Bersenang-senang dengan Seni Setelah Auschhwitz adalah Barbar, Kata Adorno -->
close
Adhyra Irianto
03 January 2023, 1/03/2023 01:01:00 AM WIB
Terbaru 2023-01-02T18:01:19Z
ArtikelEstetika

Bersenang-senang dengan Seni Setelah Auschhwitz adalah Barbar, Kata Adorno

Advertisement
Theodore Adorno
Theodore Adorno

Pojok Seni - Kamp Auschwitz di Polandia dibangun pada tahun 1940 oleh tentara Jerman, tentunya atas perintah Adolf Hitler. Kamp ini menjadi saksi aksi genosida yang dilakukan Nazi terhadap jutaan orang yang terdiri dari kaum Yahudi, Romawi, seniman, akademisi, komunis, orang cacat, dan lain-lain. Peringatan kejadian mengerikan ini digelar setiap tahun pada bulan Januari. Yah, di bulan ini sekitar 8 dekade lalu, peristiwa mengerikan itu terjadi.


Ketika kejadian itu terjadi, Theodor Ludwig Wiesengrund Adorno (1903 - 1969) sedang berada di masa emasnya sebagai komposer, filsuf, musikolog, dan sosiolog. Ia adalah seorang berkebangsaan jerman yang mewarisi tradisi Yahudi dari ayahnya. Ia tinggal di Amerika Serikat ketika kejadian berdarah di Kamp Auschwitz terjadi, dan baru kembali ketika perang dunia telah terjadi.


Adorno dengan tegas menyatakan bahwa kondisi manusia hari ini merupakan kondisi yang memprihatinkan. Terutama ketika budaya pop masuk dan menggeser proses seni yang awalnya ditujukan untuk mencapai "bentuk manusiawi yang sejati", menjadi "seni rendah" yang hanya ditujukan untuk konsumerisme. Hal ini yang menurut Adorno sebagai "barbarisme baru" yang menenggelamkan manusia dalam sebuah seni yang semu berbingkai "industri budaya".


Salah satu pernyataannya yang terkenal dikutip dari surat yang ditulisnya pada sahabatnya, Max Horkheimer, "menulis puisi setelah Auschwitz adalah barbar". Maksudnya, bersenang-senang dalam seni "menyenangkan" adalah sebuah tindakan barbar, apalagi setelah kejadian Auschwitz, di mana puluhan ribu seniman meninggal menggenaskan di kejadian berdarah tersebut.


Seni adalah Antitesis dari Masyarakat


Theodore Adorno


Seni menurut Adorno, adalah antitesis dari masyarakat. Karena itu, kedalaman dari suatu karya seni, untuk menyentuh perasaan manusiawi, serta membebaskan diri dari komodifikasi seni. Sangat tidak terbayang oleh Adorno, ketika seni justru dijadikan "alat penghibur masyarakat" tanpa kedalaman. Lebih parah lagi, seni dijadikan komoditas bisnis untuk "mendukung ekonomi kreatif" alias memperkaya suatu negara. 


Saat genosida terjadi di Auschwitz, Adorno bersama Max Horkheimer menulis buku berjudul Dialectic of Enlightenment (Dialektika Pencerahan) yang berisi penolakannya terhadap kebudayaan pop. Bagaimana seni dan estetika seharusnya? Adorno berkata bahwa seni yang digunakan sebagai alat untuk mencapai suatu tujuan non artistik bukanlah seni, tapi harus dipandang sebagai sesuatu yang bukan seni. Adorno juga menjadi seorang yang dengan tegas menyatakan bahwa seni pun tidak punya tugas untuk meneruskan "tugas agama", karena seni mesti membuka perhatian pemirsanya pada keputusasaan dunia, dan kritik negatif dari seni akan terus mempertahankan dialektika antara manusia dengan dunia, atau dengan dirinya sendiri.


Negativitas seni akan tetap mempertahankan karya seni dan lingkungan sekitarnya. Keindahan yang dibangkitkan oleh seni, adalah keindahan yang berada jauh di dalam sanubari manusia. Dan hanya ada satu cara untuk mencapainya, yakni dengan membuat sebuah negasi keindahan, yang setia pada kritik. 


