Bawa Luka Kemanusiaan, Pentas "Di Balik Langit Gaza: dr. Yumna" Dibawa ke Empat Kota -->
close
Pojok Seni
23 May 2026, 5/23/2026 08:00:00 AM WIB
Terbaru 2026-05-23T01:00:00Z
Artikel

Bawa Luka Kemanusiaan, Pentas "Di Balik Langit Gaza: dr. Yumna" Dibawa ke Empat Kota

Advertisement
Direktur Utama Adara Relief International, Ir. Maryam Rachmayani


PojokSeni/Jakarta - Teater Jiwa Jakarta tengah mempersiapkan pementasan monolog Di Balik Langit Gaza: Dr. Yumna yang akan melakukan tur pementasan ke empat kota, yakni Surabaya, Palu, Jakarta, dan Solo sepanjang Juli dan November 2026. Pementasan yang disutradarai sekaligus ditulis oleh Adipatilawe itu mengangkat kisah seorang dokter perempuan di Gaza yang bertahan di tengah perang, kehilangan keluarga, dan runtuhnya fasilitas kesehatan akibat genosida Israel. Pementasan ini berkolaborasi secara penuh Bersama Adara Relief International sebagai mitra lembaga kemanusiaan dan pendukung program pertunjukan. Kolaborasi tersebut disebut menjadi bagian penting dalam membangun perspektif kemanusiaan yang diangkat ke atas panggung.


Berbeda dari pertunjukan teater konvensional yang penuh dinamika pemain dan perpindahan adegan, monolog ini justru dibangun melalui ruang sunyi, atmosfer gelap, serta kekuatan tubuh dan emosi aktor tunggal di atas panggung.


"Ini bukan sekadar pertunjukan tentang perang. Ini tentang manusia yang perlahan kehilangan rumah, keluarga, bahkan rasa aman, tetapi masih mencoba bertahan hidup," kata sutradara Adipatilawe saat ditemui dalam sesi latihan di Jakarta, pekan ini.


Menurutnya, monolog sengaja dibangun dengan pendekatan artistik minimalis agar perhatian penonton terpusat pada luka psikologis tokoh utama bernama Dr. Yumna.


"Yang kami hadirkan bukan ledakan perang secara visual, melainkan ledakan batin manusia. Kesunyian dalam pertunjukan ini justru menjadi suara paling keras," ujarnya.


Dalam proses produksinya, Teater Jiwa Jakarta menggabungkan unsur tata Cahaya redup, lanskap reruntuhan simbolik, serta komposisi bunyi atmosferik yang dibangun untuk menciptakan kesan mencekam sekaligus intim.


Pemeran tunggal Firly RJ mengaku proses pendalaman karakter menjadi tantangan terbesar dalam produksi ini. Ia harus membangun emosi panjang seorang Perempuan yang hidup di tengah kehilangan tanpa jatuh pada dramatisasi berlebihan. "Dr. Yumna bukan tokoh yang terus menangis. Justru dia bertahan. Ada rasa marah, takut, kosong, tapi juga ada harapan yang masih hidup," kata Firly. 


Ia mengatakan latihan monolog dilakukan dengan pendekatan psikologis dan observasi tubuh agar emosi tokoh terasa alami di atas panggung. "Kami banyak bermain dengan tatapan, napas, dan diam. Karena kadang penderitaan tidak selalu hadir lewat teriakan," ujarnya.


Perlu diketahui, Di Balik Langit Gaza sejatinya merupakan karya yang lahir dari Rahim Adara Relief International. Dalam Palestine Festival 2 yang digelar pada akhir Desember 2025, Adara telah menampilkan teater ini sebagai pertunjukan yang menggambarkan keteguhan rakyat Gaza di tengah genosida yang terus berlangsung, diselenggarakan di Teater Besar, Taman Ismail Marzuki (TIM), Menteng, Jakarta Pusat. Kala itu, pementasan dimainkan oleh para pemeran ternama Indonesia, yaitu David Chalik, Bella Fawzi, Robert Chaniago, Cholidi Asadil Alam, Nadya Angelina, dan para pemain cilik yakni Dzaky Ahmad, Kayla Syaufani dan Wini Wardhana, serta mendapat sambutan luar biasa dari publik. Kini, semangat karya tersebut berlanjut dalam babak baru — versi monolog Dr. Yumna yang digarap bersama Teater Jiwa Jakarta.


Ir. Maryam Rachmayani, Direktur Utama Adara Relief International, mengatakan pihaknya memiliki alasan kuat mendukung pementasan tersebut karena seni dinilai mampu menjangkau sisi emosional masyarakat yang sering kali tidak tersentuh oleh data dan pemberitaan.


"Selama ini publik melihat Gaza melalui angka korban dan potongan berita. Tetapi melalui teater, masyarakat diajak melihat sisi manusiawi dari tragedi itu — tentang ibu yang kehilangan anaknya, tentang tenaga medis yang tetap bertahan di tengah kehancuran, dan tentang harapan yang masih hidup meski dunia terasa runtuh," ujarnya.


Ia menilai Di Balik Langit Gaza mampu menerjemahkan isu kemanusiaan menjadi pengalaman emosional yang dekat dengan penonton. "Kami mendukung penuh pementasan ini karena seni memiliki kekuatan membangun empati. Ketika empati tumbuh, kesadaran kemanusiaan juga akan tumbuh. Dan itu yang hari ini sangat dibutuhkan," katanya. Menurutnya, kolaborasi dengan Teater Jiwa Jakarta juga menjadi bentuk dukungan terhadap ruang-ruang seni yang berani membawa isu kemanusiaan ke tengah publik.


Secara artistik, pertunjukan ini menampilkan visual panggung bernuansa gelap dengan dominasi warna hitam, merah, dan jingga menyerupai langit terbakar. Tata artistic dirancang untuk menghadirkan suasana kota yang nyaris kehilangan kehidupan.


Adipatilawe menyebut karya tersebut tidak dimaksudkan sebagai propaganda politik,melainkan upaya menghadirkan empati melalui seni pertunjukan. "Kami ingin penonton pulang bukan hanya mengingat cerita Gaza, tetapi juga mempertanyakan kembali rasa kemanusiaan dalam dirinya," kata dia.


Tur pementasan Di Balik Langit Gaza: Dr. Yumna akan dibuka di Kota Pahlawan Surabaya pada 4 Juli 2026 sebelum melanjutkan pertunjukan ke Palu, Jakarta, dan Solo.