Catatan Pamonaspati 2021: Pulung oleh Teater Lungid, Jawa Tengah -->
close
Pojok Seni
14 November 2021, 11/14/2021 04:00:00 PM WIB
Terbaru 2021-11-14T09:00:00Z
Resensiteater

Catatan Pamonaspati 2021: Pulung oleh Teater Lungid, Jawa Tengah

Advertisement

Oleh: Rudolf Puspa

Email: pusparudolf@gmail.com


“Pulung” karya dan sutradara Djarot Budidarsono dimainkan aktris Yasinta Desy Natalawati produksi Teater Lungid Jawa Tengah. Lungid adalah kosa kata Jawa yang berarti “tajam”. Jika memahami arti kata tersebut pastilah langsung tertotok hati untuk melihat dan jika sesuai akan merasakan ketajaman irisannya atau pukulannya atau tembang2nya. Bahkan secara individual aku teringat karya2 drama berbahasa Jawanya almarhum Kentut seniman Solo yang terasa tajamnya pisau asahan priyayi Sala. Terpujilah dikau wahai para pendiri teater Lungid.


Film pendek “Pulung” diawali dengan sang peran wanita karir berjalan menaiki tangga lalu berada di tengah alam bebas dengan terpaan angin untuk selanjutnya masuk ruang kerja kantornya. Wanita karier yang menurut pengakuannya super sibuk menjawab telpun dari rekanan melalui kecanggihan medsos yang harus diikuti. Wanita karie yang terkesan tidak lepas dari lingkungan hidup dan penggarap film ini yang nun berada di pusat propinsi Jawa tengah yang sederhana dan santun. Alon-alon asal kelakon sepertinya masih menjadi salah satu ciri wanita karier Jawa Tengah. Apa benar cerita ini terjadi di Jawa Tengah dalam naskah tak dijelaskan. Barangkali tangkapanku terlalu individual mengingat aku berasa dari kota Solo yang adem ayem tentrem kertoraharjo namun wanitanya “mlakune koyo macan luwe” tembang kroncong terkenal. Walau lapar tapi macan lho.  


Penulis mencatat tiga hal yang menjadi tawaran terkuat yakni kebosanan peran menghadapi kecanggihan teknologi digital abad 20 yang merusak mentalitas bangsa. Sang peran melontarkan betapa ketenangan ruang yang dia bangun terganggu oleh lalu lintas komunikasi yang tidak melalui tatap muka. Tak ada lagi suasana ramah tamah yang indah dengan komunikasi tatap muka.  Teknologi yang menjadikan dunia tanpa batas walau melalui fantasi yang terjadi masih bisa melihat keluar lewat pintu jendela tentang kehidupan lain. Namun justru lebih berani dan cepat untuk menerima atau menolak dengan tegas. Ia mengatakan hal itu sebagai kekejaman emosional karena akibat menjadi manusia yang egois. Mentalitas bangsa berubah bagai 100 wajah Dasamuka menjadi satu. Luar biasa “lungid” pengambaran sadisnya kecanggihan digital.


Fantasinyapun jauh menerawang melihat umur 5 tahun sudah kehilangan ayahnya. Ayah yang di mata orang Jawa adalah panutan ia tidak miliki. Ia hanya dengar cerita dari ibunya ketika sudah remaja bahwa ayahnya harus menjadi korban pertikaian politik dengan penguasa yang tentu dengan mudah akan bisa menghilangkannya. Tidak jelas warna politik apa ayah dan sang penguasa yang berbeda walau tentu kita bisa bisa mengira-ira. Barangkali untuk menghindarkan kesan menista sebuah partai maka lebih memilih menyamarkannya saja. Cerita ringkas biografinya kurang terasa menggambarkan tekanan emosional apa yang oleh penulis perlu dihadirkan.


Di bagian belakang lebih jauh ke masa sekolah dasar tiap pagi setelah masuk kelas maka dimulailah menyanyikan lagu yang relegius membangun karakter anak. Kebetulan aku sekolah dasar di pangudi luhur Purbayan Solo maka aku tidak merasa asing dengan lagu tersebut. Lagu yang hingga kinipun sering muncul dalam benakku. Riang relegius dan secara santun melekat di hati.  Bagus walau jika ditujukan kepada orang banyak yang beragam latar adat, budaya, agama, etnis tentu tidak semua paham. Diperlukan kepiawaian menyusun kata, kalimat, lagu, tari yang asal lokal namun mampu mengelus hati tiap penontonnya. 