Selain Dialectic of Enlightment, satu lagi buku yang menjadi magnum opus dari seorang Theodore Adorno adalah Aesthetic Theory (Teori Estetika). Berbeda dengan buku "tebal" pada umumnya, Aesthetic Theory tidak memilih bab-bab, apalagi sub-bab di dalamnya. Bahkan, tidak punya alinea dan paragraf. Anda juga akan "disiksa" dengan tumpukan metafora sinisme, dan tulisan yang tidak sistematis. Kenapa bisa seperti itu? Itu adalah penolakan Adorno pada rasio, sistematika, dan pengklasifikasian pada seni. Rasio, sistematika, dan pengklasifikasian, menurut Adorno, hanya satu cara untuk menjerumuskan manusia modern ke tempat di mana "otak kehilangan intuisi", "imajinasi", dan terlalu apolonian.


Kita bisa mengaitkan benang merah dari dua pemaparan Adorno di Dialektika Pencerahan, dan Teori Estetika. Bahwa sebenarnya, saat ini kebudayaan populer merupakan corong dari sistem kapitalisme. Kesadaran-kesadaran palsu ditanamkan di kepala manusia, sehingga merasa seni dan estetika ditujukan untuk alat penghibur. Sedangkan sistem pendidikan (khususnya seni) justru mengarahkan manusia-manusia untuk memproduksi seni pop secara massal, dengan tujuan bisnis. Tidak perlu ada kedalaman, karena seni sudah menjadi komoditi bisni.


Hal ini sangat terkait dengan peristiwa Auschwitz. Saat kejadian berdarah itu terjadi, sejumlah seniman di Jerman dan Polandia diciduk, lalu diangkut di truk seperti kumpulan ternak. Mereka kemudian dibawa ke kamp konsentrasi Auschwitz di Polandia Selatan, yang kemudian "dimusnahkan" dengan cara-cara yang sangat tidak manusiawi. Ini bukan sebuah tindakan sporadis, tapi sebuah kejahatan yang sudah direncanakan sejak awal. Tapi, apa yang membuat Jerman (rezim Hitler) mampu merencanakan dan melakukan hal tersebut? Penyebab utamanya, menurut Adorno, adalah industri Jerman khususnya industri persenjataan benar-benar meningkat tajam. Lebih ironis, ketika rezim tersebut hancur, tapi industri terus meningkat.


Maka, industri menjadi penyebab utama kehancuran. Ketika semuanya sudah hancur, baik korban-korban genosida, maupun rezim Hitler itu sendiri, tapi industri tidak hancur. Ia terus berkembang dan menyebabkan kehancuran di sendi-sendi yang lain. Dalam waktu 80 tahun, industri Jerman dan seluruh dunia di era post-modern saat ini sudah meningkat jauh dari apa yang pernah diramalkan. Dan industri tetap hidup, industri adalah pemenang perang yang sebenar-benarnya. 


Di era itu, Goethe menulis puisi-puisi indah yang dikagumi banyak orang. Namun Adorno tidak berpendapat seperti itu. Ia justru menulis surat pada sahabatnya Max Horkheimer, bahwa menulis puisi setelah kejadian Auschwitz adalah tindakan yang barbar dan kejam. Karena manusia sebenarnya mesti meratapi kekejaman dunia (yang disebabkan perkembangan industri dan kapitalisme) yang telah menghabiskan jutaan manusia lainnya, ketimbang bersenang-senang dan menulis puisi tentang keindahan. Hal ini yang disebut individualisme semu, kebahagiaan pribadi, namun melupakan apa yang sebenarnya telah terjadi.


Rujukan:

  • Theodor Adorno and Max Horkheimer., Dialectic of Enlightment, New York: Herder & Herder Inc, 1972
  • Theodor W. Adorno., Aesthetic Theory, New York: Regents of University of Minnesota, 1997

Unduh buku di atas di Perpustakaan Pojok Seni

Ads