Warisan Bunga Hitam: Di Atas Bantal, Sejarah Berserakan -->
close
Pojok Seni
18 August 2026, 8/18/2026 08:00:00 AM WIB
Terbaru 2026-08-18T01:00:00Z
teaterUlasan

Warisan Bunga Hitam: Di Atas Bantal, Sejarah Berserakan

Advertisement
Pertunjukan Crossing Text 2.0: Warisan Bunga Hitam



Oleh: Hidayat Adhiningrat

Bagaimana tubuh merespons trauma, mimpi, dan ingatan kolektif? Bagaimana pula jadinya jika tubuh-tubuh dari pelbagai latar belakang itu saling bertukar pembacaan dan penafsiran? Pertunjukan Crossing Text 2.0: Warisan Bunga Hitam yang berlangsung di Gedung Miss Tjitjih, Jakarta, pada 15–16 Agustus 2026 lalu, berani menggoda pertanyaan-pertanyaan tersebut ke hadapan penonton.

Kolaborasi internasional Indonesia-Jepang ini (Lab Teater Ciputat dan Theatre Company Shelf) menelusuri gugatan itu melalui kutipan naskah drama klasik dan simbol-simbol nasional. Dimulai dari tubuh-tubuh yang disiplin menunggu komando, pertunjukan beranjak ke dunia mimpi yang sarat paranoia—menghadirkan Macbeth, bantal, dan ruang privat yang rapuh. Ketegangan kian memuncak ketika kelelahan tubuh berpadu dengan suara-suara lantang tentang tanggung jawab perang, identitas, dan rasa malu sebagai orang Indonesia.

Puncaknya, kesadaran hadir melalui nyanyian "Bagimu Negeri". Lagu kebangsaan itu mula-mula digumamkan oleh aktor Jepang, lalu dipertanyakan oleh aktor Indonesia, sebelum akhirnya dinyanyikan bersama dengan lirih. Di akhir, pertunjukan menutup lingkarannya dengan kembali pada tubuh-tubuh disiplin. Semacam penegasan bahwa warisan sejarah, mimpi, dan kebangsaan tak pernah usai diperjuangkan.

Namun, peta kronologis di atas hanyalah permukaan. Yang lebih menarik untuk dibedah adalah bagaimana pertunjukan ini memperlakukan tubuh, bahasa, dan properti panggung sebagai medan pertarungan makna.




Salah satu momen yang membekas malam itu adalah penggunaan bantal. Di atas panggung, bantal menjelma menjadi penanda ruang privat sekaligus senjata yang membungkam. Ada bantal yang digenggam erat seperti rahasia yang menyakitkan, ada yang dibanting ke lantai sebagai luapan amarah yang tak tertahankan, dan ada pula yang dipeluk erat sebagai pengganti kehangatan yang hilang. 

Tubuh para aktor tenggelam, menindih, atau bersandar di atasnya. Seolah-olah bantal adalah batas terakhir antara sadar dan mimpi, atau kepatuhan pada kekuasaan dan hasrat liar yang menekan dari bawah sadar. Dalam adegan-adegan ini, kita menyaksikan betapa benda sehari-hari dapat berubah menjadi cerminan jiwa. 

Di atas bantal-bantal itulah para aktor melepas topeng dan mulai berbicara dengan suara mereka sendiri. Bermonolog tentang kisah hidup yang membawa penonton ke ruang paling personal masing-masing dari mereka. 

Satu per satu, mereka menumpahkan pengakuan yang menusuk: ada yang bercerita tentang pindah agama tetapi justru memberinya ketenangan yang tak terduga; ada yang menggumamkan masa kecil di bawah bayang-bayang ayah pecandu narkoba,; ada pula yang bertutur tentang hidup dengan stigma ras dan kelas, tentang tubuh yang selalu dinilai terlalu berlebihan atau terlalu kurang oleh lingkungannya.

Monolog-monolog ini tidak terasa seperti akting para penuturnya melainkan lebih pada pengakuan di bilik pengakuan dosa. Identitas yang bercampur, pergulatan iman, dan luka generasi dari keluarga tidak ditampilkan sebagai tontonan murahan, melainkan sebagai arsip hidup yang dengan berat dititipkan di atas panggung. 

Pengakuan personal ini jadi semacam eksekusi langsung dari kegelisahan sutradara Sir Ilham Jambak, yang dalam catatannya bertanya: "Bagaimana sejarah hidup di dalam tubuh?" Ilham mencurigai bahwa warisan paling kuat justru bukan nama atau benda pusaka, melainkan hal-hal tak tampak seperti cara tubuh mengingat, rasa takut yang diwariskan, dan kebiasaan-kebiasaan yang terus diulang tanpa sadar.
 



Dalam monolog para aktor itulah kita melihat teori itu menjelma. Tubuh anak pecandu menyimpan getaran ketakutan masa kecil yang tak pernah usai dan tubuh aktor yang hidup dengan stigma ras dan identitas menyimpan kemarahan yang terpendam. Crossing Text 2.0 pun berhasil melampaui sekadar teater kolase. Ia menjadi ritual arkeologi tubuh yang menggali lapisan-lapisan sejarah yang bahkan mungkin tidak disadari oleh pemiliknya.

