“Proposal Kota”: Proposal “Seni Sehari-hari” dari Pantat Panci dan Popok Bayi -->
close
Pojok Seni
18 June 2026, 6/18/2026 08:00:00 AM WIB
Terbaru 2026-06-18T01:00:00Z
teaterUlasan

“Proposal Kota”: Proposal “Seni Sehari-hari” dari Pantat Panci dan Popok Bayi

Advertisement
Realitas yang berlangsung sehari-hari dibawa menjadi sebuah “seni sehari-hari” (Foto: AWE)

Oleh: Arung Wardhana Ellhafifie


Dalam keseluruhan tulisan ini, saya melakukannya melalui arsip foto, jadi dari foto-foto ini saya juga mencoba untuk “melakukan sesuatu” tentang apa yang telah dilakukan Permana, sebagai sutradara & penulis naskah dalam pertunjukan “Proposal Kota: Mimpi adalah Mimpi”. Ini sebagai sebagian karya yang merupakan Program Layanan Produksi Bidang Kebudayaan untuk Kategori Pendayagunaan Ruang Publik dalam Lingkup Program Pemanfaatan Hasil Kelola Dana Abadi Kebudayaan Tahun 2025 oleh Kementerian Kebudayaan, Dana Indonesiana (yang kini menjadi Dana Indonesia Raya), dan Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP), berlangsung pada hari Sabtu-Minggu, 30-31 Mei 2026, Pukul 20.00-22.00 WIB, di Ruang Limpah Sungai (RLS) Lebak Bulus, Jl. Lebak Bulus V No. 8, RT. 8/RW. 4, Cilandak Barat, Kec. Cilandak, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12430, yang bekerjasama dengan karang taruna maupun masyarakat setempat, tepatnya di RW. 04. 


Sebagian besar pemain/performer dipenuhi oleh Generasi Z (akhir) dan Generasi Alpha, yang juga menjadi bagian dari agenda kebudayaan bersama Lab Teater Ciputat (LTC)—di mana sebagian tim produksinya merupakan kolega-kolega Permana dari LTC, seperti supervisi produksinya; Bambang Prihadi, asisten sutradara dan koordinator latihan; Bangkit Sanjaya, pembawa acara; Sir Ilham Jambak, moderator diskusi; Rosida Erowati, dan beberapa nama lainnya.


Saya membaca bahwa Permana mendekati sebuah objek dan pertunjukan yang disebut “seni,” dengan menunjukkan selera estetika yang sangat kuat dari budaya sehari-hari; melalui ondel-ondel yang digunakan sebagai alat (bermain/mengamen untuk pantat panci dan popok bayi), sementara di kantor kebudayaan Jakarta, dipajang dengan sangat megah. Kemudian keindahan manusia silver, di sini saya ingin menekankan bagaimana pemahaman saya tentang seni bergantung pada konteks, situasi yang difoto atau direkam, penggunaan yang dalam hal ini merupakan pemanfaatan ruang publik dengan masyarakat, dan konvensi lokal yang sedang berlangsung. Permana “mengajukan” karya ini kepada saya; kehidupan sehari-hari juga seindah pemahaman tentang seni secara umum. 


Pertunjukan ini lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari, dengan menghasilkan dimensi estetika yang lebih dirasakan dan dialami bersama, seperti yang dikatakan oleh performer di atas, tanpa harus belajar, karena setiap hari melihatnya, tubuh mengamati, dan merekamnya melalui ingatan, yang bisa jadi Permana mengejek kota melalui agenda proposalnya. Dari sejumlah ironi, dengan memecah pendekatan; jika misalnya, teater menekankan narasi dan peniruan, olahraga menekankan kompetisi, dan ritual menekankan partisipasi dan komunikasi dengan kekuatan atau makhluk transenden. Saya juga cukup memahami bahwa Permana tidak serta merta mengejeknya, ini hanyalah refleksi kritis dengan menulis ini, yang mungkin karya ini mencoba menemukan jalan bagi sebuah kota yang macet dalam segala hal.


Tidak hanya sekadar menampilkan kemacetan di jalan, yang digambarkan sebagai jalan yang ramai, yang sangat mungkin macet dalam berbagai aspek problematis di kota, termasuk macet dalam penggunaan ruang publik itu sendiri, juga macet dalam pemikiran (hanya sekadar berorientasi pada uang belaka); di mana narasi besar Permana tampaknya tersembunyi melalui narasi kecil, yang mudah terlihat. Tentang arsitektur kota yang harus dibangun dan dirancang, seperti omong kosong, jika mereka yang tinggal di pinggiran kota, meskipun Jakarta Selatan (Jaksel) identik dengan masyarakat yang berpengetahuan. Dari gambaran ini, bagaimana mungkin kota ini bisa gagal memperjuangkan hak-hak budaya ondel-ondel dan segala macam acara yang telah dilupakan, dibungkam, diabaikan, dari semakin banyaknya manusia lanjut usia (yang disebut pelestari budaya), yang mungkin juga migran yang bermigrasi, tetapi juga telah menjadi bagian dari kota.


