Advertisement
![]() |
| Desain panggung pertunjukan di Emprit on Stage (foto: Jamaluddin Latif) |
Oleh: Jamaluddin Latif*
Catatan dan Ulasan atas pertunjukan Meja Nomor 30
Di penghujung akhir tahun kemarin, saya mendapat kesempatan menyaksikan sebuah pertunjukan yang menarik, manis dan masih terngiang sampai sekarang. Ketertarikan saya pada karya ini muncul saat menyaksikan pementasan yang digelar pada Senin 29 Desember 2025 dalam rangkaian acara 25 tahun Emprit Set Panggung di gedung arena tertutup Dwarawati SMKI Yogyakarta. Pertunjukan ini sungguh memberikan kejutan yang melampaui ekspektasi saya.
Pameran Set Artistik sebagai Pembuka Ingatan
Sebelum pertunjukan dimulai saya mendapatkan pengalaman tak terduga, yaitu menikmati pameran visual set artistik koleksi Emprit Set Panggung yang di display hampir separuh gedung. Set-set artistik, properti, kostum, kertas-kertas bergambar scenography, serta dokumentasi foto dari berbagai produksi di masa lalu, dihadirkan kembali layaknya sebuah pameran seni rupa. Artefak-artefak panggung yang dihadirkan ini telah memantik kembali nostalgia sekaligus menyadarkan saya—sebagai aktor—betapa rapuhnya ingatan teater jika tak ada tata kelola pengarsipan material. Namun menurut saya, pameran ini akan tertata lebih baik jika disertakan lebih lengkap katalog berisi data informasi dari masing-masing artefak tersebut—judul, tahun produksi, lokasi pertunjukan, dll—sehingga penonton bisa mengingat kembali kenangan-kenangannya.
Pameran artefak-artefak panggung ini juga mengingatkan saya pada satu pameran “Das szenische Auge; Mata Panggung”, kerjasama Goethe Institut dengan Teater Garasi, dan mitra lainnya yang di gelar di Taman Budaya Yogyakarta pada 2005. Dalam pemeran ini, set artistik panggung atau schenography diposisikan sebagai karya otonom, terlepas dari peristiwa panggungnya, bisa dengan judul baru atau tetap dengan judul aslinya. Meskipun bukan hal baru, tapi upaya Emprit Set Panggung dengan menggelar pameran koleksi karyanya ini merupakan satu hal yang jarang dilakukan di dunia panggung teater Indonesia selama ini, mengingat kompleksitas pengarsipan material panggung yang besar, mahal, dan sering dianggap tidak praktis. Pilihan ini patut diapresiasi.
Transformasi Pameran menjadi Panggung
Selanjutnya langkah saya mengarah pada area panggung. Terlihat tidak ada pemisahan yang tegas antara ruang pamer dan ruang pentas. Seorang stage manager dan beberapa kru masuk panggung—dengan kostum seragam panitia—menata ulang artefak-artefak pameran tersebut menjadi sebuah set ruang kafe. Ada satu set meja bundar dengan dua kursi di bagian belakang lalu set ruang bar lengkap dengan meja panjang beserta dua kursi bar dan level lingkaran di area belakang. Transformasi ini secara sengaja dipertontonkan tanpa ada perubahan tata cahaya; seperti menegaskan kesadaran meta teatrikal sejak awal.
Seorang figur menyerupai dalang masuk sebagai pembuka pertunjukan dan menyampaikan ringkasan kisah Ramayana kepada tiga anak-anak kecil berpakaian kasual modern. Kemudian anak-anak ini menarikan sebuah tarian dengan ragam gerak tari Jawa yang sudah sangat familiar dan ditempatkan dalam konteks visual cafe modern. Sebuah kontras yang menarik antara kisah klasik dan tarian klasik dipadukan dengan visual kostum kasual berlatar ruang kafe urban modern menjadi penanda awal bahwa pertunjukan ini akan bermain di wilayah antara ingatan budaya, keseharian dan juga tafsir ulang.
Drama Percakapan di Meja Nomor 30
Tata cahaya sedikit berubah fokus khusus pada tiga titik set artistik tadi, menjadi penanda penegasan ruang dan masuknya tokoh Oren (Kukuh Riyadi) sebagai pelayan kafe sekaligus MC yang membawa penonton pada lapisan narasi berikutnya. Tiba-tiba seorang perempuan muda (Tirza Ong) bergaya kasual dan feminin—mengenakan gaun mini model tiered skirt dengan lengan panjang bermotif bunga dan bersepatu bot putih pendek—muncul tergesa dari sisi kiri panggung, menginterupsi MC, melayangkan perintah berupa intruksi pendek selayaknya "kata kunci" dan "gelas", menciptakan nuansa misteri; adakah sebuah rencana, siasat, atau sekedar permainan kuasa?
