Kesadaran Akan Tuhan -->
close
Pojok Seni
25 November 2021, 11/25/2021 07:00:00 AM WIB
Terbaru 2021-11-25T00:00:00Z
ArtikelOpini

Kesadaran Akan Tuhan

Advertisement


Oleh: Prof. Yusmar Yusuf


Membunuh Tuhan? Wah ini proyek agung, absurd. Para pemburu Tuhan sekaligus “pembunuh Tuhan” melalui jalan-jalan humanisme, psikologi, filsafat telah melakukan hal ini, namun berujung candaan ilmiah sekaligus gurauan falsafi. Aliran Freudian  Psikologi (instinktif) memposisikan agama tak lebih dari fiksi murni yang terhambat. Fiksi murni itu diciptakan oleh impuls-impuls manusia yang terbuang dengan tujuan menemukan dunia antah berantah agar bisa bergerak bebas tanpa halangan. Kepercayaan dan dogma agama tentang Tuhan tak lebih dari teori-teori primitif tentang alam. Melalui ini pula manusia berupaya memoles realitas tertinggi, sekaligus memajang dan menderetkan sejumlah keburukan ke atas realitas tertinggi itu (liyan) sebagai sesuatu yang dekat dengan  kehendak hati berbanding hal-hal yang dibenarkan oleh fakta-fakta kehidupan yang ada. 


Lalu? Muncullah gelombang ateis yang beragam versi dan coraknya. Ada humanisme ateis, ada ateis total, sehingga memberi kesan bahwa ateis itu sendiri mengakui adanya Tuhan. Sebab, ketidak-percayaan, tentu berangkat dari secuil kepercayaan. Humanisme ateis memposisikan Tuhan tak lebih dari instrumen pengebirian dan infantilisasi otonomi manusia. Jalan satu-satunya harus ditempuh adalah dengan cara membunuh Tuhan lewat kesadaran manusia. Sebab, Tuhan bersemi, bertunas dan tumbuh dalam kesadaran manusia. 


Dengan membunuh kesadaran manusia akan Tuhan, sejatinya manusia tidak membunuh Tuhan, akan tetapi hanya setakat menghapus kesadaran akan Tuhan. Secara hakikat, ketika seseorang ingin membunuh Tuhan, berarti Dia pernah ada. Sedangkan ateis adalah sebuah langkah (kepercayaan) yang tak mempercayai adanya Tuhan. Maka, untuk membunuh Tuhan, Dia mesti ada terlebih dahulu. Ironi? Di sini mencuat kontradiksi (yang tak saling dimengerti), bahwa para ateis membunuh Tuhan, karena mereka tak mengakui adanya Tuhan. Maka, Tuhan tak perlu dibunuh. Ironi berikutnya? Ateis sama sekali tak ada, bila Tuhan tidak ada. 


Immanuel Kant, seorang saleh jeluk  beriman, sekaligus pembuka lawang bagi  penerus-penerus berikutnya untuk mengkritisi Tuhan dan keberadaanNya. Kant, menyebut bahwa Tuhan sebagai “idea: yang berpembawaan a priori (sebelum ‘ada’) dalam rasio manusia. Kesalehan Kant terlihat dari kembara pemikirannya; “Tuhan bukanlah realitas di luar pikiran kita, melainkan bagian di dalam akal, berupa suatu asas penataan; atau semacam piranti lunak pikiran manusia”.


Dari sini, Kant hendak menjelaskan bahwa Dia ada bukan karena kita pikirkan, tetapi kita berpikir begitu dan begini karena Dia (sebagai satu chip) yang terpasang dalam pikiran kita. Ihwal ini pula yang mengundang perdebatan panjang berikutnya, karena Kant seakan memberi tekanan antroposentrisme “akal” dalam mengkonstruksi Tuhan. 