Realitas lain dari sejumlah pekerjaan joki demi pantat panci dan popok bayi (Foto: AWE)

Dari gambar di atas, saya tidak dapat menyangkal bahwa itu merupakan realitas yang ditemui melalui sejumlah media sosial dengan konsekuensi sejarah sistem kota, etis, politis, dan epistemik di balik karya ini. Pada intinya, saya masih ingin menganggap ini sebagai hal yang menonjol, sebagai pengetahuan yang selalu tersirat dalam setiap konsepsi di balik performer sekaligus kreator, yaitu Permana. Mungkin sama pentingnya atas sejumlah masalah di dapur: ketika tabung gas habis, ketika uang saku anak tidak cukup, atau ketika suami dipecat atau dirumahkan, atau bagaimana jika suami terjerat rentenir karena tekanan berat, atau kompleksitas menghindari kebiasaan mabuk setiap hari; dan kita melawan semua ini melalui reproduksi pengetahuan tentang karya tersebut. 


Itulah mengapa ruang publik didayagunakan, untuk memberi kita kebebasan berpikir, bukan hanya sebagai tontonan, tetapi bagaimana kita bersama-sama membahas apa yang telah terjadi di masyarakat di sekitar kita melalui karya. Apa yang mungkin gagal, menjadikan sejumlah layanan seperti ini sebagai pilihan. Jika tulisan saya sebelumnya tentang agenda LTC banyak membahas performance studies [1],  yang saya peroleh dari Richard Schechner, pada tulisan saya sebelumnya mengumpamakan semacam “transportasi akar rumput,” [2] (terhubung dengan kerja LTC sebelumnya yang memfasilitasi performer/kreator dari Kediri dalam program buka dapur),3  yang mungkin diperluas oleh Permana untuk mencakup “seni sehari-hari.” Ini bukan untuk mengabaikan hubungan erat antara interpretasi alegoris liturgi dan sejarah drama, juga bukan untuk menolak signifikansi teater secara umum, dan juga bukan untuk mengabaikan alur cerita yang koheren dari drama panggung, berdasarkan konflik antara seorang protagonis dan seorang antagonis; tetapi dalam karya ini, ruang publik berfungsi sebagai panggung, dan berbagai drama sosialnya berfungsi sebagai latarnya.


Mengapa tidak, selama instrumen kota tidak memadai untuk menyediakan semua ini? Menurut saya, karya ini sedang mendefinisikan perilaku yang dipulihkan sebagai perilaku yang ditandai, dibingkai, atau ditingkatkan oleh sejumlah isu di kota. Patut juga dicatat bahwa area ini dikelilingi oleh tokoh-tokoh berpengaruh seperti Anis Baswedan, yang menyampaikan pada katalog karya dengan menyebutkan kota adalah ruang hidup manusia dengan diliputi perjumpaan, percakapan, kerja bersama, ingatan kolektif, dan harapan tumbuh dari masyarakatnya; ada juga Zeffry Alkatiri, profesor sastra di Universitas Indonesia, masih dengan menyisakan sejumlah problem kota; sebab kota dengan seperangkat petugasnya selama ini tidak sungguh-sugguh membedah konsep yang tak terpisahkan dari geopolitik dan politik tubuh melalui pengetahuan “akar rumput.”


Mengapa terus terjadi demikian, karena kota mungkin tidak memiliki desain yang jelas atas keberpihakan terhadap “akar rumput”? Dari karya ini, berpeluang bahwa perilaku yang ‘dipulihkan’ dapat berupa “diri” di waktu atau keadaan psikologis lain—misalnya, dengan menceritakan pantat panci dan popok bayi, dengan segala macam persoalannya. Perilaku ‘pemulihan’ melalui “seni sehari-hari”  menghadirkan realitas tontonan yang tidak biasa bagi masyarakat setempat, seperti dibawa pada ‘kekaburan’ dalam pertunjukan, maupun dalam kehidupan sehari-hari.


