Advertisement
![]() |
| Pertunjukan Tapa Malenggang dalam bentuk Environmental Multimedia Theater. |
PojokSeni/Jambi - Tapa Malenggang, di tahun 2019 resmi ditetapkan Kemendikbud sebagai Warisan Budaya Tak Benda Indonesia. Tapa Malenggang adalah salah satu jenis ikan yang sangat erat terkait dengan Sungai terbesar di Provinsi Jambi, Sungai Batanghari. Sejak penetapan WBTB itu, nama Tapa Malenggang juga menjadi begitu erat melekat dengan Kabupaten Batanghari, Jambi.
Tapa Malenggang adalah mite yang didasarkan dari transkripsi Datuk Rasyid dari tuturan dua datuk lainnya, Datuk Zainul dan Datuk Saharman. Kisahnya adalah ada ikan yang berenang meliuk-liuk di Batanghari. Ikan itu adalah Tapa Malenggang, yang dipercaya merupakan dari anak Rajo Kayangan atau Alam Pintu Langit.
![]() |
| Riset cerita Tapa Malenggang |
Tapa Malenggang lahir dari ayah bernama Sati Manggung dan ibu Sicindai Laut, dengan nama Mambang Diawan. Punya dua adik yakni Mambang Dibulan (Tapa Kudung) dan Mambang Sakti (Tapa Tembaga). Mereka semuanya lahir di Kayangan, sampai pada akhirnya tiga kakak beradik ini mencoba menjemput jodohnya di bumi.
Singkat cerita, untuk bisa bertemu dengan jodohnya, mereka mencoba bertahan hidup di bumi, menyelamatkan diri, mendapatkan banyak tantangan, hingga akhirnya ketiga kakak beradik ini memutuskan untuk menjelma menjadi ikan tapa, sehingga mereka bertemu dengan jodohnya. Jodoh dari Tapa Malenggang adalah Putri Kusumo Ampai.
Di dalam cerita ini, tersimpan gambaran relasi ekologis antara masyarakat Melayu Jambi dan sungai yang menghidupi mereka. Manifesto etika hidup yang selaras dengan alam khas Nusantara. Maka nama Tapa Malenggang diperkenalkan secara masif ke seluruh Kabupaten Batanghari, utamanya di Muarabulian (ibukota kabupaten Batanghari).
Tugu Tapa Malenggang didirikan di Muarabulian tahun 2013 untuk menjadi ikon daerah Batanghari. Sejak 2015, juga ada Festival Tapah Malenggang untuk melestarikan tradisi, kearifan lokal, dan nilai moral keselarasan dengan alam tersebut ke anak cucu.
Tahu Nama, Tak Tahu Cerita
Sayangnya, hasil survei di salah satu sekolah menengah pertama setempat menunjukkan hasil yang menohok. Hanya ada 6% dari siswa di SMP tersebut yang tahu cerita, serta filosofi di baliknya. Sedangkan sisanya, hanya tahu namanya. Tapa Malenggang sudah tereduksi menjadi "sekadar" nama di generasi terbaru (Alpha).
Sedangkan status mutu air Sungai Batanghari sudah semakin parah. Riset terakhir menyebutkan bahwa sungai ini sudah masuk dalam kategori tercemar parah. Kisah Tapa Malenggang yang mengajarkan untuk selaras dengan alam, mulai terlupakan. Di saat yang bersamaan, Sungai Batanghari perlahan sekarat. Maka wajar bila kita berasumsi, kegagalan memaknai sastra lisan berkaitan dengan kerusakan ekosistem sungai. Keduanya bukan dua masalah yang terpisah, bahkan bisa disatukan menjadi satu domain; krisis kultural-ekologis.
Teater Kertas Putih, Muarabulian
![]() |
| Teater Kertas Putih Muarabulian mendapatkan materi penulisan naskah dan dramaturgi |
Di sisi lain, tahun 2015 berdiri grup teater bernama Teater Kertas Putih di Muarabulian. Kelompok yang didirikan oleh M Komadri dan Achmad Robitul Wafa dan beranggotakan pemuda-pemudi Muarabulian ini menjadi kelompok teater paling produktif di kabupaten tersebut.