Kelungidan naskah yang disutradarai sang penulis sendiri jelas sangat terang benderang. Didukung Yasinta Desy Natalawati yang seperti namanya terkesan lahir di hari Natal; maaf bila salah.; secara runtut memainkan peristiwa demi peristiwa dari jalan naik tangga hingga akhir adegan. Mengingat “pulung” bisa berarti positif atau negatif tergantung penggunaannya, tentu aku ingin merasakan apa yang dirasakan sang pemeran tentang “pulung”. Yasinta lebih perlu merangkai tiga pokok bahasan yang kusebut diatas menjadi satu kesatuan sebab akibat yang mengalir lewat dialog, gesture, mimik dan bloking.  Arahan sutradara yang hampir sebagian besar adegan duduk dikursi kerjanya memang memerlukan penguasaan ruang dan bentuk yang kuat. Yang menganggu pandangan adalah terlalu seringnya ketika berdialog mendongak keatas.  Kami kurang merasa diajak bicara sehingga ada jarak yang justru menjadi penghalang terjadinya komunikasi dua arah. Mata adalah alat expresi yang sangat fundamental.Perlu banyak berlatih di ruang kerja yang banyak property diatas meja juga di meja untuk seperangkat alat minum. Gesture perlu lebih kaya dengan kesibukan2 yang merupakan expresi dari suasana batin, suasana perasaan, suasana emosi yang sedang terjadi. Apakah kesal, benci atau marah atau iklas menerima sejarah ayahnya? Konflik antara bosan dan menerima kecanggihan abad digital. Ingatan emosi masa kecil yang nyanyi religius namun justru kenakalan2 anak2 muncul. Semua ini akan memperkaya daya seni actingnya. Maka pasti akan terwujut gambar emosi romantika, dinamika dan apa jawaban akhir tentang pulung yang sedang dijalaninya. “… mlakune koyo macan luwe” oleh aktris terjemahannya adalah “macan panggung”. Yasinta Desy Natalawati mampu untuk tidak selalu jadi macan luwe. Bravo.


Kameramen akan banyak mendukung dengan bergerak lebih bebas sehingga pemain yang banyak di tempat akan lebih terasa suasana emosionalnya lewat bahasa gambar film. Dengan demikian jawaban dari imajinasiku menikmati sajian film pendek “pulung” ini akan menjadi sangat kuat dan meyakinkan bahwa Lungid telah menghasilkan kupasan tajam yakni  bangsa ini belum siap menerima kecanggihan teknologi yang begitu pesat melintas di bumi yang telah mampu mengalahkan Dasamuka di masa cerita wayang. Namun lagi-lagi terpulang kepada sang penulis, sutradara dan pelakon apa yang menjadi pesan utama atau misi anda semua dalam melakonkan monolog “pulung”.  Jika demikian halnya tentu persoalan pulung akan melaju mengimbangi teknologi digital yang juga akan terus melaju karena pada kenyataannya tetap saja teknologi dibuat manusia.  Bukan teknologi memakan manusia namun manusia pencipta teknologi yang memakan manusia lain. Perang kita sudah bukan perang mesiu namun digital. Kita harus keluar dari mindset perang konvensional karena yang kita hadapi adalah kekuatan digital yang kadang lebih abstrak. Dan bukankah kehebatan seniman adalah dalam hal menangkap, mempelajari dan menghasilkan karya yang abtraksi? Bung Djarot melalui Yasinta telah mengatakan dengan optimis bahwa tidak akan menebang pohon namun merawatnya sehingga kerindangannya justru memberikan kesejahteraan pada bangsa.  Aku senang karena aku merasakan kembali misi yang kujalani sejak 1982 yakni “membangun tanpa merusak” lewat karakter “peduli dan berbagi”. Dua kali untuk kegiatan teater keliling mendapat penghargaan lingkungan dari Menteri lingkungan hidup waktu itu. Terima kasih dan salut Bung Djarot dan Yasinta dan seluruh crew film pendek monolog “Pulung” yang memang lungid.


Disetiap catatan yang aku tulis tak henti2nya aku ingatkan bahwa aktor harus selalu memulai mempelajari peran dengan menjawab pertanyaan “apa,siapa,mengapa,kapan,dimana dan bagaimana”. Dengan demikian kita bisa melihat dan merasakan secara utuh pemain dipanggung ini siapa sedang berada di mana dan kapan lalu apa sih yang sedang terjadi pada dirinya kemudian bagaimana menyampaikan. Mungkin di naskah tak ditulis umur berapa, tempat tinggal di mana, masih punya orang tua atau tidak, adik kakak atau masih bujangan, masih sekolah atau sudah kerja dan kerja apa, profesinya apa dan seterusnya seperti umumnya tiap kita punya catatan biografi. Jika di naskah tak ada maka aktor wajib mencari tau dan menetapkan sendiri.  Jika ada akan menjadi bahan sangat kuat yang sangat berguna bagi menunjukkan karakter sang peran.


Parade monolog merupakan pestanya para seniman teater di Indonesia untuk berkiprah dan menjadikan pijakan kuat untuk tinggal landas menuju teater Indonesia seutuhnya bukan hanya bagi sesama seniman namun bagi seluruh bangsa Indonesia. Syukurlah bila berhasil merangkul yang tadinya tidak tau teater jadi kenal dan merasa membutuhkannya. Jadi mari ingat selalu bahwa penonton adalah bagian dari kerja seniman teater. 


Selamat merdeka berkarya.


Jakarta 3 September  2021