Cara ‘bermain’ Permana (memakai seragam Walikota) dengan “seni sehari-hari” (Foto: AWE)


Saya juga membaca ‘pemulihan’ ini sebagai tindakan pra-diskusi yang dilakukan sebagai sebuah pertunjukan, yang menggambarkan sejumlah orang yang terlibat, misalnya, dari sebuah organisasi pemuda (Karuna Taruna), sebuah bentuk aktivisme lingkungan atau pemberdayaan manusia, yang diminta untuk maju atas kontribusinya selama ini untuk menerima tanaman suvenir. Perilaku ini, yang tentu saja kontras dengan realitas sehari-hari mereka, atau lebih tepatnya, ‘terpisah’ dari diri mereka sendiri, tampaknya merupakan bagian dari ‘pemulihan’ ini. Penjelasan ini, dengan cara ‘bermain-main’ Permana, mengungkapkannya dalam istilah pribadi, bahwa perilaku yang disembuhkan adalah “diri kita sendiri yang bertindak seolah-olah mereka adalah orang lain,” atau dengan kata lain,  Permana “memaksa” mereka untuk menjadi orang lain, sehingga mereka mesti belajar melakukannya—sekalipun mereka tahu nama-nama yang dipanggil itu merupakan nama mereka sendiri.


Apa yang terlihat pada tindakan di atas mirip dengan hari kedua, kecuali bahwa orang-orang yang berdiri di sana adalah tokoh-tokoh penting dalam pertunjukan, sastra, dan masyarakat: seorang aktor senior, Andi Bersama (kanan, Teater Kubur), seorang aktor film/sinetron, dan Zeffri (tengah), dan orang-orang yang memiliki pengaruh signifikan dalam sistem masyarakat (kiri). Visi Permana tentang diri sebagai ideal yang melampaui alam dan lingkungan merupakan semacam seruan untuk modernitas alternatif, seperti halnya seruan Jameson untuk pengorganisasian modernitas “tunggal”. Kita semua tahu bahwa sejak tahun 1990-an, sisi gelap modernitas mulai muncul. 


Mignolo menarasikan bahwa sosiolog Peru, Aníbal Quijano membuat pernyataan dalam judul artikelnya yang menandai titik balik dalam politik dan etika keilmuan: “Kolonialitas dan Modernitas/Rasionalitas.” Di mana dalam tulisan tersebut, pertama; terdapat analisis semiotik sederhana mengungkapkan bahwa “kolonialitas” kehilangan pasangannya, yaitu “rasionalitas,” yang menyertai “modernitas,” dan, kedua; bahwa “kolonialitas” berbeda dari “modernitas/rasionalitas”. [4] Pernyataan ini pun, merefleksikan pada tindakan Permana, telah membuka cakrawala baru melalui pendayagunaan ruang publik ini,  yang digunakan sebagai metode riset artistik, entah itu practice-based research [5] atau practice as research, [6] yang saling berkelindan,  untuk melihat sebuah kota yang telah ‘kehilangan’ rancangan berpikirnya; saya menduga itu merupakan lelucon dirinya, yang kemudian lelucon balik, “Apakah ingin menjadi gubernur di rumah  sendiri?”


Tindakan lainnya yang diambil dari realitas jalanan menjadi “seni sehari-hari”  (Foto: AWE)


Sementara itu, kita terus-menerus dihadapkan dengan kekacauan manusia, mesin, sistem, departemen, dan organisasi yang dibutuhkan untuk mewujudkan kota impian Permana. Kita cenderung bergerak terlalu cepat akhir-akhir ini. Kita merasa individu hanyalah “bagian dalam mesin,” dan kita melupakan pertumbuhan, hewan, tumbuhan, dan sungai di sekitar kita. Kita bahkan lupa apakah pantat panci berlubang, apakah panci itu sudah gosong setiap hari, atau apakah kita masih berhutang popok bayi kepada tetangga kita.


Jenis ‘pemulihan’ ini juga dapat diriset melalui kebiasaan dan rutinitas kehidupan di jalanan kita, yang ditangkap Permana dalam “Proposal Kota”-nya. Saya percaya bahwa segala sesuatu yang terjadi di ruang publik ini, termasuk gambar di atas tentang sekelompok pengendara sepeda motor, yang hanya direpresentasi oleh helm mereka, suara klakson mereka, dan gerakan tubuh mereka, adalah semacam kumpulan potongan realitas, dari hiruk pikuk pekerjaan hingga kemacetan lalu lintas hingga berbagai aktivitas mata pencaharian. Potongan perilaku sehari-hari ini, yang diorganisasi ulang atau direkonstruksi oleh Permana, juga memiliki kemandirian dari sistem kausal (pribadi, sosial, politik, teknologi, dll.) yang melahirkannya. 


