Catatan Pamonaspati 2021: Aeng oleh Perwakilan Banten -->
close
Pojok Seni
24 November 2021, 11/24/2021 02:00:00 PM WIB
Terbaru 2021-11-24T07:00:00Z
Resensiteater

Catatan Pamonaspati 2021: Aeng oleh Perwakilan Banten

Advertisement


Oleh: Rudolf Puspa, Teater Keliling Jakarta

Email: pusparudolf@gmail.com


“Aeng” karya Putu Wijaya dimainkan Manda Jendol yang disutradarai Yopi Hendrawan. Monolog diproduksi oleh komunitas perwakilan propinsi Banten tanggal 12 September 2021. Yang diantar oleh Citra sebagai pembawa acara. Citra makin yakin pada kekuatannya sehingga muncul bebas tanpa teks. Salut Citra.


Sebagai seorang hukuman mati sudah pasti banyak lamunan, keresahan, kegalauan, amarah, kekecewaan atas masa lalunya yang menyebabkan menerima hukuman berat. Sepi di ruang penjara menunggu waktu eksekusi merupakan satu peristiwa menunggu yang menyakitkan. Namun juga bisa menjadi sebuah kekuatan yang menemukan ketegaran jika dapat melakukan laku dramatik yakni bunuh diri sebelum dibunuh. 


Pesan kemanusiaan yang memiliki nilai positif bagaimana manusia menghadapi kematiam apapun alasannya. Sebuah pemikiran yang tidak ringan dan mudah dalam mengambil sikap atau memilih cara mati yang menurutnya memiliki nilai yang luhur. Tema yang menantang sutradara beserta aktornya dalam menggarap hal ini. Walaupun tidak jelas kapan hal ini terjadi namun aku menarik ke masa kini. Tentu penjaranya cukup rapi dan pakaiannya pun khusus seragam orang tahanan.  Untuk penggambaran penjara secara teknik panggung memang bisa dipahami dengan hanya simbolik saja seperti jeruji yang hanya disamping kanan depan panggung. Namun dengan teknologi digital atau kamera modern masa kini yang sudah super canggih tentu saja penggambarannya kurang elok.


Manda Jendol aktor teater dari Banten. Menurutku masih perlu memiiki rutinitas mengasah teknik vokalnya. Ada gymnastik mulut sehingga bibir menjadi elastis bergerak sebebas2nya sesuai dengan tuntutan bentuk huruf. Dengan cara ini tentu akan mengalir suara yang indah dan artikulasi yang tepat tiap kata yang diucapkan. Tontonan teater membutuhkan ketrampilan ini karena mendengar bicara yang tidak jelas akan terjadi salah tangkap kalimat. Ini kesalahan yang harus diterima sehingga ada kesadaran untuk memperbaiki. Melatih nafas perut dan diafragma sangat penting agar terhindar dari terjadinya mengucapkan dialog terasa “ngeden”. Jika hal ini jadi andalan maka warna suara umumnya hanya akan satu warna saja . Dan jika terjadi sejak awal hingga akhir itulah yang namanya monoton.


Memainkan karakter yang sedang terganggu jiwanya oleh rasa bersalah, merenungi untuk bisa menerima kesalahan dan hukumannya bukan hal yang mudah. Peristiwa kejiwaan yang benar benar harus dipersiapkan oleh aktor dalam melakonkannya. Kadang cemas, kadang marah, kadang kecewa, kadang pasrah dan sebagainya muncul secara bergantian dan acak. Inilah kepiawaian aktor yang harus dimiliki. Dengan kepiawaian tersebut maka otomatis ucapan akan jadi jelas dan terhindar dari suara teriak namun tak terasa berteriak. 


Olah rasa bagi setiap aktor sudah harus selalu dilakukan dan tidak harus secara bersama2 di ruang latihan dipimpin pelatih. Bagai pemain sepak bola yang untuk menjaga kebugaran dan kesiapan organ2 tubuhnya untuk bermain bola maka ada yang dikatakan dengan rutinitas latihan. Selanjutnya di teater ditambah satu daya yakni mampu bermain sekaligus menjadi penonton dan duduk bersama menonton teater.


Disetiap catatan yang aku tulis tak henti2nya aku ingatkan bahwa aktor harus selalu memulai mempelajari peran dengan menjawab pertanyaan “apa,siapa,mengapa,kapan,dimana dan bagaimana”. Dengan demikian kita bisa melihat dan merasakan secara utuh pemain dipanggung ini siapa sedang berada di mana dan kapan lalu apa sih yang sedang terjadi pada dirinya kemudian bagaimana menyampaikan. Mungkin di naskah tak ditulis umur berapa, tempat tinggal di mana, masih punya orang tua atau tidak, adik kakak atau masih bujangan, masih sekolah atau sudah kerja dan kerja apa, profesinya apa dan seterusnya seperti umumnya tiap kita punya catatan biografi. Jika di naskah tak ada maka aktor wajib mencari tau dan menetapkan sendiri.  Jika ada akan menjadi bahan sangat kuat yang sangat berguna bagi menunjukkan karakter sang peran.


Parade monolog merupakan pestanya para seniman teater di Indonesia untuk berkiprah dan menjadikan pijakan kuat untuk tinggal landas menuju teater Indonesia seutuhnya bukan hanya bagi sesama seniman namun bagi seluruh bangsa Indonesia. Syukurlah bila berhasil merangkul yang tadinya tidak tau teater jadi kenal dan merasa membutuhkannya. Jadi mari ingat selalu bahwa penonton adalah bagian dari kerja seniman teater. 


Selamat merdeka berkarya.


Padang 13 September  2021.