Satu nama yang menggoncang iman Kristen, Ludwig Feuerbach. Dia musuh nomor wahid iman Kristen. Jika Immanuel Kant menyebut bahwa Tuhan semacam “chip” yang sedia ada dan terpasang dalam pikiran kita, maka Tuhan adalah bagian dari akal, dan tidak berada di luarnya. Bagi Feuerbach, Tuhan adalah ciptaan manusia, bukan sebaliknya. Akibat pandangan “antroposentrisme” ini, Feuerbach memberi kesan bahwa teologi sejatinya adalah sebuah antropologi. Kedegilan Feuerbach kian menggila;“bahwa manusia menciptakan Tuhan menurut citranya (citra manusia)”. 


Frasa ini sebagai oposisional dari kutipan  Kitab suci agama langit yang berkata; “Tuhan menciptakan manusia menurut citraNya”. Lalu, dari mana akal Feuerbach ini? Sesungguhnya hulu sungai pemikiran ini,  dapat ditelusuri dari Xenophanes dua millennium sebelumnya. Xenophanes menjelaskan bahwa sosok dewa-dewa tak lain dari “bayangan diri” bangsa-bangsa yang menyembah mereka. Maka, jangan heran, para dewa yang disembah oleh orang-orang Afrika (seperti Ethiopia) berkulit legam, berhidung pesek. Sementara, ada dewa-dewa yang berambut merah, bermata biru, sebagai dewa orang-orang Trakia. 


Marx melihat Tuhan dan agama? Marx adalah “nabi” pemusnah kelas-kelas sosial. Jika perubahan struktural yang berdampak pada penghapusan kelas sosial, dengan sendirinya,  agama terhapus. Bagi Marx, orang-orang tertindas memerlukan ilusi untuk bertahan hidup. Salah satu ilusi itu adalah agama yang lahir dan bertunas dari nestapa para kaum tak punya alias tertindas. Di sini agama, bak mariyuana yang menciptakan ketagihan sekaligus menghidang ilusi melayang-layang. Bagi Marx, agama memiliki sisi manipulatif luar biasa; yaitu menutupi akar-akar kemiskinan sesungguhnya dan alienasi kelas-kelas oiketai (para haram jakul dan kuli habuk).  


Segala upaya untuk menyingkir agama dan Tuhan sepanjang sejarah, hanya membangun cerita serba musykil. Agama tetap ada dan bertahan hingga hari ini. Sebab agama bukanlah pola fikir, melainkan pola hidup dan pola tindak. Tuhan “bersauh” kawi secara eksistensial dalam kesadaran manusia.  Semaju apapun capaian ilmu pengetahuan dan teknologi modern, malah mengantarkan dimensi kesalehan dan iman yang kian kukuh kepada manusia tentang agama. Rekonstruksi “pengalaman relijiusitas” yang dilakukan oleh para penghayat jalan tasawuf telah membangun bukit-bukit cinta terhadap kepercayaan-kepercayaan agama, sejak primal hingga modern. “Agama bukanlah fisika atau kimia, kata Iqbal untuk mencari penjelasan alam dari segi sebab akibat”. 


Agama, bertujuan menafsir suatu wilayah pengalaman manusia yang sama sekali berbeda, yakni pengalaman relijius yang datanya tidak bisa direduksi menjadi data sains jenis apapun”. Dialog “tanya” dari Nasir Ali Sirhindi kepada Brahma: “Engkau telah ciptakan daku menurut bayangan-MU!// Katakan sebenarnya?? Setelah semua ini, apa yang Engkau lihat selain Diri-MU?”. Dan, Rumi mengunci; “Buku sang Sufi tak disusun lewat huruf dan dawat; melainkan hati nan seputih salju. Milik sang cendekia tak lebih dari jejak-jejak pena. Apakah milik sang Sufi? – Jejak-jeka kaki”. Dan berkacalah pada frasa ini sebagai perangkum; “pengamat ilmiah (ilmuan) tentang alam semesta, laksana seorang sufi yang tengah shalat”. Tuhan, menadi dalam pengalaman relijius manusia.