Advertisement
Oleh: Adhyra Irianto
Suatu hari, grup teater saya mendapatkan anggota baru. Salah satu di antaranya ikut proses dan latihan selama dua bulan dan mengalir. Sampai kemudian, tiba-tiba ia menghilang tanpa penjelasan, tanpa membalas pesan, dan tak bisa dihubungi. Menghilang yang dimaksud itu bukan "mati" tapi menarik diri sepenuhnya dari proses latihan.
Ketika saya membicarakan hal ini dengan adik-adik tingkat SMA, mereka juga bilang bahwa hal seperti itu sering terjadi pada mereka. Ada seorang yang berkencan intens selama 3 minggu, selalu teleponan, video call, dan ketemuan. Setelah itu, tiba-tiba seorang tersebut menghilang tanpa jejak.
Fenomena ini disebut "ghosting" yang tidak hanya terjadi di Indonesia, tapi juga di luar negeri. Sebuah survey oleh Indeed pada 1.500 perusahaan di dunia menemukan hasil bahwa Sebanyak 75% pekerja mengaku pernah mengabaikan komunikasi dari calon pemberi kerja dalam setahun terakhir. Angka ini semakin mencolok pada Generasi Z: 93% di antaranya pernah melewatkan wawancara yang sudah dijadwalkan, dan 87% telah menerima tawaran kerja tetapi menghilang tepat di hari pertama mereka seharusnya bekerja.
Mereka yang butuh kerja, ketika mendapatkan kerja tersebut, melihat kondisi kerjanya sepertinya bakal membuat mereka "terbeban berat", mereka memilih berhenti. Tapi, tidak berani bilang pada orang yang merekrutnya. Inilah ghosting itu.
Mari kita runut, apa yang menyebabkan ghosting ini bisa terjadi di era teknologi saat ini?
Penelitian yang dilakukan LeFebve dkk (2019) dalam "Ghosting in Emerging Adults' Romantic Relationships: The Digital Dissolution Disappearance Strategy" (dalam jurnal Imagination, Cognition and Personality, 39(2), 125–150), menyebutkan bahwa 25% dari seluruh peserta survey (yang terdiri dari usia muda) mengaku pernah di-ghosting dalam berhubungan asmara. Menariknya, 21% di antara mereka, mengaku pernah melakukan ghosting. Orang yang pernah merasakan "sakitnya" ghosting ini mengaku ada "luka yang tak kunjung sembuh" akibat di-ghosting (dalam konteks hubungan pacaran). Ada seseorang yang pergi, tapi tanpa pemberitahuan, dan tanpa persiapan. LeFebvre menyebut fenomena ini sebagai ambiguous loss, atau kehilangan tanpa kepastian, tanpa upacara penutupan (closure). Tidak seperti putus cinta biasa di mana ada percakapan terakhir, ghosting meninggalkan 'luka terbuka' karena tidak ada narasi yang "bisa menjelaskan kepergian".
Kenapa ghosting terjadi pada era teknologi seperti ini? Mari kita kaitkan dengan temuan Freedman, G dkk (2019) di artikelnya Ghosting and Destiny: Implicit Theories of Relationships Predict Beliefs About Ghosting" (dalam Journal of Social and Personal Relationships). Freedman mengaitkan ghosting ini dengan "keyakinan bawah sadar tentang hubungan yang dikaitkan dengan pertanyaan apakah hubungan tersebut takdir (destiny belief) ataukah sesuatu yang harus diusahakan (growth belief)?
Dan pelaku ghosting menurut Freedman, kebanyakan percaya bahwa mereka "tidak jodoh" atau "tidak ditakdirkan berjodoh". Karena itu, untuk urusan Tuhan satu itu, kenapa pula harus capek-capek menjelaskan?
