Berjeda 2 Hari, DAAL Pentaskan Naniyu : Karya Kreatif Inovatif Berbasis Tradisi -->
close
Pojok Seni
04 May 2026, 5/04/2026 02:03:00 PM WIB
Terbaru 2026-05-04T07:03:41Z
Artikel

Berjeda 2 Hari, DAAL Pentaskan Naniyu : Karya Kreatif Inovatif Berbasis Tradisi

Advertisement


PojokSeni/Lampung - Kelompok seni DianArza Arts Laboratory (DAAL) kembali sukses mementaskan karya bertajuk "Naniyu". Karya ini merupakan Penciptaan Karya Kreatif Inovatif (PKKI) berbasis tradisi, salah satu pilihan Kementerian Kebudayaan RI melalui hibah DanaIndonesia.


Yovi Sanjaya, koreografer Naniyu menerangkan Naniyu telah dipentaskan pada 30 April 2026  yang lalu di Taman Budaya Lampung dengan tujuan edukasi serta ditonton lebih dari 350 penonton, baik pelajar, mahasiswa maupun masyarakat umum.


Dijelaskannya, “Naniyu” hadir sebagai respon artistik terhadap fenomena tampah beras yang tidak sebatas objek visual, tetapi sebagai simbol nilai yang mengalami transformasi makna di tengah perubahan zaman. Melalui pendekatan tari kontemporer berbasis tradisi, karya ini berupaya menghadirkan kembali tampah dalam ruang baru yang komunikatif, reflektif, dan relevan dengan kehidupan masa kini. 


"Secara artistik, karya ini memadukan eksplorasi gerak tubuh, penggunaan properti tampah sebagai bagian dari tubuh, musik internal dari bunyi beras, serta elemen visual kontemporer seperti cahaya dan material kostum. Pendekatan ini menempatkan tubuh sebagai pusat pengalaman, di mana tradisi tidak hanya ditampilkan, tetapi diolah, diuji, dan dimaknai ulang," ujar Ketua MGMP Seni Budaya Kota Bandar Lampung ini, saat diwawancarai Senin pagi (4/05/26).


Secara terpisah, dramaturg "Naniyu", Putra Agung, menjabarkan, karya ini tidak hanya menjadi pertunjukan tari, tetapi juga ruang refleksi tentang bagaimana manusia memposisikan tradisi dalam kehidupan modern dan bukan untuk kembali ke masa lalu, tetapi untuk memahami dan membawanya ke masa depan.


"Karya ini menawarkan pendekatan penciptaan tari yang mengolah simbol budaya lokal menjadi bahasa gerak kontemporer tanpa kehilangan nilai dasarnya. Selain itu, ini upaya kami untuk tetap  melestarikan dan mengangkat budaya lokal tampah agar mudah dipahami oleh generasi masa kini melalui media pertunjukan," tuturnya.


Pertunjukan ini dimainkan oleh lima orang penari dan secara kekaryaan dibahas oleh tiga tokoh seni. Mulai dari, Darmawan Dadijono (maestro tari Indonesia - ISI Yogya), Iswadi Pratama (mastero teater - Teater Satu) dan Riyan Hidayullah (musikolog - Unila).DAA