Advertisement
![]() |
| Apa benar teater yang mengeluh adalah teater yang kehilangan kreativitas? |
Oleh: Adhyra Irianto
Suatu sore, sampailah ke layar ponselku sebuah postingan dari Kalabuku yang menyitir kata-kata Putu Wijaya. Judulnya Teater yang Mengeluh adalah Teater yang Kehilangan Kreativitas. Kening saya langsung mengerenyit, sambil bertanya dalam hati, sejak kapan mengeluh itu artinya pertanda hilangnya kreativitas? Bukankah karya-karya kreatif yang menggugah dunia itu ada banyak yang lahir dari sebuah keluhan? Baik itu keluhan personal maupun keluhan kolektif?
Agar saya tidak salah paham dengan pernyataan Putu Wijaya yang dikutip oleh admin akun Instagram Kala Buku tersebut dalam 11 slide (slide sisanya adalah pengenalan bukunya), mari kita ke slide yang pertama. Putu Wijaya disebut dengan tegas mengatakan bahwa teater yang terus mengeluh, itu adalah teater yang sedang kehilangan kreativitasnya. Karena, teater harus bertolak dari kenyataan yang ada, bukan dari kondisi ideal yang belum tentu datang. Setelah itu disebutkan bahwa "berikut adalah interpretasi provokatif terhadap manifesto teater Putu Wijaya, 'Bertolak dari yang Ada'." Ini menunjukkan bahwa apa yang ada di slide ini, merupakan tafsiran dan pembacaan dari admin Kala Buku pada tulisan Putu Wijaya.
Pernyataan Putu Wijaya bisa diterima bila konteksnya artistik. Tapi, untuk di luar artistik, maka akan sangat naif sekali. Seakan-akan kita diminta untuk membiarkan sistem yang ada dan "memasung" teater, tanpa ada keluhan, dan harus tetap terus mencoba survival. Maka, sebenarnya counter ini mungkin bukan ditujukan untuk Putu Wijaya. Tapi, untuk interpretasi manifesto tersebut ke luar konteks artistik.
Bertolak dari yang Ada itu sebenarnya bukan manifesto, tapi "apa yang harus dilakukan". Karena di kota saya tidak ada gedung pertunjukan, maka saya dan grup saya pentas di "ruang lain". Mulai dari gedung nikahan, aula sekolah, lapangan volley, lapangan basket, sampai tempat orang jogging. Itu bukan "bertolak dari yang ada" itu adalah metode survival, dan sebuah keharusan. Dalam bahasa yang lebih provokatif, ini adalah sebuah keterpaksaan.
Mari kita analogikan seperti ini:
Ketika petani tidak bisa menanam beras karena musim kering, maka petani akan menanam ubi. Maka, warga di desa itu tidak makan nasi, tapi makan ubi.
Masalahnya, apakah warga desa itu tidak boleh mengeluh dan mempertanyakan, "kenapa kami harus terus-terusan makan ubi?"
Sedangkan, di daerah lain, ada dukungan dari daerahnya, sehingga warganya bisa makan jagung dan nasi, di sela-sela makan ubi. Kenapa yang kami ini harus terus-terusan makan ubi?
Sebagai warga negara yang juga membayar pajak, apakah benar kami tidak punya hak atas "panggung yang layak" atau ruang ekspresi yang representatif? Benar kami tetap menggelar pertunjukan selama ini, tapi apakah "keluhan" itu benar-benar akan membunuh kreativitas?
Di titik inilah, saya merasa argumen ini menjadi cukup naif. Tetap pentas dengan apapun yang terjadi, apapun keterbatasan, itu adalah metode survival bagi seniman. Tapi, mengeluhkan keadaan yang serba kurang, tidak mendapat perhatian, dan tidak mendapat dukungan, itu adalah tuntutan untuk mendapatkan keadilan. Sebut saja, keadilan budaya.
Kreativitas itu bukan solusi ajaib untuk menyelesaikan permasalahan "ketidakadilan budaya" ini. Kreativitas itu adalah metode survival untuk menjaga seniman, grupnya, dan (mungkin) ekosistem seninya tetap hidup. Dan mengeluh, itu adalah penolakan untuk diam dalam situasi yang tidak mendukung.
Sebelum lanjut, mari kita sepakati dulu apa yang saya maksud dengan "mengeluh" di sini. Apakah mengeluh itu hanya diartikan sebagai merengek tanpa kerja, bukan pula duduk di warung kopi sambil menyalahkan dunia tanpa pernah menyentuh panggung. Itu memang tidak produktif, dan saya pun muak dengan itu.
