Nadirah: Ketika Ruang Keluarga Menjadi Medan Perang -->
close
Pojok Seni
12 August 2026, 8/12/2026 08:00:00 AM WIB
Terbaru 2026-08-12T01:00:00Z
teaterUlasan

Nadirah: Ketika Ruang Keluarga Menjadi Medan Perang

Advertisement
Pementasan "Nadirah" dalam SIPFest 2026 (Dok. Komunitas Salihara/Witjak Widhi Cahya)
Pementasan "Nadirah" dalam SIPFest 2026 (Dok. Komunitas Salihara/Witjak Widhi Cahya)



Oleh: Hidayat Adhiningrat*


Apa yang menarik dari Nadirah? Pertunjukan yang digelar di Salihara International Performing Arts Festival (SIPFest) 2026 ini mengusung semangat kolaborasi lintas negara. Penulis naskahnya, Alfian Sa'at, adalah penulis lakon asal Singapura; sutradaranya, Iedil Dzuhrie Alaudin, datang dari Malaysia; sementara para pemainnya adalah aktor Indonesia, semuanya alumni Kelas Akting Salihara (AKSARA). Setelah sukses dipentaskan di Singapura, Kuala Lumpur, dan Tokyo, lakon Nadirah akhirnya mendarat di Jakarta pada akhir pekan lalu (8–9 Agustus 2026). Pertunjukan ini menjanjikan sebuah pergulatan dramatik atas isu agama yang tak pernah kehilangan relevansinya, bahkan terasa makin mendesak di bumi Nusantara.

Kehadiran Nadirah di panggung Salihara bukan sekadar memindahkan panggung dari satu negara ke negara lain. Di tangan Iedil Dzuhrie Alaudin, naskah Alfian Sa'at yang semula terasa sangat "Singapura" dengan problematika perundangan yang khas negara kota itu coba diterjemahkan ke dalam pengalaman emosional yang lebih universal. Namun, di sinilah letak taruhan utamanya: akankah penonton Indonesia mampu menangkap kegelisahan Alfian tentang poligami dan kemunafikan beragama tanpa kehilangan konteks lokal yang berbeda di sini?

Lakon ini bercerita tentang Nadirah, seorang Wakil Presiden di Himpunan Muslim universitasnya yang populer dan lantang bersuara atas apa yang ia anggap benar. Ia menyelenggarakan pertemuan antaragama di mana para mahasiswa membahas bagaimana mereka harus menghormati ruang pribadi orang lain. Nadirah juga merupakan hasil pernikahan campuran. Ayahnya adalah orang Melayu Malaysia dan ibunya adalah orang Tionghoa Singapura yang telah memeluk Islam.

Suatu hari, ibu Nadirah memberitahunya bahwa ia akan menikah lagi, dengan seorang pria yang bukan Muslim. Sahabat Nadirah, Maznah, percaya bahwa setiap orang berhak atas kebahagiaan. Namun, seniornya, Farouk, marah dan mendesaknya untuk melakukan "hal yang benar".


Pementasan "Nadirah" dalam SIPFest 2026 (Dok. Komunitas Salihara/Witjak Widhi Cahya)
Pementasan "Nadirah" dalam SIPFest 2026 (Dok. Komunitas Salihara/Witjak Widhi Cahya)


Dalam penyajiannya di atas panggung, para alumni AKSARA menunjukkan kapasitas teknis yang mumpuni, meski hasilnya tidak rata. Aktris yang memerankan Nadirah berhasil menangkap kerapuhan gadis yang terjepit antara kasih ibu dan dogma agama, meski sesekali pelafalan dialog khas Melayu Singapura terasa sedikit dipaksakan. Sementara itu, peran Farouk, sang "taliban" Malaysia yang memegang teguh kemurnian syariat, dimainkan dengan totalitas vokal dan gestur yang mengancam. Namun, kekejaman karakternya terasa terlalu gamblang dan hitam-putih, sehingga mengurangi ruang ambiguitas moral yang sebenarnya ingin ditawarkan naskah. 

