Catatan Pamonaspati 2021: Bahasa yang Ingin Menuju Tiada oleh Keluarga Teater Jakarta -->
close
Pojok Seni
08 November 2021, 11/08/2021 02:21:00 PM WIB
Terbaru 2021-11-08T07:21:00Z
Resensiteater

Catatan Pamonaspati 2021: Bahasa yang Ingin Menuju Tiada oleh Keluarga Teater Jakarta

Advertisement


Oleh: Rudolf Puspa, Teater Keliling

Email:pusparudolf@gmail.com


Pelaku virtual (sebutan yang diberikan oleh dirinya sendiri) Herlina Syarifudin arek Malang yang sudah hijrah ke ibukota menggelar secara virtual flash fiction Damhuri Muhammad berjudul “Bahasa yang ingin menuju tiada”. Tak kutemukan nama sutradara selain kolaburator pikir Simon Karsimin,Daryl,Senja Aditya Fajar dan pengarah kamera Herlina Syarifudin.


Dengan penampilan yang bebas wardrobe, rambut, meruang telah menggebrak di panggung virtual bagai rockers. Ingatanku langsung berbisik bahwa Malang itu gudangnya rockers bro. Bagus karena suara yang penuh geram dibumbui acting ceplas ceplos sangat menguasai ruang sempit. Akan lebih meledak jika ingat salah satu kekuatan rockers adalah berloncatan jungkir balik. Namun karena lebih banyak memainkan close up barangkali waktu yang sempit harus mengurangi pilihan gerak. Terima kasih aku telah diberi bagian ruang untuk meluaskan gerak batinku selama menyaksikan anda sambil menunggu berapa banyak pesan tersirat dari kata “Bahasa” sehingga semakin membakar semangat menemukan jawab dari “yang ingin” menuju tiada. 


Aku untuk pertama kali menyaksikan Herlina main dan merupakan sebuah kebahagiaan tersendiri akhirnya tercapai keinginan yang sangat amat dalam terpendam sejak kenal denganmu. Bahkan sudah kawatir ketika engkau mulai “meninggalkan” kegiatan di teater dan mengarungi bidang seni lain yang “mungkin” lebih menjanjikan mengingat engkau harus hidup sendirian di ibukota yang memang keras karakternya. Rasanya aku pernah menyampaikan hal ini kepadamu lewat medsos.


Herlina aktris teater yang telah selesai dengan masalah teknik acting sudah berselancar pada “art” nya cukup lama dengan pentas2 monolog di banyak tempat dan kota. Pelakon teater yang memiliki karya yang berani tampil beda. Jikapun ada sedikit kekurangan namun piawai menutupnya. Misalnya ketika harus mengatur kabel mik yang terlihat akan mengganggu geraknya maka dengan tangan dan kakinya meminggirkan sehingga acting terus berjalan tanpa gangguan. Tidak gentar bila publik umum masih jauh untuk menemukan nilai2 yang disampaikan dari bentuk yang terasa asing, sehingga memilih diam dan tetap menghormati. Aku merasa bangga bahwa ada aktris Indonesia yang berkecimpung di teater Indonesia dan bisa diharapkan semakin menggebrak melahirkan karya “yang tidak biasa” kedepan. Pasanglah didadamu potret pelukis Van Goh dari negeri kincir angin yang terus melukis dengan semangat berjibaku karena sepanjang hidupnya tidak pernah laku lukisannya. Namun sepeninggalnya justru menggebrak dunia sehingga pamannya yang menyimpan lukisan2 Van Goh menjadi kaya raya mendadak. Sebagai pemain sekaligus pengarah kamera tentu pekerjaan yang unik yang sukar aku membayangkan. Kalau main sekaligus sutradara aku terbayang karena tidak melibatkan orang lain. Tapi kamera ada kameramennya pada umumnya.  Jika ditangani sendiri wao makin absurd. Salam jabat kreatif Herlina putri ngalam.


