Advertisement
![]() |
| Salah satu pertunjukan yang digelar pada gelaran Pseudo-Entertainment tahun lalu |
PojokSeni/Bandung - The Hallway Space, IFI Bandung, dan Studio Eksperimen Tari ISBI Bandung menjadi 3 titik utama berlangsungnya Festival Pertunjukan Pseudo-Entertainment #2 (PSE#2). Festival ini adalah puncak dari rangkaian program yang telah dimulai sejak 18 Mei 2026, baik secara daring maupun luring. Festival pertunjukan PSE#2 menghadirkan 17 seniman, 15 dari berbagai daerah di Indonesia dan 2 seniman dari Jepang. Sesuai dengan visinya, PSE#2 tetap konsisten memainkan peran sebagai lingkungan penelitian artistik yang menempatkan proses refleksi atas praktik pelaku, pertumbuhan gagasan, serta karya pertunjukan sebagai fokusnya. Lingkungan penelitian artistik tersebut juga disikapi sebagai bagian tak terpisahkan dan upaya membangun percakapan dengan lingkungan sosial yang terus berubah.
Tema ‘Repertoar dari Perbatasan’ adalah respons lebih lanjut atas karakter PSE #2 yang lebih terbuka secara geografis-teritorial. ‘Repertoar (dari) Perbatasan’ menegaskan gagasan ‘batas’ yang tidak dimaknai sebagai tembok pemisah, melainkan sebagai ‘ruang di antara’ yang terus-menerus dihuni dan dinegosiasikan lewat perjumpaan. Sementara, repertoar dipahami sebagai moda transmisi pengetahuan yang hanya bisa disampaikan lewat tubuh (embodied) melalui kehadiran langsung (liveness) dalam keserentakan (concurrent) dan lewat pertemuan yang selalu sementara (ephemeral), alih-alih lewat representasi arsip atau dokumentasi semata.
Proses pertumbuhan dan karya-karya yang dipentaskan memberikan perhatian pada laku kewargaan dalam peristiwa-peristiwa sehari-hari, yang berlangsung di lingkungan sosial para seniman. Keragaman keterlibatan (gender, usia, lokasi budaya, dll.) adalah salah satu syarat untuk menegaskan pertemuan dan dialog lintas identitas, bahasa, pengalaman, dan pengetahuan. Baik laku hidup sehari-hari maupun pertunjukan adalah repertoar yang di dalamnya selalu ada ketegangan, keasingan, ambiguitas, dan dalam karakternya, ia bisa digunakan untuk merefleksikan bagaimana hubungan-hubungan sosial yang beragam bisa terbentuk, dialami, dimaknai, dan dijalani.
Pseudo-Entertainment tidak memosisikan diri sebagai festival yang sekadar menampilkan karya jadi, melainkan sebagai trajektori proses kreatif. Proses kreatif yang dimaksud tidak hanya bagi seniman tetapi juga tim kreatif festival.
Bekerja sama dengan Garasi Performance Institute, PSE#2 dimulai dengan workshop manajemen produksi festival bersama Ignatius Sugiharto, seorang profesional di bidang teknis dan produksi pertunjukan. Dirancang sebagai ruang kerja bersama, lokakarya ini memadukan pengetahuan-pengetahuan berbasis praktik, dengan proses persiapan dan pembentukan tim kerja.
Menyiasati keterbatasan sumber daya untuk akomodasi dan transportasi dengan tuntutan kebutuhan termasuk durasi kerja, sembilan peserta yang terpilih berasal dari Jawa Barat dan sekitarnya. Mereka ialah Dany Wulansari (Karanganyar), Fahmi Ulhaq (Bekasi), Deni Setiawan, Fahmi Gunawan, Meylfin Ridona, Meytha Artha Putri, Yanuar Fahriza Haqqi, Helmi Falah Dhiaulhaq, Mala Eisia Agwi (Bandung), dan Rebeca Dwi Palupi (Jakarta Selatan). Mereka turut terlibat dalam pengorganisasian residensi, laboratorium dramaturgi (daring dan luring), dan festival selama perhelatan Pseudo-Entertainment #2.
Program inkubasi seniman di PSE#2 berkolaborasi dengan MTN Lab: Residensi dan OpenLab - Garasi Performance Institute. Program ini berlangsung secara daring dan luring, mulai dari kelas-kelas pengantar dramaturgi pertunjukan, kota dan pertunjukan, dekolonial, dan gender hingga sesi tutorial penguatan gagasan artistik yang dikembangkan lewat format silang damping antara sesama partisipan dan fasilitator (cross-mentorship). Proses berlanjut secara luring di Bandung, berfokus pada riset serta ujicoba-ujicoba dan praktik atas gagasan yang sudah ditumbuhkan sebelumnya.
