Advertisement
![]() |
| Metode penciptaan Kouryu/Jiaoliu Project (foto: Roy Julian) |
Oleh: Roy Julian
I
Enam orang aktor yang tergabung dalam Kouryu/Jiaoliu Project duduk melingkar di lantai Promenade, Taman Ismail Marzuki (TIM), siang itu. Mereka tidak berbicara. Pandangan mereka bergerak perlahan dari satu wajah ke wajah yang lain, seolah sedang mengukur kehadiran masing-masing sebelum sesuatu benar-benar dimulai.
Beberapa saat kemudian, mereka berdiri. Perlahan-lahan tubuh mereka bergerak menjauh satu sama lain, memperlebar diameter lingkaran yang semula rapat. Setiap langkah dilakukan dengan ritme yang tenang dan terukur. Tidak ada gestur yang dilebih-lebihkan, tidak ada usaha untuk membangun dramatisasi, apalagi menarik perhatian orang-orang yang berlalu-lalang di sekitar mereka. Mereka tampak lebih fokus mendengarkan tubuh mereka sendiri daripada berusaha menjadi tontonan.
Lalu mereka mulai bernapas. Tarikan napas mereka panjang dan dalam. Suara udara yang masuk ke dalam tubuh terdengar jelas; pelan, berulang, dan ritmis. Bunyi hirupan napas itu perlahan memenuhi ruang, menciptakan lanskap bunyi yang nyaris tak disadari, namun cukup untuk mengubah atmosfer Promenade yang semula dipenuhi lalu lintas orang menjadi ruang yang sejenak melambat.
Satu per satu, tubuh-tubuh itu mulai mengisi ruang. Mereka bergerak perlahan, menjaga jarak sekaligus membangun komposisi yang terus berubah. Di salah satu bagian telah diletakkan dua buah mikrofon yang saling berhadapan. Tanpa aba-aba yang jelas, mereka bergantian mendekati mikrofon-mikrofon tersebut.
Secara bergantian, beberapa aktor mendekatkan mulutnya ke arah mikrofon. Lalu, mereka memperdengarkan napas. Udara yang keluar dan masuk dari paru-paru ditangkap, diperbesar, lalu dipantulkan melalui pengeras suara. Desah yang biasanya nyaris tak terdengar berubah menjadi material bunyi yang memenuhi ruang. Tarikan napas, embusan, jeda, dan ritmenya menjadi bahasa dalam pertunjukan itu.
Kemudian, perlahan, beberapa dari mereka mulai mengeluarkan bunyi-bunyi kecil. semacam desahan, dengungan, gumaman pendek: "ah...", "mmm...", "eh...". Bunyi-bunyi itu muncul seolah mengikuti irama napas, tanpa maksud untuk menyampaikan arti tertentu. Mereka hadir sebagai getaran tubuh yang keluar begitu saja.
Suara-suara itu saling bersahutan, bertumpuk, lalu menghilang, menciptakan komposisi yang terus berubah seperti tubuh-tubuh yang sedang mencari kemungkinan lain untuk berkomunikasi; semacam bahasa yang lahir dari napas, resonansi, dan kehadiran tanpa ingin dibebani oleh makna.
Perlahan, tubuh-tubuh itu kembali bergerak menuju titik tempat mereka memulai. Jarak yang tadi sempat melebar kembali menyempit. Satu per satu mereka mengambil posisi semula, lalu duduk melingkar dalam keheningan. Tak ada klimaks, tak ada gestur penutup yang menandai berakhirnya sebuah pertunjukan. Lingkaran itu hanya kembali utuh, seolah tidak pernah terjadi apa pun. Dan pada saat itulah performans sederhana tersebut berakhir.
Hampir tidak ada peristiwa besar yang ditawarkan dalam pertunjukan itu; hanya duduk, berdiri, bernapas, bergerak perlahan, dan mengeluarkan bunyi-bunyi yang bahkan belum sempat menjadi bahasa. Meskipun pertunjukan itu tampak sederhana, namun ia meninggalkan kesan yang sulit diabaikan. Rangkaian tindakan yang tampak biasa itu sesungguhnya sedang menggeser cara kita memandang tubuh. Tubuh tidak lagi hadir sebagai medium untuk merepresentasikan tokoh, emosi, atau cerita, melainkan sebagai peristiwa itu sendiri; sebagai ruang tempat napas, bunyi, kehadiran, dan relasi dengan orang lain berlangsung secara nyata. Kesederhanaan yang mereka tawarkan bukanlah ketiadaan gagasan, melainkan upaya untuk mengembalikan perhatian pada sesuatu yang paling mendasar, yaitu tubuh yang hidup, bernapas, dan hadir di hadapan tubuh-tubuh yang lain.