Laki-laki muda yang lain (Lucky Wisnu) berdandan kasual—rompi dan celana hitam bersepatu platform chunky—masuk membersamai perempuan muda tadi di Meja Nomer 30. Lalu dengan segala percakapannya menjadi pusat dan inti pertunjukan. Menariknya, kedua pemeran ini berlatar belakang sebagai penari, namun mampu menghadirkan permainan akting yang intim sekaligus meyakinkan. Dialog berjalan dengan lancar dalam gaya realis—seperti di film-film—yang nyaris hiperrealis; lirih, terputus-putus, kadang banal, namun nampak ketegangan emosional. Konflik terlihat sengaja tidak dibangun melalui peristiwa besar melainkan melalui bahasa, jeda, ingatan dan ketidakmampuan berkomunikasi secara tuntas, khas gaya anak muda kekinian. Sayangnya mereka terbelenggu dalam bingkai realis, sehingga "lirih" itu memang terdengar lirih dalam arti sesungguhnya, tak terdengar oleh telinga penonton. Meskipun menggunakan clip-on tapi tidak cukup membantu. Ini persoalan basic yang sering dihadapi aktor-aktor baru dalam pengolahan proyeksi vokal dalam orientasi ruang baru, yaitu hadirnya ruang panggung dan ruang penonton. Di luar hal tersebut, keberanian dan upaya pemeran yang berlatar penari ini patut mendapat apresiasi tinggi.
Namun pertunjukan ini—secara dramaturgis—juga tidak sepenuhnya berada dalam koridor teater realis. Struktur waktu juga terasa lentur, ruang bercampur antara nyata–ingatan–fantasi–pementasan, tokoh-tokohnya tidak mengalami perkembangan karakter; tidak "belajar" lalu berubah. Tidak menghadirkan dan mengejar empati lurus ke penonton serta mengejar resolusi emosinal yang final sebagaimana yang sering ada dalam teater gaya melodrama klasik. Pertunjukan ini lebih mendekati genre drama psikologis-relasional-kontemporer.
Tubuh sebagai Subteks: Tari dalam Drama
Terlebih lagi, pada pertengahan cerita muncul tarian kontemporer oleh dua penari, laki-laki (Widi Pramono) dan perempuan (maaf, saya tidak tahu namanya), yang cukup memperluas lapisan makna. Tarian yang dihadirkan ini, seperti manisfestasi batin Biru dan Merah—subteks visual atas percakapan yang terucap. Gerakan-gerakan yang menyiratkan kegelisahan, panik, ketidakpastian, pertanyaan-pertanyan atas relasi keduanya, tidak tenang, bimbang, ragu ragu tapi juga flamboyan—meskipun tidak eksplisit—seperti representasi karakter tokoh Biru dan merah. Pilihan ini menjadi sangat menarik, memberikan kesan kuat sebagai bentuk estetik pertunjukan dance-theater.
Grini: Cermin dan Gangguan
Tokoh Grini (Khoirunna Aisya Balqis, juga berlatar belakang penari) hadir sebagai lapisan narasi baru. Ia adalah penari perempuan di kafe tersebut, pelaku arus zaman, tubuh yang akrab degan dunia media sosial, centang biru dan relasi asmara yang serba singkat. Ia tampil slengekan, ringan dan jenaka dan mampu mengimbangi permainan Kukuh Riyadi yang sudah berpengalaman sebagai aktor panggung dan film. Melalui teks dialog, tarian serta permainan properti gelas, menyampaikan sebuah pernyataan-pernyataan refleksi eksistensial atas arti kesendirian, tubuh perempuan "sekedar" sebagai tempat pelarian laki-laki. Relasi yang terus berulang: ditebas, ditinggalkan, lalu didatangi kembali.
Gelas kaca—sebagai properti—dimaknai ulang melalui koreografi tari yang puitik dan eksistensialis; bibir gelas, tempat bertemunya bibir satu dengan bibir yang lainnya, lalu bibir itu dibersihkan dan diganti bibir-bibir yang lainnya dan pada akhirnya gelas itu tetap "sendiri dan kosong". Pernyataan yang memantul pada tokoh Biru dan Merah. Grini seolah seperti bayangan, alternatif, juga cermin dari sesuatu yang belum selesai di antara mereka.
Ramayana sebagai Benang Merah yang Terlewat
![]() |
| Pertunjukan Meja Nomor 30 |
Ada satu momen paling kuat sekaligus singkat namun tak kalah penting, yaitu percakapan Biru dan Merah tentang kisah Ramayana—tentang Rahwana, Sita, dan Rama. Menafsir ulang arti kesetiaan Rahwana dan ketidakmampuan Rama menerima Sita apa adanya. Momen ini terasa sebagai pernyataan idiologis dari pertunjukan ini, sayangnya kurang di ekplorasi lebih dalam, padahal memiliki potensi kunci atas tafsir dan pembacaan ulang relasi kuasa, cinta dan kekerasan yang bisa dihadirkan.
Pertunjukan Meja Nomer 30 ini memberikan tawaran baru secara konsep dan implementasinya; berani bermain di wilayah intim, simbolik, dan fragmentaris. Ia tidak menawarkan jawaban, melainkan pengalaman: tentang cinta, tubuh, trauma, dan pengulangan. Dengan kekuatan visual, akting yang mengejutkan, serta keberanian menggabungkan teater dan tari, pertunjukan ini meninggalkan kesan mendalam—meski di beberapa titik terasa menyimpan potensi yang belum sepenuhnya digali. Potensi-potensi yang bisa dikuatkan lagi dari sisi akting, tata cahaya, ekplorasi pemaknaan ulang atas kisah Ramayana melalui teks naskah yang lebih mendalam dan bisa memberikan peluang menjadi tontonan yang tidak hanya keren tapi juga spektakuler.
*Penulis adalah aktor dan penonton pertunjukan. Aktif di DuaKomaLab.










