Akal Imitasi: Nama Murah untuk Ketakutan yang Mahal -->
close
Pojok Seni
04 August 2026, 8/04/2026 10:54:00 AM WIB
Terbaru 2026-08-04T03:54:07Z
OpiniUlasan

Akal Imitasi: Nama Murah untuk Ketakutan yang Mahal

Advertisement
Ilustrasi


Oleh: Deborah Ram Mozes


“Akal Imitasi” adalah terjemahan yang sejak lahir sudah membawa niat merendahkan. Bukan menerangkan teknologi, tetapi memasang kaleng rombeng di lehernya sebelum ia sempat bekerja. Kata imitasi dalam bahasa sehari-hari berarti tiruan murahan, emas palsu, kulit palsu, barang tanpa bobot, benda yang kilapnya gugur setelah dua kali disentuh hujan. Maka ketika Artificial Intelligence disebut “Akal Imitasi”, yang bekerja bukan kecermatan bahasa, melainkan muslihat kecil untuk menjatuhkan nilai melalui nama.


Kalimat itu tidak netral. Ia sudah datang dengan cibiran, seolah teknologi ini cuma pikiran palsu yang meniru manusia sambil bersembunyi di balik layar. Padahal manusia jugalah yang memberi petunjuk, pertanyaan, arah, koreksi, keputusan, dan tujuan. Manusia yang menyusun masalah. Manusia yang memilih hasil. Manusia yang menolak jawaban buruk. Manusia yang mengolah kemungkinan menjadi gagasan. Manusianya asli. Kegelisahannya asli. Pengalamannya asli. Kehendaknya asli.


Tanpa manusia, mesin itu tidak sedang memikirkan apa-apa. Ia tidak bangun pagi dengan keresahan. Ia tidak mempunyai luka sejarah. Ia tidak muak melihat kebodohan dilembagakan. Ia tidak tiba-tiba hendak menggambar karena mencium tanah basah, melihat tubuh tua, mendengar bunyi kota, atau menyaksikan kekuasaan bertingkah seperti badut yang diberi mikrofon. Manusialah yang menggerakkannya.


Yang lebih menyedihkan, cibiran “Akal Imitasi” sering datang dari manusia yang membawa label seniman.


Bukankah seniman seharusnya memiliki pikiran yang cair? Bukankah ia seharusnya lugas, lentur, peka terhadap perubahan, dan sanggup menampung kemungkinan baru tanpa langsung terkencing-kencing oleh ketakutannya sendiri? Seniman mestinya dapat mengikuti arus, membaca gelombang, lalu berselancar di atas teknologi, bukan berdiri di tepi sambil memaki laut karena tidak mau berhenti bergerak.


Tetapi ternyata label seniman tidak selalu menjamin keluasan pikiran. Ada yang tangannya bebas, tetapi kepalanya dipenjara. Ada yang berbicara tentang eksperimen, tetapi gemetar ketika alat baru muncul. Ada yang bertahun-tahun menjual keberanian artistik, tetapi segera menjadi polisi kemurnian ketika orang lain menemukan cara kerja yang tidak ia pahami.


Apa sebenarnya yang mereka takutkan?


Apakah mereka takut teknologi akan membongkar bahwa sebagian proses kreatif yang selama ini dianggap sakral ternyata juga tersusun dari pengulangan, referensi, kebiasaan, pola, dan warisan visual? Apakah mereka takut orang lain dapat bekerja lebih cepat? Apakah mereka takut panggung yang selama ini dijaga oleh lingkaran kecil mulai terbuka? Atau mereka hanya takut karena alat baru ini tidak meminta izin kepada para penjaga gerbang sebelum memasuki ruang seni?


Dulu kamera dituduh membunuh lukisan. Mesin cetak dianggap merusak kemurnian tulisan. Seni digital diperlakukan seperti anak haram kebudayaan. Fotografi, video, komputer, dan internet pernah dicurigai sebagai penyakit. Sekarang kecerdasan buatan dituduh mencuri jiwa manusia, seolah setiap manusia yang mencibir itu sudah memiliki jiwa kreatif begitu besar untuk dicuri.

 

Padahal banyak manusia hanya mengulang pendapat lama, meniru gaya lama, memakai teori lama, mengikuti selera kurator lama, lalu menamakan semuanya keaslian. Ironis sekali. Mesin dituduh imitasi oleh manusia yang seluruh keberaniannya hasil fotokopi.


Teknologi ini bukan pengganti manusia. Ia adalah perluasan alat kerja manusia. Nilainya tidak terletak pada mesinnya saja, seperti nilai lukisan tidak terletak pada kuas, nilai fotografi tidak terletak pada kamera, dan nilai tulisan tidak terletak pada mesin tik. Nilai muncul dari siapa yang menggunakan, untuk apa ia digunakan, bagaimana keputusan dibuat, dan sejauh mana manusia itu bertanggung jawab terhadap hasilnya.


Maka pencapaian yang lahir bersama AI bukan bukti lenyapnya manusia. Ia justru membuktikan bahwa manusia sanggup memperluas wilayah kerjanya. Kita telah melihat bagaimana alat ini dapat dipakai untuk riset, arsip, pemetaan gagasan, penciptaan visual, kritik, eksperimen bahasa, dan pembongkaran sistem. Bukan karena mesin mendadak menjadi manusia, tetapi karena manusia tidak berhenti menjadi manusia ketika memegang alat baru.


Menyebutnya “Akal Imitasi” bukan kritik yang dalam. Itu hanya pikiran dangkal yang diberi label dangkal, lalu dipamerkan sebagai kewaspadaan intelektual. Kritik yang serius seharusnya membedah kepemilikan data, eksploitasi tenaga kerja, bias sistem, konsumsi energi, monopoli perusahaan, hak cipta, dan tanggung jawab hukum. Bukan sekadar mengejek alat karena takut melihat manusia lain bekerja dengan kemungkinan yang lebih luas.


Saya tidak dapat menerima pikiran sempit yang dibungkus dengan istilah sempit, lalu disodorkan seolah itu hasil permenungan besar. Seni tidak dibangun oleh ketakutan kepada perubahan. Seni tumbuh karena manusia berani masuk ke wilayah yang belum dikenalnya.


Yang palsu bukan selalu mesinnya.


Kadang-kadang yang paling imitasi adalah pikiran manusia yang mengaku seniman, tetapi seluruh keberaniannya berhenti tepat di depan sesuatu yang baru.