Project Necromancy: Resistensi atau Nostalgia Semata? -->
close
Pojok Seni
26 May 2026, 5/26/2026 12:44:00 PM WIB
Terbaru 2026-05-26T05:44:52Z
Ulasan

Project Necromancy: Resistensi atau Nostalgia Semata?

Advertisement
(Foto: Muhammad Zainal Arif)

Oleh: Wanda Rahmad Putra


Project Necromancy: story_no.4-i_miss_you, begitu sutradara Rizal Sofyan menamai pertunjukannya. Karya ini dipentaskan pada 7 Mei 2026 di Studio Teater Jurusan Teater ISBI Bandung, sebagai hasil dari workshop teater arsip yang diselenggarakan oleh Tilik Sarira Creative Process melalui program Performer & Aktor Laboratorium (PERMAK LAB). 


Saya diundang secara khusus oleh sutradara untuk menyaksikan pertunjukan ini sebagai  pemantik diskusi bersama Akbar Yumi setelah pertunjukan selesai. Sebuah posisi, yang membuat saya harus menyimak pertunjukan dengan baik dan berusaha membaca bagaimana arsip SMP 1 Sajira, nostalgia, dan ingatan personal diolah menjadi dasar pertunjukan oleh sutradara. 


Pertunjukan berlangsung kurang lebih tiga puluh menit. Selama durasi tersebut, penonton diajak memasuki serpihan-serpihan ingatan masa Sekolah Menengah Pertama (SMP): upacara bendera, dimarahi guru, trauma terhadap pelajaran matematika, romansa jatuh cinta masa sekolah, hingga pengalaman pembullyan. 


Fragmen-fragmen pendek itu dihadirkan secara episodik, bekerja seperti karakter ingatan; tidak utuh, melompat-lompat, dan berupaya untuk memantik energi sentimental  penonton. Secara visual, pertunjukan memadukan permainan aktor dengan penggunaan kamera, LCD, proyektor, diorama, serta mainan kapal uap sebagai medium performatif. 


Selama pertunjukan, kontras muncul beberapa kali melalui slide latar-belakang untuk memperlihatkan kondisi SMP 1 Sajira yang hancur akibat proyek pembangunan bendungan pemerintah yang mengubah kartografi wilayah. Kehadiran slide visual membuat nostalgia dalam pertunjukan ditarik dengan susah-payah menuju gambaran persoalan sosial yang lebih luas; kehilangan ruang hidup, perubahan lanskap, dan perampasan ruang pendidikan akibat pembangunan. Niatnya sekolah dihadirkan sebagai arsip yang lenyap oleh proyek negara. Di titik ini, nostalgia yang intim diharapkan dapat membentuk kesadaran tentang hilangnya ruang kolektif.  


Di sesi diskusi, paling tidak ada dua hal penting dari beberapa hal lain yang menjadi catatan saya; hal pertama adalah ketika sutradara mengakui bahwa pertunjukan ini lahir dari pengalaman personal yang dekat dengan dirinya. Hal kedua adalah ketika sutradara mengatakan arsip dan ingatan nostalgia juga merupakan laku resistensi manusia. Tulisan ini hendak mengelaborasi dua persoalan itu. 


Rizal Soyan melihat kehadiran arsip-arsip ini sebagai pisau bedah kolonial yang tidak hanya berbicara kerinduan sentimental terhadap masa lalu, tapi merupakan bentuk pertahanan sekaligus perlawanan terhadap lupa, kehilangan, perubahan, dan potensi redupnya pengalaman-pengalaman personal manusia, khususnya yang terjadi pada SMP 1 Sajira. Singkatnya, ini upaya dekolonial seturut perspektif sutradara, dan menjadi pondasi epistemiknya dalam membangun pertunjukan. 


Saya jadi teringat Milan Kundera dalam The Book of Laughter and Forgetting: “Perjuangan manusia melawan kekuasaan adalah perjuangan ingatan melawan lupa.” Kutipan tersebut barangkali bisa membantu membaca cara kerja pertunjukan ini. Lewat propaganda dan hegemoni, manusia menjadi sasaran empuk bagi tangan-tangan kekuasan yang terus berupaya memanipulasi kebenaran sejarah, kesadaran dan bahkan rasa sakitnya sendiri. Dalam situasi ini, tindakan mengingat atau menggali ingatan memang dapat dibaca sebagai sikap politik. Ingatan bekerja sebagai resistensi terhadap kekuatan kekuasaan yang terus mencengkram tanpa memberi ruang bagi manusia untuk menengok kembali sejarah dirinya.


