Advertisement
![]() |
| Para penampil pantomime dalam Sowan (foto: Febriani Herda Lestari) |
Oleh: Febriani Herda Lestari, SS*
“Are mimes still a thing?”
Sebuah pertanyaan di thread forum situs Quora muncul di halaman pencarian saya ketika menelusuri profil Marcel Marceau. Thread tersebut diangkat sekitar enam tahun yang lalu dan mendapat respon yang tidak sedikit. Saya pikir, jika enam tahun yang lalu saja keberadaan mime sudah dipertanyakan, lalu apa kabar dengan existensinya hari ini, benarkah hanya tinggal jejak sejarah?
Tidak lama pertanyaan tersebut seperti menemukan jawabannya sendiri ketika saya menyaksikan pertunjukan Sowan yang digelar oleh Rumah Pantomim Yogyakarta pada 31 Januari 2026 di Auditorium IFI Yogyakarta. Acara diselenggarakan dalam dua sesi—sore dan malam—yang merupakan puncak dari rangkaian kegiatan workshop yang dilangsungkan sebelumnya selama tiga hari. Bagi saya, kata sowan yang digunakan sebagai tajuk acara terasa pas. Berasal dari bahasa Jawa, istilah ini merujuk pada aktivitas berkunjung sebagai bentuk penghormatan kepada yang disowani. Makna tersebut tidak berhenti sebagai penamaan semata, melainkan turut membangun atmosfer pertunjukan secara keseluruhan, menyerupai silaturahmi keluarga besar yang hangat dan akrab.
Sebanyak 15 performer terlibat, dengan pembagian enam performer tampil pada sesi sore dan sembilan pada sesi malam. Penampil sore terdiri dari Arief Wicaksono, Yuristavia, Dinda Afrilia, Doddy Micro, Jamaluddin Latif dan Enderiza. Sedangkan sesi malam menampilkan Aldo Adriansyah, Ghani FM, Wawan Bob, Krismantono, Kinanti Sekar, Tiaswening Maharsi, Andy SW, Asita Kaladewa dan Broto Wijayanto. Mekanisme pembagian waktu tampil tersebut tidak terbaca secara eksplisit; apakah berdasar pertimbangan tema—misalnya aspek child-friendly—atau semata-mata melalui pembagian acak. Pada awalnya, saya berasumsi bahwa sesi sore akan diisi oleh penampil dengan tema yang lebih ringan untuk dinikmati anak-anak. Namun, asumsi tersebut ternyata sedikit meleset.
Sesi Sore: Tawa Anak-Anak dan Kritik yang Menyelinap
![]() |
| Jamaluddin Latif membawakan nomor Berbusa (foto : dok RPY) |
Salah satu contoh yang menarik adalah penampilan Yuristavia pada sesi sore, dengan karya berjudul The Cook. Pertunjukan diawali dengan adegan seorang perempuan yang tampak sibuk memasak di depan kompor, sebuah gambaran domestik yang pada awalnya terasa jenaka. Namun, suasana tersebut berubah drastis, kelam dan mengerikan, ketika Via menyobek perutnya sendiri dan mengeluarkan ususnya sebagai bahan masakan. Adegan ini menghadirkan makna simbolik yang kuat mengenai pengorbanan seorang perempuan, yang secara metaforis memberikan “jeroannya” demi “hidangan” seluruh keluarga. Narasi tersebut sarat dengan nuansa kritik feminis terhadap peran domestik dan tuntutan pengorbanan yang dilekatkan pada tubuh perempuan.
![]() |
| Kinanti Sekar membawa pertunjukan berjudul (foto: dok. pribadi penulis) |
Nuansa serupa juga muncul dalam karya Jamaluddin Latif yang berjudul Berbusa. Secara permukaan, pertunjukan ini memancing tawa anak-anak melalui adegan seorang orator yang tenggelam dalam banjir ludahnya sendiri saat berpidato. Namun, jika ditelaah lebih jauh, karya ini menyimpan kritik politis yang cukup tajam terhadap praktik retorika dan kekuasaan. Berbeda dari mayoritas penampil yang menutupi wajah mereka dengan face painting putih, Jamal tampil semi-formal tanpa riasan wajah, mengenakan kemeja putih, celana hitam, serta sepatu pantofel. Pilihan visual ini secara tidak langsung memperkuat figur performatif yang merepresentasikan sosok publik yang “resmi”, sekaligus membuka ruang pembacaan politis terhadap karya tersebut.