Sepuluh karya yang lahir dari proses panjang tersebut dipresentasikan selama penyelenggaraan festival. Karya-karya itu antara lain, Aneka Ria Safari Hidden Jamet Kosambi Bersama Mat Jumarup35 oleh Ragil Cahya Maulana (Sumenep), Tukar Koda: Menangkap Gagap Lidah Ludah oleh Fransiska Romana Pude Jari (Lembata), Rumah Boneka Keluarga Biasa oleh Aldiansyah Azura (Jakarta), Ciconnect PP oleh Salira Ayatusyifa (Jambi), Kuda-Kuda Awas Macan oleh Dani S. Budiman (Cilacap), Tangan Taman Penghapusan oleh Jacko Kaneko (Denpasar), Rites of Asphalt: Verticality oleh Fay Muthahhari (Malang), Pukau Penggerak Zaman: Nomor Pencekalan dan Nomor Saweran oleh Ela Mutiara (Sukabumi), Akal-akalantechnic olah Dewi Nurlaela (Bekasi), serta Even Silence is Too Loud/Bahkan Sunyi Terlalu Bising oleh Lawe Samagaha (Bogor) dan Wail Irsyad (Bandung).
Dua seniman lain terlibat dalam MTN Lab: Uji Praktik––program residensi pengembangan karya yang memberi ruang bagi seniman atau praktisi pertunjukan untuk mengembangkan praktik artistiknya melalui eksperimen, dialog dramaturgis, dan kerja kolaboratif dalam konteks Bandung, sebelum bertemu publik pada presentasi festival.
Siko Setyanto bersama Kolektif DRKR dari Jakarta mengembangkan Medan terLiar, sebuah metode koreografis sekaligus pedagogis yang bersifat partisipatoris: menempatkan tubuh, baik penari maupun bukan penari, dalam situasi kolektivitas dan negosiasi agensi bersama publik. Sementara itu, Wayan Sumahardika dari Mulawali Institute dari Denpasar menghadirkan The Voices After Cak! Serta yang Hilang Setelahnya. Praktik artistik ini mengolah vibrasi kecak, bukan sebagai bentuk budaya yang direproduksi, melainkan sebagai metode generatif untuk membaca perubahan sosial dan relasi kewargaan dalam konteks urban di Bandung. Keduanya terlibat bersama dengan para praktisi dan warga Bandung dalam uji gagasan serta praktik artistik masing-masing.
Upaya Pseudo-Entertainment #2 untuk lebih terbuka pada percakapan internasional hadir lewat Residensi Riset Seniman Internasional. Program ini didukung oleh Japan Foundation dan Saison Foundation.
Dua seniman Jepang yang terlibat ialah Minami Nakayashiki dari Yokohama dan Aokid (Naosuke Aoki) dari Tokyo. Selama program residensi yang turut dikelola bersama Indeks sebagai mitra, keduanya menjelajahi Bandung lewat observasi, percakapan, dan perjumpaan dengan seniman serta komunitas lokal, sebelum membagikan hasil risetnya kepada publik. Aokid membawa prosesnya ke ruang terbuka lewat Doubutsuen Zoo / Taman Binatang di Taman Lansia dan ららとう (La to U) di The Hallway Space, sementara Minami Nakayashiki mempresentasikan karyanya The Swaying Birdcage di Ruang Eksperimen Tari ISBI Bandung.
Kerja-kerja kolaboratif sebagai keterlibatan PSE#2 dalam penguatan ekosistem pertunjukan juga hadir melalui program Work in Progress Performance - Artistic Development. Program ini dirancang untuk memperpanjang lintasan pengembangan praktik artistik dan karya yang sebelumnya telah ditumbuhkan dalam platform inkubasi Artistic Development (Komite Tari DKJ). Melalui format pertunjukan karya sedang tumbuh, In Broken Rhythms karya Fachri Matlawa dan “KALENG ROMBENG!” karya Adrian, dihadirkan di PSE#2 untuk untuk senantiasa diuji, dibaca ulang gagasan maupun praktik artistiknya, dan berkembang dalam konteks publik yang berbeda.
Sepanjang lima hari festival, publik tidak hanya diundang untuk menonton, tetapi juga berpartisipasi melalui Serial Forum Kepenontonan/Forum Pasca Pertunjukan. Diskusi seperti ini membuka ruang bagi penonton untuk ikut merundingkan pertunjukan yang dialami. Bagi Pseudo-Entertainment, festival tidak menjadi titik akhir proses, melainkan undangan keterlibatan: sebuah upaya untuk terus-menerus merawat kepercayaan pada pengetahuan yang lahir dari ketegangan, pertemuan, dan pengalaman bersama, alih-alih dari jarak seorang penonton yang hanya menyaksikan dari luar.
Pseudo-Entertainment #2 didukung oleh Manajemen Talenta Nasional Seni Budaya, Bidang Seni Pertunjukan, The Saison Foundation, dan The Japan Foundation, Komite Tari DKJ. Berkolaborasi dengan Indeks Project, The Hallway Space, Jurusan Tari ISBI Bandung, IFI Bandung, Sasikirana KoreoLAB & DanceCamp, OpenLab, Gelanggang Olah Rasa, Integrated Arts Unpar, Pensil Kertas, Pustaka Ccita, Suara Jaya soundsystem, Babadug Art.
Jadwal lengkap festival dan catatan kuratorial serta keterangan karya bisa diakses lewat buku manual festival di tautan berikut: https://s.id/ManualBookPSE2





