Advertisement
![]() |
| Rekonstruksi Abdul Muluk oleh Teater AiR Jambi |
Oleh: Ikhsan Satria Irianto
Syair Abdul Muluk karya Raja Ali Haji direkonstruksi menjadi karya bertajuk Abdul Muluk karya dan sutradara Oky Akbar. Pertunjukan yang didukung oleh Dana Indonesiana melalui program Karya Kreatif Inovatif ini mengusung tema Re:TAM: Mengembalikan Sirih ke Gagangnya, Pinang ke Tampuknya. Karya yang dipentaskan di Taman Budaya Jambi pada Jumat (22/05/2026) dan Sabtu (23/05/2026) ini mengusung konsep Rekonstruksi Teater Abdul Muluk. Produksi Teater AiR Jambi ini terselenggara atas dukungan Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia, LPDP, UPTD Taman Budaya Jambi, Amerta Production, dan Himpunan Sarjana Kesusastraan Indonesia.
Visi dramatik dari penciptaan karya inovatif ini adalah menjaga identitas budaya Melayu melalui alih wahana syair secara utuh. Teks dramatik disusun secara autentik dengan bertumpu pada syair aslinya. Karya teater Abdul Muluk arahan Oky Akbar ini berhasil menghadirkan Syair Abdul Muluk secara akurat dan konsisten berdasarkan struktur naratif syair sumbernya. Alur dramatik dari syair tersebut tetap dipertahankan dengan sejumlah penyesuaian dramaturgis agar keseluruhan cerita dapat diselesaikan dalam satu pertunjukan. Pilihan dramaturgis ini dimaksudkan sebagai bentuk penghormatan terhadap penulis dari Syair Abdul Muluk itu sendiri.
Meskipun demikian, nama Raja Ali Haji tidak disebutkan secara eksplisit dalam publikasi utama pertunjukan. Nama pengarang hanya hadir pada deskripsi karya dan cenderung tersisihkan dalam poster pertunjukan, sehingga menimbulkan kesan seolah-olah karya ini merupakan ciptaan yang sepenuhnya baru, bukan hasil rekonstruksi atas karya yang telah ada sebelumnya. Meskipun proses penulisan ulang yang dilakukan mengalami transformasi yang signifikan, namun informasi seperti “berdasarkan Syair Abdul Muluk karya Raja Ali Haji” tetap penting dicantumkan.
Struktur garapan sepenuhnya didasari pada naskah yang ditulis ulang oleh Oky Akbar. Sejumlah strategi dramaturgi sengaja diterapkan agar cerita yang bersifat episodik dapat diselesaikan dalam satu pertunjukan. Salah satu strategi dramaturgis yang distingtif dalam karya ini adalah pilihan untuk tidak merujuk secara langsung pada bentuk-bentuk kesenian teater Abdul Muluk tradisional yang telah diwariskan secara turun-temurun di Jambi, khususnya di Kabupaten Muaro Jambi. Padahal, Syair Abdul Muluk sebelumnya telah mengalami transformasi ke dalam bentuk kesenian tradisional yang pada akhirnya membentuk semacam konvensi teater Abdul Muluk. Dalam konteks ini, karya tersebut menawarkan pendekatan baru bagi perkembangan teater di Jambi karena menghadirkan struktur dan pola garapan yang berbeda dari konvensi sebelumnya. Meski demikian, local genius masyarakat Jambi juga absen dalam pertunjukan ini.
Strategi dramaturgis selanjutnya adalah pemadatan alur dramatik untuk menghadirkan kekuatan struktur episodik dari Syair Abdul Muluk. Meskipun mengalami pemadatan, struktur episodik berhasil diwujudkan secara cermat. Penggarapan alur episodik memanfaatkan layar proyektor yang menampilkan perubahan latar tempat, sehingga perpindahan ruang dapat berlangsung secara cepat dan efektif tanpa mengganggu intensitas emosi dalam alur cerita. Strategi artistik ini mengingatkan pada konvensi teater tonil yang berkembang pada masa kolonial Belanda, terutama dalam penggunaan latar visual (lukisan) sebagai penanda ruang dramatik.
Salah satu kekuatan utama pertunjukan ini terletak pada keberaniannya mempertahankan diksi syair Melayu. Struktur bahasa syair yang berpola dan cenderung formal memang berpotensi menciptakan jarak dengan penonton ketika dimanfaatkan menjadi dialog. Namun, justru melalui pilihan itulah nuansa klasik Melayu terasa begitu kuat hadir di atas panggung. Strategi dramaturgis ini tidak hanya berhasil menghadirkan alur cerita secara utuh, tetapi juga mempertahankan atmosfer puitik yang menjadi kekhasan Syair Abdul Muluk.
Karya Abdul Muluk produksi Teater AiR Jambi ini dapat dipandang sebagai upaya mitigatif terhadap praktik eksplorasi teater Abdul Muluk yang kerap dilakukan cenderung simplistis dan serampangan. Struktur Syair Abdul Muluk sesungguhnya memiliki potensi dramatik yang sangat kuat, ditandai oleh kompleksitas karakter, dinamika alur, serta tema feminisme yang progresif. Sayangnya, berbagai upaya rekonstruksi terhadap syair maupun teater tradisional Abdul Muluk justru cenderung mengabaikan potensi tersebut. Sebagian besar pengolahan Syair Abdul Muluk terjebak pada orientasi hiburan komedi semata, tanpa didukung kompleksitas struktur dan tekstur dramatik yang memadai. Akibatnya, pertunjukan Abdul Muluk lebih luas dikenal sebagai pertunjukan tradisi yang sekadar menghadirkan “teater lucu-lucu” tanpa pola dramaturgi yang jelas. Dalam konteks itu, karya ini berhasil menghadirkan kisah Abdul Muluk secara menarik tanpa bergantung pada adegan humor yang berlebihan.
Pada akhirnya, pertunjukan Abdul Muluk produksi Teater AiR Jambi ini berhasil menampilkan potensi terbesar dari Syair Abdul Muluk. Karya ini tidak hanya merekonstruksi syair klasik Melayu, tetapi juga mengembalikan martabat Syair Abdul Muluk yang sebelumnya kerap tereduksi dalam berbagai upaya kreasi. Pertunjukan ini menegaskan bahwa kreasi artistik akan memiliki pijakan yang kuat apabila bertumpu pada sumber yang jelas. Apabila pengolahan kisah Abdul Muluk terus dikembangkan dalam koridor artistik yang terarah, maka pada akhirnya dapat terbentuk semacam konvensi Teater Melayu Jambi yang memiliki identitas tersendiri dan tentunya berbeda dari tradisi teater Melayu di daerah lain.