Mereka memiliki kehidupan sendiri di luar realitas yang dialami oleh masyarakat yang terdiri dari lebih dari lima ratus orang setiap hari; potongan-potongan perilaku ini diciptakan, ditemukan, atau dikembangkan, mungkin tidak diketahui atau tersembunyi; tidak dijelaskan bahwa di dalamnya mengandung agensi politik ketubuhan; terdistorsi oleh kesadaran tentang adanya tontonan dengan harapan dan bayangan berbeda-beda di kepala mereka masing-masing. Perilaku yang ‘dipulihkan’ dari sistem kota yang kompleks membuat kita semua masih dapat bertahan, dan tidak mudah untuk mengucapkan selamat tinggal padanya. Salah satu tindakan ini mengarah ke arah itu; oleh karena itu, “seni sehari-hari” yang dibawa oleh Permana, meskipun juga dipahami secara berbeda, menyatukan unit-unit perilaku yang membentuk “diri kita sendiri,” yang diciptakan bukan oleh “diri mereka sendiri,” tetapi oleh sistem kota yang sudah akut. 


Kota ini tidak akan begitu peduli dengan pantat panci dan popok bayi jika bukan karena warganya sendiri yang telah menanggung kondisi ini selama bertahun-tahun. Situasi ini secara tidak sadar telah menciptakan banyak ketakutan melalui ‘ledakan’ ejekan Permana, mendorong mereka untuk terhubung lebih dalam dengan berbagai sisi diri mereka. Karya ini terkait erat dengan kehidupan sehari-hari dan, terlebih lagi, dibentuk oleh kolektivitas kota, dan oleh karena itu, apresiasi tertinggi pantas diberikan kepada Permana, yang mengenakan seragam walikota, sebagai penyintesis, integrator, penyusun, atau editor dari potongan perilaku sehari-hari yang telah dipraktikkan dalam bungkus tontonan atau sebutlah teater.


Cara masyarakat setempat menikmati “permainan” di saat gerimis turun (Foto: AWE)

Apakah Permana merepresentasi seorang walikota atau gubernur bagi dirinya sendiri? Saya rasa tidak. Saya hanya berasumsi bahwa perilaku walikota ataupun gubernur, yang harus ia pulihkan, mencakup berbagai tindakan; mungkin berbeda dari representasi seorang arsitek di awal pertunjukan yang memberikan pemahaman tentang kota dari perspektifnya.


Kalau tokoh arsitek tua (Andi Bersama) yang duduk di kursi roda, membicarakan sebagaimana mestinya kota hadir bagi warganya, dengan durasi yang cukup panjang; tetapi sejumlah penonton yang hadir masih terus menyimak dan berusaha mendengarkan ocehan tentang kota sebagaimana layaknya. Kalau saya juga ini menyebut dari perilaku pemangku kebiajakan kota yang ‘dipulihkan’ melalui arsitek tua ini, tentu sebagian besar waktu orang yang menontonnya tidak akan menyadari bahwa mereka berada di kota yang dikatakan aristek tersebut. Mungkin juga orang hanya menonton, tetapi itu tak masalah dan bertahan sekalipun, dalam durasi lima belas menit, itu sebuah prestasi tak beranjak sedikit pun, mereka beranjak hanya dikarenakan germis turun di malam pertama, tetapi pada hari kedua, tak seorang pun beranjak dari tempat duduknya dengan memfokuskan diri apa yang sedang diperbincangkan arsitek yang dimaksud.


Oleh karena itu, saya mencoba untuk berbagi pemahaman bahwa kita berada di kota yang belum tentu sehat. Karena itu, Permana, melalui karyanya, ingin memahami perilaku yang ditandai, dibingkai, atau diperkuat yang terpisah dari sekadar “menjalani hidup” seperti tontonan biasa dengan menyajikan sejumlah drama sosial melalui tindakan, perilaku yang ‘dipulihkan’, jika kita segera bersedia untuk mengenali semuanya. Bukan karena kemudian didukung oleh kementerian, dalam pikiran kita langsung dihitung berdasarkan angka dengan mengabaikan dampak kerja kolektifnya, tetapi yang perlu disadari adalah bahwa aktivasi semacam ini melibatkan sejumlah profesional dari berbagai tingkatan masyarakat, dan juga bukan hal yang mudah. 