Keluhan yang saya maksud adalah pengakuan jujur atas luka struktural yang dialami pekerja teater. Mengeluh itu api yang menggerakan kita untuk menyuarakan ketidakadilan, dan menjadikan ketidakpuasan itu sebagai pijakan untuk bergerak. Ini adalah keluhan yang lahir dari tubuh yang lelah setelah latihan, dari suara yang serak setelah pentas di ruang tak layak, dari mata yang masih mencari-cari kehadiran negara dalam ekosistem yang kami bangun sendiri dengan tangan telanjang. Keluhan semacam ini bukan tanda kehilangan kreativitas. Mengeluh adalah bahan bakar bagi kritik, perlawanan, dan bahan bakar untuk terus berkarya di tengah sistem yang tidak berpihak.
Slide berikutnya, disebutkan Teater mati karena terlalu sibuk mengeluhkan kemiskinan. Terlalu banyak menunggu gedung yang layak, dana yang cukup, aktor yang sempurna, penonton yang ramai. Ditutup dengan pernyataan "teater tidak lahir dari keadaan ideal, teater lahir dari keadaan yang ada". Yah, justru itu adalah "KELUHAN". Keadaan yang ada, dikeluhkan, direspon, dan akhirnya menjadi sebuah karya.
Tapi, teater tidak mati karena "mengeluh". Teater mati karena sistem di sekelilingnya yang membunuh teater. Dari ketidakadilan perhatian negara pada seni teater. Belum lagi dari dopamine yang ditawarkan media sosial. Dan yah... kalaupun tidak mengeluh, dan mungkin tidak miskin, ada banyak teater yang mati karena konflik internal, ego sutradara, regenerasi gagal, manajemen buruk, organisasi kacau dan sebagainya. Justru, belum pernah saya mendengar ada teater yang mati karena mengeluh.
Bukankah Negara sudah turun tangan untuk teater, buktinya sudah ada Festival Teater Indonesia beberapa waktu lalu? Coba lihat lebih dekat, bukankah bentuknya adalah festival alih wahana dari sastra? Seakan-akan seni teater itu adalah sub-ordinat dari seni sastra?
Ini justru bentuk dukungan dan bantuan pada SASTRA, bukan pada TEATER. Buktinya, coba ingat, beberapa waktu lalu, ada program semacam suntikan dana untuk kelompok sastra dan literasi dalam jumlah yang cukup masif di seluruh Indonesia. Apakah ada program serupa di kelompok teater? Karena itu, wajar kalau kelompok teater HARUS MENGELUHKAN SISTEM INI.
Saya ingat pernyataan bang Ari Pahala Hutabarat, sutradara dari Komunitas Berkat Yakin Lampung, melihat "grup teater" di Sumatera saat diskusi pendirian Wanua Teater Sumatera beberapa tahun silam.
- Grup teater itu, punya anggota aja sudah sukur.
- Kalaupun punya anggota, mau latihan rutin aja sukur.
- Kalaupun udah punya anggota dan mau latihan rutin, bisa pentas aja udah sukur.
- Kalaupun punya anggota, mau latihan rutin, dan bisa pentas, ada penonton aja udah sukur.
- Dalam kondisi seperti itu, kita tetap survive, bukan?
- Teater kita itu tidak mati cuma karena keterbatasan.
- Teater kita (khususnya di Sumatera dan daerah lain di luar pulau Jawa) itu mati karena pelan-pelan dibunuh oleh sistem yang tidak berpihak.
Setiap kekurangan adalah bahan kerja. Itu betul. Tapi dalam konteks artistik. Bila kita hanya punya 3 buah lampu, maka maksimalkan saja penggunaan 3 buah lampu tersebut. Kalau tidak ada lampu, ya sudah, bermain di siang hari di outdoor. Bukankah teater di Sumatera sudah melakukan itu dari "ratusan" tahun lalu?
Cuma, sekali lagi, apakah mengeluhkan keadaan itu bakal membunuh kreativitas?
Kenapa saya mendirikan Pojok Seni? Karena saya MENGELUH media yang ada tidak memberikan ruang yang cukup untuk seni, khususnya seni teater.
Kenapa teater-teater di Sumatera tetap berdiri dalam semua keterbatasannya? Karena ada orang yang cukup gila untuk tetap melanjutkan perjalanan meski tertatih.
Tapi, apakah mereka tidak mengeluh? Mereka mengeluh. Dan keluhan itu menjadi bahan bakar utama untuk setiap karya.
Mengeluh, marah, dan menuntut, adalah hak kita. Dan, itu juga bagian dari kerja budaya.
Slide dilanjutkan lagi dengan "Penonton bukan musuh... jangan menyalahkan penonton."