Adegan pertunjukan menggambarkan seorang tokoh yang sedang berpidato. Pada awalnya, berlangsung lancar dan meyakinkan. Namun, seiring berjalannya waktu, tokoh tersebut mulai tampak gelisah, kerap menoleh ke belakang untuk mengelap mulutnya yang perlahan dipenuhi busa. Semakin banyak kata yang diucapkan, semakin melimpah pula busa yang keluar, hingga pada akhirnya ia tenggelam dalam banjir ludahnya. Metafora ini menghadirkan kritik yang tajam terhadap figur politisi yang gemar berbicara dan menjanjikan banyak hal, tetapi justru tergulung oleh kata-katanya sendiri.
Terdapat momen yang terasa menggelikan sekaligus ironis ketika, dalam kondisi sudah tenggelam pun, tokoh tersebut masih berupaya mengelap mulutnya—sebuah gestur repetitif yang menyerupai kebiasaan politisi “lempar batu sembunyi tangan”. Ia berusaha menghapus jejak ucapannya sendiri, meninggalkan janji-janji manis yang telah diucapkan setelah kekuasaan sudah dalam genggaman. Karya Jamal menjadi menarik karena relevansinya dengan kondisi sosial-politik akhir-akhir ini. Terlepas dari apakah kritik tersebut memang disengaja atau sekadar kebetulan, pertunjukan ini dapat dibaca paralel dengan situasi sebuah negara yang belakangan dilanda bencana banjir besar akibat kebijakan pemerintah yang tidak ramah lingkungan. Dalam konteks tersebut, adegan “mengelap mulut” dapat dimaknai sebagai metafora atas sikap pemerintah yang saling melepaskan tanggung jawab ketika bencana terjadi, berlagak tidak tahu menahu dan justru datang sebagai pahlawan kesiangan.
Selain dua performance di atas, tema yang diusung pada sesi sore lainnya menurut saya cukup mudah dipahami penonton anak-anak. Salah satunya adalah karya Doddy Micro berjudul Tak Ada Telur Ayam Pun Jadi, yang mengisahkan upaya Doddy memburu ayam untuk dijadikan menu santapan. Dengan gestur yang lincah, ritme komedi cepat serta narasi cerita yang jelas, menghasilkan formula tepat untuk memancing gelak penonton, khususnya anak-anak. Formula yang hampir sama juga diterapkan Arief Wicaksono pada karya Mobil Balap, Dinda Afrilia dengan Ngejar apa sih? dan Dokter Jiwa karya Enderiza. Penampilan mereka sekaligus menegaskan bahwa pantomim mampu menjangkau penonton anak-anak tanpa harus selalu dibebani lapisan makna yang kompleks.
Sesi Malam: Penonton Penuh, Intensitas Bertambah
![]() |
| Asita Kaladewa membawakan pentas berjudul Life is Short (dok. pribadi penulis) |
Pada sesi malam, penonton yang hadir jauh lebih banyak—dewasa, anak-anak, hingga beberapa penonton mancanegara. Jumlahnya bahkan meluber hingga ke area depan panggung. Karena merupakan pertunjukan berbayar, para penonton yang hadir memang datang dengan intensi menonton secara utuh, bukan sekadar singgah sebentar lalu melipir menikmati kuliner. Pengalaman menonton seperti ini jadi terasa lebih fokus dan intens, baik bagi penampil maupun penonton.
Seperti yang sudah saya tuliskan sebelumnya, sesi malam ini menampilkan sembilan performer. Salah satunya adalah Kinanti Sekar Rahina yang membawakan karya berjudul Setitik, yang berkisah tentang seorang perempuan menikmati rintik hujan di bawah naungan payungnya. Hal yang menarik, Kinanti tidak hanya tampil di atas panggung, tetapi pada awal performance-nya langsung masuk ke tengah penonton, berinteraksi secara langsung dengan mengajak penonton turut “merasakan” tetesan hujan. Tema yang diusung sebenarnya sangat sederhana, namun justru kesederhanaan inilah yang menghadirkan momen emosional yang kuat. Seketika saya merasa haru biru—entah karena perpaduan bunyi hujan, musik melankolis, dan gerak tubuh Kinanti yang begitu anggun. Seolah menarik kembali ke alam sadar tentang sisi kemurnian seorang manusia yang mengagumi alam layaknya anak-anak yang terpesona pada tiap tetes air, sisi yang “dipaksa” pudar karena hentakan realita hidup berlabel “menjadi dewasa”.