Dimulai dengan Sentanu, sebagai penata suara yang telah memberikan banyak kontribusi berharga untuk desain suara pertunjukan di Jakarta khususnya. Lalu tim dokumentasi, yang dipimpin oleh Joel Thaher yang secara konsisten mendokumentasikan sejumlah pertunjukan teater selama bertahun-tahun, dan dari sini saya telah mempelajari bagaimana orang-orang yang terlibat menjelajahi dunia yang mereka pahami, tanpa terbebani oleh keinginan untuk melampaui diri mereka sendiri; semakin yakin bahwa pengalaman batin mereka telah menjadi bagian dari budaya, dari pengalaman sehari-hari sebuah proses konsistensi selama berhari-hari—hal yang lebih utama dari segalanya ketimbang hanya memikirkan angka-angka akibat keakutan sistem kota yang membentuk diri. 


Generasi Z (akhir) dan Generasi Alpha dan di ruang publik itu, jauh lebih antusias dalam menyambut peristiwa yang berbeda ini. Oleh karena itu, ke depannya, saya hanya ingin mengusulkan tiga hal saja dari “seni sehari-hari” ini sebagai pembacaan kritis terhadap konteks sosial kehidupan sehari-hari yang jauh lebih menakutkan, kemudian bertanya di mana seni berkontribusi, apakah seni hanya hadir sebagai tontonan semata, apakah realitas sehari-hari seperti pantat panci yang semakin gosong tiap harinya, atau kehabisan popok bayi juga merupakan bagian dari budaya yang dialami oleh “akar rumput”. Perilaku akut dari sistem kota ini, yang penting untuk ‘dipulihkan’ bersama, merupakan tindakan dan refleksi selangkah lebih maju daripada ‘tidak melakukan sesuatu’; dari dari sini pula, pada akhirnya pengetahuan tentang perilaku yang ‘dipulihkan’ bersifat esoteris, hanya diketahui oleh mereka yang telah menyadari tentang maksud Permana, melalui jalur yang sebelumnya tidak dapat kita duga.


“Seni Sehari-hari” dari Pantat Panci dan Popok Bayi: Tindakan Performatif


Sejumlah pedagang di dekat area pertunjukan ruang publik berlangsung  (Foto: AWE)

Pertama, saya ingin memahaminya lebih sederhana, karena segala sesuatu mengandung tindakan performatif, termasuk tindakan sekelompok warga di atas. Mereka antusias untuk menonton, tetapi juga penasaran: haruskah kita membayar untuk menonton—di luar pemberitahuan atau penanda yang menunjuk ke sana (bahwa ‘tontonan’ ini gratis bagi warga, tapi ‘bayar’ bagi kaum elitis), yang mungkin dalam hal ini diabaikan? Kita berkumpul secara alami, jika agenda ini berkelanjutan, bukan hanya untuk melanjutkan; bukan hanya sekadar tagline untuk turut memajukan kebudayaan yang inklusif, harmonis, dan berkelanjutan; bukan hanya untuk memulainya dari apa yang sudah dilakukannya; tetapi untuk mengenali sejumlah perilaku yang dihasilkan dari sistem kota akut yang perlu diperhatikan untuk ‘dipulihkan’ secara berkelanjutan, artinya mengenali proses di mana proses sosial dalam segala bentuknya yang beragam diubah menjadi mode alternatif melalui sebuah karya. 


Pemahaman dari tindakan performatif dirujuk oleh saya pada Brad Haseman dalam metode riset artistik; proses menjadikan praktik kreatif itu sendiri sebagai bentuk investigasi utama yang menghasilkan pengetahuan. [7] Mungkin tidak semua orang yang menontonnya akan melihat bahwa apa yang dilakukan Permana, bagian dari metode riset artistik, bukanlah hanya sekadar riset karya (riset tentang sebuah kota untuk menghasilkan “Proposal Kota: Mimpi adalah Mimpi”), yang memprioritaskan karya sebagaimana umumnya yang berlaku; melainkan, karya itu sendiri merupakan riset, dengan sejumlah tindakan performatif; Haseman menyebut riset performatif sebagai jalan ketiga dalam dunia reproduksi pengetahuan untuk terus tumbuh dan berkembang di masa depan. Tindakan performatif berarti riset dimulai bersamaan dengan proses dilakukan, termasuk di antaranya sistem latihan yang diterapkan berhari-hari secara intens (dengan ‘mengangkut’ sejumlah persoalan kota di dalamnya), dan diselesaikan di dalam karya dan melalui praktik artistik itu sendiri.