Kelompok ini memadukan drama, tari, dan musik. Bentuknya modern, tapi tetap berakar pada seni tradisi, seperti Teater Abdul Muluk. Grup ini berkali-kali mengkritik aktivitas penambangan ilegal di Sungai Batanghari lewat lakon Rajo Mencari Rajo di tahun 2022, dan Aek Mato Sunge Batanghari di 2020. Namun, sepertinya militansi dan dedikasi saja tidak bisa menopang keseluruhan ekosistem seni pertunjukan di Kabupaten Batanghari.
Teater Kertas Putih seperti berjalan di atas jembatan Siratal Mustaqim tanpa jaring pengaman di bawahnya; finansial. Tiket maksimal terjual di harga Rp15.000, dan hasilnya hanya cukup untuk menutup biaya produksi. Gedung, sound system, dan lighting, semuanya meminjam milik Pemkab Batanghari, melalui Dewan Kesenian Batanghari.
Dari 16 anggota aktifnya, mayoritas berlatar pendidikan SMA dengan keterampilan otodidak di bidang akting, musik, hingga tata rias. Nyaris tak ada di antara mereka yang punya latar belakang pendidikan formal di bidang teater. Hasilnya, kata para pendampingnya, pola penciptaan karya mereka relatif repetitif.
Environmental Multimedia Theatre
![]() |
| Anggota muda Teater Kertas Putih dilibatkan dalam penggarapan teater multimedia |
Ketika kerusakan sungai sudah semakin parah, peneliti seni dan peneliti lingkungan menggaet Teater Kertas Putih untuk duduk bersama membuat sebuah pertunjukan. Ini penanda lahirnya gagasan yang agak tak biasa: menggabungkan riset lingkungan dengan penciptaan teater, dan menyebutnya Environmental Multimedia Theatre.
Gagasan ini diajukan oleh sejumlah peneliti seni pertunjukan dan sastra Ikhsan Satria Irianto bersama Sovia Wulandari, dan Tofan Gustyawan. Tim yang terlibat dalam ini menyusun ulang struktur naratif dari cerita Tapa Malenggang agar isu kerusakan sungai tampil lebih eksplisit, tanpa mengorbankan nilai dan makna aslinya. Selain peneliti seni dan Teater Kertas Putih, proses ini juga melibatkan seorang ahli teknik lingkungan, Winny Laura Christina Hutagalung, yang bertugas memastikan narasi ekologis dalam pertunjukan benar-benar berpijak pada data ilmiah, bukan sekadar dramatisasi. Salah satu rujukannya adalah riset tingkat pencemaran anak Sungai Batanghari yang menunjukkan kadar pencemar sudah melampaui ambang batas aman.
Di atas panggung, riset itu diterjemahkan lewat perangkat multimedia: proyektor video mapping beresolusi Full HD untuk menampilkan visual sungai, rekaman suara berkualitas studio untuk voice over dan sound effect, smoke gun untuk membangun suasana dramatik, mikrofon nirkabel agar dialog tetap jernih meski dipentaskan di ruang terbuka, dan yang paling simbolik, lampu LED fleksibel yang dipasang di bawah kain panggung, menciptakan efek aliran yang merepresentasikan sungai yang tercemar.
Anggota Teater Kertas Putih juga dilatih dan dilibatkan dalam pelatihan merancang dramaturgi berbasis sastra lisan, mengoperasikan multimedia, hingga memahami isu ekologis yang akan mereka bawakan sendiri di atas panggung. Tujuannya, begitu Program Pengabdian Kepada Masyarakat Inovasi Seni Nusantara tahun pendanaan 2026, dari Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi ini nantinya selesai, mereka tak lagi bergantung pada pendamping dari luar untuk terus berkarya setipe dengan ini.
![]() |
| Tim peneliti seni, sastra lisan, lingkungan, dan Teater Kertas Putih |
Pentas direncanakan untuk dipentaskan di hadapan ratusan orang penonton di Muarabulian, dengan diskusi publik pascapertunjukan terkait krisis sungai tersebut. Tentu saja, tugas mereka jadi lebih berat. Tidak hanya mengingatkan bahaya kerusakan dan pencemaran yang terjadi di Sungai Batanghari, tapi juga menghidupkan Tapa Malenggang dalam benak Batanghari menjadi rujukan hidup selaras dengan alam, untuk menjaga sungai secara berkelanjutan.




.jpg)
.jpg)
.jpg)