Tapi sejauh mana arsip-arsip ingatan nostalgik itu mampu bergerak melampaui sentimentalitas personal menuju pembacaan terhadap struktur kekuasaan yang memproduksi kehilangan yang dialami SMP 1 Sajira tersebut? Saya perhatikan dalam banyak bagian, pertunjukan tampak sangat kuat membangun atmosfer kerinduan dan kehilangan, tetapi belum sepenuhnya membongkar mekanisme sosial-politik yang melahirkan kehilangan itu sendiri. Kehancuran sekolah akibat proyek bendungan lebih banyak hadir sebagai latar pengalaman emosional alih-alih sebagai bagian dari struktur dari logika pembangunan yang lebih besar.


Padahal jamak diketahui, segala hal yang menyangkut PSN bukan sekadar tragedi personal atau lokal semata. Ia berkelindat erat dengan cara negara memproduksi tata ruang: menentukan wilayah mana yang layak dipertahankan dan mana yang pantas dikorbankan demi narasi kemajuan, infrastruktur, dan pertumbuhan ekonomi. Dalam konteks ini, penggusuran dan perampasan ruang hidup adalah konsekuensi struktural dari model logika ultra-nasionalistik yang dijalankan sebuah pemerintahan. 

Jika dihadapkan pada pertanyaan demikian, arsip-arsip nostalgik dalam pertunjukan Project Necromancy: story_no.4-i_miss_you berubah menjadi ambigu. Di satu sisi, ia berhasil menghadirkan rasa kehilangan yang intim dan manusiawi. Namun di sisi lain, nostalgia juga berisiko menjadi obat tidur bagi rasa sakit akibat konflik politik yang dibungkus menjadi sekadar kerinduan. Ketika memori nostalgik sutradara dan para pemain lebih dominan tampil sebagai suasana sentimental, persoalan pembangunan dan penggusuran SMP 1 Sajira pada akhirnya hanya hadir sebagai latar tragedi saja.  


Hal ini terlihat pula pada penggunaan perangkat artistik pertunjukan; Diorama, miniatur kapal uap, kamera live, dan proyeksi visual bekerja sangat efektif sebagai mesin nostalgia dan simulasi memori. Akan tetapi, perangkat-perangkat tersebut belum sepenuhnya bergerak menjadi alat pembacaan struktural, karna sepertinya sutradara lebih memaksimalkan fungsinya untuk memproduksi pengalaman afektif sentimental para pemain, ketimbang membongkar relasi kuasa yang menyebabkan hilangnya ruang hidup masyarakat yang sedang dibicarakannya.


Dalam pandangan saya, apalagi dalam konteks teater arsip, persoalan ini penting diajukan lebih dulu. Sebab saya pikir pertunjukan berbasis arsip tidak cukup hanya menghadirkan kesan dokumenter atau atmosfer kehilangan. Nostalgia kerap bekerja pada wilayah afektif: menghadirkan rasa dekat, rindu, atau pengakuan emosional bahwa “aku juga pernah mengalami itu.” Ia bisa kuat sebagai pengalaman batin. Namun yang dipertaruhkan sebuah pertunjukan yang berbasis arsip, apalagi dengan klaim resistensi dan dekolonialisasi, tentu saja bukan lagi semata tentang bagaimana sejarah dikenang secara sentimental, tetapi bagaimana sejarah dibaca secara kritis dan relevan. 


Ketika pertunjukan menampilkan sekolah yang hilang akibat proyek pembangunan, pertanyaan tentang arsip tidak lagi sekedar kenangan masa sekolah pribadi, tetapi juga tentang bagaimana negara dan pembangunan dapat merampas ruang pendidikan serta memutus hubungan manusia dengan sejarah dan kebudayaan sendiri. Dengan kata lain, persoalan utamanya bukan hanya kehilangan masa lalu, melainkan siapa yang menyebabkan kehilangan itu terjadi.


Jika nostalgia hanya berhenti sebagai ruang sentimental untuk merayakan ingatan personal, maka resistensinya menjadi terbatas. Ia menyentuh perasaan, tetapi belum tentu mengguncang cara kita memahami struktur kuasa yang bekerja di balik penghancuran ruang hidup tersebut. Sebab resistensi membutuhkan lebih dari sekadar mengingat; ia membutuhkan kemampuan membaca struktur, mengidentifikasi persoalan, lalu menggugatnya secara lebih radikal, meski tak harus dalam bentuk slogan besar atau agitasi politik yang keras. 


Manusia bisa melawan dengan cara yang sederhana: mengingat, lalu menceritakan ulang dari, dan melalui dirinya sendiri tanpa kehilangan kompleksitas persoalan. Singkatnya, ia sederhana tapi bukan menyederhanakan. Suara dari mereka yang sedang dibicarakan harus diberi ruang lebih, agar penonton yang melihat juga diajak masuk pada keadaan yang lebih nyata untuk bisa terlibat, berfikir sekaligus merasakan. Saya kira Rizal Sofyan dan Project Necromancy: story_no.4-i_miss_you, masih punya kemungkinan yang besar untuk melakukan itu.