Saya melihatnya melalui serangkaian sistem latihan terukur yang tidak secara langsung menghasilkan karya tetapi menjadi bagian dari agenda artistik. Ini termasuk kombinasi video dan panggung; panggung merupakan kelanjutan dari video yang dipresentasikan, misalnya, mandi dan aktivitas lain yang ditampilkan dalam video dihubungkan di panggung dengan pergi bekerja, dan seterusnya. Menyalurkan ambisi kreatif yang terkait dengan budaya melibatkan perilaku terstruktur atau pola pikir, atau bahkan kombinasi keduanya. 


Saya kir aini tindakan sosial—suatu bentuk budaya—menemukan artikulasi karena diaktifkan untuk menguji atau menemukan sesuatu dengan mengajukan melalui “Proposal Kota.” Pengetahuan ditampilkan secara langsung melalui karya atau pertunjukan, daripada hanya dijelaskan, untuk menemukan makna apa yang dapat diperoleh dari artefak karya tersebut. Dari artefak ini, setiap individu yang terlibat dapat berbagi pengetahuan baru yang telah mereka peroleh, mewujudkan nilai budaya masing-masing. 


Di masa depan atau selanjutnya, ini tidak hanya tentang menciptakan kelompok teater, seperti teater berbasis masyarakat atau teater warga, atau melepaskan diri dari istilah “teater,” misalnya, menggunakan Kelompok Bermain Ruang Limpah Sungai (KBRLS). Karya ini juga akan mengeksplorasi bagaimana praktik-praktik tetap hidup dan tak terlupakan, tentang jaringan antarsistem yang dipupuk dari pengetahuan “akar rumput”; bagaimana kita berupaya agar pantat panci tidak gosong, ataupun berusaha agar popok bayi tidak kehabisan. Tindakan performatif menghasilkan pengetahuan yang tertanam dalam tubuh, tindakan, dan pengalaman pribadi itu sendiri. 


Melalui tindakan: ‘kebenaran’ atau temuan riset divalidasi secara langsung melalui keberhasilan tindakan artistik atau pertunjukan ketika berinteraksi dengan penonton atau media. Karya ini berfungsi sebagai optik, metafora, atau model teoretis untuk memahami budaya dalam performance studies; jika saya melihatnya dari perspektif praktik budaya, beberapa tindakan akan dianggap sebagai pertunjukan dan yang lainnya tidak, tetapi lebih bersifat konstruktif. Proses riset ini mengungkap realitas baru, memicu pergeseran dalam pemikiran, dan memupuk pemahaman baru bagi periset dan penonton yang mengalaminya. 


Proses kreatif berfungsi sebagai mesin pencari jawaban, dan karya akhir berfungsi sebagai laporan riset. Dalam pengertian ini, Permana secara tidak langsung ‘dipaksa’ untuk menulis laporan pertanggungjawaban dengan menanggapi kegagalan atau temuan tak terduga di studio sebagai data riset baru; secara emosional, fisik, dan intelektual, dalam proses kreatif kolaboratif dengan para anggotanya.


“Seni Sehari-hari” dari Pantat Panci dan Popok Bayi: Pengetahuan Alternatif


Sejumlah warga berbondong-bondong mengantri registrasi secara tertib (Foto: AWE)

Berdasarkan gambar di atas, bagi warga, secara otomatis menulis nama mereka atau mengisi daftar kehadiran, sebuah sistem yang diadopsi sejak zaman kolonial, juga merepresentasi pengetahuan baru yang tertanam dalam tindakan praktis itu sendiri. Bagi saya, bahkan hal kecil seperti ini, jika bukan sekadar mengisi daftar kehadiran, berfungsi sebagai data tentang paradigma performatif, di mana tindakan dan eksekusi menjadi bagian dari pertunjukan. Tindakan-tindakan ini tidak hanya dilatih, tetapi diwujudkan dan intuitif.


Mulai dari petugas parkir hingga pedagang yang menjual barang dagangan mereka dari berbagai tenda, atau campuran pedagang keliling dan pedagang sehari-hari di area pertunjukan, ini bukanlah proses kreatif yang terpisah. Sebaliknya, ini adalah tindakan performatif yang tidak dilatih juga dimulai dengan dialog dengan masyarakat lokal, menjadi satu kesatuan. Saya percaya bahwa proses dialogis semacam ini, dari dialog ke praktik, secara langsung menghasilkan bentuk-bentuk pengetahuan baru yang sebelumnya tidak pernah dialami (barangkali begitu). 


