Merawat "Kebodohan" Dalam Berkesenian -->
close
Pojok Seni
10 August 2026, 8/10/2026 08:00:00 AM WIB
Terbaru 2026-08-10T01:00:00Z
ArtikelUlasan

Merawat "Kebodohan" Dalam Berkesenian

Advertisement
Ilustrasi, lukisan "Banana" karya Brito



Oleh: Roy Julian


Sejauh manakah kesenian perlu kita perlakukan seperti ilmu pengetahuan, dan sejauh manakah kita membiarkan ketidaktahuan bekerja di dalamnya?


Beberapa waktu terakhir, pertanyaan ini terus berkecamuk di kepala saya. Ia semakin kuat ketika saya mengamati bahwa hari ini, praktik artistik semakin sering dituntut memiliki kerangka berpikir, metodologi, data, bahkan kesimpulan yang dapat dipertanggungjawabkan. Kita ingin tahu dari mana sebuah karya berangkat, bagaimana ia diciptakan, apa yang ditelitinya, metode apa yang digunakan, dan pengetahuan apa yang dihasilkannya. Kesenian semakin sering diposisikan sebagai penelitian yang harus memiliki landasan teori, metode, analisis, dan temuan.


Saya tidak melihat kecenderungan ini sebagai sesuatu yang keliru. Kesadaran metodologis penting agar praktik seni tidak berhenti pada romantisme tentang bakat, inspirasi, atau intuisi. Seniman dapat mengamati, menguji, mengulang, gagal, mencatat, dan menyusun kembali pengetahuannya. 


Tubuh aktor, misalnya, dapat menjadi medan penelitian; ingatan, kebiasaan, gestur, bahasa, dan pengalaman semestinya tidak hanya bahan ekspresi. Tubuh itu bisa melahirkan sumber pengetahuan yang dapat dibongkar melalui praktik.


Ambil contoh sederhana: seorang aktor yang diminta mengulang satu gerakan berkali-kali dalam latihan mungkin tidak sedang mencari jawaban atas pertanyaan tertentu, bukan? Justru, aktor ini sedang membiarkan tubuhnya menemukan sesuatu yang belum bisa dirumuskan pikirannya. Pengulangan semacam ini tidak dikategorikan sebagai "pengumpulan data" dalam pengertian ilmiah. Ini adalah cara lain untuk mengetahui. Inilah pengetahuan yang muncul dari otot dan ingatan tubuh, bukan dari kesimpulan yang sudah bisa dituliskan sejak awal.


Tetapi ia menjadi problematik ketika kesenian harus tunduk pada logika pengetahuan yang sudah jadi. Ilmu pengetahuan bekerja dengan dorongan untuk membuat sesuatu dapat diketahui untuk menemukan pola, hubungan, sebab-akibat, dan penjelasan. Kesenian tidak memiliki kewajiban yang sama. Ia tidak selalu harus menjelaskan. Bahkan, kekuatan sebuah karya kadang justru terletak pada kemampuannya mempertahankan sesuatu yang belum selesai dipahami.


Lalu, di mana tempat bagi ketidaktahuan? Saya tidak memaksudkan ketidaktahuan sebagai ketiadaan pengetahuan atau alasan untuk bekerja tanpa disiplin. Ketidaktahuan adalah kesadaran bahwa ada sesuatu yang belum kita ketahui; sesuatu yang belum dapat kita rumuskan, belum memiliki nama, bahkan belum kita sadari sedang kita cari. Ia adalah ruang yang memungkinkan kemungkinan, kebetulan, kesalahan, intuisi, kegagalan, dan kejutan bekerja.


Ketidaktahuan yang dimaksud ini, bisa berupa ketidaktahuan dalam proses. Misalnya, ketika seniman belum tahu ke mana karyanya nanti. Ada juga ketidaktahuan sebagai kualitas karya itu sendiri, misal ketika sebuah karya sengaja tidak menjelaskan "dirinya" baik dalam bentuk yang direncanakan maupun yang tidak direncanakan, kepada penonton. 


Ada juga ketidaktahuan sebagai posisi, tentang bagaimana kerja seni diakui atau tidak diakui sebagai bentuk pengetahuan. Ketiganya berkaitan, tetapi tidak sama, dan barangkali perlu dibedakan agar tidak saling menutupi.


Perbedaan "ketidaktahuan" semacam ini dari sekadar kerja tanpa disiplin, saya kira, terletak pada kesiagaan terhadap apa yang muncul. Seniman yang bekerja dalam ketidaktahuan tetap memperhatikan, mencatat, dan mempertanyakan apa yang terjadi di dalam prosesnya. Ini jelas berbeda dari seniman yang sekadar membiarkan segala sesuatu terjadi tanpa perhatian. Ketidaktahuan yang produktif adalah ketidaktahuan yang tetap waspada, sedangkan kerja tanpa disiplin adalah ketidaktahuan yang lengah.