Itu untuk urusan cinta, tapi kalau untuk urusan lain, seperti pekerjaan, sosial, dan sebagainya, sebenarnya ilusi dari teknologi digital yang menghadirkan "dunia maya" sebagai "dunia tanpa kerentanan", atau "kehadiran tanpa kerentanan". Maksudnya, Anda bisa tampak hadir (online) di dunia maya, tapi sebenarnya, Anda tidak perlu memenuhi tuntutan "kehadiran sejati". Jadi, apa itu "kehadiran" dalam ilusi teknologi? Dulu, kehadiran diwujudkan dengan datang secara fisik, maka ketika Anda ingin "memecat" seseorang, ada banyak yang harus dipikirkan, dan dipertimbangkan. Sekarang, dengan kehadiran yang tidak diwujudkan, maka relasi antar manusia menjadi contactable but disposable. Itu artinya, bisa dikontak kapan saja, juga bisa dibuang kapan saja (Sherry Turkle, dalam Alone Together terbit 2011).
Ghosting adalah hasil dari budaya transaksi tersebut. Bila Anda lebih tertarik dengan kehadiran tanpa melibatkan emosional, maka wajar saja Anda juga akan lebih tertarik dengan kepergian tanpa emosional pula. Dalam istilah anak muda hari ini, mereka menyebutnya sebagai "alone together". Alone together adalah kondisi seseorang yang kesepian (lonely) tapi berada dalam sebuah "sistem" yang memberi ilusi mereka sedang bersama-sama, seperti dalam grup Whatsapp, atau scrolling media sosial, atau bermain game online bersama. Itu adalah hubungan yang tampak seperti "persahabatan" tapi sebenarnya, Anda sedang sendirian. (S, Saleh & Irianto, A.P dalam Teater dan Alone Together, dalam Book Chapter ISBI Bandung, 2025).
Alone together adalah kondisi semu, ketika Anda mengira Anda "together" padahal "alone". Dan ketika koneksi semu itu diputus oleh salah satu pihak (alias di-ghosting), maka "together"-nya benar-benar menghilang, yang tersisa hanya "alone".
Apa yang terjadi selanjutnya dengan budaya transaksi yang menghasilkan relasi semu dan alone together tersebut? Hasilnya adalah sebuah hubungan yang mirip seperti hubungan antar komputer, antar akun, atau antar alamat email. Hubungan tersebut adalah connection (koneksi) bukan relationships (hubungan). Koneksi tidak membutuhkan komitmen, tanggung jawab, kerja keras, dan tentunya, bila ingin "putus" hanya perlu salah satu memutuskan koneksi. Aman kan?
Hal itu tidak bisa dilakukan dengan "relationships". Di relationships, ada komitmen, ada tanggung jawab, ada kerja keras untuk mendapatkan, dan terpenting untuk memutuskan hubungan tersebut perlu persetujuan dua pihak, bahkan lebih. Keluarga dari dua pihak tersebut, pengadilan negeri, dan sebagainya. Bukankah hal itu yang tidak disukai oleh "manusia modern"? Karena itu koneksi lebih disukai ketimbang hubungan.
Karena hubungan antar manusia hanya berupa koneksi, maka ketika terjadi "pemutusan koneksi oleh salah satu pihak" hal tersebut dianggap sah-sah saja, bukan? Nah, pemutusan koneksi oleh salah satu pihak inilah yang kemudian disebut dengan "ghosting". Anda tidak perlu bertemu dengan kemungkinan, kena marah, kena pukul, dianggap lari dari tanggung jawab, dan sebagainya. Kenapa? Karena mereka juga tidak bisa menemui Anda lagi. Anda sekarang benar-benar menghilang.
Melihat Ghosting sebagai Konsep Filosofis
Ketika manusia direduksi hanya menjadi 'kontak' atau "pertemanan akun di medsos", maka manusia kehilangan wajah fisikalnya. Ia hanya menjadi ikon di layar, bukan subjek yang menuntut tanggung jawab. Di sinilah kita masuk ke persoalan filosofis yang lebih dalam: apa artinya 'kehadiran' ketika wajah telah digantikan oleh avatar dan foto profil?
Ada konsep menarik dalam eksistensi manusia. Pernah melihat seseorang melihat atau menatap ke arah Anda? Bukan sekedar asal lihat dan juga bukan tidak sengaja berpapasan pandangan? Tapi, benar-benar melihat atau menatap Anda secara fokus?