Keberhasilan riset ini dinilai dari dampaknya pada perubahan perspektif penonton, mobilisasi masyarakat, atau hasrat memajukan ekosistem industri kreatif itu sendiri dengan beragam cara. Segala sesuatu yang dilihat, dari pose hingga presentasi, menjadi pengetahuan bersama, karena praktik memimpin riset, bukan teori. Saya juga percaya bahwa jika ini hanya proyek karya, “Proposal Kota” sudah selesai sebagai produk dari agenda sebelumnya, namun, karena diposisikan sebagai riset artistik, Permana, sebagai periset/kreator atau seniman peneliti, tidak memulai dengan hipotesis teoretis yang akan diuji dari karya sebelumnya, tetapi malah memulai dengan kegiatan praktis, memosisikan ruang publik sebagai bidang riset bersama dengan masyarakat setempat. 


Pertanyaan tentang bagaimana melanjutkan kegiatan secara alami sering muncul seiring dengan perkembangan sistem latihan, sebagai respons terhadap generasi di bawah fasilitasi Permana yang terlibat dalam proses kreatif. Jika saya memosisikan masyarakat sebagai objek riset, itu tentu mungkin, tetapi mereka juga merupakan subjek dari praktik yang dilakukan oleh Permana, sehingga pengetahuan ini sangat subjektif, personal, dan kontekstual, memungkinkan generasi ini untuk berdebat ketika diminta untuk membahas tindakan mereka. Bagaimana mereka bisa berdebat, karena mereka sedang berlatih/perform, meskipun ini tidak bisa berhenti di situ, karena yang juga diharapkan adalah pengalaman selama latihan atau apa pun yang terkait dengan proses kreatif.


Namun, argumen semacam itu dapat muncul dari pengalaman baru yang diperoleh, yang kemungkinan akan secara bertahap memperdalam refleksi mereka tentang proses kreatif ini. Khususnya bagi Permana, yang merupakan salah satu wargai ruang publik ini, juga menjadi pengalaman refleksi pertamanya dengan masyarakat (yang selama ini berkesenian lebih banyak di luar kampungnya); ini menjadi pembelajaran dua arah: ia tidak hanya belajar bagaimana memecahkan masalah teknis dalam menciptakan sebuah karya mulai dari metode yang diterapkan pada Generasi Z (akhir) dan Generasi Alpha; Sentanu, memiliki pengalaman teknis pertamanya dalam situasi gerimis, dengan pertunjukan yang masih berlangsung, yang juga memengaruhi sistem suara, yang juga fundamental. Tetapi tidak hanya itu, Permana ‘dipaksa’ untuk meninjau kembali asumsi mendasar, nilai-nilai artistik, dan teori yang diyakini mengenai realisme dan non-realisme, atau hal-hal lain, yang dapat diteorikan berdasarkan praktik; justru dari seini menghasilkan pergeseran paradigma yang mendalam dan berpikir bagi periset/kreator sebagai pengetahuan baru.


“Seni Sehari-hari” dari Pantat Panci dan Popok Bayi: Site-Specific Performance


Sejumlah penonton yang terus stabil dalam durasi kurang lebih dua jam (Foto: AWE)

Dalam pengajuan poin ketiga ini, sebut saja “proposal penonton”, untuk Permana, saya mendasarkan penggunaan pantat panci dan popok bayi pada objek yang paling sederhana dan umum, yang menimbulkan masalah, terutama bagi setiap rumah tangga. Jika rumah tangga dipahami sebagai site-specific, kali ini dapat diperlakukan sebagai site-specific performance, untuk membahas hubungan antara tubuh, ruang, dan sejarah lokasi itu sendiri. Ruang publik ini disaksikan oleh masyarakat selama pembangunannya dan selama peresmiannya oleh Anis, [8] seorang warga setempat, sebagai manifestasi dari konsep baru untuk mengelola air yang melimpah di sungai. 


Ada unsur sejarah yang tetap aktif dalam ingatan masyarakat, yang mencerminkan nilai panci dan popok bayi saat ini di tengah kenaikan nilai dolar yang terus menerus. [9] Karena unsur ini, kita juga terus mengaktifkan semua indra di ruang tersebut; secara tidak langsung mendikte koreografi, dialog, dan jalannya pertunjukan jika kita sangat menyadari tatanan sosial yang sedang berlangsung dan tak terhindarkan, berikut juga ideologinya. Meskipun penonton tetap berada dalam satu arah, dengan menciptakan ‘jebakan’, saya tidak bermaksud bahwa ada batasan, karena pada saat-saat tertentu Peramana, sebagai seorang performer, juga terlibat sebagai penonton, menyaksikan diskusi sebagai sebuah pertunjukan. 


