Advertisement
![]() |
| Seorang pawang Mujuk Sialang akan memulai ritual memanen madu |
PojokSeni/Jambi - Tradisi Mujuk Sialang adalah cara memanen madu secara bijak dan berkelanjutan yang diwariskan turun-temurun oleh masyarakat Melayu Jambi. Meski dianggap mistis karena melibatkan mantra-mantra, namun ada sistem pengetahuan ekologi yang sangat cerdas, tentang bagaimana manusia seharusnya hidup berdampingan dengan alam.
Cara kerja Mujuk Sialang dimulai dari sebelum fajar, ketika kabut masih menggantung di antara dahan-dahan pohon sialang, seorang pawang biasanya sudah berdiri di bawah pohon, membaca tanda alam. Pawang ini tidak akan memanjat sembarangan. Ada izin yang harus diminta lewat mantra, ada waktu yang harus ditunggu, ada batas jumlah madu yang boleh diambil. Semua itu adalah sistem pengetahuan ekologi yang diwariskan turun-temurun dalam Tradisi Mujuk Sialang.
Salah satu mantra yang masih bertahan berbunyi:
"Sialang tinggi, lebah bertandang / Bunga mekar, madu berisi / Ambil secukupnya, tinggal untuk anak cucu."
Tiga baris itu sebenarnya memuat pelajaran biologi, ekologi, dan etika keberlanjutan sekaligus: pohon tinggi adalah habitat lebah, musim bunga menentukan kualitas madu, dan keserakahan adalah musuh bersama generasi mendatang. Ratusan tahun lamanya, pesan ini cukup untuk menjaga keseimbangan hutan dan populasi lebah madu hutan (Apis dorsata) di Jambi.
Ketika Hutan dan Ingatan Sama-sama Menyusut
![]() |
| Mengenalkan tradisi Mujuk Sialang pada anak-anak dan generasi muda |
Data yang dihimpun sejumlah lembaga menunjukkan fakta yang mengkhawatirkan. Hutan di Sumatera, termasuk Jambi, terus menyusut akibat pembukaan lahan dan pembalakan liar, membuat populasi lebah madu hutan turun hingga 40 persen dalam dua dekade terakhir. Di Provinsi Jambi sendiri, sekitar 81 persen habitat pohon sialang kini terancam konversi menjadi perkebunan sawit dan karet.
Yang lebih menyayat adalah krisis regenerasi manusianya. Survei Balai Pelestarian Nilai Budaya Jambi mencatat, jika dulu hampir 65 persen generasi tua menguasai makna dan tata cara ritual Mujuk Sialang, kini hanya tersisa 11,8 persen remaja yang benar-benar memahaminya. Di seluruh Jambi, konon hanya ada sekitar 15 pawang atau maestro aktif yang masih menguasai prosesi ini secara utuh, dan tak satu pun dari mereka berusia di bawah 50 tahun.
Ironisnya, generasi muda Jambi justru fasih dengan isu pelestarian lebah di belahan dunia lain. Riset menyebut 63 persen pelajar di Kota Jambi tak mengenal jenis lebah lokal atau memahami pentingnya bagi lingkungan, meski mereka aktif mengikuti kampanye global soal penyelamatan lebah di media sosial. Mereka tahu lebah di Eropa terancam punah, tapi tak sadar krisis serupa terjadi di kampung halaman sendiri.
Faktor ekonomi turut memperkeruh keadaan. Madu sialang bisa dijual hingga Rp500 ribu per kilogram di pasar akhir. Harga ini membuat sebagian pemanen mengambil jalan pintas: memotong dahan, menyemprotkan asap kimia berlebihan, bahkan menebang pohon sialang demi efisiensi. Praktik itu justru membalikkan logika keberlanjutan yang diajarkan mantra leluhur, dan produktivitas madu pun anjlok 42 persen dalam lima tahun terakhir.
Menariknya, bukti empiris justru mengonfirmasi kearifan lama itu. Di Batanghari, komunitas yang masih setia menjalankan ritual tradisional tercatat memiliki hutan yang lebih terjaga dan produksi madu yang stabil. Ini bukti bahwa tradisi, alih-alih menghambat kemajuan, justru menjadi kunci keberlanjutan.
Sanggar Terakhir di Rambutan Masam
![]() |
| Dinda Assalia Avero Pramasheila, penggagas kegiatan ini |
Namun potensi besar itu berbanding lurus dengan keterbatasan yang mendesak. Sanggar ini nyaris tidak punya alat dokumentasi, apalagi arsip digital yang tertata. Selama ini pengetahuan sang maestro hanya "tersimpan" di kepala, sementara video dokumentasi yang pernah dibuat pihak desa terbukti belum mampu menarik minat generasi muda maupun mendorong regenerasi. Dua maestro senior yang tersisa kini berusia 58–67 tahun. Tanpa intervensi, para peneliti memperkirakan jendela waktu yang tersisa untuk menyelamatkan pengetahuan ini hanya lima hingga sepuluh tahun lagi.