Saat ada mata yang melihat Anda dengan fokus seperti itu, rasa yang muncul adalah tidak nyaman, malu, dan mungkin sedikit terasing. Tapi, bukankah beberapa orang merasa sedang diperhatikan, dan ada juga beberapa yang bahagia, bukan?
Iya, itu karena tatapan tadi mengonfirmasi eksistensi kita. Intinya, karena ada yang "notice" bahwa kita "ada" di sana (dalam Being and Nothingness oleh Jean-paul Sartre). Apa artinya? Kehadiran, atau keberadaan ditandai dengan perasaan-perasaan emosional di belakangnya. Hanya sekedar dari tatapan, Anda bisa merasakan banyak perasaan sekaligus.
Tapi, apakah yang bisa Anda dapatkan ketika "story Anda ditatap oleh seseorang"? Apakah sama rasanya dengan tatapan yang terjadi secara langsung?
Dan ketika di-ghosting, maka Anda yang sejak awal belum terkonfirmasi eksistensinya, langsung mendapatkan penolakan eksistensi. Ketika seseorang melihat "story" Anda dan tidak memberikan reaksi apa-apa, setidaknya Anda sudah menganggap dia melakukan "tatapan" pada Anda. Tapi ketika Anda chat, dia tidak merespon apapun, maka dia sudah menolak eksistensi Anda alias menjadikan Anda sebagai "nothingness" dalam waktu yang sangat cepat.
(Dalam kerangka pemikiran Sartre, "nothingness" itu bukan berarti "tidak ada" tapi berarti "ketiadaan". Ia adalah penolakan aktif terhadap eksistensi Anda.)
Kehadiran yang "sejati" ditandai dengan wajah bertemu wajah. Saling melihat ekspresi, saling menjawab obrolan. Teknologi mengakomodasi itu, dengan menghadirkan teknologi Video Call. Tapi, di dunia nyata, Anda bisa merasakan penolakan. Ada seseorang yang ingin Anda lihat wajahnya, tapi ia memalingkan muka. Anda bisa bertanya, tapi mungkin ia tidak menjawab. Anda merasakan penolakan radikal tersebut.
Di teknologi video call, Anda bisa saja menghubungi seseorang, dan seseorang itu entah sengaja atau tidak, mereka tidak menjawab panggilan Anda. Anda tidak bisa tahu pada saat itu, Anda ditolak atau tidak. Maka Anda hanya bisa mengira-ngira, apakah saat ini lawan bicara Anda mungkin sedang tidur, atau sedang sibuk melakukan sesuatu. Padahal, mungkin aslinya Anda memang ditolak. Dia tidak mau bicara dengan Anda. Begitu juga sebaliknya, ketika Anda mengira bahwa Anda sedang ditolak, mungkin lawan bicara Anda justru sebenarnya sedang tidur.
Karena minim konsekuensi langsung, dan membuat seseorang tidak bisa memastikan penyebabnya, maka ghosting ini menjadi pilihan bagi generasi baru untuk "menghindari masalah". Tidak hanya masalah pacaran, sosial, pekerjaan, bahkan pernikahan juga bisa di-ghosting! Data dari Kemenag RI, ghosting jadi penyebab 8,4% dari total 408.347 kasus perceraian di Indonesia. Itu artinya, ada lebih dari 10 ribu pernikahan yang berakhir dengan ghosting oleh salah satu pasangannya. Bahkan ada yang menghilang di hari pertama pernikahannya!
Ghosting Menjadi Strategi Dramaturgi?
Seni itu selalu merespon fenomena yang terjadi saat ini. Meski demikian, pandangan yang paling saya sukai adalah pandangan Adorno, "Art is the social antithesis of society... The unsolved antagonisms of reality return in artworks as immanent problems of their form". Sedangkan teater, sejak awal kelahirannya, adalah seni tentang "kehadiran". Peggy Phelan (1993) berpendapat bahwa "Performance's only life is in the present... Performance becomes itself through disappearance."
