Kala dan Perempuan: Ulasan tentang Teater “Postpartum” -->
close
Pojok Seni
12 April 2022, 4/12/2022 03:03:00 AM WIB
Terbaru 2022-04-11T20:03:24Z
ArtikelBeritateater

Kala dan Perempuan: Ulasan tentang Teater “Postpartum”

Advertisement
Pementasan Kala Teater Makassar bertajuk Postpartum
Pementasan Kala Teater Makassar bertajuk Postpartum (Foto: Agus Linting)

Oleh: Syahruni Junaid


Kala Teater dan perempuan adalah kombinasi yang saling menyempurnakan. Ini bukan kali pertama saya menyaksikan pergerakan teater ini dalam menyuarakan warna warni dunia perempuan. Setiap pementasan yang dilaksanakan oleh Kala Teater selalu mampu membuatku terkagum akan pesan-pesan sosial yang dibawanya. Begitu juga dengan pementasan kali ini yang diberi judul “Postpartum” (25-27 Maret 2022) yang disutradarai oleh Nurul Inayah. Seorang perempuan berbicara tentang perempuan makin memberi nyawa lebih pada cerita ini. Sebuah kisah dengan permasalahan yang sangat happening namun seringkali hanya dianggap sebagai hal yang wajar.


Sebagai perempuan yang sudah melewati fase penuh kegalauan di masa-masa pertama menjadi ibu, semua simbol di panggung yang menyambut sejak kakiku melangkah mendekati barisan penonton seketika me-recall memoriku. Sarung bedong bayi yang tergantung di sepanjang sisi dalam panggung, tempat tidur bayi, kelambu, dan kereta bayi seakan menjadi narator yang memberi prolog untuk menyatukan mindset penonton akan setting peristiwa di kisah ini. Entah kenapa, aura bahagia yang dirasakan setiap ibu ketika menanti kelahiran jabang bayinya sejenak membuat haru menyeruak di dada. Sungguh pemilihan backdrop yang cermat dan cerdas. Kita semua tentu paham bahwa euforia kelahiran selalu diawali dengan prosesi mengumpulkan benda-benda kebutuhan bayi mulai dari yang paling penting hingga printilan-printilan yang mungkin tidak begitu penting, pemilihan warna sesuai gender ditambah sentuhan adat dan mitos yang mengikut di prosesi tersebut.


Pementasan Kala Teater Makassar bertajuk Postpartum
Pementasan Kala Teater Makassar bertajuk Postpartum (Foto: Agus Linting)

Periode postpartum (read: masa setelah melahirkan) tentu adalah hal yang pasti dilewati setiap ibu. Sebuah fase yang sejatinya adalah proses pemulihan fisik dan diikuti proses adaptasi atas kehidupan baru sang ibu. Jika semua berjalan baik, tentu saja tidak akan menjadi masalah. Inilah yang kemudian disuarakan oleh tiga perempuan dengan atribut stagen dan guritanya di atas panggung teater Postpartum. Mereka harus berkonflik dengan suara-suara di kepala yang merupakan reproduksi dari do’s dan taboo’s dari masyarakat, segala doktrin tentang bagaimana seharusnya ibu yang baik itu. Konflik yang dibawakan oleh para pemeran makin dihidupkan dengan adanya tayangan testimoni dari para ibu muda yang mengalami kondisi depresi di fase postpartum mereka. Hal ini tentu saja makin menguatkan keyakinan para penonton bahwa hal ini bukanlah hal yang bisa dianggap sepele. Konflik batin tanpa support system yang baik akan memperparah keadaan yang bisa menyebabkan terjadinya depresi. Di akhir cerita, ketiga pemeran nampak saling menguatkan yang menunjukkan bahwa bagaimana dukungan semua orang di sekitar seorang ibu baru akan menjadi hal yang sangat mereka butuhkan untuk melalui konflik postpartum mereka.


Cerita yang dihadirkan oleh Kala Teater ini bukan hanya menjadi bentuk edukasi yang inovatif, namun juga sebagai pembuktian bahwa dunia teater dan sastra dengan mata penanya tak kalah tajamnya dengan mata pedang karena ia mampu menembus kalbu para perempuan yang menyaksikannya langsung. Bentuk kampanye semacam ini semoga terus bisa dibudayakan agar dapat menyentuh semua lapisan masyarakat. Sebagaimana yang diungkap salah seorang narasumber di sesi diskusi "sentuhlah masyarakat dengan seni". Pagelaran Kala Teater dengan membawa isu memberi ruang aman pada ibu dengan depresi Postpartum" kuyakini telah menyentuh semua mata yang menyaksikan, baik perempuan maupun laki-laki. 


Pentingnya menyentuh kesadaran setiap lini masyarakat dengan harapan terciptanya ruang aman bagi para ibu baru. Perempuan yang belum atau telah melalui fase menjadi ibu semoga tidak terserang Queen syndrom. Syndrom yang bukannya memberikan kekuatan kepada sesama perempuan, namun malah semakin menjatuhkan. Sebagaimana yang ditunjukkan dalam pagelaran, banyak kalimat-kalimat toxic positivity yang datangnya dari sesama perempuan. Selanjutnya peran laki-laki juga sama pentingnya dalam memberi ruang aman ini, sebab laki-laki mampu menjadi salah satu support system bagi ibu yang melalui fase tersebut. Melalui pagelaran Kala Teater tersebut, mereka berhasil menyentuh kesadaran penonton dan penikmatnya. 


Pementasan Kala Teater Makassar bertajuk Postpartum (Foto: Agus Linting)


Akhir kata, terus berkobar jagat sastra Makassar, terus melangit Kala Teater.

Ads