Oke, mari kita sepakati untuk tidak menyalahkan penonton. Tapi, pelan-pelan mari lihat lagi konteks di daerah. Di daerah, penonton itu tidak muncul karena mereka tidak terbiasa. Penonton itu dibangun, diajak dialog dengan pementasan yang rutin dan terus menerus.
Keluhannya adalah, kenapa bisa penonton itu tidak terbiasa? Karena tidak ada infrastruktur yang membentuk selera dan kebiasaan menonton.
Apakah kita harus menyalahkan mereka? Tidak. Kami justru terus membangun penonton itu dari nol, sendirian, tanpa dukungan. Mulai dari ditonton hanya 30 orang, jadi 75, jadi ratusan. Tapi, perlu diingat bahwa membangun dialog dengan penonton itu butuh proses panjang, butuh konsistensi pementasan, yang mana itu sulit jika setiap kali mau pentas kami harus mikir modal pementasan.
Menurut saya, ini bukan masalah "teater yang gagal berkomunikasi." Ini masalah yang jauh lebih besar. Gagalnya karena apa? Apa karena jelek artistiknya? Atau karena penontonnya tidak pernah dijamah pendidikan seni yang memadai oleh sistem? Justru ini masalah utama di daerah.
Slide dilanjutkan dengan pernyataan "Jangan memulai dari cita-cita. Mulailah dari kenyataan. Dari keterbatasan yang ada. Dari luka yang ada." Sekali lagi, untuk konteks artistik, ini bisa diterima. Tapi untuk di luar artistik, sekali lagi, ini sangat naif dan tidak bisa diterima.
Untuk tahun 2000-an ke bawah, grup teater hidup dalam kondisi teknologi belum canggih, NetFlix belum ada, TikTok belum ada, YouTube belum juga ada. Masyarakat cuma punya sedikit pilihan hiburan, dan teater adalah salah satunya. Tapi di atas tahun itu (Teater Senyawa berdiri baru tahun 2012), seniman teater menghadapi kenyataan bahwa pilihan hiburan, bahkan yang gratis, itu sudah terlalu banyak. Dalam kondisi yang terhimpit, dukungan Negara pada teater juga sangat kecil.
Bila aktor ada cuma sedikit, panggung kecil, lampu sedikit, dan dukungan dana juga sedikit, bercita-cita pingin buat pertunjukan seperti di Broadway, yah itu tidak masuk akal. Maka dalam konteks artistik, mulailah dari yang ada, impikan pertunjukan seperti seadanya.
Tapi, keadaan dan sistem yang tidak mendukung di sekeliling teater, itu tetap harus dikeluhkan.
"Mengeluh" dan "kreativitas" itu bukan dua variabel yang bisa dipertentangkan. Kalaupun dipertentangkan, bukan berarti hanya ada satu kesimpulan bahwa: "teater yang mengeluh berarti kehilangan kreativitas". Ada banyak kemungkinan yang lahir dari pertemuan dua variabel ini:
- Mengeluh dan tetap berkarya, bahkan keluhannya menjadi api dalam karyanya.
- Mengeluh karena sudah terlalu lama berkarya, tapi tak pernah dipedulikan.
- Mengeluh sebagai kritik pada sistem.
- Tidak mengeluh, juga tidak berkarya.
- Tidak mengeluh karena sudah putus asa dan banting stir dari seniman teater.
Sebab, realitanya, saya juga menemukan kelompok yang selama 20 tahun membuat pertunjukan lalu mengkritik minimnya dukungan pemerintah. Juga ada komunitas yang tetap mengadakan festival setiap tahun sambil memprotes ketiadaan gedung kesenian.
Apakah benar bila seseorang itu mengeluh, itu artinya kurang kreativitas?
Tidak bisa disebabkan karena minimnya dukungan, kebijakan pemerintah, kondisi ekonomi yang morat-marit, tidak ada regenerasi, terlalu lelah, eksploitasi pekerja seni dengan penghasilan yang tidak layak, dan sebagainya. Apakah mereka yang mengeluhkan itu murni kurang kreativitas saja?
Jadi, menurut saya, bila ekosistem teater buruk di daerah Anda, itu bukan karena senimannya kurang kreativitas.
Bila benar Anda berpendapat seperti itu, maka ada tanggung jawab institusi, negara, dan pemerintah yang menghilang dari pembahasan ini. Dan semuanya dibebankan ke pundak seniman dan grup teaternya.
Maka teruslah meromantisasi kemiskinan dan kesulitan hidup sebagai seniman teater, sebagai "jalan suci" menempuh ketidakadilan budaya ini.