John Keats, seorang penyair Inggris dari era Romantik, pernah mengemukakan gagasan negative capability, yaitu kemampuan seorang seniman untuk tetap berada di dalam ketidakpastian, misteri, dan keraguan tanpa tergesa-gesa mencari fakta dan penjelasan. Bagi Keats, kemampuan untuk tidak segera mengetahui atau menyimpulkan justru merupakan salah satu kualitas penting dalam kerja artistik. Seni tidak selalu harus bergerak dari pertanyaan menuju jawaban; ia juga dapat tinggal cukup lama di dalam pertanyaan itu sendiri. Bagi saya, gagasan ini penting karena ia menempatkan ketidaktahuan sebagai sebagai wilayah kerja itu sendiri; sebuah ruang tempat kemungkinan, intuisi, kesalahan, dan sesuatu yang belum kita mengerti dapat tumbuh dan mengejutkan kita.


Gagasan Keats ini sebenarnya bisa dibawa dalam pembahasan yang lebih luas tentang artistic research. Barbara Bolt, misalnya, berargumen bahwa praktik seni menghasilkan pengetahuan yang sifatnya non-propositional, atau pengetahuan yang muncul di dalam dan melalui tindakan berkarya itu sendiri, bukan pengetahuan yang lebih dulu dirumuskan sebagai hipotesis untuk dibuktikan. Perdebatan semacam ini relevan justru karena tekanan yang (disinggung di awal tulisan ini) adalah semacam tuntutan institusional agar penciptaan karya dapat dipertanggungjawabkan sebagai penelitian. Tentu, ini bukanlah persoalan baru, justru bagian dari pergulatan yang lebih panjang tentang status pengetahuan dalam seni.


Sebab, bukankah dalam kesenian kita sering menemukan sesuatu justru ketika kita tidak tahu apa yang sedang kita cari? Sebuah proses yang terlalu cepat mengetahui apa yang hendak ditemukannya berisiko hanya menemukan kembali apa yang sejak awal sudah diyakininya. Metode dapat berubah menjadi prosedur untuk membenarkan kesimpulan yang sudah tersedia. Eksperimen kehilangan sifat eksperimentalnya karena hasil akhirnya telah ditentukan sebelum proses benar-benar dimulai.


Karena itu, mungkin yang perlu dipertahankan dalam praktik artistik bukan hanya metodologi, tetapi juga memelihara kemungkinan untuk tersesat. Tersesat berarti membiarkan proses membawa kita ke tempat yang tidak direncanakan. Membiarkan tubuh menghasilkan pengetahuan yang belum dimiliki pikiran. Membiarkan sebuah kata berubah ketika bertemu tubuh lain. Membiarkan kesalahan menjadi material. Membiarkan sesuatu yang semula dianggap tidak relevan tiba-tiba menjadi penting. Bahkan membiarkan kebuntuan tetap menjadi kebuntuan, tanpa buru-buru mengubahnya menjadi sebuah “temuan”.


Dalam pengertian ini, ketidaktahuan bukan lawan dari pengetahuan. Ia justru kondisi yang memungkinkan munculnya pengetahuan baru. Mungkin inilah yang membedakan posisi seni dari ilmu pengetahuan. Namun juga harus dipahami bahwa ini bukan karena seni tidak menghasilkan pengetahuan, melainkan karena seni juga mampu memproduksi pertanyaan yang belum memiliki jawaban.


Saya kira, persoalannya bukan apakah kesenian harus diperlakukan seperti ilmu pengetahuan atau tidak. Persoalannya adalah, bagian mana dari praktik seni yang membutuhkan pengetahuan, dan bagian mana yang membutuhkan keberanian untuk tidak tahu?


Kita membutuhkan pengetahuan agar seni tidak jatuh menjadi romantisme tentang intuisi. Tetapi kita juga membutuhkan ketidaktahuan agar seni tidak berubah menjadi penelitian yang hanya mencari jawaban atas pertanyaan yang sudah diketahui.


Mungkin kesenian hidup di antara keduanya; memiliki metode, tetapi tidak sepenuhnya dikendalikan oleh metode; menghasilkan pengetahuan, tetapi tidak berhenti pada apa yang sudah diketahui; melakukan penelitian, tetapi juga tidak selalu harus berakhir pada kesimpulan.


Seorang seniman, dengan demikian, bukan hanya seseorang yang mengetahui sesuatu lalu mengubahnya menjadi karya. Ia juga seseorang yang bersedia masuk ke wilayah ketidakmengertiannya sendiri bahkan ketika pengetahuannya sudah tidak lagi cukup memadai.


Kesenian menjadi seksi ketika kita memiliki cukup pengetahuan untuk bekerja, tetapi pada saat yang sama juga masih memiliki lebih dari cukup kebodohan untuk terkejut.


Saya kira, salah satu tugas kesenian bukan hanya memproduksi pengetahuan, tetapi juga merawat kebodohan; merawat kemampuan untuk tidak tahu, untuk tersesat, dan untuk menemukan sesuatu yang bahkan tidak pernah kita rencanakan sebelumnya.


Editor: Adhyra Irianto