Catatan Pamonaspati 2021: Kadir Sang Sutradara oleh Eko Prayogo, Jawa Timur -->
close
Pojok Seni
13 November 2021, 11/13/2021 04:00:00 PM WIB
Terbaru 2021-11-13T09:00:00Z
Resensiteater

Catatan Pamonaspati 2021: Kadir Sang Sutradara oleh Eko Prayogo, Jawa Timur

Advertisement

Oleh: Rudolf Puspa, Teater Keliling Jakarta

Email: pusparudolf@gmail.com


“KADIR SANG SUTRADARA” adaptasi dari naskah Lingkaran Putih karya Nano Riantiarno dimainkan aktor sekaligus sutradara Eko Prayogo dari Surabaya hadir sebagai pengisi pamonaspati hari ke 16 penampil ke 17. Walau tak disebut siapa yang mengadaptasi naskah Nano ini namun sepertinya sang sutradara langsung.  Sejauh mana gagasan Lingkaran putih masih mewarnai adaptasinya dengan judul Kadir sang sutradara tentu sukar menanggapi karena aku belum baca. Tentu yang aku tanggapi adaptasinya.


Menarik cerita tentang kegelisahan Kadir sang sutradara yang menghadapi aktrisnya yang dia pilih karena memang sudah kenal kemampuannya sehingga akan memudahkan kerja produksi filmnya. Namun ketika harus menyelesaikan adegan terakhirnya sang aktris menunjukkan peri laku yang tidak biasa. Sang aktris menyampaikan kebosanannya bahkan hingga muak dengan cerita2 yang tidak sesuai dengan impiannya untuk menyelesaikan problem kehidupan dengan happy ending. Ia merasa punya kemampuan untuk itu dan kini butuh kesempatan. Namun dengan segala cara dan bujuk rayu sang sutradara berdasar pengalaman yang pernah dilalui maka tampaknya sang aktris mengalah. Ia selesaikan sesuai seperti kemauan sutradara yang  berterima kasih kepada aktris Aisah. Namun hasilnya sepertinya tidak maksimal sehingga Kadir bertanya kepada kameramennya untuk memilih shot2 yang sudah ada untuk mendapatkan yang terbaik. Betapa terkejutnya ketika Aisah pulang ke Pacitan sendirian dan terjadi kecelakaan hingga mobil masuk jurang dan ia wafat. Lalu apa jadinya film garapannya setelah sepeninggal aktris utamanya? Silahkan penonton menjawabnya.


Ada dua hal yang sedikit mengganjal yakni pertama ketika Kadir marah tentang seorang crew penting yang menghilang untuk melepaskan hajat badaninya ditengah syuting sedang berlangsung. Mungkin saja bisa tejadi namun pada zaman kini yang segala jabatan ada kontrak dan sangsinya tentu perlu alasan yang sangat kuat dalam penulisan naskahnya. Kedua seorang aktris utama pulang sendirian dengan jarak yang dikatakan jauh apa zaman sekarang mungkin terjadi? Sendiri dalam arti pakai mobil sendiri dan sopir atau benar2 sendiri yang ia sendiri menyopir mobil pribadinya? Bukankah crew atau pemeran yang numpang lewat saja transportasi disediakan produser?  Tentu ada alasan yang sangat kuat jika memang hal ini terjadi yang aku kurang menangkapnya karena kurang informasi kapan, dimana, tahun berapa misalnya. 


Aku yakin sang sutradara monolog Kadir Sang Sutradara memiliki kesepahaman bahwa drama adalah cerita yang memiliki konflik2 kemanusiaan. Justru konflik inilah yang merupakan dasar kekuatan sebuah pentas drama apapun bentuknya. Ada konflik batin, perasaan, emosi hingga alat tubuh milik sang aktor. Konfik yang cukup penting adalah batinnya yang akan mendorong berbagai jurus laku fisik sang pemain. Sangat menguntungkan memainkan monolog karena memiliki keleluasaan mengolah berbagai konflik yang ada di cerita tanpa harus memikirkan kawan bermain di panggung. Apalagi ketika sang sutradara juga adalah aktor yang memainkan. Hilanglah pembatas utama dalam seni acting yang sering justru mengundang polemik intern yakni pemain dan sutradara. Polemik yang melalui naskah monolog ini terjadi begitu besar antara Aisah dengan Kadir. Muncul meledak justru di akhir syuting yang tentu siapapun bukan hanya sang sutradara ingin hal itu tidak terjadi. Inilah konflik terbesar dalam cerita Kadir selain adanya konflik batin antara sutradara dngan crew, sutradara dengan dirinya sendiri. Harus bicara manis sementara batinnya kesal luar biasa adalah salah satu konflik besar yang perlu sampai ke perasaan penonton.


Jika dalam dunia pemerintahan, politik, sosial, budaya, ekonomi dikenal istilah managemen konflik maka di area seni teater pun hal tersebut terjadi. Bagaimana mengelola konflik2 yang ada tersebut diatas menjadi sebuah tontonan yang menyentuh, merobek, menggelitik, menggedor penonton sehingga apa yang sedang terjadi di panggung secara utuh tergambar ke imaji penonton yang akan memberikan respons baik langsung atau dibawa pulang menjadi sebuah renungan panjang. Jika di pemerintahan sang presiden beserta kabinetnya dituntut mampu mengelola berbagai konflik sehingga tidak merugikan keutuhan bangsa maka di panggung sang sutradara beserta pemainnya yang menjadi pelaku aktif ketika tontonan berlangsung. Melihat perbandingan tersebut maka tampaknya kemampuan “managemen konflik”  dalam seni teater termasuk ilmu yang wajib dikuasai walau tidak mudah. Dibutuhkan jam terbang yang ribuan jam untuk mengalami dan mengambil “hikmahnya”. Ini menjadi problem tersendiri karena di negeri tercinta Republik Indonesia tidak mudah mendapatkannya. Untuk bisa pentas satu produksi pertahun dalam dua hari saja memerlukan waktu panjang memeras tulang belulang. Sampai berdarah telor itu tetap saja masih kurang; begitu guyon pemain2 teater keliling asal Sumatera Utara. 