Penampilan paling solid justru datang dari aktor yang memerankan ibu Nadirah. Ia hadir dengan kesunyian yang menusuk; tatapan matanya yang sayu dan bahasa tubuh yang ringkih mampu membuat penonton turut merasakan dinginnya ditinggal keluarga, sekaligus menjadi pengingat bahwa drama ini pada intinya adalah tragedi kemanusiaan dan bukan sekadar perdebatan teologis di ruang kuliah.
Yang patut diacungi jempol adalah keberanian produksi ini untuk tidak melunak. Isu pernikahan beda agama, status muallaf, dan otoritas tafsir keagamaan memang merupakan ranah sensitif di Indonesia, dan mereka tidak menghindarinya. Penonton disuguhi perdebatan sengit antara syariat dan nurani tanpa ada pihak yang dimenangkan secara gamblang. Ini adalah keputusan berani di tengah iklim sosial yang cenderung berpikir dikotomis. 

Adegan antara Nadirah dan ibunya yang mengaku "terpaksa bertuhan tanpa keyakinan" adalah puncak emosional yang berhasil menghancurkan sekat antara panggung dan kursi penonton. Di momen itu, pertunjukan ini membuktikan bahwa teater masih bisa menjadi ruang untuk mengajukan pertanyaan-pertanyaan sulit yang barangkali tak berani diucapkan di meja makan.

Dari sisi penyutradaraan, Iedil memilih tata panggung yang statis, nyaris tanpa perubahan berarti, meskipun naskah menuntut perpindahan ruang yang cepat dari ruang tamu keluarga, ke ruang rapat kampus, lalu ke kantor. Panggung didominasi oleh perabot rumah tangga yang lengkap: sofa usang, rak buku penuh, dan meja makan. Pilihan ini, secara sadar atau tidak, mengandung pemaknaan yang dalam. 

Pementasan "Nadirah" dalam SIPFest 2026 (Dok. Komunitas Salihara/Witjak Widhi Cahya)
Pementasan "Nadirah" dalam SIPFest 2026 (Dok. Komunitas Salihara/Witjak Widhi Cahya)



Bagi Nadirah, ruang domestik adalah penjara yang tak bisa ia tinggalkan, di mana pun ia berada bahkan saat memimpin forum antaragama di kampus. Bayang-bayang rumah dan kursi kosong sang ibu tetap menghantuinya. Set yang "mengunci" latar ke dalam satu ruang keluarga itu justru menjadi metafora visual yang kuat bahwa persoalan agama, pernikahan, dan keluarga bukanlah sesuatu yang dapat dipisahkan atau ditinggalkan begitu saja. 

Namun, konsekuensi dari keputusan ini adalah adegan-adegan yang semestinya terasa terbebas dari atmosfer rumah (seperti ruang rapat organisasi) tetap terasa sesak dan sarat dengan beban emosional domestik. Jika set dirancang lebih dinamis dan minimalis, mungkin ruang-ruang lain itu bisa bernapas lebih lega, sehingga memberikan kontras yang lebih tajam antara kehidupan publik dan kehidupan privat Nadirah.

Dengan pendekatan pentas non-proscenium (penonton duduk mengelilingi atau di sisi-sisi panggung) pertunjukan ini menghadirkan sudut pandang yang intim, seolah kita sedang mengintip ke dalam ruang keluarga. Keintiman ini justru memperkuat intensitas interaksi; ketika Nadirah bertengkar dengan ibunya atau dibentak oleh Farouk, kita terlibat sebagai saksi bisu yang turut merasakan setiap debat dan tangisan. Lebih dari itu, tata letak panggung yang memungkinkan penonton saling menatap satu sama lain menciptakan cermin kolektif bahwa kita sama-sama dihadapkan pada rasa malu, marah, dan harap yang mungkin juga kita bawa dalam menyikapi persoalan agama di ruang publik sehari-hari.

Namun, ganjalan utama yang tersisa adalah masalah translasi budaya. Naskah yang lahir dari realitas Singapura yang sekuler, tetapi dengan kantong-kantong konservatisme yang kuat, ketika dimainkan di Jakarta terasa kehilangan sebagian konteks sosiologisnya. Bukankah problematika poligami di sini kerap bermain di tataran birokrasi KUA dan hukum positif yang berbeda? Dan apakah konflik antara ibu yang bukan pribumi dengan keluarga Melayu konservatif memiliki resonansi yang sama di negara dengan ribuan suku seperti kita?