Ketika saya, sebagai informan untuk berbagi pengetahuan, secara tidak langsung sudah melanggar batasan itu dengan menyerahkan mikrofon kepada penonton, suara-suara warga, dari anak-anak hingga orang dewasa, secara langsung terlibat dalam interaksi; ini sebuah manifestasi dari paradigma performatif yang dimaksudkan Hasmean. Kita semua memberi dan menerima satu sama lain di ruang publik ini yang harus dilindungi dan dipelihara bersama. Aktivasi dan negosiasi berkelanjutan diperlukan mengenai makna ruang ini; bagian mana dari ruang publik ini yang sudah menyimpan “kenangan” (sosial, politik, dan individu); termasuk Anis sendiri, bagaimana ia memosisikan politik tubuhnya melalui ruang ini, yang pada saat itu tidak bisa hadir sebagai narasumber pertunjukan dikarenakan ia berada di Amerika; untuk membuka, mempertanyakan, atau membandingkan narasi masa lalu tempat itu dengan isu-isu terkini; apa yang berubah dan apa yang tetap, apa yang berubah dari pantat panci dan popok bayi, lalu apa yang tetap dari pantat panci dan popok bayi? 


Dari sinilah estetika lingkungan terbentuk, termasuk gerimis yang cukup untuk membasahi pakaian. Untungnya, teman Ari Sumitro bertekad untuk menemukan payung; Saya hanya perlu mendekatinya, menciptakan estetika saya sendiri; dengan latar belakang semua orang, termasuk mereka yang dalam pikiran (sebelum pertunjukan) membayangkan itu adalah dangdut, lenongan, atau apa pun yang pernah dilihatnya, yang pada kenyataannya berbeda. Begitu juga dengan seorang pengamen yang mengambil posisi terdepan, hanya sepuluh menit setelah arsitek tua itu menceritakan kisah kota, telah meninggalkan area tersebut ketika gambar-gambar di kepalanya bertabrakan, sehingga menciptakan pertunjukan autentik yang spesifik untuk lokasi tersebut; pertunjukan yang dianjurkan memiliki sejarah dengan tempat itu.


Sebagai akhiran, dari sini pula, mengubah ruang publik atau ruang masyarakat “akar rumput” menjadi tempat pertunjukan berisiko memicu isu gentrifikasi atau eksploitasi estetika; juga berhubungan dengan banyak hal, tetapi keterlibatan karang taruna, mengeksplorasi strategi dramaturgi untuk saling bertukar pengalaman; mengeksplorasi bagaimana tubuh kita bergerak di ruang ini. Bagaimana tubuh berfungsi sebagai “radar” yang menangkap tekanan sosial, ketegangan politik, dan aturan-aturan yang tertulis, dibuat oleh sistem kota, atau aturan kita sendiri, dalam menangkap pantat panci dan popok bayi. Dan tentu perlahan, kesadaran kritis, atas sitem kota bukan hanya perkara biasa, melainkan kita “dimasukkan” ke dalam karya ini, untuk membangun kesadaran kritis; berapa harga panci dan popok bayi, ketika harga bahan bakar semakin hari semakin meninggi, adakah revolusi di negeri ini, atau bagaimana merevolusi pemikiran kita?


Footnote:

  1. Schechner, Richard. 2006. Performance Studies: An Intoduction, Second Edition. New York dan London: Routledge.
  2. https://www.pojokseni.com/2026/01/buka-dapur-mini-festival-akumulasi.html, diakses terakhir kali pada tanggal 16 Juni 2026.
  3. https://www.pojokseni.com/2024/11/membaca-peluang-mengenai-performance.html, diakses terakhir kali pada tanggal 16 Juni 2026.
  4. Mignolo, Walter D. 2008. “Preamble: The Historical Foundation of Modernity/Coloniality and the Emergence of Decolonial Thinking.”
  5. Candy, Linda., & Edmonds, Ernest. 2011. Practice-based research: A guide. Sydney: Creativity & Cognition Studios Press.
  6. Sullivan, Graeme. 2005. Art practice as research: Inquiry in the visual arts. California: SAGE Publications.
  7. Haseman, Brad, 2006. “A manifesto for performative research.” Media International Australia, 118(1), pp.98–106.
  8. https://www.cnnindonesia.com/nasional/20221006131507-20-857121/anies-resmikan-ruang-limpah-sungai-adopsi-ilmu-selesaikan-masalah, diakses terkahir kali pada tanggal 17 Juni 2026.
  9. https://www.tempo.co/ekonomi/pelemahan-rupiah-dolar-setelah-menguat-2269622, diakses pada tanggal 17 Juni 2026.