Kameramen bersama editor pertunjukkan ini telah bekerja dengan menggunakan kehebatan teknologi digital masa kini.  Karena aku tidak berkecimpung didunia tersebut aku masih kurang paham apa hasil ini adalah karya kameramen atau editor atau entah siapa lagi. Sebagai tontonan seni film enak disaksikan. Kecanggihan mesin tehnologi digital tentu akan hidup ketika diisi sukma oleh penggarapnya. Ketika memotong, menyambung, mengubah warna dan sebagainya pastilah sang senimannya memiliki “rasa” dari situasi yang ingin ditimbulkan sehingga terasa oleh penontonnya. Sering aku dengar istilah “camera face” yang bagiku terjemahan dari face adalah bukan hanya manusia namun juga bisa benda2 mati sehingga bukan hanya manusia tapi seluruh benda yang ada di film memiliki nyawa karena semua itu adalah alat expresi yang bukan sekedar kepiawaian teknik namun juga gerak batin yang abstrak. Oleh karenanya dalam pemilihan angle tentu sangat penting sehingga menciptakan gambar yang indah. Extrimnya seperti pernah jadi iklan “lebih indah dari aslinya”. Maaf kata kalau jaman lampau kecantikkan sering menjadi syarat pemain maka dengan ke”gilaan” peralatan fotografi sudah tak berlaku syarat tersebut. Bahkan melalui hape saja bisa merubah sehingga bisa tampil seperti apa yang diinginkan. Yang penting dalam karya fotografi entah gambar atau film mampu menyentuh rasa penikmatnya. Itulah gunanya ada yang disebut art director. 


Cerita yang singkat menggambarkan filosofi dari pencarian daya pikir tentang “Bahasa yang ingin pergi menuju tiada” sudah terasa hasilnya. Menggoda logika berpikir yang kadang menjadikan senyum geli sendiri tentang keanehan filsafat yang membuat sesuatu yang biasa menjadi tidak biasa atau sebaliknya. Teater memiliki ruang yang luas karena memilki daya imajinasi aktor yang mampu mengembara sejauh mata memandang bahkan menembusnya hingga menggenggam hal2 yang disebut tersirat. Pertanyaan yang mengingatkanku kepada galau batinnya Hamlet dengan “ada dan tiada” yang harus dipilih dan pandai sekali Skahespeare menyerahkan kepada penonton yang hari ini diteruskan melalui “Bahasa yang ingin menuju tiada”.  Problem yang bisa jadi tragedi atau komedi bahkan melodrama sejak awal penciptaan yakni “hidup menuju tiada”.  Namun Damhuri memberikan tawaran yang tiada ingin Kembali ke Bahasa.  Lalu jawabannyapun kembali ke “Bahasa yang ingin pegi menuju tiada” yang diucapkan semakin lirih hingga menghilang menutup pelaku virtual dan akupun senyum dan bisa sarapan kedua dengan nikmat. Aku nonton seluruh pamonaspati 2021 tiap pagi karena malam ada kegiatan yang tentu masih lingkaran teater.  Bravo bung Damhuri Muhammad.


Aku nonton sampai tiga kali ulang karena risih sedikit melihat muculnya kata live warna merah di atas kiri layar serta facebook di kiri bawah yang cukup mengganggu. Aku ulang karena ingin meyakinkan apa salahnya laptop aku atau memang itu ada unsur sengaja dipasang atas perjanjian persponsoran. Aku tersenyum renyah ketika ada ucapan terima khusus ke penonton facebook secara live. Bisa aja ah tapi ya suka suka anda hehehehe…..


Disetiap catatan yang aku tulis tak henti2nya aku ingatkan bahwa aktor harus selalu memulai mempelajari peran dengan menjawab pertanyaan “apa,siapa,mengapa,kapan,dimana dan bagaimana”. Dengan demikian kita bisa melihat dan merasakan secara utuh pemain dipanggung ini siapa sedang berada di mana dan kapan lalu apa sih yang sedang terjadi pada dirinya kemudian bagaimana menyampaikan. Mungkin di naskah tak ditulis umur berapa, tempat tinggal di mana, masih punya orang tua atau tidak, adik kakak atau masih bujangan, masih sekolah atau sudah kerja dan kerja apa, profesinya apa dan seterusnya seperti umumnya tiap kita punya catatan biografi. Jika di naskah tak ada maka aktor wajib mencari tau dan menetapkan sendiri.  Jika ada akan menjadi bahan sangat kuat yang sangat berguna bagi menunjukkan karakter sang peran.


Parade monolog merupakan pestanya para seniman teater di Indonesia untuk berkiprah dan menjadikan pijakan kuat untuk tinggal landas menuju teater Indonesia seutuhnya bukan hanya bagi sesama seniman namun bagi seluruh bangsa Indonesia. Syukurlah bila berhasil merangkul yang tadinya tidak tau teater jadi kenal dan merasa membutuhkannya. Jadi mari ingat selalu bahwa penonton adalah bagian dari kerja seniman teater. 


Selamat berkarya.


Jakarta 27 Agustus 2021