Ketidaksesuaian minor ini menyebabkan beberapa titik klimaks tidak meledak secara maksimal karena penonton (atau barangkali saya sendiri) harus "menerjemahkan" secara ekstra kesulitan hukum dan sosial yang dihadapi Nadirah, yang pada dasarnya sangat spesifik terhadap konteks negara kota tersebut.

Sebagai sebuah pertunjukan festival, Nadirah versi Jakarta ini adalah upaya menghidupkan kembali teks yang telah berusia lebih dari satu dekade. Ia relevan, tajam, dan menohok. Di atas panggung, perpaduan bakat tiga negara ini menghasilkan tontonan yang solid, meskipun nyaris luput dari momen keajaiban yang membekas. Pertunjukan ini lebih merupakan terjemahan yang patuh (faithful translation) daripada interpretasi yang benar-benar baru (reinvention). Naskah Alfian tetap berkuasa penuh, tetapi tangan sutradara dan napas aktor lokal belum cukup berani mengotori atau mengkontekstualisasikan ulang secara radikal.

Meski demikian, tetap penting untuk menyaksikan bagaimana nasib seorang perempuan bernama Nadirah terus menggema di berbagai sudut Nusantara. Pertunjukan ini membuktikan bahwa perang atas nama Tuhan tak pernah usai di ruang-ruang domestik, dan kadang perempuanlah yang menjadi medan pertempuran paling sengit. Bagi penikmat teater yang rindu pada sajian dengan argumentasi yang runcing dan emosi yang tertahan, Nadirah layak disaksikan. Namun, bagi mereka yang mengharapkan kejutan dramaturgi dan pembacaan baru yang segar, produksi ini terasa masih aman di jalur yang sudah ditempuh sebelumnya.

Pementasan "Nadirah" dalam SIPFest 2026 (Dok. Komunitas Salihara/Witjak Widhi Cahya)
Pementasan "Nadirah" dalam SIPFest 2026 (Dok. Komunitas Salihara/Witjak Widhi Cahya)



Jadi, apa sesungguhnya yang menarik dari Nadirah? Daya tariknya tidak tunggal. Pertama, keberanian tematiknya. Di tengah iklim sosial yang kian mempersempit ruang tanya tentang agama, Nadirah justru masuk ke dapur dan ruang rapat untuk mempertanyakan otoritas, kesetiaan, dan makna "iman" itu sendiri. Kedua, pertunjukan ini menarik karena ia adalah cermin lintas batas, kolaborasi tiga negara yang mengingatkan bahwa persoalan pernikahan beda agama, poligami, dan kemunafikan beragama bukan monopoli satu negeri, melainkan kegelisahan bersama yang mengendap di seluruh Nusantara. 
Ketiga, di balik semua kekurangan penyutradaraan dan translasi budaya, Nadirah menyisakan satu hal yang tak terbantahkan bahwa ia berhasil membuat penonton merasa tidak nyaman. Kita melihat wajah kita sendiri dalam kekakuan Farouk, dalam kepasrahan sang ibu, dan dalam kebingungan Nadirah yang terjepit antara cinta dan dogma.

 Di saat debat tentang agama di ruang publik kerap berujung pada pembakaran bendera dan saling kafir-mengkafirkan, Nadirah mengingatkan bahwa teater masih bisa menjadi ruang untuk mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang tak berani kita lontarkan di setiap tempat. Itulah yang membuatnya layak ditonton, karena ia berani membuka luka yang selama ini kita pilih untuk menutupnya rapat-rapat.

*Hidayat Adhiningrat, lahir di Bandung dan kini memutuskan tinggal sambil bekerja di Jakarta. Memiliki minat terhadap kesenian dalam kapasitas sebagai penulis dan penonton. Kadang datang ke pameran, kadang menonton seni pertunjukan, kadang ikut diskusi kesenian, kadang ikut workshop penulisan ulasan kesenian.