Pertunjukan tersebut merupakan bagian dari rangkaian Djakarta International Theatre Platform (DITP), sebuah program yang diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) untuk mempertemukan para seniman teater dari berbagai negara dalam ruang berbagi praktik artistik, metode penciptaan, dan gagasan mengenai perkembangan teater kontemporer.
II
![]() |
| Metode Penciptaan Kouryu/Jiaoliu Project (foto oleh Roy Julian) |
Beberapa saat setelah pertunjukan singkat itu usai, keenam aktor itu langsung mengajak orang-orang di sekitar untuk mengikuti workshop yang membedah metode penciptaan di balik performans yang baru saja berlangsung. Batas antara penonton dan pelaku perlahan mengabur. Beberapa orang yang semula hanya berdiri mengamati kini melangkah masuk ke dalam lingkaran dan menjadi peserta workshop.
Latihan pertama dimulai dengan sebuah instruksi yang terdengar sederhana, yaitu para peserta workshop diminta menggambar sungai atau air. Namun yang diminta bukanlah gambar sungai dalam pengertian yang harfiah. Para peserta justru diajak menggambar bagaimana sungai atau air hidup di dalam pengalaman dan perasaan mereka. Yang dicari bukan representasi visual, melainkan jejak afektif; bukan bentuk sungai, tetapi sensasi yang ditinggalkannya di dalam tubuh.
Kertas dan alat gambar kemudian dibagikan. Satu per satu peserta mulai menggoreskan warna. Ada yang segera memenuhi bidang kertas dengan garis-garis yang mengalir, ada yang lama terdiam sebelum membuat satu sapuan pertama, sementara yang lain memilih membiarkan warna bertumpuk tanpa membentuk objek yang mudah dikenali. Menggambar tidak lagi menjadi upaya menghasilkan citra yang baik, melainkan cara untuk membuka kembali ingatan, sensasi, dan hubungan personal dengan sesuatu yang selama ini mungkin hanya dikenal melalui kata “air”.
Pada tahap berikutnya, para peserta diminta mengamati kembali gambar yang baru saja mereka buat. Dari gambar tersebut, mereka kemudian diminta memilih atau menciptakan beberapa kata yang dianggap paling dekat dengan pengalaman yang baru saja muncul. Kata-kata itu tidak perlu berupa kalimat panjang atau penjelasan yang utuh. Cukup satu atau dua kata sebagai fragmen-fragmen bahasa yang lahir dari garis, warna, ingatan, atau perasaan yang tersimpan di dalam gambar.
Setelah kata-kata itu terkumpul, proses berlanjut ke tahap berikutnya. Kali ini, para peserta diminta menerjemahkan kata-kata tersebut ke dalam tubuh. Setiap orang menciptakan sebuah gerakan singkat yang berangkat dari kata yang mereka pilih. Gerakan itu tidak dimaksudkan untuk mengilustrasikan makna kata secara harfiah, melainkan menjadi respons tubuh terhadapnya. Dengan demikian, kata tidak berhenti sebagai bahasa verbal, tetapi mengalami perpindahan medium dari gambar menjadi kata, lalu dari kata menjadi gerak. Di sepanjang proses itu, para peserta diajak menyadari bahwa makna tidak selalu lahir dari penjelasan, melainkan dapat tumbuh melalui perpindahan pengalaman dari satu bentuk ekspresi ke bentuk yang lain.
Tahap berikutnya adalah membuat semacam rekaman atas seluruh rangkaian pengalaman yang baru saja dilalui. Namun rekaman yang dimaksud bukanlah dokumentasi visual atau audio, melainkan sebuah arsip sederhana dalam bentuk tulisan. Setiap peserta diberi selembar kertas kecil dan diminta menuliskan apa pun yang mereka anggap paling penting untuk diingat dari proses sebelumnya. Tulisan itu bisa berupa satu kata, satu kalimat pendek, sebuah kesan, ingatan yang tiba-tiba muncul, atau sesuatu yang sulit mereka jelaskan tetapi terasa perlu disimpan.
Kertas-kertas kecil itu kemudian menjadi jejak dari sebuah peristiwa yang baru saja terjadi. Ia bukan catatan tentang apa yang "benar-benar" berlangsung, melainkan rekaman atas pengalaman yang tersisa di dalam ingatan masing-masing peserta. Dengan cara ini, setiap orang menghasilkan arsip yang berbeda, karena yang direkam bukan semata-mata peristiwa yang sama, melainkan cara tubuh masing-masing mengalami peristiwa tersebut.