Namun, rasa haru tersebut saya akui mungkin juga muncul karena saya tahu bahwa Kinanti Sekar adalah putri almarhum Jemek Supardi, sosok maestro pantomim sekaligus “Bapak” bagi para pantomimer yang tampil malam itu.. Ada kemungkinan emosi itu terbentuk dari pembacaan simbolik: kerinduan seorang anak kepada ayahnya, yang dihadirkan melalui metafora hujan malam itu. Meski hanya “setitik”, kehadirannya cukup untuk membawa kebahagiaan, meluapkan kerinduannya. Dalam konteks ini, penampilan Kinanti seperti sebuah tribute—penanda bahwa warisan artistik Sang Ayah tidak berhenti bersama kepergiannya, melainkan terus dilanggengkan murid-muridnya.
Beberapa karya mime kontemporer yang ditampilkan pada malam itu tidak sepenuhnya dapat saya pahami secara naratif. Namun, hal ini tidak serta-merta menghilangkan kenikmatan saya menonton. Tubuh tetap berbicara, bahkan ketika makna tidak sepenuhnya tertangkap logika. Pengalaman ini saya rasakan pada penampilan Asita Kaladewa melalui karya Life Is Short. Tanpa panduan judul, barangkali saya akan kesulitan membaca apa yang hendak direpresentasikan Asita. Meski demikian, detail dan harmonisasi geraknya sangat memikat, menunjukkan kematangan gerak yang lahir dari jam terbang panjang Asita di dunia mime. Penampilannya membuka pengalaman sensori dan emosional saya: rasa hening, berlanjut dengan perasaan terangkat dan dorongan untuk embrace keindahan dunia yang “mendesak” untuk segera dinikmati dengan kesadaran penuh, karena cepatnya langkah Asita seakan tidak memberi ruang untuk menoleh ke belakang, melihat kembali apa yang telah kita lewatkan, selayaknya waktu hidup yang tidak bisa diputar kembali.
![]() |
| Andy SW dengan pertunjukan berjudul Berebut Keadilan |
Pendekatan serupa, meski dengan nuansa berbeda, saya temui pada penampilan Andy SW melalui karya Berebut Keadilan. Penampilannya dimulai dari kursi penonton, dengan gumaman nyanyian pelan dan interaksi singkat yang sempat mengundang tawa. Namun ketika Andy bergerak menuju area panggung, suasana berubah menjadi lebih tegang. Ia mengeluarkan suara menyerupai erangan kucing dalam posisi menerkam, menghadirkan atmosfer agresi yang kuat. Sekali lagi, saya tidak sepenuhnya menangkap detail representasi dari judul yang diusung, tetapi emosi kemarahan dapat saya rasakan dengan jelas melalui intensitas suara, ekspresi wajah serta tubuhnya. Penampilan unik ini ditutup dengan kembalinya Andy ke kursi penonton.
Berkaitan dengan dua penampilan diatas, dalam konteks mime kontemporer, fokus praktiknya memang telah bergeser dari sekadar menirukan aksi keseharian, menuju bentuk seni yang lebih abstrak, ekspresif, dan konseptual. Gerak tidak lagi berfungsi sebagai penjelas cerita, melainkan sebagai bahasa itu sendiri. Abstraksi dan simbolisme menjadi perangkat utama, membebaskan penonton untuk menafsirkan makna secara personal, atau bahkan menikmati keindahan dan presisi gerak tanpa harus memaksakan pemahaman naratif.
Broto Wijayanto mengakhiri rangkaian pertunjukan sebagai penampil terakhir dengan karya Bebek-Bebekku. Penampilan yang seolah—atau memang—tanpa persiapan ini bersifat interaktif yang melibatkan seluruh penonton sebagai pengisi suara bebek-bebek ternak. Melalui kode genggaman tangan Broto, ia mengarahkan kapan penonton harus bersuara dan kapan harus berhenti. Pergeseran posisi penonton dari sekedar menyaksikan menjadi kontributor dalam berlangsungnya pertunjukan mengingatkan saya akan teori spect-actor Augusto Boal. Tentu saja saya tidak membaca karya ini sebagai praktik teater partisipatoris yang kompleks, tetapi sebagai bentuk ajakan bermain bersama yang sederhana. Dalam “Bebek-Bebekku”, keterlibatan penonton memang hanya bersuara “kwek kwek kwek” saat diberi kode. Namun justru di situlah letak relevansinya: suara penonton menjadi unsur esensial, yang membuat struktur pertunjukan berjalan, bukan hanya pelengkap. Pola interaksi sederhana ini berhasil membangun suasana yang riang, penuh tawa, sekaligus menutup pertunjukan dengan energi kolektif yang hangat.