Sementara itu, sudut pandang sutradara Jepang, Yasuhito Yano, membawa dimensi lain yang tak kalah penting. Berpijak pada gagasan Michel Foucault bahwa kegilaan bukan sekadar fakta medis, melainkan konstruksi sosial, Yano mengakui bahwa ia menghabiskan waktu sebulan di rumah sakit jiwa untuk merawat gangguan bipolar. Baginya, Macbeth bukan sekadar kisah ambisi, melainkan pertanyaan tentang bahasa, bagaimana kata-kata orang lain (ramalan penyihir, hasutan Lady Macbeth, bahkan stigma masyarakat) perlahan-lahan menulis ulang kenyataan dan bersemayam di dalam tubuh, lalu muncul sebagai "suara kita sendiri". 

Dalam konteks inilah monolog para aktor tentang stigma dan identitas kembali menemukan resonansi yang mengerikan. Ketika aktor pindah agama atau anak pecandu berbicara, kita menyaksikan bagaimana kata-kata orang tua, tetangga, atau masyarakat telah "menulis" tubuh mereka. Namun, Yano juga mengingatkan bahwa kata-kata memiliki kuasa ganda. Ia mengutip penyair Wiji Thukul: "Maka hanya ada satu kata: lawan!"—bahwa kata-kata juga dapat menggerakkan tubuh menuju perlawanan. 

Di bagian ini muncul ambiguitas yang menarik. Apakah monolog-monolog ini adalah bentuk kepasrahan pada takdir dan kata-kata orang lain, atau justru upaya untuk merangkai ulang kata-kata itu menjadi narasi baru yang membebaskan?

Lebih spesifik lagi, apakah fragmentasi monolog personal ini benar-benar tersambung dengan simbol-simbol nasional dan perang, atau justru membuat pertunjukan terasa seperti deretan potongan yang mengambang? Ada momen ketika kita dibawa terlalu dalam ke luka personal seorang aktor, lalu tiba-tiba dipukul dengan nyanyian "Bagimu Negeri" atau heningnya Heike Monogatari. 

Jembatan antara yang mikro (biografi) dan yang makro (sejarah bangsa, perang dunia) terkadang terasa renggang. Dalam beberapa fragmen terasa ada jarak antara karya dan penonton. Celah yang mungkin justru perlu dieksplorasi lebih lanjut sebagai ruang perlawanan. 

Barangkali, tepat apa yang dikatakan Ilham, pertunjukan ini tidak menawarkan jawaban. Fragmentasi itu sendiri mungkin adalah bentuk paling jujur dari trauma kolektif. Trauma toh tidak pernah utuh, ia selalu berserakan, melompat antara mimpi dan kenyataan, antara ingatan pribadi dan sejarah besar.

Pada titik inilah perjumpaan antara tubuh Indonesia dan Jepang menjadi terasa sarat makna. Penggunaan bahasa Indonesia dan Jepang secara bergantian—dengan subtitle yang ditempatkan di atas dan bawah panggung—bukan soal teknis penerjemahan semata. Ia menjadi pertanda tentang bagaimana dua kebudayaan yang terikat sejarah kelam perang saling mendengar dan merespons.

 Ketika aktor Jepang menggumamkan "Bagimu Negeri" lebih dulu, lalu dipertanyakan oleh aktor Indonesia sebelum dinyanyikan bersama, kita tidak sedang menyaksikan rekonsiliasi yang manis. Kita sedang menyaksikan sebuah negosiasi yang tidak nyaman, di mana rasa malu, tanggung jawab, dan identitas saling berbenturan di atas bantal-bantal yang sama.

Pada akhirnya, bagi saya Crossing Text 2.0: Warisan Bunga Hitam adalah sebuah pertunjukan tentang ketidakmungkinan melupakan. Baik melalui bantal yang diremas, monolog seorang anak pecandu, atau nyanyian kebangsaan yang lirih, pertunjukan ini mengingatkan kita bahwa tubuh adalah tanah kuburan bagi semua kata-kata yang pernah diucapkan kepada kita. Seperti yang dikatakan Yano, "Kapan kata-kata orang lain mulai berakar di dalam tubuh kita? Dan kapan akhirnya kata-kata itu tumbuh dan mekar menjadi suara kita sendiri?" 

Pertunjukan ini dengan berani menyediakan panggung di mana pertanyaan itu dapat bergema, diwariskan, dan mungkin mulai dijawab secara berbeda oleh setiap tubuh yang menyaksikannya. Ia adalah ajakan untuk mengalami ketidakpastian bersama. Bahwa warisan sejarah, mimpi, dan kebangsaan memang tak pernah selesai, dan justru dalam ketidakselesaian itulah teater menemukan relevansinya.

—---
*Hidayat Adhiningrat. Lahir di Bandung dan kini memutuskan tinggal sambil bekerja di Jakarta. Memiliki minat terhadap kesenian dalam kapasitas sebagai penulis dan penonton. Kadang datang ke pameran, kadang menonton seni pertunjukan, kadang ikut diskusi kesenian, kadang ikut workshop penulisan ulasan kesenian.