Lalu langkah terakhir adalah menciptakan koreografi gerak berdasarkan materi latihan yang tadi diberikan. Koreografi gerak yang dimaksud mengacu pada performans yang dimainkan di awal tadi. Kini para peserta dan keenam aktor itu melakukan performans bersama.
Tahap terakhir adalah menyusun sebuah koreografi sederhana dengan memanfaatkan seluruh materi yang telah dihasilkan sepanjang workshop. Gambar, kata-kata, gerakan, hingga catatan-catatan kecil yang telah dibuat sebelumnya tidak lagi diperlakukan sebagai latihan yang terpisah, melainkan dirangkai menjadi sebuah komposisi performatif. Koreografi ini tidak disusun untuk menghasilkan gerak yang seragam, tetapi untuk mempertemukan pengalaman masing-masing peserta ke dalam satu lanskap tindakan bersama.
Struktur performans yang dimainkan dalam workshop ini pada dasarnya mengikuti komposisi sederhana yang telah diperagakan oleh keenam aktor pada awal kegiatan. Performans dimulai dengan seluruh peserta duduk melingkar di lantai dan saling menatap dalam diam. Tatapan menjadi tindakan pertama untuk membangun kesadaran akan kehadiran tubuh-tubuh lain, sekaligus menandai terbentuknya sebuah ruang bersama.
Dari posisi tersebut, para peserta kemudian berdiri secara perlahan dan mulai memperbesar diameter lingkaran. Tubuh-tubuh mereka bergerak menjauh dari pusat, membuka ruang yang semula rapat menjadi semakin luas. Gerakan ini bukan sekadar perpindahan posisi, melainkan proses negosiasi antara tubuh dan ruang. Setiap langkah dilakukan dengan penuh perhatian, seolah setiap orang sedang membaca sekaligus menuliskan kembali peta ruang melalui tubuhnya sendiri.
Setelah lingkaran mencapai ukuran yang diinginkan, setiap peserta mulai meninggalkan formasi dan bergerak mengisi ruang. Mereka berjalan, berhenti, berpapasan, atau mengubah arah tanpa pola yang baku. Ruang tidak lagi dipahami sebagai tempat kosong yang harus dilalui, tetapi sebagai wilayah yang harus dihuni, dirasakan, dan direspons. Setiap tubuh membangun hubungan dengan tubuh lain, dengan lantai, dengan udara, serta dengan keberadaan orang-orang di sekitarnya.
Tahap berikutnya adalah penciptaan bunyi. Sembari terus bergerak, para peserta mulai mengeluarkan suara-suara sederhana yang lahir dari eksplorasi vokal: desahan, gumaman, dengungan, atau serpihan fonem seperti "ah", "mmm", "eh", dan bunyi-bunyi lain yang tidak membentuk kata maupun kalimat. Bunyi-bunyi tersebut tidak diarahkan untuk menyampaikan makna tertentu, melainkan diperlakukan sebagai material performatif yang memiliki ritme, intensitas, dan teksturnya sendiri. Ketika suara-suara itu saling bertemu dan bersahutan, ruang perlahan dipenuhi oleh komposisi bunyi yang terus berubah, tanpa pernah berkembang menjadi percakapan.
Setelah komposisi mencapai titik akhirnya, seluruh peserta secara perlahan kembali menuju titik awal. Jarak yang sempat melebar kembali menyempit. Mereka kembali duduk melingkar seperti saat performans dimulai, mengembalikan ruang pada bentuk semula. Namun lingkaran yang terbentuk kali ini bukanlah sekadar pengulangan. Ia menjadi penanda bahwa setiap tubuh telah melalui pengalaman yang sama, tetapi dengan jejak dan intensitas yang berbeda. Apa yang tampak sebagai rangkaian tindakan sederhana; duduk, bergerak, bersuara, dan kembali, sesungguhnya telah membentuk sebuah pengalaman kolektif yang lahir dari perjumpaan tubuh, ruang, dan waktu.
III
Pada dasarnya, metode penciptaan ini berangkat dari gagasan bahwa tubuh adalah sebuah arsip. Di dalam tubuh tersimpan berbagai lapisan pengalaman, ingatan, pengetahuan, kebiasaan, trauma, afeksi, serta jejak-jejak perjumpaan yang terus bertambah sepanjang kehidupan. Arsip tersebut tidak hadir sebagai sesuatu yang selesai atau tersusun rapi, melainkan sebagai material hidup yang sewaktu-waktu dapat muncul kembali melalui gerak, bunyi, gambar, kata, maupun tindakan-tindakan sederhana yang dilakukan tubuh.