Kehadiran itu justru menjadi paling dipersoalkan dalam teater pasca-dramatik (meminjam terminologi Hans-Thies Lehman). Aktor di panggung pasca-dramatik tidak lagi "penuh" seperti dalam teater realis. Tubuhnya hadir, tetapi jiwanya kosong. Ia menolak kontak mata dengan penonton. Ia bergerak lambat seperti robot. Untuk contoh, lihat ini:
Lihatlah karya-karya sutradara Robert Wilson. Aktornya bergerak sangat lambat, wajah tanpa ekspresi, seolah telah dikosongkan dari dalam. Dalam teater Wilson, penonton merasakan ghosting secara langsung: ada tubuh di depan Anda, tetapi subjek di dalamnya telah pergi. Anda ditolak sebagai saksi, sebagai yang-menatap. Inilah ghosting teatrikal.
Atau ambil contoh teater Noh Jepang ada konsep yang disebut "konsep Ma" yakni jeda panjang di mana aktor diam, tak bergerak, menolak memberi makna. Kehadiran justru dirasakan paling kuat justru saat ia "menarik diri" dan menyisakan ruang kosong.
Karena teater, tidak seperti layar ponsel, adalah ruang di mana ghosting dipaksakan untuk disaksikan bersama. Di layar, Anda di-ghosting sendirian. Di panggung, ghosting terjadi di hadapan puluhan, ratusan pasang mata. Ia menjadi tontonan.
Erika Fischer-Lichte (2008) dalam The Transformative Power of Performance menyebut bahwa antara aktor dan penonton ada feedback loop (semacam sirkuit timbal balik yang terus-menerus memproduksi kehadiran bersama). Sistemnya seperti ini, aktor itu melempar "energi" ke penonton lewat emosi yang dihadirkan. Penonton melempar balik energi dari responnya terhadap adegan atau alur. Maka, kemudian energi itu terus membesar karena terus terlempar bolak-balik. Energi itu "dilemparkan" dengan cara menatap, penonton menatap pemain, begitu juga sebaliknya.
Ketika aktor memutus sirkuit itu, penonton merasakan frustrasi yang persis sama seperti di-ghosting lewat chat. Bedanya, di teater, frustrasi itu dibagikan. Seluruh penonton mengalaminya bersama.
Di sinilah letak kekuatan teater. Ia adalah semacam laboratorium kehadiran. Ia mendemonstrasikan ghosting secara kasat mata, dan dalam demonstrasi itu, ia justru membongkar ilusi terbesar era digital, bahwa kehadiran bisa digantikan oleh koneksi.
Bacaan tambahan:
- Adorno, T. W. (1997). Aesthetic theory (R. Hullot-Kentor, Trans.). Continuum. (Karya asli diterbitkan 1970)
- Fischer-Lichte, E. (2008). The transformative power of performance: A new aesthetics (S. I. Jain, Trans.). Routledge.
- Freedman, G., Powell, D. N., Le, B., & Williams, K. D. (2019). Ghosting and destiny: Implicit theories of relationships predict beliefs about ghosting. Journal of Social and Personal Relationships, *36*(3), 905–924. https://doi.org/10.1177/0265407517748791
- LeFebvre, L. E., Allen, M., Rasner, R. D., Garstad, S., Wilms, A., & Parrish, C. (2019). Ghosting in emerging adults' romantic relationships: The digital dissolution disappearance strategy. Imagination, Cognition and Personality, *39*(2), 125–150. https://doi.org/10.1177/0276236618820519
- Lehmann, H.-T. (2006). Postdramatic theatre (K. Jürs-Munby, Trans.). Routledge.
- Phelan, P. (1993). Unmarked: The politics of performance. Routledge.
- Saleh, S., & Irianto, A. P. (2025). Teater dan alone together. Dalam Book Chapter ISBI Bandung. ISBI Bandung. https://jurnal.isbi.ac.id/index.php/bookchapter/article/view/4217
- Sartre, J.-P. (1956). Being and nothingness (H. E. Barnes, Trans.). Philosophical Library. (Karya asli diterbitkan 1943)
- Turkle, S. (2011). Alone together: Why we expect more from technology and less from each other. Basic Books.






