Advertisement
![]() |
| Berpacu dengan Waktu Menjaga Bakesah |
PojokSeni/Jambi - Jambi masih terlalu banyak menyimpan harta karun kebudayaan. Di kawasan Muaro Jambi, tak jauh dari reruntuhan candi yang berdiri sejak masa Kerajaan Melayu kuno, tercatat hanya tinggal lima orang yang menyimpan 12 syair dan 8 lakon Bakesah, teater tutur khas Jambi yang dilantunkan lewat syair dan dialog berbahasa daerah. Usia mereka rata-rata 65 tahun. Dan sejauh ini, tak satu pun dari seni yang mereka kuasai itu pernah terekam dalam format video yang layak disebut profesional.
Kelima orang itu tergabung dalam Sanggar Seni Sreh Serumpun, komunitas yang telah berdiri sejak tahun 1960-an. Mereka berlima adalah penjaga salah satu warisan budaya tak benda yang kini hanya hidup dalam ingatan segelintir orang, menunggu waktu perlahan menghilang bersama mereka.
Sebagai teater tutur tradisional, Bakesah menyimpan kekayaan simbolik dan edukatif yang dalam. Hanya saja, sulit untuk menghadirkan lagi seni ini di depan publik hari ini.
Dalam lima tahun terakhir, sanggar ini hanya tampil rata-rata dua kali setahun, di hadapan 30 hingga 50 penonton, nyaris seluruhnya dalam lingkup acara komunitas internal. Tidak ada di YouTube, juga tidak ada akun media sosial yang aktif membagikannya.
Dokumentasi yang ada pun sebatas video amatir berdurasi singkat, tanpa pengolahan audio maupun visual. Padahal, berbagai kajian menunjukkan pola yang cukup jelas: seni tradisi yang tak pernah didokumentasikan secara digital cenderung kehilangan minat generasi muda hingga 30–45 persen, sementara seni serupa yang dikemas dalam rekaman audio-visual berkualitas (dengan latar ruang budaya yang kuat) justru mengalami lonjakan apresiasi hingga 200–300 persen di kanal-kanal digital.
Bakesah, dengan segala kekayaannya, justru berada di sisi yang pertama. Seni ini bernilai tinggi, namun nyaris tak terdokumentasi.
Ada satu kekhawatiran yang lebih mendesak, yakni pengetahuan tentang 12 syair dan 8 lakon itu hanya hidup di kepala lima orang berusia lanjut. Karena itu, setiap tahun yang berlalu tanpa dokumentasi adalah risiko kehilangan repertoar itu sendiri.
Reruntuhan Candi Menjadi Panggung
![]() |
| Berpacu dengan Waktu Menjaga Bakesah |
Dari titik itu lahir gagasan "Bakesah Inovatif", sebuah program yang tidak mengubah bentuk Bakesah, melainkan memberinya rumah baru: rekaman video musikalisasi syair, yang divisualisasikan langsung di ruang budaya Candi Muaro Jambi. Ini merupakan Merupakan Program Pengabdian Kepada Masyarakat Inovasi Seni Nusantara tahun pendanaan 2026, dari Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi.
Konsepnya sederhana, tiga syair pilihan akan diaransemen ulang dengan instrumen tradisional (rebana, gambus, biola, gendang) direkam secara multitrack di studio agar kualitas audionya setara standar distribusi digital masa kini. Sementara pengambilan gambarnya dilakukan di lima titik dalam kawasan candi: pelataran Candi Tinggi sebagai pembuka, Candi Gumpung untuk adegan kontemplatif, tepi Telago Rajo untuk adegan dialogis, Parit Duku sebagai transisi visual, hingga Candi Kedaton sebagai titik klimaks cerita. Semuanya diambil pada golden hour dan blue hour, saat cahaya matahari memberi suasana paling sinematik pada bebatuan candi yang sudah berusia berabad-abad tersebut.
Pendekatan ini secara sengaja menghindari intervensi fisik terhadap situs cagar budaya, antara lain tak ada panggung permanen, tak ada perubahan pada struktur candi. Bakesah "menumpang" pada ruang itu tanpa meninggalkan jejak, sebagaimana ia selama ini hidup: berpindah dari mulut ke mulut, dari satu generasi ke generasi berikutnya, tanpa banyak meninggalkan bekas fisik.
Program ini tidak hanya ditujukan untuk produksi. Ada rangkaian pelatihan yang dirancang cukup panjang: pelatihan vokal dan artikulasi syair, penyusunan aransemen musik, teknik perekaman dan sinematografi, hingga penyuntingan video dan pengelolaan kanal digital. Anggota sanggar, bersama sejumlah mahasiswa pendamping, dilatih untuk tampil sekaligus untuk memegang kendali produksi mereka sendiri. Mulai dari mengoperasikan kamera, merekam audio lapangan, menyunting video, hingga mengelola kanal YouTube pascaprogram.
![]() |
| Tim Bakesah Inovatif |
Tim yang merancang program ini antara lain:
- Tofan Gustyawan memimpin perancangan konsep inovasi sekaligus proses artistik Bakesah menjadi bentuk teater musikal berbasis tradisi.
- Lusi Handayani menangani pengkajian struktur dramatik dan nilai estetika, memastikan setiap inovasi yang dilakukan tetap berpijak pada konteks dan nilai asli Bakesah.
- Novita Sari mendampingi penguatan sisi manajemen.
Program ini akan berjalan dari Mei hingga Desember 2026 ini melibatkan lebih dari sekadar sanggar dan tim pelaksana. Izin pemanfaatan kawasan candi melibatkan koordinasi dengan Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jambi, sementara distribusi hasil akhirnya direncanakan turut menggandeng Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi Jambi.
Hasil akhirnya ditargetkan berupa tiga video musikalisasi berdurasi 5–8 menit, resolusi 4K, lengkap dengan trailer pendek untuk media sosial. Video-video tersebut rencananya akan diperkenalkan lewat sebuah pemutaran perdana (premiere screening) di kawasan Candi Muaro Jambi sendiri.
Yang membedakan program ini dari sekadar proyek dokumentasi adalah niatnya untuk tidak berhenti ketika tim pelaksana pergi. Peralatan produksi (kamera, perekam audio, perangkat pencahayaan) direncanakan diserahterimakan sepenuhnya kepada sanggar. Sejumlah anggota mitra dan mahasiswa disiapkan menjadi tim produksi mandiri, dengan modul panduan teknis sebagai bekal. Bahkan ada proyeksi sederhana soal keberlanjutan finansial: dari monetisasi kanal YouTube hingga kerja sama konten dengan dinas pariwisata, yang diharapkan bisa menopang sanggar secara mandiri setelah program usai.
Inti utama kegiatan ini adalah menyelamatkan Bakesah dengan memberinya wadah baru agar suara lima orang itu, dan syair-syair yang mereka jaga selama puluhan tahun, punya kesempatan untuk didengar oleh generasi yang bahkan baru lahir setelah era milenium dimulai.


.jpg)
.jpg)


