Advertisement
![]() |
| Penampilan tari oleh Swargaloka bertajuk Ramayana di TMII |
Oleh: Khaila Amanda Setiawan*
Sore di arena pertunjukan Taman Mini Indonesia Indah (TMII), 13 Juni 2026 lalu, sebuah pertunjukan tari bertajuk Ramayana dibawakan oleh Swargaloka berhasil memukau banyaknya pasang mata berkumpul menyaksikan berbagai pertunjukan tersebut. Kobaran api di tengah pertunjukan membuat suasana menjadi dramatis dan penanda meningkatnya konflik dalam alur cerita sehingga penonton semakin larut mengikuti setiap peristiwa yang disajikan di area pentas. Ada banyak ragam sajian yang tampil, namun satu pertunjukan ini berhasil mencuri perhatian, sejak para penampil memasuki arena dengan kostum yang merepresentasikan identitas budaya.
Sejak detik pertama, penonton seolah diajak memasuki ruang yang mempertemukan tradisi dengan spektakel modern. Karya ini tampil megah dengan energi yang meluap-luap. Berbagai unsur seni, mulai dari tari, teater, musik tradisional, hingga atraksi dihadirkan dalam satu kesatuan pertunjukan yang apik dan rapi. Perpindahan formasi antar penari cukup rapih dan mampu mempertahankan perhatian penonton dengan mengajak interaksi saat masuk ke dalam arena pertunjukan.
Pertunjukan ini bukan sekadar menghadirkan kembali cerita klasik yang telah hidup selama berabad-abad, melainkan juga menjadi upaya untuk menghidupkan nilai-nilai budaya di tengah masyarakat modern. Ramayana, sebagai salah satu epos terbesar di Asia, telah lama melampaui batas geografis dan generasi. Kisah tentang perjuangan Rama menyelamatkan Dewi Sinta dari Rahwana tidak hanya berbicara mengenai peperangan antara kebaikan dan kejahatan, tetapi juga tentang kesetiaan, pengorbanan, dan keteguhan hati manusia menghadapi cobaan.
Kisah tersebut menjelaskan menjadi tontonan yang mengandalkan bahasa tubuh sebagai media utama penyampaian cerita, para penari tampil dengan penguasaan teknik yang matang dan disiplin gerak yang terjaga. Sejak awal pertunjukan, penonton diajak memasuki dunia Ramayana melalui komposisi gerak yang dinamis dan penuh ekspresi. Tokoh Rama tampil dengan sikap tubuh yang tenang dan berwibawa, sementara karakter Rahwana diperlihatkan melalui gerak yang tegas, agresif, dan berenergi. Perbedaan kualitas gerak antar tokoh ini membantu penonton memahami karakter masing-masing meskipun tanpa dialog verbal yang dominan.
Kekuatan utama pertunjukan Nitra Duta Mangleawan terletak pada kemampuannya membangun suasana dramatik melalui perpaduan unsur visual dan musikal. Kostum dengan dominasi warna-warna khas tradisi menghadirkan identitas yang kuat bagi setiap tokoh. Tata rias turut memperjelas karakter dan status sosial para pemain, memperkaya pengalaman visual penonton. Sementara itu, iringan musik tradisional yang mengalun sepanjang pertunjukan tidak hanya berfungsi sebagai latar, tetapi juga menjadi penanda perubahan suasana, membangun ketegangan, sekaligus memperkuat emosi penonton dalam setiap adegan.
![]() |
| Kobaran api di penampilan tari Ramayana oleh Swargaloka |
Sebagai sebuah tontonan pertunjukan, ini berhasil memikat perhatian penonton dari awal hingga akhir. Antusiasme penonton terlihat dari respons spontan yang muncul pada beberapa adegan penting, terutama ketika konflik mencapai titik intensitas tinggi. Kehadiran karya ini di TMII juga menegaskan fungsi ruang budaya sebagai tempat perjumpaan antara seni tradisional dan masyarakat luas. Dalam konteks ini, TMII tidak hanya berperan sebagai lokasi pertunjukan, tetapi juga sebagai ruang pelestarian budaya yang memungkinkan generasi muda untuk kembali berinteraksi dengan warisan seni Nusantara.
Di balik kekuatan visual dan penguasaan teknik para penari, pertunjukan ini masih menyisakan sejumlah catatan kritis. Dari sisi dramaturgi, alur cerita yang kompleks terkadang bergerak terlalu cepat sehingga beberapa pergantian adegan terasa kurang memberikan ruang bagi penonton untuk mencerna perubahan peristiwa. Bagi penonton yang belum familiar dengan kisah Ramayana, perpindahan antar bagian cerita mungkin terasa padat dan memerlukan penanda dramatik yang lebih kuat.
Pertunjukan ini memperlihatkan bagaimana seni pertunjukan tradisional tetap memiliki daya hidup dan relevansi di tengah perkembangan zaman. Di era ketika budaya populer mendominasi ruang publik, kehadiran pertunjukan semacam ini menjadi pengingat bahwa seni tradisi bukan sekadar peninggalan masa lalu, melainkan identitas budaya yang terus bergerak dan berkembang bersama masyarakatnya.
Pada akhirnya, menyaksikan Nitra Duta Mangleawan di TMII bukan hanya tentang menikmati sebuah pertunjukan tari, tetapi juga tentang mengalami kembali perjalanan budaya yang melintasi ruang dan waktu. Ketika malam sepenuhnya turun dan tepuk tangan penonton menggema di area pertunjukan, tersisa kesan bahwa kisah-kisah besar seperti Ramayana tidak pernah benar-benar usang. Ia terus hidup dalam gerak tubuh para penari, denting musik tradisional, dan panggung-panggung budaya yang menjaga nyalanya agar tetap menyala dari generasi ke generasi.
*Penulis adalah mahasiswa yang berdomisili di Matraman, Jakarta Timur.