Belum lagi konflik pengkarya dengan penikmatnya. Dua kubu yang saling membutuhkan namun punya kepentingan masing2. Celakanya yang harus menjawab adalah pengkaryanya. Sementara kenyataannya kita masih bergulat dengan mencari jawabab bagaimana agar teater menjadi kebutuhan masyarakat luas yang jumlahnya di negeri kita puluhan juta golongan tua, muda hingga remaja yang bisa menjadi sasaran untuk dirangkul menjadi sahabat setia yakni sebagai penonton. Jika kita memiliki idealisme bahwa teater perlu jadi kebutuhan bangsa maka seperti pesan mas Arifin C Noer almarhum :”Keluar dari empat dinding TIM”.  Itulah yang menyadarkan aku memilih keliling berjumpa penonton yang tidak semua butuh teater.  Tidak bisa kita marah atau sedikitnya kecewa dan mengatakan penonton belum siap melihat teater lalu menyalahkan system pemerintahan atau pendidikan yang tak peduli seni. Kita mesti keluar dari penyakit merasa paling benar sehingga harus diterima dan yang menolak adalah “kafir” hehehehe. Justru kita harus mampu meramu pertunjukkan sehingga mampu diterobos oleh keberagaman adat, intelektual, etnis, agama dan budaya yang multi kompleks. Hanya dengan cara inilah teater Indonesia akan semakin merdeka dari kungkungan kekuatan diri seniman yang seolah2 tampak idealis. Namun seniman juga punya hak kemerdekaannya untuk berkarya apa yang bisa diterima siapapun atau khusus oleh teman sejawat yang pasti akan langsung acungkan jempol, mantap, sukses entah paham atau tidak dengan yang ditonton.  


Eko Prayogo aktor yang mumpuni dalam artian memahami ilmu berlakon. Sangat kuat bakat individunya sehingga memiliki suara vokal yang bening dan kuat dalam menempatkan diksi dan seterusnya.  Dengan bakat dasar yang dimiliki tentu akan lebih hidup ketika manajemen konlfik yang ada di bawah sadarnya turut mengelola seni actingnya. Maka akan hadir bloking, gerak tubuh, gesture yang memukau. Perubahan warna suara, warna gerak, cepat, lambat tempo dan ketepatan timing pasti akan mewujutkan imajinasi yang kuat bahwa Kadir sedang bicara dengan Aisah, crew dengan penonton karena memang sedang bercerita kepada penonton. Jika peran Aisah atau crew dihadirkan secara imajiner pasti  akan memikat karena dilakukan dengan kecepatan berpindah hingga muncul bentuk fisik yang berbeda. Jika lawannya tetap abstrak maka dari gerak tubuh dan suara sendiri yang berubah2 walau berada di titik yang sama pasti akan menggebrak imajinasi penonton.  Dengan cara perubahan2 yang cepat dan tepat maka rasa lamban karena laku atau teknik vokal yang bagus namun karena dimainkan secara sama maka monoton akan tehindarkan. Jika sejak awal sudah mampu untuk tidak datar iramanya dan berani do me sol do atau do fa re la dan sebagainya maka jika langgam itu terus saja diulang2 maka jadilah apa yang disebut monoton juga. Mohon maaf namun aku merasa perlu dan ingin menyampaikan hal ini karena perasaan sesama aktor dan sutradara dan juga penulis. Bravo cak Eko Prayogo, tidak ada kata menyerah bagi seniman panggung juga hari tua.  Salam jabat erat.


Disetiap catatan yang aku tulis tak henti2nya aku ingatkan bahwa aktor harus selalu memulai mempelajari peran dengan menjawab pertanyaan “apa,siapa,mengapa,kapan,dimana dan bagaimana”. Dengan demikian kita bisa melihat dan merasakan secara utuh pemain dipanggung ini siapa sedang berada di mana dan kapan lalu apa sih yang sedang terjadi pada dirinya kemudian bagaimana menyampaikan. Mungkin di naskah tak ditulis umur berapa, tempat tinggal di mana, masih punya orang tua atau tidak, adik kakak atau masih bujangan, masih sekolah atau sudah kerja dan kerja apa, profesinya apa dan seterusnya seperti umumnya tiap kita punya catatan biografi. Jika di naskah tak ada maka aktor wajib mencari tau dan menetapkan sendiri.  Jika ada akan menjadi bahan sangat kuat yang sangat berguna bagi menunjukkan karakter sang peran.


Parade monolog merupakan pestanya para seniman teater di Indonesia untuk berkiprah dan menjadikan pijakan kuat untuk tinggal landas menuju teater Indonesia seutuhnya bukan hanya bagi sesama seniman namun bagi seluruh bangsa Indonesia. Syukurlah bila berhasil merangkul yang tadinya tidak tau teater jadi kenal dan merasa membutuhkannya. Jadi mari ingat selalu bahwa penonton adalah bagian dari kerja seniman teater. 


Selamat merdeka berkarya.


Jakarta 2 September  2021