Karena itu, proses penciptaan tidak dimulai dari sebuah naskah yang telah selesai ditulis, ataupun dari gagasan konseptual yang harus diterjemahkan oleh para pemain. Sebaliknya, penciptaan dimulai dengan membuka kemungkinan agar setiap peserta dapat mengakses kembali arsip tubuhnya sendiri. Latihan-latihan seperti menggambar, memilih kata, menciptakan gerak, menulis catatan singkat, hingga menyusun komposisi performatif bukan dimaksudkan untuk menghasilkan representasi yang benar atas suatu pengalaman, melainkan menjadi perangkat untuk memancing ingatan tubuh agar muncul ke permukaan.
Dalam metode ini, tubuh dipahami sebagai produsen pengetahuan, bukan sekadar instrumen yang menjalankan gagasan. Setiap tindakan yang dilakukan tubuh, sekecil apa pun, mengandung informasi tentang bagaimana seseorang mengalami dunia. Cara seseorang menatap, mengatur jarak, bergerak, mengeluarkan bunyi, atau merespons kehadiran tubuh lain merupakan bagian dari arsip yang tidak selalu dapat diungkapkan melalui bahasa verbal.
Oleh sebab itu, metode ini tidak berusaha menyeragamkan pengalaman para peserta. Sebaliknya, ia membuka ruang bagi keberagaman arsip tubuh untuk saling bertemu. Perjumpaan tersebut kemudian menjadi sumber utama penciptaan. Koreografi, komposisi bunyi, maupun struktur performans tidak dibangun untuk mencapai bentuk yang seragam, melainkan untuk memperlihatkan bagaimana tubuh-tubuh yang berbeda dapat bernegosiasi, saling memengaruhi, dan bersama-sama menghasilkan sebuah peristiwa performatif.
Dengan demikian, performans yang dihasilkan bukanlah reproduksi dari konsep yang telah ditentukan sebelumnya. Ia merupakan peristiwa yang lahir dari aktivasi arsip tubuh para pesertanya. Setiap kali metode ini dijalankan, hasilnya akan selalu berbeda, karena arsip yang diaktifkan, relasi yang terbentuk, serta konteks ruang dan waktu tempat peristiwa itu berlangsung tidak pernah benar-benar sama.
Melalui metode penciptaan ini, Kouryu/Jiaoliu Project tidak sekadar menawarkan seperangkat latihan artistik, melainkan sebuah cara pandang terhadap proses penciptaan pertunjukan. Titik berangkatnya bukan lagi naskah, tokoh, atau konflik dramatik, tetapi tubuh sebagai arsip yang menyimpan pengalaman, ingatan, pengetahuan, dan berbagai jejak relasi dengan dunia. Dari arsip-arsip tubuh tersebut, komposisi pertunjukan tumbuh secara bertahap melalui gambar, kata, gerak, bunyi, dan perjumpaan antartubuh.
Dalam konteks yang lebih luas, pendekatan ini membuka kemungkinan baru bagi praktik penciptaan teater kontemporer. Dramaturgi tidak lagi dipahami semata sebagai penyusunan struktur cerita atau pengorganisasian peristiwa dramatik, melainkan sebagai
proses mengorganisasi pengalaman tubuh, ruang, waktu, bunyi, dan relasi sosial menjadi sebuah peristiwa performatif. Dengan demikian, dramaturgi bergerak melampaui wilayah teks menuju praktik yang bertumpu pada pengalaman yang dialami secara langsung oleh para pelakunya.
Tentu saja, metode ini bukan dimaksudkan untuk menggantikan metode-metode penciptaan yang telah berkembang sebelumnya. Sebaliknya, ia hadir sebagai salah satu kemungkinan di antara berbagai kemungkinan lain dalam praktik teater. Letak kontribusinya adalah memperkaya khazanah metodologi penciptaan pertunjukan dengan menawarkan perspektif bahwa tubuh bukan hanya medium ekspresi, melainkan juga sumber pengetahuan, sumber dramaturgi, sekaligus ruang tempat sebuah pertunjukan terus-menerus diciptakan.
Nilai penting dari metode ini tidak hanya terletak pada bentuk pertunjukan yang dihasilkannya, tetapi juga pada proses yang dibangunnya. Ia menciptakan ruang bagi setiap peserta untuk membaca kembali arsip tubuhnya sendiri, mempertemukannya dengan arsip tubuh orang lain, dan bersama-sama membentuk sebuah pengalaman kolektif. Dari proses semacam inilah kemungkinan-kemungkinan baru dalam penciptaan pertunjukan terus lahir, sekaligus memperluas horizon dramaturgi kontemporer yang tidak lagi bergantung semata pada teks, tetapi juga pada tubuh sebagai tempat pengetahuan dan pengalaman terus diproduksi.






