Tradisi Kuliner yang Tereduksi dalam Indomiii Rasa Rendang: Sambil Menyelam Minum Plastik -->
close
Pojok Seni
04 September 2025, 9/04/2025 04:15:00 PM WIB
Terbaru 2025-09-12T16:30:38Z
BeritaSeniUlasan

Tradisi Kuliner yang Tereduksi dalam Indomiii Rasa Rendang: Sambil Menyelam Minum Plastik

Advertisement
indomi rasa rendang
Pertunjukan Indomiii Rasa Rendang: Sambil Menyelam Minum Plastik (foto: Mancogu)


Oleh: Adhyra Irianto


Ketika tahun 2011, Rendang dinobatkan sebagai makanan terenak di dunia (versi CNN), maka saat itu juga Rendang berada dalam masalah. Rendang dengan sejumlah nilai historis di dalamnya, tereduksi menjadi "rasa rendang" yang bisa Anda nikmati lewat mie instan. Dulunya, rendang didesain menjadi makanan yang tahan lama, karena akan dibawa oleh seorang perantau dalam perjalanan yang sangat jauh. Maka sekarang, perantau hanya perlu membawa mie instan rasa rendang. Rendang menuju mie instan, adalah proses transformasi dari sebuah kompleksitas rasa menjadi "hanya" sensasi rasa di lidah. Maka, 10 atau 20 tahun lagi, siapa yang akan peduli dengan teknik memasak rendang, bila teknik memasaknya bisa direduksi dengan hanya merebus mie instan dan menabur bumbu bubuk di atasnya?


Kegelisahan itu yang coba diangkat oleh Komunitas Seni Nan Tumpah dalam pertunjukan berjudul Indomiii Rasa Rendang/Sambil Menyelam Minum Plastik karya/sutradara Mahatma Muhammad. Pentas ini menjadi salah satu pentas pembuka gelaran Pekan Nan Tumpah 2025 yang baru saja selesai tanggal 30 Agustus 2025 lalu. Dari judulnya, kita bisa melihat ada dua layer premis; indomiii rasa rendang dan sambil menyelam meminum plastik.


Saat lighting kemerahan menyinari panggung, maka terlihatlah bahwa nyaris semua sudut lantai panggung sudah dipenuhi dengan kantong kresek ukuran kecil dengan berbagai warna. Hingga seorang ibu dengan pakaian serba putih masuk, dan "memasak" secara simbolis. Sampai kemudian, masuk seorang yang mirip seperti penjaja barang keliling, membawa megaphone, dan mengintervensi ibu yang sedang memasak. Entah memasukkan keringat dari ketiak, mengaduk dengan kaki, dan sebagainya dilakukan pembawa megaphone itu. Ia melanjutkan dengan "mempreteli" tubuh ibu itu satu persatu, mulai dari betis, paha, lengan, kaki, dan menyebut satu persatu sebagai bahan makanan degan satir. Dendeng trauma, rendang distopia, dan banyak lagi permainan semantik yang nakal, disebut oleh perempuan ber-megaphone itu.


Pertunjukan Indomiii Rasa Rendang: Sambil Menyelam Meminum Plastik oleh Komunitas Seni Nan Tumpah (Foto: Mancogu)

Sejumlah tokoh masuk beramai-ramai, dengan pakaian penuh warna-warni, simbol modernitas dunia. Beberapa lain masuk sebagai influencer, pengantar makanan online yang menggunakan kaos dengan QRIS ukuran besar, seorang necis dengan jas, sampai Luffy dari One Piece pun ikut serta masuk dan membentur-benturkan nilai-nilai tradisi dengan modernitas. Bahwa tradisi yang merupakan identitas, hanya sekedar tempelan dengan label "melestarikan budaya" yang hanya terkesan seremonial.


Ibu yang terdiam, dipreteli dengan brutal, lalu diejek "rasa aslinya" adalah kenyataan hari ini yang coba ditampilkan secara simbolik oleh pertunjukan itu. Tradisi, alam, adat istiadat, budaya, dan hal-hal lain yang dianggap "ibu", hanya bisa terdiam kaku ketika seluruh tubuhnya dipreteli, yang  dinarasikan sebagai "pelestarian". 


Adegan ketika seorang "ibu" berbicara dengan anak-anaknya, maka dihadirkan pula pesan-pesan secara verbal, merujuk pada kerusakan alam akibat sampah plastik. Sampah plastik yang tak terurai selama ribuan tahun itu, sudah memenuhi tanah. "Saya sudah menggali-gali, namun yang saya temukan hanya plastik, bu."


Pesan berikutnya, yang juga secara verbal disampaikan adalah; sampah plastik itu datang dari kemasan-kemasan makanan instan dan minuman. Minuman misalnya, air mineral yang merupakan kekayaan dari alam, namun dikuasai orang tertentu untuk dijual dalam kemasan. "Air yang lahir dari tubuhku, dikemas lalu dijual oleh mereka."


Tentu saja, sama dengan mie instan yang mereduksi tradisi kuliner berumur ratusan tahun menjadi sekedar rasa di lidah. Tidak hanya tradisi yang direduksi, tapi juga alam yang dipenuhi sampah plastik. Panggung dipenuhi plastik, menjadi simbol paling kuat untuk menggambarkan bahwa di bawah tanah, sungai, laut, dan belakang rumah kita, semuanya sudah menjadi tumpukan plastik yang tak akan terurai dalam waktu yang sebentar. Sedangkan generasi saat ini, justru mencintai ke-instan-an itu, dengan menghabiskan waktu di media sosial, live streaming, dan lebih sulit untuk bergerak karena memesan makanan via daring.