandingkan kenyataan itu sendiri?”. Sementara ketika dibawa ke atas panggung, apa yang di layar malah terasa asing. Jangan-jangan hari ini manusia hanya fetis sama apa yang ada di layar, bukan pada kenyataan sesungguhnya.


Di situ gue diem. Pertunjukan ini adalah dystopia dari hiperealitas. Hanya saya pikir narasi pertunjukan berakhir pada “kondisi kita gini loh, f**k up gila!”. Kondisi yang dilihat masih kurang detail, jangan-jangan ada laku ”pemberontakan” yang terjadi untuk terbebas dari kekacauan hiperealitas ini. Walau memang dramaturg sendiri menulis bahwa pertunjukan ini hanya sebagai cermin terhadap situasi-situasi yang sedang terjadi hari ini dan tidak menyelesaikan masalah apapun. Sepanjang pertunjukan wetware atau manusia dikurung atau didisiplinkan dalam bentuk yang berbeda-beda. Lalu bagaimana bentuk ”pemberontakan” dari semua itu?


Hal berani dalam pertunjukan ini ialah konsep new media yang digunakan dalam WETWARE<3. Pesan tidak disampaikan lewat aktor, tetapi juga media lain seperti multimedia, gerak, maupun objek-objek dalam pertunjukan. Seperti misalnya pada adegan seorang anak berbicara dengan ibunya yang sedang mengolah makanan. Dialog anak diwakilkan oleh suara dubbing. Kelihatan kaku banget tuh respons aktor dan pengkondisian si dubber. Tapi ini adalah eksperimen yang menarik, bagaimana konsep dubbing dilakukan secara langsung. Tidak mudah sebenarnya melakukan dubbing secara langsung. Karena dubbing biasanya bisa nge-cheat lewat retake atau editing. Barangkali ini adalah upaya sutradara menjelaskan bahwa alienasi dalam keluarga terjadi selain lewat konsep ini – kaku, ga konek, nge-lag. Apalagi tokoh ibu ini tidak bicara sama sekali dengan sang anak yang yapping mulu.


Hanya saja saya gregetan dengan pilihan penempatan proyeksi proyektor. Penempatan progress bar di lantai panggung bagian depan kurang memiliki daya visual yang jelas – saya duduk di pinggir kanan btw. Padahal menurut saya ini adalah bagian penting dalam merangkum semua keliaran yang terjadi di panggung. Ia seperti clue yang menjelaskan bahwa manusia sedang “di-install” dan yang di atas panggung adalah efeknya.


WETWARE<3 adalah pertunjukan yang berani dan mencerminkan semangat generasi dengan material biografi. Wetware, algoritma, dan Hiperealitas adalah hubungan kausalitas yang paling jelas dalam pertunjukan ini. Dari segi keputusan artistik, saya pikir perlu tinjauan kembali. Bukan memaksa untuk menjadi rapi, tetapi untuk diperhitungkan kembali efektivitas dan konsekuensi dari keputusan artistik. “Anjing! Pusing gwejh sama konten” barangkali inilah komentar saya – kalau tidak dibatasi oleh Zuckerberg – tentang Human Slops dalam pertunjukan WETWARE<3.


Jahat sekali kamu WETWARE<3. Saya sudah overwhelm dengan PRA- pekerjaan, masih harus mikirin FYP-nya WNI.