Sesi malam turut menampilkan Aldo Adriansyah dengan karya Marry Me 1899, Ghani FM melalui Wahana Meja Makan, Krismantono dengan Bisa Jadi, Wawan Bob dengan karya Miyos, serta Tiaswening Maharsi lewat karya berjudul sangat panjang Suatu Hari Kutemukan Nama Kecilmu di Surat Kabar yang Disembunyikan Pustakawan Kota yang Tidak Pernah Tersenyum Kecuali di Hari Sabtu. Mereka hadir dengan karakter dan pendekatan masing-masing, memperlihatkan bagaimana mime dapat dibawakan melalui spektrum yang sangat beragam—dari gestur yang cenderung naratif hingga olahan tubuh yang lebih subtil dan reflektif. Kehadiran mereka memperlihatkan betapa beragamnya bentuk mime, sebagai praktik seni yang cair dan terus berkembang sesuai karakter masing-masing penampil.
Tanya Jawab dan Kerja Panjang Ekosistem
Seluruh rangkaian pertunjukan diakhiri dengan sesi tanya jawab dengan menghadirkan seluruh penampil ke atas panggung. Sesi ini berlangsung santai, akrab, penuh canda, meskipun hanya para pembina RPY—Broto Wijayanto dan Jamaluddin Latif—yang merespon pertanyaan dan apresiasi penonton. Dalam sesi ini pula disampaikan sebuah kabar penting: Rumah Pantomim Yogyakarta telah resmi menjadi yayasan berbadan hukum. Sebuah pencapaian yang patut diapresiasi, sekaligus—seperti disampaikan dengan nada berseloroh oleh Broto Wijayanto—akan menambah “pekerjaan rumah” bagi mereka sebagai komunitas, karena tentu saja kerepotan yang mereka emban sekarang jauh lebih banyak.
Salah satu pertanyaan menarik datang dari penonton yang kebetulan berasal dari luar kota, berkaitan dengan bagaimana Yogyakarta mampu membangun ekosistem yang mendukung para pantomimer agar bisa terus istiqomah berkarya di jalurnya. Pertanyaan ini seolah menegaskan bahwa pertunjukan malam itu tidak hanya dilihat sebagai peristiwa artistik, tetapi juga sebagai bagian dari proses panjang membangun ruang hidup bagi seni pantomim. Diakui oleh Jamaluddin Latif, membangun ekosistem berkesenian pantomim bukanlah perkara mudah, bahkan untuk Yogyakarta yang notabene kota budaya. Ia harus rajin “menggedor” dinas pendidikan pemerintahan untuk mengingatkan bahwa terdapat banyak pantomimer yang kompeten dan layak dilibatkan sebagai juri dalam ajang lomba antarsekolah seperti FLS3N. Selain itu, Jamal bersama rekan-rekannya juga aktif menawarkan kerja sama ke sekolah-sekolah untuk membuka kegiatan ekstrakurikuler pantomim—bidang yang selama ini kerap dianaktirikan dibanding cabang seni lainnya. Keberadaan ekskul ini dinilai penting, mengingat kemampuan berpantomim hampir mustahil dikuasai secara matang hanya melalui latihan singkat menjelang lomba. Berbagai upaya tersebut tidak semata ditujukan untuk regenerasi, tetapi juga membuka jalan berkelanjutan bagi para pantomimer agar dapat memperoleh penghidupan dari bidang seni yang mereka cintai.
Catatan Penyelenggaraan: Disiplin Waktu dan Etika Menonton
Sehubungan dengan penyelenggaraan acara hari itu, tidak banyak kritik yang bisa saya sampaikan, namun sebagai orang yang terbiasa tepat waktu, keterlambatan bisa sangat mengganggu. Hal ini terjadi pada sesi sore, yang dijadwalkan berlangsung pukul 15.00, namun hingga lebih dari 15 menit pintu auditorium terlihat masih tertutup bagi penonton, hingga penonton menumpuk di area depan. Mungkin tidak begitu masalah jika tersedia fasilitas duduk yang memadai, tetapi pada kenyataannya hanya terdapat beberapa kursi, sehingga sebagian besar penonton terpaksa menunggu sambil berdiri. Pertunjukan pertama dari Arief Wicaksono yang berjudul “Mobil Balap” pun baru dimulai sekitar pukul 15.45.