Peserta ritual yang dulu bisa mencapai 80–100 orang kini menyusut menjadi 25–35 orang. Di media sosial, jejak Mujuk Sialang hanya ada segelintir unggahan yang menandainya. Bagi banyak remaja Jambi, tradisi ini bahkan dianggap sekadar "tontonan takhayul" ketimbang sistem pengetahuan yang pernah menjaga hutan mereka tetap hidup.
Pencatatan Mantra Lisan ke Buku Digital
Menjawab keresahan itu, sekelompok akademisi dan mahasiswa dari Universitas Jambi merancang program bertajuk "Pelestarian Tradisi Mujuk Sialang sebagai Media Edukasi Ekologi dan Penguatan Identitas Budaya Berbasis Kearifan Lingkungan". Ini merupakan sebuah upaya mengemas ulang kebijaksanaan leluhur ke dalam bahasa yang akrab bagi generasi digital.
Program yang digagas oleh Dinda Assalia Avero Pramasheila bersama tim ini tidak berhenti pada dokumentasi semata. Rencananya, syair-syair ritual yang selama ini hanya hidup dalam ingatan lisan akan dialihwahanakan menjadi naskah drama teater anak, lengkap dengan panduan artistik yang divalidasi langsung oleh maestro sanggar agar tak menyimpang dari pakem aslinya. Naskah itu kemudian akan "dihidupkan" dalam bentuk Digital Narrative Book atau buku cerita interaktif berbasis flipbook yang bisa diakses lewat tautan atau kode QR, dilengkapi audio lantunan syair asli sang maestro dan ilustrasi yang digambar berdasarkan dokumentasi otentik ritual.
Selain itu, tiga pemuda sanggar akan dilatih intensif menjadi tim dokumentasi mandiri (belajar memotret, merekam video, dan mengedit konten) sementara tiga calon penerus lain akan menjalani proses mentoring enam bulan bersama maestro senior, menghafal puluhan bait mantra dan belasan gerakan ritual. Seluruh mantra yang tersisa juga akan direkam dan dituliskan ulang dalam sebuah buku transkrip, disimpan di dua tempat sekaligus (cloud dan hard disk cadangan) sebagai jaring pengaman terakhir jika sesuatu terjadi pada para penjaga pengetahuan itu.
Program ini juga menyasar generasi yang lebih muda lagi: puluhan siswa sekolah terdekat akan diajak field trip langsung ke hutan sialang, belajar tentang lebah sebagai penyerbuk dan menyaksikan sendiri perbedaan antara panen yang berkelanjutan dan yang eksploitatif. Hal ini akan sulit dijelaskan hanya lewat ceramah di kelas.
Mujuk Sialang adalah Kearifan Lokal dan Cerminan Indonesia
![]() |
| Mempertemukan pawang Mujuk Sialang dengan generasi muda hingga anak-anak |
Kisah Mujuk Sialang sebenarnya adalah cermin dari persoalan yang jauh lebih besar. Di seluruh Indonesia, lebih dari 200 tradisi budaya berbasis kearifan lingkungan disebut terancam punah dalam dua dekade terakhir, seiring terputusnya regenerasi dan menyusutnya habitat alami. Di Provinsi Jambi sendiri, dari 47 tradisi lokal yang terdokumentasi, 62 persen sudah jarang dipraktikkan dan hanya bertahan di tangan generasi berusia di atas 60 tahun.
Jika Mujuk Sialang punah, yang hilang bukan cuma ritual atau tontonan budaya. Yang lenyap adalah satu lagi cara pandang tentang bagaimana manusia semestinya hidup berdampingan dengan alam. Ironisnya, justru inilah hal yang coba dirumuskan ulang oleh dunia modern lewat istilah-istilah baru seperti sustainability dan ecoliteracy.
Barangkali itulah yang membuat upaya kecil di Rambutan Masam ini terasa penting. Jauh lebih penting dari sekadar menyelamatkan satu sanggar atau satu ritual, tapi untuk membuktikan bahwa pengetahuan leluhur, jika diberi ruang dan medium yang tepat, masih sanggup berbicara kepada generasi yang tumbuh besar dengan layar di tangan mereka. Karena itu, Merupakan Program Pengabdian Kepada Masyarakat Inovasi Seni Nusantara tahun pendanaan 2026, dari Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi ini ditujukan untuk penyelamatan pengetahuan ekologi yang sudah diwariskan turun temurun di Jambi ini.