Artikel Terkait:
Dari sisi kenyamanan menonton juga terdapat sedikit distraksi akibat beberapa kali penonton yg baru datang dibiarkan masuk saat pertunjukan masih berlangsung. Jika hal ini saja sudah mengganggu konsentrasi penonton, dampaknya tentu bisa lebih besar bagi para penampil. Sebenarnya pihak panitia sempat mengingatkan bahwa penonton diperkenankan keluar atau masuk ruang hanya saat jeda antar penampil. Namun pada prakteknya, saya lihat masih ada beberapa kali penonton dibiarkan masuk saat pertunjukan sedang berjalan, entah karena kurangnya koordinasi dengan petugas pintu masuk atau faktor teknis lainnya.
Sejak awal acara, panitia juga telah mengumumkan peraturan agar penonton tidak melakukan hal-hal yang dapat menimbulkan gangguan atau ketidaknyamanan pengunjung lain. Namun, entah karena terbawa suasana yang terlalu akrab, pada beberapa momen justru panitia sendiri—yang sebagian juga berperan sebagai penampil—terlihat melanggar batas tersebut dengan meneriakkan candaan atau celetukan ke arah panggung pada saat penampilan sedang berlangsung. Situasi ini terasa cukup mendistraksi, khususnya pada penampilan Wawan Bob yang membawakan karya Miyos, sebuah pertunjukan bertema serius tentang siklus kehidupan manusia. Wawan tampil dengan persiapan visual yang terbilang effort dibanding penampil lain: mengenakan celana boxer merah, tubuhnya dilapisi body painting putih full seluruh tubuh, serta dibalut kain putih yang tergulung-gulung, yang saya baca sebagai simbol dinding rahim seorang ibu. Penampilan yang semestinya jauh dari nuansa komedi dan berpotensi menghadirkan pengalaman menyentuh ini menjadi kehilangan momentum emosionalnya akibat seloroh, tawa, dan celetukan spontan dari penampil lain.
![]() |
| Wawan Bob membawakan pertunjukan berjudul Miyos (foto: Dok. Pribadi penulis) |
Ke depannya panitia kiranya perlu menyepakati dan menegakkan batas yang lebih tegas antara suasana santai dan disiplin menonton, terutama dalam konteks pertunjukan dengan tema-tema serius. Candaan spontan yang mungkin dimaksudkan untuk mencairkan suasana sebaiknya dibatasi dan ditempatkan pada ruang atau momen yang tepat. Dengan demikian, setiap karya dapat memperoleh ruang presentasi yang adil dan utuh.
Sedikit catatan di atas tidak dimaksudkan sebagai sekedar formalitas, melainkan sebagai masukan yang patut ditindaklanjuti demi meningkatkan kenyamanan penonton maupun penampil pada penyelenggaraan berikutnya. Terlebih Sowan telah diposisikan sebagai agenda tahunan, maka standar penyelenggaraan kedepannya seharusnya bergerak maju, bukan stagnan di pola yang sama. Apresiasi tentu layak diberikan kepada para penggiat seni pantomim yang, di tengah kondisi zaman yang semakin tidak ramah bagi kerja-kerja kebudayaan, masih bersikeras bertahan dan saling menopang.
Upaya pelestarian dan regenerasi terus diusahakan dengan kesungguhan, disertai keberanian untuk berprogres dan beradaptasi, tanpa melepaskan kecintaan pada medium seni yang diperjuangkan. Dengan demikian, pertanyaan yang saya temukan di Quora tentang apakah mime “masih ada”, telah menemukan jawabannya di sini. Rumah Pantomim Yogyakarta diharapkan hadir bukan sekadar sebagai penyedia ruang, melainkan sebagai rumah yang merawat keberlanjutan praktik mime—membuktikan bahwa mime bukan hanya masih ada, tetapi terus dihidupi bersama.
*Penulis adalah penerjemah dan penulis yang aktif berkolaborasi dalam DuaKomaLab.










